BUKA MATA DUNIA DENGAN LIKE STARS ON EARTH

 In Berisik

Dok. m.imdb.com

Judul Film : Like Stars On Earth/Taare Zameen Par
Produksi : PVR Pictures
Tahun : 2007
Sutradara : Aamir Khan
Pemain Utama: Aamir Khan, Darsheel Safary
Durasi : 02.42.52

Untuk kalian yang ingin menonton film tentang kritik terhadap sekolah formal dan kekerasan anak, film Like Stars On Earth/Taare Zameen Par (2007) mungkin menjadi salah satu film yang wajib kalian tonton dan diskusikan bersama teman-teman. Film yang disutradarai oleh Aamir Khan ini menceritakan seorang anak bernama Ishaan Nandkhishore Awasti yang mengalamai disleksia sehingga membuatnya tersingkir dari lingkungan dan mendapatkan ejekan, bahkan kekerasan mental dari guru, keluarga, sistem pendidikan, dan sekolah. Ishaan yang duduk di kelas 3 SD ternyata belum bisa membaca dan menulis, sehingga membuat ia tidak naik kelas selama dua tahun berturut-turut. Tindakan-tindakan diskriminasi yang tersistematis ini sebenarnya wujud dari pengerdilan makna pendidikan itu sendiri.

Dalam film tersebut, Aamir Khan dengan jeli menceritakan bahwa pendidikan di India, bahkan di semua belahan dunia, dengan sengaja menyingkirkan perasaan dan kepedulian antarsesama manusia. Pendidikan tidak lebih dari sekadar aturan, kedisiplinan, kepatuhan, dan penyeragaman. Pada bagian awal film ini diceritakan bahwa Ishaan merupakan anak yang riang gembira, aktif, pemberani, dan suka berpetualang. Sebelum berangkat sekolah, ia menjaring ikan di selokan dekat jalan raya, kemudian dimasukkan ke botol air minumnya. Setelah sampai di sekolah, ia tidak sadar bahwa sepatu yang ia pakai ternyata kotor karena terlalu asik menjaring ikan. Melihat sepatu Ishaan kotor sekali, Guru BK yang berada di depan gerbang sekolah langsung menghukumnya. Ia dipisahkan dari anak-anak yang berpakaian bersih dan dikelompokkan dengan anak-anak yang berpakaian kotor. Kekerasan simbol dan mental ini merupakan bentuk dari pengasingan/pengisolasian sistem pendidikan yang menggunakan metode otoriter guna melakukan penyeragaman individu-individu dan menolak setiap keunikan anak-anak.

Kemudian, kita akan mendapatkan adegan yang menarik ketika Ishaan berani berkelahi dengan tetangga rumah yang berusia jauh lebih tua darinya, serta berbadan lebih tegap, besar, dan kuat darinya. Di luar dugaan, Ishaan mengeluarkan segala kemampuannya untuk melawan dan berani memukul. Ia lebih baik babak belur dipukuli daripada harus tunduk dan disebut sebagai seorang “idiot”. Kata yang kasar itu mudah diutarakan oleh siapa pun yang membenci Ishaan, dan itu adalah neraka baginya. Seperti kata Jean Paul Sartre, “Matamu adalah neraka bagiku!”

Untuk mewujudkan imajinasi liarnya, Ishaan yang tidak mempunyai teman dan kesepian hanya bisa melukiskan di atas kanvas apa yang ia lihat di lingkungan sekitarnya. Kamar tidur, dinding, dan kanvas disulapnya menjadi aneka lukisan dengan panorama pemandangan yang luar biasa indah. Aliran yang disukai Ishaan sepertinya adalah realisme, karena lukisan yang ia tuangkan dalam kanvas banyak terinspirasi dari fenomena yang ia temukan, baik di jalan raya, penjual es krim, selokan ikan, maupun lingkungan keluarga yang tidak bersahabat lagi dengannya. Karena kebenciannya terhadap sekolah, guru, dan sistem pendidikan, ia meratapi nasib kepada ibu dan ayahnya. Hanya orang tuanya yang mengerti apa yang ia pikirkan, namun semuanya tak berjalan normal. Saat Ishaan ingin dibelikan sebuah akuarium untuk menampung ikan-ikan kecil yang ia ambil dari selokan, ayahnya tahu bahwa selama pergi berkunjung ke luar negeri, Ishaan membolos sekolah dengan surat izin palsu yang dibuat oleh kakaknya. Tanpa berpikir panjang, Sang ayah memukul Ishaan, kemudian mengolok-olok Ishaan dengan kalimat yang menyakitkan.

Keluarga Ishaan adalah keluarga kelas menengah di India. Ayahnya bekerja di perusahaan multinasional, sementara ibunya terpaksa berhenti bekerja untuk menjadi ibu rumah tangga agar bisa merawat anak-anak. Ishaan mempunyai Kakak bernama Yohan. Yohan merupakan murid terpandai di sekolah dan selalu mendapatkan peringkat pertama. Guru-guru di sekolah sering membandingkan Ishaan dengan Yohan. Kata para guru di sekolah, Yohan adalah anak pintar yang selalu juara, sementara Ishaan adalah anak bodoh dan nakal. Bentuk kekerasan verbal dan mental ini diterimanya setiap hari dan bertahun-tahun, sehingga ia menjalani hidupnya tanpa semangat dan tanpa arah. Jika ada harapan, harapan itu tidak didapatkannya dari sekolah, namun dari hasil berjalan-jalan di sekitaran kota, melihat-lihat pemandangan di sekitarnya, dan melukis. Selain kegiatan tersebut, dunia bagi Ishaan hanyalah neraka yang membosankan. Karena pihak sekolah sudah tidak sanggup dengan perilakunya, maka Ishaan tidak akan diluluskan pada tahun ajaran baru. Dengan tindakan semena-mena itulah akhirnya ia hijrah ke sekolah yang lebih bagus dan di-asramakan.

Dok. m.imdb.com

Tindakan diskriminasi ini sama halnya dengan yang dikatakan oleh Johan Galtung, bahwa sebuah kekerasan mental bisa terlegitimasi dan dibiarkan begitu saja karena ada landasan kultural dan struktural yang membuatnya menjadi legal. Bagi pihak sekolah, Ishaan adalah anak bodoh, tertinggal, idiot, dan tidak akan bisa berubah, sedangkan sekolah mewajibkan semua siswanya untuk pintar, jenius, dan mempunyai nilai bagus. Guru di sekolah mengintimidasi dan mendesak Ishaan serta keluarganya agar ia segera pindah dari sekolah dan mencari sekolah baru. Keluarganya lebih percaya pada pandangan guru bahwa Ishaan memang bodoh, sehingga mereka tidak menyangkal pendapat guru tersebut. Semua bentuk diskriminasi, penindasan, serta pengucilan dianggap sebagai hal yang wajar karena ada legitimasi untuk berbuat demikian. Inilah yang dimaksud oleh Johan Galtung sebagai sarana legitimasi kultural dan struktural. Karena Sang ayah memiliki ambisi besar terhadap Ishaan, ia pun dimasukkan ke sekolah yang berasrama, dengan asumsi bahwa Ishaan bodoh karena kurang belajar dan tidak serius bersekolah. Akan tetapi, asumsi Ayahnya salah besar. Ishaan menjadi semakin tenggelam dan tidak ingin melukis lagi karena mentalnya diperas dan “diperkosa” oleh sistem pendidikan yang mengerdilkan rasa kemanusiaan di tempat sekolahnya berada.

Akhir film ini ditutup dengan sebuah cerita heroik, yaitu pertemuan Ishaan dengan Mr. Nikumbh. Mr. Nikumbh adalah seorang guru yang berasal dari SLB, yang pada masa kecilnya juga terkena disleksia. Pengalaman dikucilkan saat masih anak-anak membuat Mr. Nikumbh mempunyai metode yang lebih humanis dan juga sisi humor yang membuat Ishaan mau untuk belajar. Hal ini ternyata mampu menggali potensi besar dalam diri Ishaan. Keahliannya dalam melukis diasah lebih jauh. Kelemahannya dalam membaca dan menulis membuat Mr. Nikumb memberikan les privat kepada Ishaan selama beberapa waktu dengan metode pembelajaran yang berbeda. Ishaan dilatih berhitung dengan menggunakan tangga-tangga yang ada di sekolah sebagai media belajar. Dalam hal menulis, Ishaan dilatih menulis dengan media pasir agar lebih mudah untuk belajar.

Metode pembelajaran yang menarik dari Mr. Nikumbh akhirnya membuat Ishaan seperti anak yang lahir kembali ke dunia. Dengan menonton film Like Stars On Earth ini, rasanya seperti menemukan kembali tokoh pendidikan seperti Ki Hadjar Dewantara, Driyarkara, dan Paulo Freire sedang bersuara di era kontemporer. Sepanjang bagian awal sampai akhir cerita film ini, saya seperti menemukan ketiga tokoh pendidikan tersebut dalam satu film. Hal itu sangat luar biasa.

Pendidikan alternatif yang merupakan ciri khas dalam film ini nyatanya memuaskan setiap orang yang pernah merasakan segala bentuk diskriminasi dan penindasan yang dilakukan oleh sekolah kepada siswa. Sebenarnya, masih banyak siswa, anak-anak, dan remaja Indonesia yang bernasib sama seperti Ishaan, dan mungkin lebih parah dari apa yang ditayangkan dalam film ini. Melihat kenyataan tersebut, Aamir Khan berhasil meracik film yang sebenarnya sulit untuk divisualkan, hingga menjadi karya yang layak untuk dipersembahkan kepada seluruh mata di dunia.

Recommended Posts

Leave a Comment

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: BUKA MATA DUNIA DENGAN LIKE STARS ON EARTH!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/buka-mata-dunia-dengan-like-stars-earth/