ARAHMAIANI: SENI, ANAK MUDA, DAN LINGKUNGAN HIDUP

 In Ngobrol
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dok. Ismi Rinjani

Arahmaiani adalah seorang seniman serba bisa sekaligus aktivis kelahiran Bandung yang kini berdomisili di Yogyakarta. Ia merupakan salah satu pelopor dalam perkembangan performance art di Indonesia dan Asia Tenggara. Ia pun dijuluki sebagai “The Superheroine of Indonesian Contemporary Art” oleh salah satu media internasional. Arahmaiani kerap menggunakan seni rupa sebagai media kritik terhadap isu sosial, agama, lingkungan hidup, dan budaya.

Selain berkesenian dan bergelut dengan kegiatan-kegiatan aktivismenya, Arahmaiani juga seringkali berkolaborasi dan bekerja sama dengan anak-anak muda dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Jerman, Cina, hingga ke Tibet. Energinya yang terus membuncah membawanya ke banyak tempat dan membagikan ilmu serta pengalaman yang dimiliki ke banyak orang, utamanya anak-anak muda.

Ditemani segelas teh hangat, tim Berisik.id melakukan wawancara dengan Arahmaiani di salah satu sudut pegunungan Imogiri yang sejuk.

Ibu lagi sibuk apa sekarang?
Hmm, sibuk apa ya. Ada beberapa hal, dari mulai persiapan pameran, pameran lukis di Jakarta bulan depan, ada seni performance di Yangon (Myanmar), terus ada juga pameran dengan berbagai macam medium karya nanti bulan Mei di Jogja. Nanti bulan Juni ikut biennale di Cina, terus persiapan pameran tunggal bulan November di Museum Macan, Jakarta. Sekarang juga lagi kolaborasi sama anak-anak muda, seniman muda komunitas Tritura sama dalang muda, namanya Sigit, dari Desa Jatimulyo, Imogiri, bersama grupnya (termasuk penari-penari dan performer untuk karya Bendera Nusantara). Nah, ini juga proyek satu tahun, itu nanti rencananya pentas di 14 kecamatan di Jogja. Tanggal 20 April nanti bakal pentas yang kedua di Jetis. Itu banyak banget kan, kerjaannya. Tapi, untungnya timnya besar dan cukup solid, jadi aku nggak khawatir. Selain itu, aku juga bantu tim yang lagi bantu petani-petani organik di Jogja. Gak cuma di Jogja sebenernya, tapi ini juga ada hubungan dengan petani-petani organik di Jawa Barat. Terutama di Bogor, Sukabumi, sama Tasik.

Wah padat banget ya, Bu, kegiatannya. Ada yang kelewat nggak, Bu? Hehehe.
Bentar tak pikir dulu (sambil tertawa). Oh ya, terus aku juga ngajar di Universitas Passau di Jerman, bulan depan udah harus berangkat ke sana selama 3 bulan. Nah, itu aku ngajarnya juga ada hubungan dengan seni, yang belajarnya anak-anak muda Jerman, selain dari negeri lain, biasanya yang mendapat beasiswa. Supaya mereka paham dengan situasi di sini dan mudah-mudahan nanti mereka bisa bantu temen-temen di sini, terutama yang muda-muda juga. Terus, pekerjaanku yang di Tibet itu, yang udah berlangsung selama 8 tahun, itu juga masih jalan. Nanti bulan Agustus rencananya mau ke sana lagi untuk lanjutkan kerja.

Di samping ngelukis, bidang seni apa lagi yang biasa Ibu kerjakan?
Selain ngelukis, aku juga bikin video art, bikin instalasi, bikin patung, terus performance art, aku juga bisa nari, bermusik, nulis puisi, nulis esai. Kadang-kadang itu juga bisa dicampur, digabung, multidisiplin istilahnya. Ngawur aja gitu (sambil tertawa). Ini digabung sama itu, kenapa enggak, kan? 

Dalam berkesenian, apa aja yang coba Ibu sampaikan melalui karya-karya Ibu?
Ada beberapa hal. Yang paling saya anggap penting itu ngasih sudut pandang yang kritis. Kemampuan berpikir kritis itu memang wajib. Itu mau nggak mau kok, kita harus mampu kritis. Kalo manut aja nanti nggak bisa kreatif. Kemampuan berpikir kritis itu juga bisa diekspresikan dalam berbagai bentuk dan tema. Temanya misalnya mempertanyakan soal posisi perempuan di dalam kehidupan ini, terus posisi sebagai kelompok marjinal, banyak juga tuh konteksnya. Apakah kamu termasuk bagian dari suku yang tidak dominan, apakah kamu termasuk penganut keyakinan minoritas, atau cara berpikir kita yang beda dari yang lain. Selain itu juga mempertanyakan soal ketimpangan sosial, lingkungan hidup, itu juga biasa aku suarakan lewat karya-karyaku.

Tapi, selain ngangkat permasalahan-permasalahan lewat cara pandang kritis, aku juga bikin karya yang menyuarakan harapan. Itu juga penting. Seni juga kan, sebenernya tentang keindahan. Orang seneng-seneng juga kan, perlu, masa susah terus. Jadi kemungkinan berekspresinya tuh banyak, strateginya juga macem-macem.

Pernah bosen berkarya nggak, Bu?
Kalau bosen berkarya sih, enggak. Cuma kadang bosen dengan yang disebut “seni” (sambil tertawa).

Hahaha kok bisa, Bu?
Kadang-kadang iya, lho, bosen lihat yang gitu-gitu aja. Semuanya ngikutin kemauan pasar. Terus ada periodenya aku males liat pameran lagi. Karena ya, keseniannya gitu-gitu aja, ikut arus, diulang-ulang. Nggak kreatif. Tapi, ya, itu balik lagi ke diri sendiri, bukan hakku juga ngajak-ajak yang lain untuk balik lagi cari ide-ide orisinal.

Nation for Sale (Brisbane) – Dok. Arahmaiani

Oh ya, kalau di Passau, spesifikasi ngajarnya soal apa, Bu?
Di Passau itu saya ngajar di Departemen Asia Tenggara, di bawah Fakultas Filsafat. Nah, yang tak ajarkan di sana adalah hal yang mungkin di sini belum umum, belum biasa diajarkan di universitas-universitas, yaitu pendekatan khusus yang disebut pendekatan transdisiplin. Apa itu pendekatan transdisiplin? Kan gini, kalau di dunia akademisi atau ilmu pengetahuan gitu kan, ada spesialisasi-spesialisasi yang dipelajari masing-masing, tapi rupanya untuk kepentingan pembangunan berkelanjutan, dibutuhkan kerja sama, bukan hanya dari disiplin ilmu pengetahuan saja, tapi juga dari kebudayaan, seni, filsafat, dan lain-lain di luar tradisi akademisi atau scientific. Kalau di dalam cara pikir orang Jerman itu, misalnya ada istilahnya natural science & social science, dua hal ini yang mereka upayakan dipertemukan karena biasanya bidang ilmu pengetahuan tentang alam semesta kayak dipisah sendiri, sementara yang sosial juga kepisah lagi, nah ini yang coba dipertemukan.

Jadi, nanti muncul juga istilah sosial ekologi. Nah, jadi untuk ide pembangungan berkelanjutan atau sustainable development tadi, diharapkan yang bidang ekologi sama sosial bisa ketemu dan bekerja sama. Hal itu juga nggak sederhana karena kita maunya bukan hanya bicara soal teori, tapi bener-bener bisa diterapkan secara real di lapangan atau dalam kehidupan nyata. Kan, kalau bicara soal keberlanjutan, ini harus jelas juga penerapannya. Bagaimana lingkungan hidup ini bisa terlindungi.  Artinya, ini nggak dibatasi sama teori, tapi harus ada sistem untuk implementasinya, gitu lho. Di sana juga aku kerja sama sama ilmuwan-ilmuwan untuk bisa mempertemukan seni, sains, filsafat, yang akhirnya bisa diimplementasikan di dunia nyata.

Mestinya semua disiplin ilmu terintegrasi ya, Bu, nggak kepisah-pisah, untuk kehidupan ke depan yang lebih baik?
Iya, dong. Jadi kan, sistemnya terintegrasi semua. Tapi, persoalannya nggak sederhana juga, ada konteks-konteks budaya yang berbeda-beda. Nah, itu pun kita harus siap dan terbuka untuk bisa menyesuaikan gitu, kan. Jadi, nggak ada rumus yang kaku dan baku. Artinya, kita di sini harus selalu terbuka, sadar, terus nggak merasa paling bener sendiri, gitu lho. Kalo di Jerman sih, memang ini udah berjalan sekitar 20 tahun, jadi udah mulai mendapat apresiasi, malah pemerintahnya juga udah support. Tapi, kalau sekarang mau diterapkan di Indonesia, misalkan, itu kan harus dipelajari lagi gimana situasinya di sini, gimana supaya penerapannya proporsional dan menghasilkan hal yang diharapkan; yang itu tadi, orang lebih sadar soal lingkungan hidup, terus menerapkan sistem pembangunan yang berkelanjutan, kan itu belum terjadi di sini. Kalau di sini kan, pemerintahnya lebih mementingkan membangun infrastruktur, bangun infrastruktur terus. Padahal itu kan, cuma salah satu yang dianggap penting. Tapi, kalau kita bicara soal sistem terintegrasi kan, gak fokus di satu sisi atau hal aja. Ya oke infrastruktur penting, tapi manusianya juga penting.

Memory of Nature (Singapura) – Dok. Arahmaiani

Jadi, selain bangun infrastruktur, jangan sampai lupa membangun manusianya juga ya, Bu?
Nah, itu memang yang sangat mendasar. Selain itu, jangan sampai lingkungan hidup juga nggak diperhatikan. Bangun infrastruktur kayak jalan tol atau rel kereta api gitu ya boleh, tapi jangan sampai ngebabat hutan dong, misalnya. Nggak gitu kan, harusnya.

Iya Bu, luas hutan di Indonesia makin menyempit aja makin ke sini tuh. Oh ya, terus kan, tadi Ibu juga cerita soal kerja sama di Tibet. Bisa diceritain juga nggak, Bu, kegiatannya apa aja? Menarik sekali sepertinya.
Oke. Kerjaku di Tibet tuh sampai sekarang udah berjalan selama 8 tahun. Pada dasarnya, aku di sana tuh kerja sama sekte Gelugpa atau kelompok Topi Kuning, terus juga sama masyarakat biasa untuk nanganin permasalahan-permasalahan lingkungan hidup. Dimulai dari pengelolaan sampah, daur ulang sampah, penanaman pohon, menghidupkan kembali tradisi bertani organik, menghidupkan kembali tradisi nomad (peternakan tradisional), juga pengelolaan air untuk kebutuhan sehari-hari dan energi. Tapi, memang awalnya kerja sama biksu-biksu dan aku memang yang menyarankan mereka bekerja dengan orang biasa karena selama ini, dalam tradisi mereka, biksu-biksu nggak kerja dengan orang biasa. Biasanya biksu-biksu di biara aja, ya, belajar tentang hal-hal spiritual yang nggak ada urusannya sama hal duniawiah. Dalam proyek ini, aku menyarankan biksu-biksu ini bekerja sama dengan orang biasa karena mereka bisa menjalankan pekerjaan untuk memikirkan strategi-strategi, mengurus administrasi. Dan karena mereka punya pengaruh yang besar, jadi bisa mengajak banyak orang untuk terlibat. Ternyata mereka tertarik untuk turun tangan juga, terutama yang muda-muda. Semangatnya masih besar sekali. Mereka nanem-nanem sayur, pohon, membersihkan sampah, mendaur ulang sampah, menanam pohon. Sampai akhirnya mereka sadar kalau mereka juga harus tahu, harus terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Ya, baguslah, saya pikir.

Jadi sebelumnya mereka belum sadar soal masalah-masalah lingkungan hidup di sekitar mereka, Bu?
Awalnya belum. Jadi, mereka udah terbiasa dengan tata hidup dan tradisi yang selama ini mereka yakini, yang melihat semua yang terjadi tuh udah baik-baik aja. Ya, aku juga nggak bilang nggak baik, cuma nyatanya kita sekarang menghadapi persoalan-persoalan lingkungan hidup di depan mata dan harus mikir gimana cara menanggulanginya. Ini memang persoalan semua orang sebenernya, persoalan kita semua. Untungnya mereka menerima gagasannya dan mau mengerjakannya.

Biksu-biksu ini kelihatannya cukup terbuka untuk menerima gagasan-gagasan baru ya, Bu?
Kebetulan memang ini kelompoknya tuh kelompok yang fokusnya di filsafat. Cara berpikirnya rasional dan logis, kuat gitu lho. Kalau aku bisa mengemukakan alasan yang masuk di akal dan tepat, mereka bakal terima idenya. Mereka langsung bilang “Oh ya oke, bisa!”. Jadi ada keuntungan dari budaya yang mereka praktikkan, kan? Kalau mereka cara mikirnya beda, susah juga mungkin. Kan, saya di sana ya, orang yang tiba-tiba dateng. 

Apa yang bikin Ibu tergerak buat bantu mereka di sana?
Tibet tempat yang sangat spesial. Plato Tibet itu pertama dikenal sebagai kutub ketiga, salah satu bidang es terluas di muka bumi ini selain Arktik dan Antartika. Terus yang kedua, dia juga dikenal sebagai tower air Asia. Jadi, dua miliar orang Asia hidup dari air yang datang dari sana. Tapi, karena sekarang terjadi pemanasan global, esnya mencair. Permafrost—tanah yang ada di titik beku 0 derajat celcius—nya juga udah meleleh sebetulnya. Jadi, bahaya ini kalo kita nggak melakukan tindakan lebih lanjut. Yang jelas, sekarang udah banjir di mana-mana. Mudslide juga bisa jadi malapetaka di sana. Selain dampak regional, dampaknya bisa meluas, tujuh sungai besar Asia bersumber dari sana seperti Sungai Yangtze, Sungai Kuning, Sungai Mekong, Sungai Brahmaputra, Sungai Gangga, Sungai Indus, dan Sungai Salween. Tahun lalu, lima ribu orang mati di India karena banjir, misalnya. Di Bangladesh terjadi banjir rutin sampai satu kota menghilang. Kalau di Cina udah rutin banjir pas musim panas.

Dok. Arahmaiani

Kami dengar sudah ratusan ribu pohon yang ditanam di sana ya, Bu?
Di tahun kelima kami kerja, pohon yang ditanam di kawasan Khamp, Tibet, sudah mencapai 230.000 pohon. Tapi, ternyata waktu itu pemerintah Cina juga memperhatikan dan mendukung proyek kami. Akhirnya, kami dapat bantuan benih sampai pasukan yang bantu menanam. Tahun 2016, satu miliar pohon sudah berhasil ditanam di kawasan Khamp tadi.

Luar biasa. Oh ya, dari tadi tersirat kalau Ibu banyak sekali kerja atau kolaborasi sama anak muda, kenapa bisa begitu, Bu?
Nah, itu ada hubungannya sama kegiatanku yang suka jalan-jalan, nongkrong, yang akhirnya ketemu sama anak-anak muda juga. Nggak tahu gimana dulu asal muasalnya, aku ketemu anak-anak muda yang miskin. Mereka nggak punya kesempatan untuk sekolah karena nggak punya biaya. Terus aku mikir, mungkin aku bisa bantu mereka, tapi nggak dengan materi. Jadinya bantuin mereka belajar, terutama mereka yang minat jadi seniman atau aktivis gitu. Dan itu aku lakukan aja, nggak harus pake bayar-bayar. Nah, mungkin karena terbiasa, terus nanti mereka kasih tahu jaringan teman-temannya yang lain, akhirnya jadi banyak yang mengundang untuk ngajar atau jadi kurator di proyek-proyek mereka.

Anak-anak muda itu energinya luar biasa, energi vitalnya masih menggelora. Beda sama yang udah sepuh. Makanya mesti dibantu diarahkan ke jalan yang baik, sayang banget kalau disia-siakan.

Menurut Ibu, anak muda masa kini kayak gimana, sih?
Macem-macem juga sih, menurutku. Ada anak muda yang cuma jadi konsumer, di zaman kayak gini kan banyak yang kayak gitu, terus pembawaannya jadi konsumtif. Tapi, juga ada yang mau bisa lebih mandiri, kreatif, yang nggak mau tergantung sama sistem yang konsumtif. Jadi, sampai sekarang pun aku masih ada kerja-kerja dengan kelompok anak muda yang seperti itu. Kalau ada anak-anak muda yang masih semangat untuk mandiri, yang kreatif untuk cari solusi-solusi alternatif buat permasalahan yang dihadapi, itu ngasih harapan sih, buatku. 

Terus gimana cara Ibu menularkan semangat kemandirian dan semangat untuk menjaga lingkungan hidup ke anak-anak muda ini?
Kalau aku, ya karena aku orang seni, selain juga aktivis, untuk aku sih, yang paling penting tuh bagaimana menggugah anak-anak muda ini untuk bisa kreatif. Itu, kata kuncinya memang kreatif. Dan itu nggak pandang tempat, situasi, latar belakang. Mau punya keyakinan apa kek, mau nggak punya keyakinan juga nggak masalah buatku. Yang penting bagaimana mereka bisa mengolah kreativitasnya. Jadi, mereka nggak ada ketergantungan terhadap apa, terhadap siapa, gitu. Kan mandiri jadinya. Mampu menghadapi persoalan dan mencari solusi alternatifnya, itu poin dasar yang aku coba ajarkan. Dengan harapan kelak mereka juga akan membantu kawan-kawan lainya.

Untuk mengembangkan kemampuan kreatif itu, aku mengembangkan metode-metode lewat kegiatan seni, selain itu juga lewat kegiatan menulis puisi maupun esai. Seninya juga macem-macem, dari mulai seni rupa yang mediumnya beragam, performance, bikin video, sampai seni musik juga.

Terakhir nih Bu, apa pesan buat anak-anak muda di Indonesia?
Kalau ini sih, sebetulnya harapanku mungkin ya, anak muda atau generasi muda ini yang akan menjawab tantangan masa depan. Jadi, bagaimana anak muda bisa mempersiapkan diri dan mau memahami persoalan-persoalan yang ada, dan juga sanggup menjawab tantangannya. Jangan sampai terlena dan lupa tanggung jawab sama keluarga, teman-teman, lingkungan, dan yang lebih luas lagi tanggung jawab ke alam semesta.

Dan itu yang aku coba bantu selama ini dengan kerja bareng anak muda, dengan bikin sekolah jalanan juga. Meski sistem pendidikan di sini kurang baik—aku dengar yang terburuk di Asia Tenggara—tapi paling tidak kita bisa membuat ruang-ruang alternatif dan memberi kesempatan ke anak-anak muda yang punya energi besar itu tadi. Aku sendiri selalu merasa terpanggil kalau ketemu anak muda yang semangat, cerdas, dan kreatif. Aku pasti bantu supaya mereka bisa lebih maksimal tumbuhnya.

Flag Project (Borobudur) – Dok. Arahmaiani

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: ARAHMAIANI: SENI, ANAK MUDA, DAN LINGKUNGAN HIDUP!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/arahmaiani-seni-anak-muda-dan-lingkungan-hidup/