BELAJAR DI MANA SAJA

 In Opini
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dok. L.M. Amriansyah

Pada 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Setiap wilayah merayakannya dengan cara masing-masing, termasuk daerahku di pelosok tenggara Sulawesi, yaitu Kaledupa, Wakatobi. Salah satu penerima pendidikan adalah remaja. Remaja mendapatkan kesempatan pendidikan di sekolah, tapi menurutku itu hanya sebatas pelajaran untuk menjadi pintar, kemudian bersaing. Ini adalah kompetisi untuk menjadi yang terbaik dan berlaku untuk semua jenjang pendidikan formal.

Sudah dua tahun saya kembali tinggal di Kaledupa semenjak lulus kuliah selama kurang lebih enam tahun di Kendari. Saya merantau hanya untuk mencari selembar ijazah. Ya, namanya juga ingin dibilang berpendidikan. Dua tahun pula saya mulai aktif berkegiatan bersama teman-teman di Kaledupa yang tergabung dalam Forum Kahedupa Taudani (Forkani).

Tepat pada April 2016, ada dua pemuda dari Kampung Halaman Yogyakarta datang ke Kaledupa. Saya baru pertama kali berkenalan dan bertemu dengan mereka, tapi tidak untuk teman-temanku. La Zery sudah berkali-kali datang ke Kaledupa, tapi La Chandra baru pertama kali. Saya penasaran dengan kedatangan mereka, apa tujuannya. Selepas makan siang, rasa penasaranku terobati setelah salah satu dari mereka menjelaskan tujuan kedatangan mereka. Kedatangan mereka adalah untuk melaksanakan Program Sekolah Remaja (SR) dan akan berkolaborasi dengan Forkani. Mulanya saya pikir SR adalah Sekolah Rakyat, seperti yang pernah saya dengar dari nenek dulu. SR adalah program belajar bersama remaja untuk mengenal lebih dekat lingkungan tempat tinggalnya.

Dok. L.M. Amriansyah

Selama satu minggu kami melakukan survei di Desa Tampara, Desa Kasuari, dan Desa Peropa. Ketiga desa tersebut tercatat sebagai desa di Kecamatan Kaledupa Selatan. Setelah mengkaji ulang program dan kebutuhan di desa, KH dan Forkani menentukan Desa Tampara sebagai lokasi program SR. Ini merupakan pengalaman pertama saya terlibat menjadi salah satu dari dua pendamping dalam program SR di Desa Tampara. Lagi-lagi saya bertanya, apa yang harus saya dan remaja Tampara lakukan? Belajar seperti di sekolah? Belajar seperti di tempat les atau kursus?

Ternyata, yang kami pelajari adalah hal yang tidak pernah kami temui di bangku sekolah. Transek di desa, menggali potensi desa, menggali sejarah desa, wawancara kepada masyarakat desa, dan membuat peta desa menggunakan perangkat keras serta perangkat lunak. Jujur, ini juga pertama kalinya bagi saya. Dari SD sampai selesai kuliah, saya tidak pernah mendapatkan pendidikan seperti ini, pendidikan yang harusnya kita dapatkan di masa remaja sebagai bekal untuk masa depan.

Selain itu, peserta Sekolah Remaja juga diperkenalkan dengan kerajingan tangan yang terbuat dari bahan-bahan yang ada di sekitar seperti biji kansilao, bambu, tempurung kelapa, dan sisa bahan untuk membuat kain tenun. Mereka antusias dan semangat menjalaninya, bahkan salah satu dari mereka mengatakan, “Kami tidak pernah mendapatkannya di sekolah, ada pelajaran kesenian tapi tidak seperti ini.” Hasil kerajinan yang mereka buat tidak disimpan begitu saja, namun dipamerkan dalam salah satu acara terbesar di Wakatobi, yaitu Festival Barata Kahedupa. Mereka tidak pernah menyangka bahwa tempurung kelapa yang biasanya hanya menjadi arang untuk membakar ikan, kini dapat menjadi produk kerajinan dan menghasilkan uang. Bukan itu saja, biji kansilao yang biasanya hanya jadi mainan bahkan terhambur di hutan, kini dapat menjadi produk andalan kerajinan. Saya dapat membayangkan betapa bangganya mereka menghasilkan itu semua dari hasil belajarnya di Sekolah Remaja. Uang hasil jualan kami gunakan untuk piknik ke Pulau Hoga dan membeli peralatan untuk produksi kerajinan. Bukan cuma itu, ibu-ibu peserta SR pun ikut terlibat di dalam proses pembuatan kerajinan pascapameran berlangsung.

Dok. L.M. Amriansyah

Selain itu, kami juga belajar melestarikan alam Tampara dengan belajar membibit, menanam, dan merawat bakau. Pada Festival Barata Kahedupa, ada momentum penanaman bibit bakau bersama Ibu Wakil Bupati di Desa Tampara. Bibit yang ditanam adalah bibit dari hasil pembibitan teman-teman Sekolah Remaja dan itu dibeli per bibit oleh panitia. Peserta SR bukan hanya menjual bibit, melainkan juga menjadi pemandu dalam proses penanaman bibit bakau di Desa Tampara.

Pendidikan memang seharusnya bukan cuma menghafal buku catatan ataupun menghafal perkalian matematika. Pendidikan yang berkaitan dengan tempat tinggal adalah salah satu peluang bagi remaja untuk mengeluarkan keterampilan dan bakat yang mereka miliki. Tidak ada kompetisi yang mengharuskanmu menjadi yang paling baik.

Bagiku, remaja mampu mengembangkan diri dan mengeluarkan potensi yang dimiliki untuk berkarya sejak dini. Ini adalah peluang untuk menjadi lebih mandiri ke depannya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: BELAJAR DI MANA SAJA!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/belajar-di-mana-saja/