BELAJAR GEOGRAFI ITU BELAJAR KEHIDUPAN

 In Ngobrol
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dok. T. Bachtiar

Titi Bachtiar adalah seorang geograf, penjelajah dan penulis yang mencintai bumi dan ilmu kebumian. Ia telah menulis dan menyunting belasan buku. Salah satu karya bukunya yang berjudul “Menembus Belantara Ujung Kulon” membuatnya mendapat penghargaan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai penulis terbaik buku bacaan anak-anak di tahun 1982. T Bachtiar giat menulis artikel di beberapa media massa, seperti Pikiran Rakyat cetak dan online, KOMPAS, Tribun Jabar,  dll., dan penulis kolom majalah berbahasa Sunda – Mangle’ dan Cupumanik). Kini ia aktif sebagai dosen, penulis, penyunting, penjelajah dan juru tafsir gejala kebumian (interpreter) di kegiatan geotrek.

Ismi Rinjani mewakili berisik.id mendapat kesempatan untuk mendengar cerita dan mewawancarai T Bachtiar.

Selamat sore Pak Bachtiar, terima kasih sudah menyediakan waktu untuk ngobrol bersama berisik.id. Kami tertarik sekali dengan perjalanan hidup Bapak yang penuh petualangan dan cerita-cerita seru. Biar lebih kenal, ceritain dikit dong Pak tentang Bapak dan kegiatannya saat ini?

Kegiatan saya, rasanya dari kecil sampai sekarang tidak banyak berubah. Lagi kecil bermain di sungai, loncat-loncat dari tebing tinggi di lubuk sungai, mengalun dengan rakit batang pisang, mendaki bukit, bermain lumpur di sawah, atau berenang di laut. Sekarang, setelah dewasa, semua itu dilakukan juga, hanya alatnya saja yang berbeda. Sekarang, masih sering mengalun di sungai, berlayar di laut, menelusuri goa, mendaki gunung. Bedanya, sekarang, semua pengalaman itu ditulis menjadi catatan perjalanan untuk media massa.

Sejak kapan Pak Bachtiar mempunyai minat khusus terhadap geografi dan penjelajahan alam? Apa peristiwa yang membekas dan membuat Bapak akhirnya memutuskan untuk terjun lebih jauh?

Saat SMPN 1 di Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat, saya sangat terkesan oleh guru Ilmu Bumi. Kalau menerangkan, dia sudah tidak pernah membawa buku lagi. Menerangkannya lancar dan menarik. Melanjutkan sekolah ke Bandung di Sekolah Pendidikan Guru Negeri 1 Kota Bandung. Pelajaran Ilmu Buminya tidak menarik. Tapi, ketika akan masuk IKIP, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, sekarang UPI, Universitas Pendidikan Indonesia, saya benar-benar tidak tahu akan masuk ke jurusan/departemen mana.  Saya ditanya, apakah ada mata pelajaran yang diminati? Ingatnya pelajaran Ilmu Bumi. Ada, katanya, Geografi. Daftarlah ke Departemen Geografi. Di sinilah cinta pertama saya pada ilmu ini. Saya beruntung, karena diajar oleh dosen yang ikut terlibat dalam pendirian Jurusan Pendidikan Geografi. Jadi ada idealisme dalam membina dan mendidik para mahasiswanya. Setelah belajar teori di dalam kelas, dosen mengajak ke lapangan untuk melihat dan merasakan secara langsung. Pengalaman nyata di lapangan itulah yang paling berkesan, dan, inilah dunia saya banget. Pada semester tiga, saya menuliskan pengalaman lapangan itu menjadi cerita perjalanan untuk koran di Bandung. Dan ternyata tulisan saya dimuat. Inilah yang menjadi pendorong untuk terus menulis sampai sekarang.

Menurut Pak Bachtiar, apa relevansi geografi terhadap kehidupan sehari-hari, sehingga memiliki pengetahuan tentang itu menjadi hal yang tak hanya bermanfaat, namun juga penting, khususnya bagi teman remaja?

Dok. T. Bachtiar

Sebenarnya, geografi itu ilmu untuk hidup. Ilmu yang mempelajari hubungan timbal-balik alam-manusia. Geografi juga menjadi dasar bagi studi ilmu-ilmu lain. Misalnya, geografi menjadi dasar bagi yang akan meneliti musik tradisi di komunitas di suatu kawasan. Para remaja yang akan mulai menjelajah, pelajarilah geografinya. Bagaimana iklimnya, curah hujan, suhu, angin, dll. Bagaimana kondisi medannya. Semuanya itu akan dijadikan dasar perencanaan, persiapan, latihan, perlengkapan, perbekalan, dll. Bagaimana keadaan alamnya, manusia dengan budayanya. Jadi, dengan belajar geografi itu belajar kehidupan, dan bagaimana sikap kita untuk bisa harmoni dengan alam dan manusia penghuninya.

Apa pengalaman Pak Bachtiar sepanjang berproses di bidang ini yang paling berkesan atau mungkin bisa dikatakan “life changing”?

Sejak sekolah menengah atas sampai Perguruan Tinggi, dipersiapkan untuk menjadi guru. Kemudian menjadi tenaga pengajar di Perguruan Tinggi, tapi tidak pernah meninggalkan naluri dasar saya untuk menjelajah ke berbagai daerah dan menuliskan cerita perjalanannya. Dua hal itulah yang sangat berpengaruh dalam pilihan hidup. Ilmu geografi yang saya miliki, menjadi pisau untuk mengerat berbagai permasalahan yang kemudian disajikan dalam tulisan. Sekarang menjadi guru di lapangan, menjadi interpreter atau juru tafsir gejala kebumian, melalui kegiatan geotrek.

Hampir separuh dari hidup Pak Bachtiar diisi oleh penjelajahan dan menuangkan pengetahuan yang didapat dalam bentuk tulisan, mengapa menulis menjadi penting untuk Bapak?

Menulis bagi saya sangat penting, karena gagasan dan pemikiran sampai kepada pembacanya. Syukur bila dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan. Kalau pun tidak, suatu gagasan dan pemikiran yang sudah dituangkan dalam bentuk tulisan, pastilah tidak akan pernah hilang. Para pembaca menjadi tahu apa yang menjadi pemikiran dan gagasan tentang suatu gejala kebumian dan sosial kemanusiaan yang sedang berlangsung. Hal yang tak kalah penting lainya adalah, segala pemikiran dan gagasan itu terdokumentasikan dengan baik dalam tulisan di media massa. Menulis populer di media massa itu telah menghubungkan saya dengan pembacanya, dan menghubungkan saya dengan beberapa lembaga, yang telah membawa saya ke penjelajahan yang lebih jauh, sehingga dapat menulis cerita perjalanan lebih banyak lagi.

Pak Bachtiar pernah membuat buku fiksi sains kebumian berjudul “Menembus Belantara Ujung Kulon” & “Krakatau! Krakatau!” pada tahun 1984 & 1994. Mengapa Bapak terpikir untuk membuat buku yang ditujukan untuk anak-anak dan remaja kala itu?

Naluri sebagai guru yang menjelaskan gejala kebumian sudah terpatri, walau tidak mengajar di dalam kelas di jenjang SMP dan SMA. Pada dasarnya saya selalu saja ada dorongan untuk menjelaskan, dorongan untuk berbagi ilmu pegetahuan. Dalam dua buku itu ingin menyampaikan pesan, bahwa lingkungan yang dikelola baik, akan menghasilkan sesuatu yang baik, demikian juga sebaliknya. Juga ingin menyampaikan, bahwa remaja Indonesialah yang menjadi pemilik syah Negeri ini, yang akan menjaga, yang akan meneliti gejala kebumian, hayati, dan sosial budayanya. Melalui bacaan fiksi sains itu diharapkan ada perubahan perilaku para pembacanya.

Dok. T. Bachtiar

Apa yang membuat Pak Bachtiar bosan atau jenuh sehari-harinya? Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Saya tidak pernah merasa bosan saat menggeluti suatu hal. Dalam kegiatan yang sedang dilakoni itu selalu saja ada hal yang menarik, yang membuat saya senang. Sekecil apapun saya maknai. Inilah yang membuat saya bertahan menjelajah, dan bertahan menulis.

Menurut Pak Bachtiar, kenapa pencinta alam itu identik dengan mereka yang senang naik gunung dan bukannya mereka yang gemar ke pantai atau danau, mengingat bahwa semua itu turut menjadi bagian dari alam?

Karena gunung itu terlihat wujudnya, besarnya, tingginya, maka ada dorongan untuk mendaki, sehingga mendaki gunung dianggapnya mempunyai tantangan lebih. Padahal, setiap kegiatan di alam bebas mempunyai tantangannya sendiri-sendiri. Dan, mendaki gunung adalah yang mengawali kegiatan di luar rungan yang kemudian berkembang.

Hal apa yang paling menarik dan diingat ketika Bapak menjalani masa-masa remaja di Pameungpeuk, Garut?

Saya tidak pernah dilarang oleh orang tua untuk bermain di sungai yang besar saat itu, dan mengalun dengan rakit sampai jauh, berenang di deburan ombak yang menghadap langsung ke Samudra Hindia, membersihkan rumput di sela tanaman, menjala ikan. Inilah yang mempengaruhi jalan hidup setelah dewasa.

Nilai-nilai apa yang ditanamkan oleh orang tua Pak Bachtiar yang kini diturunkan pula kepada anak-anak Bapak?

Pendidikan, jujur, harga diri, berani menjalani hidup.

Di umur sekarang ini, apa sih rencana Pak Bachtiar untuk lima hingga sepuluh tahun ke depan?
Saya akan terus menjelajah, akan terus menulis, dan akan menerbitkan buku, paling sedikit satu buku setiap tahun.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: BELAJAR GEOGRAFI ITU BELAJAR KEHIDUPAN!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/belajar-geografi-itu-belajar-kehidupan/