BERKAH TEMBAKAU BAGI KEHIDUPAN DI DESA

 In Opini
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dok. Danang Pamungkas

Tembakau bukan hanya sebagai tanaman yang menghasilkan, melainkan juga menjadi lumbung kemajuan dari wilayah desa hingga kota.

Tembakau merupakan salah satu tanaman yang istimewa. Dengan tekstur daun yang lonjong, melebar, dan berwarna hijau pekat, tanaman ini telah menghidupi banyak petani di pelbagai tempat di Indonesia, tak terkecuali di Rembang—tempat saya tinggal. Saya masih ingat, tanaman ini menjadi primadona baru setelah semangka dan melon dirasa kurang menguntungkan oleh petani desa setempat. Kira-kira sudah 10 tahun belakangan ini, petani di desa saya secara konsisten menanam tembakau pada musim kemarau. Tanaman ini berbeda dengan tanaman lainnya. Tembakau tak membutuhkan banyak air dalam perawatannya. Namun, jika paceklik air, tanaman ini bisa mati begitu saja. Anehnya, jika hujan terjadi berlarut-larut, tanaman ini juga bisa mati. Kesimpulannya, tanaman ini sangat bergantung pada musim dan ketersediaan air yang cukup.

Agus, biasa dia dipanggil, adalah teman saya yang bekerja fulltime sebagai petani tembakau. Ia adalah tetangga saya yang dulunya berprofesi sebagai buruh bongkar muat kayu. Saya tak tahu persis alasannya lebih memilih untuk menjadi petani karena dalam keluarganya tak ada seorangpun yang berprofesi seperti dirinya. Bapaknya adalah pedagang bakso keliling yang dagangannya selalu laris manis. Warga desa biasa menyebut ayahnya sebagai “Pentol Kasiman”. Rasa baksonya memang benar berbeda dengan bakso kebanyakan. Dagingnya kenyal dan harganya murah meriah. Pikiran sederhana saya, semestinya Agus lebih memiliki peluang dan mental untu menjadi pedagang karena sudah ada contoh kesuksesan bapaknya. Namun, ia memilih untuk meramu jalannya sendiri, bahkan sudah satu tahun ini ia menyewa tegalan tetangga untuk ditanami tembakau.

“Kalau masalah tembakau, saya enggak tahu Mas. Itu urusannya Agus, saya malah enggak tahu apa-apa soal tani. Saya hanya membantu waktu panen sama merajang saja.” terang bapak Agus ketika kami berbincang.

Saat itulah saya mengerti bahwa Agus adalah orang yang tekun dan mandiri. Meski seorang petani pemula dan tidak memiliki lingkungan yang berprofesi sama, ia berani mengambil risiko untuk menyewa tanah dan mengeluarkan modal sendiri dari tabungan hasil pekerjaan sebelumnya. Dulu ia bekerja tak tentu, terkadang ikut bongkar muat di Surabaya, Jogja, dan juga kota-kota lain. Berbekal ketelatenan, kesabaran, dan keuletan, Agus pun dapat menghidupi dirinya sendiri dengan baik.

Saat ini, Agus lumayan disibukkan dengan pekerjaan barunya. Untuk dapat menikmati hasil tembakaunya, proses yang harus ditempuh oleh Agus cukup panjang dan juga menyita banyak waktu. Saat ini, daun tembakau miliknya sudah mulai menguning, pertanda tembakau sudah siap dipanen. Proses panen ini dilakukan dengan mengambil daun-daunnya saja, tanpa mencabut batangnya. Setelah dikumpulkan, daun tembakau kemudian dimasukkan ke dalam mesin yang berfungsi memotongi daun tembakau menjadi ratusan daun yang tipis-tipis. Proses itu disebut “merajang”. Setelah merajang, tanaman tembakau dikeringkan di bawah sinar matahari dari pagi hingga sore hari. Untuk melakukan pekerjaan mengeringkan ini, Agus membutuhkan bantuan beberapa orang, tergantung dari luas lahan dan hasil panen. Semakin luas lahan dan hasil panen, semakin banyak orang yang dibutuhkan untuk proses pengeringan. Tembakau yang sudah berwarna cokelat kehitaman ini nantinya dimasukkan dalam karung, kemudian dijual ke distributor. Oleh distributor, tembakau ini kemudian akan dikategorikan menjadi tiga jenis; Tembakau A, Tembakau B, dan Tembakau C. Harga paling tinggi adalah tembakau tipe A, sementara tipe B dan tipe C harganya lebih rendah.

 “Menjadi Petani itu harus sabar dan selalu merawat apa yang ditanam. Karena mendapatkan uang dari hasil tani itu butuh waktu 3—4 bulan. Tidak bisa praktis. Sekarang ini kenapa pemuda tidak mau jadi petani, karena kebanyakan mereka ingin kerja praktis dan cepat dapat uang. Kalau kamu mau jadi petani harus latihan bersabar, istiqomah, dan tidak grusa-grusu.” ucap salah seorang tetangga ketika saya bertanya mengenai orang yang bertani kebanyakan berusia 40 tahun ke atas.

Agus adalah satu dari sekian banyak petani, khususnya petani tembakau yang selalu bersuka cita ketika masa panen tiba. Tanaman tembakau sedikit demi sedikit telah mengubah hidup mereka. Meski mengeluarkan modal yang tidak sedikit dan proses yang begitu panjang, hasil panennya mempunyai nilai lebih tinggi daripada tanaman lain.

Saat di media sosial sedang ramai membahas kampanye antirokok dengan dalih kesehatan dan persoalan-persoalan rokok, bisa jadi mereka belum pernah datang ke desa-desa untuk melihat Agus atau petani-petani tembakau lainnya bekerja dan menggantungkan nasibnya pada tanaman yang menurut mereka (pihak yang berkampanye) adalah biang keladi dari banyaknya penyakit yang ditimbulkan oleh zat nikotin tembakau. Pada kenyataannya, hampir segala jenis sayuran dan buah mengandung zat nikotin.

Buku Nicotin War yang ditulis oleh Wanda Hamilton1) memberikan penjelasan secara gamblang tentang khasiat yang dimiliki oleh tembakau bagi tubuh, beberapa di antaranya adalah obat sakit perut, asma, kanker, dan sakit kepala. Zat-zat yang terdapat dalam tembakau ternyata sangat bagus untuk kesehatan dan dapat diproyeksikan menjadi obat-obatan untuk perusahaan farmasi di masa depan. Namun, persoalannya adalah hampir seluruh produksi tembakau dijual kepada perusahaan rokok. Sementara itu, perusahaan farmasi hanya mendapatkan sedikit saja pasokan tembakau. Dalam buku tersebut juga disebutkan bahwa zat nikotin dalam tembakau dijadikan obat, koyo, dan permen yang nantinya didistribusikan ke seluruh dunia untuk eks-perokok berat yang ketagihan mengonsumsi tembakau.

Di Indonesia sendiri, pada 2016, perusahaan rokok telah menyumbang pajak cukai sebanyak 143 triliun kepada negara. Pajak ini merupakan pajak tertinggi, bahkan jika dibandingkan dengan pajak tambang dan pajak sawit. Belum lagi sumbangan perusahaan rokok sebanyak 4,9 triliun untuk menutupi defisit anggaran BPJS tahun ini. Begitu bermanfaatnya tanaman tembakau ini, mulai dari petani, buruh tani, distributor, hingga pengusaha dapat saling mendukung untuk kemajuan negeri.

Cerita tentang Agus dan pilihannya untuk menjadi petani tembakau adalah salah satu bukti bahwa tembakau bukan hanya sebagai tanaman yang menghasilkan, melainkan juga menjadi lumbung kemajuan dari wilayah desa hingga kota. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa penanamannya tidak perlu sampai melakukan pembakaran hutan ataupun melubangi gunung, serta tidak merusak tanaman yang ada di sekitarnya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

CATATAN KAKI   [ + ]

1. Baca selengkapnya di buku Wanda Hamilton berjudul Nicotine War yang diterbitkan oleh Insist Press
X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: BERKAH TEMBAKAU BAGI KEHIDUPAN DI DESA!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/berkah-tembakau-bagi-yang-hidup-di-desa/