BUKA LEBAR JENDELA DUNIA DI POJOK BRAILLE

 In Liputan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dok. Faradila Nurbaiti

Pojok Braille adalah sebuah ruang yang disediakan bagi penyandang disabilitas netra untuk dapat mengakses buku dan berbagai pengetahuan di perpustakaan bersama masyarakat umum, yang bertempat di Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang1). Perpustakaan kota tersebut berlokasi di Jalan Besar Ijen 30A, Malang, Jawa Timur. Perpustakaan tersebut terdiri atas tiga lantai dengan berbagai layanan publik yang memadai. Di lantai dasar terdapat lobi, Ruang Baca Anak, Ruang Laktasi (menyusui), loker penitipan barang, dan fasilitas pendukung lain seperti toilet, musala, area merokok, kantin, dan area parkir. Di lantai dua terdapat Ruang Baca Umum, Ruang Referensi, dan Layanan Pojok Braille (Lapo BRA). Di lantai tiga terdapat ruang pertemuan (hall) dan recording centre.

Pojok Braille sendiri mulai diresmikan sejak 22 Mei 2015. Pada mulanya, yang diinginkan tidak hanya dibentuk layanan untuk penyandang disabilitas netra, tetapi semua jenis disabilitas. “Waktu itu pernah ada pengunjung perpustakaan yang datang menggunakan kursi roda. Karena ruang baca umum berada di lantai dua, kami pun membantu mengangkatnya dengan bantuan empat orang. Selain itu, dulu juga pernah ada pengunjung yang menyandang disabilitas netra sedang mengantar anaknya ke ruang baca anak, dan ia hanya duduk diam menunggu di lobi tanpa bisa menikmati apa-apa. Dari pengalaman-pengalaman itulah akhirnya yang membuat kami ingin menciptakan layanan khusus untuk disabilitas.” cerita Pak Louis selaku pustakawan dan inspirator berdirinya Pojok Braille. Lalu pertanyaannya, mengapa hanya disabilitas netra yang dibuatkan layanan? Hal tersebut karena pengelola perpustakaan melihat prioritas bagi penyandang disabilitas netra. Menurut mereka, penyandang disabilitas netra memerlukan kebutuhan sarana dan prasarana yang cukup tinggi, misalnya diperlukannya perangkat komputer khusus dan peralatan-peralatan khusus yang lain. “Akan tetapi, bagi kami bukan hanya sarana dan prasarananya yang dipentingkan, melainkan juga infrastrukturnya. Dari pintu masuk sampai dengan pelayanan di ruang Pojok Braille, paling tidak harus ada tanda dominan untuk mereka.” lanjut Pak Louis. Berawal dari keinginan di atas, langkah awal yang kemudian dilakukan oleh pengelola adalah riset dan studi banding ke Jakarta, hingga kemudian terbentuklah Pojok Braille tersebut.

Dalam Pojok Braille terdapat beberapa fasilitas pendukung, di antaranya adalah buku Braille; lima sampai enam perangkat komputer; talking book, yaitu sejenis buku yang dibacakan atau diceritakan atau disuarakan; kertas Braille dan kertas Countinous untuk mencatat; alat peraga seperti riglet kecil dan Braille tex; kalkulator bicara; dan tongkat lipat. Untuk perangkat komputer yang disediakan menggunakan aplikasi NVDA (Non Visual Desktop Access). Setiap kegiatan yang dilakukan oleh pengunjung dengan perangkat komputer kemudian akan dibunyikan atau diterjemahkan secara otomatis dalam bentuk audio dengan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Misalnya, pengunjung membuka aplikasi Microsoft Word, maka perangkat komputer akan menyuarakannya melalui pengeras suara “membuka Micorosoft Word”. Kemudian, ketika mengetik belajar adalah, perangkat komputer akan menyuarakannya “belajar adalah”, dan seterusnya. Sama halnya dengan cara kerja kalkulator bicara. Jadi, untuk perangkat-perangkat yang disediakan bagi pengunjung disabilitas netra berbasis meraba dengan tangan, merasakan, dan mendengarkan melalui audio.

Dok. Faradila Nurbaiti

Dalam penyediaan perangkat komputer dan perangkat talking book, pihak Pojok Braille bekerja sama dengan Yayasan Mitra Netra di Jakarta Selatan karena telah memiliki lisensi talking book DAISY (Digital Accessible Information System). Dalam tahap pengadaan buku Braille, pihak pengelola sempat mengalami hambatan. Untuk dapat mengalihmediakan atau mengalihbahasakan buku teks menjadi tulisan Braille, harus memiliki hak cipta dan harus mendapatkan izin dari penerbit buku teks. Kemudian, pengelola mengajukan ke Kementerian Sosial yang sudah mendistribusikan dan memiliki hak mengalihmediakan buku menjadi tulisan Braille. Sejak saat itu hingga hari ini, pengadaan buku Braille difasilitasi oleh Balai Penerbitan Braille Indonesia Abiyoso di bawah Kementerian Sosial secara rutin dan gratis. Hingga saat ini, koleksi buku Braille di Pojok Braille berjumlah lebih dari 1.000 buku. Buku yang disediakan di Pojok Braille adalah buku-buku pengetahuan dan keterampilan, buku bahasa, buku keagamaan, kitab Al Quran, dan juga buku panduan membaca Braille karena tidak semua penyandang disabilitas netra menguasai tulisan Braille, khususnya bagi penyandang netra sejak lahir.

Setiap harinya, Pojok Braille tidak selalu ramai pengunjung. Apabila lingkungan di dalam perpustakaan sudah cukup ramah, namun lingkungan di luar belum terlalu ramah dan belum mendukung untuk penyandang disabilitas netra dalam menuju ke sini, tentu itu dapat menjadi salah satu penghambat bagi penyandang disabilitas netra yang sebenarnya ingin mengakses buku di Pojok Braille. “Tapi kami tidak berhenti melakukan promosi, salah satunya dengan cara mengikuti lomba inovasi pelayanan publik. Kalau sudah mendapatkan prestasi, pasti akan diliput di mana-mana. Itulah salah satu cara kami mempromosikan Pojok Braille.” ucap Pak Louis. Selain itu, Pojok Braille juga memiliki kerja sama dengan Panti Rehabilitasi Netra di Janti Malang yang memiliki kurikulum belajar Braille dan dilakukan di Pojok Braille secara rutin setiap Senin dengan dijemput oleh bus milik Pemkot. Biasanya, pengunjung Pojok Braille lainnya yang juga datang secara mandiri adalah remaja berusia SMP dan SMA.

Sistem akses di Pojok Braille bersifat tertutup, yakni semua aktivitas aksesnya dapat dipandu oleh petugas dan buku Braille tidak dipinjamkan karena masih merupakan buku distribusi. Akan tetapi, mereka juga dapat meminjam buku di Ruang Baca Umum dengan cara mencarinya di katalog online, kemudian menyampaikan kepada petugas. Petugas akan mengambilkan buku yang diminta, kemudian di-scan, dan dapat dibaca langsung di perangkat komputer bersuara yang telah disediakan. Dengan begitu, penyandang disabilitas netra pun memiliki hak yang sama untuk membuka lebar jendela dunia seperti pengunjung umum lainnya.

Pada awalnya, Pojok Braille berada di lantai dasar, namun kemudian dipindahkan ke lantai dua dan bergabung dengan Ruang Baca Umum. Dipindahkannya Pojok Braille itu karena pengelola ingin menciptakan konsep perpustakaan yang inklusi, yakni dengan perlakuan sama seperti yang lain, sehingga pengunjung Pojok Braille tidak dieksklusifkan atau merasa diperlakukan berbeda, dan diharapkan dapat mandiri meski semua petugas tetap siaga melayani. Konsep tersebut kemudian berhasil dan sesuai dengan yang diharapkan, karena ketika pengunjung Pojok Braille mengambil buku untuk dibaca, mereka akan duduk di area yang sama dengan pengunjung Ruang Baca Umum, sehingga mereka pun dapat berkomunikasi dan bersosialisasi dengan pengunjung lainnya. “Dengan begitu, kami bermaksud untuk menciptakan peluang-peluang kerja atau kegiatan lain untuk penyandang disabilitas netra. Kebanyakan dari mereka hanya akan mengarah ke pekerjaan sebagai tukang pijat. Dengan konsep inklusi, mereka pun dapat berkomunikasi dengan masyarakat sekitar dan kemudian mendapatkan gambaran-gambaran yang lebih luas tentang banyak hal lain yang dapat mereka lakukan. Atau, kalaupun memang mereka ingin mengarah ke dunia kesehatan seperti profesi sebagai tukang pijat atau akupuntur, kami pun menyediakan buku dan pelatihannya terlebih dahulu agar mereka pun dapat mempersiapkan dengan matang.” cerita Pak Louis.

Dok. Faradila Nurbaiti

Sejauh ini, adanya Pojok Braille di Perpustakaan Kota Malang tersebut mendapatkan respons yang positif dari masyarakat. Respons positif itu dibuktikan dengan adanya beberapa perpustakaan daerah di Malang yang juga mulai menyediakan fasilitas Braille untuk penyandang disabilitas netra, mengingat Pojok Braille adalah layanan Braille bagi penyandang disabiltas netra yang pertama dibentuk di Kota Malang. Lebih luas, menurut pernyataan Pak Louis, layanan Braille di Jawa Timur baru tersedia di dua kota, yakni Malang dan Jember.

Terdapat beberapa hal yang menjadi harapan pengelola Pojok Braille. Salah satunya adalah pengunjung Pojok Braille perlahan-lahan dapat mandiri, mulai dari datang di pintu gerbang Perpustakaan hingga sampai ke ruang baca Pojok Braille, meski semua petugas tetap siaga untuk melayani. Selain itu, adanya jalur kuning di trotoar yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas netra pun dirasa belum cukup ramah untuk sarana akses mereka menuju ke Perpustakaan Kota. Transportasi lah yang dianggap sebagai sarana akses paling utama dan diharapkan bisa menjadi lebih ramah, misalnya dengan pelayanan dari transportasi online yang dapat mempermudah akses pengunjung dan nantinya dapat dibiayai oleh negara. Hal itu serupa dengan salah satu rencana jangka pendek dari pihak pengelola Pojok Braille, yakni ingin mengadakan sarana transportasi berupa “mobil jemputan” bagi pengunjung Pojok Braille. Selain itu, pihak pengelola juga berencana untuk memperluas ruangan Pojok Braille dan mengadakan workshop bagi penyandang disabilitas netra yang belum menguasai tulisan Braille, serta workshop perangkat dan keterampilan yang lain. “Selain itu, tahun depan, kami akan membuat daftar buku sendiri yang ada di koleksi kami, kemudian kami request untuk dialihmediakan ke tulisan Braille di pusat (Jakarta), sehingga kami dapat memperkaya koleksi. Dan sesegera mungkin kami akan mempelajari lebih dalam tentang Braille, sehingga kami tidak terus menerus difasilitasi dan membacakan buku, tetapi kami juga bisa segera membuat buku Braille sendiri dan memfasilitasi Pojok Braille secara mandiri.” ucap Pak Louis sembari menutup perbincangan.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

CATATAN KAKI   [ + ]

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: BUKA LEBAR JENDELA DUNIA DI POJOK BRAILLE!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/buka-lebar-jendela-dunia-di-pojok-braille/