KAMI BERCERITA TENTANG AYAH

 In Opini
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Kami sebut dia Ayah; Bapak; Papah; Abah; atau juga lain-lainnya.
Dengan semua panggilan itu, cerita ini adalah tentangnya.

Faradila Nurbaiti

Jika menuliskan apa saja tentang Bapak(ku), tentulah tidak akan bisa hanya dalam dua atau tiga paragraf ini. Tapi akan kucoba ceritakan sedikit tentangnya.

Bapak adalah laki-laki dengan hati seluas angkasa dan logika setajam belati. Tidak seperti kebanyakan keluarga, ada peran yang agak berbeda dalam keluargaku. Mama bekerja, Bapak mengurus anak-anak di rumah. Hal itu pun tidak serta-merta terjadi, tetapi melalui perbincangan dan pertimbangan yang dalam. Keduanya pun berhasil untuk saling mengalah, menekan ego, dan saling support untuk menjalankan perannya masing-masing, hingga aku dan ketiga kakakku tumbuh besar dengan kebahagiaan sederhana—sempurna yang mereka tularkan.

Bapak adalah laki-laki yang membukakan pagar seluas-luasnya untuk aku melakukan dan memilih apa saja yang kusukai, namun juga dengan sigap memberikan sinyal jika aku nyaris ‘melewati batas’. Dalam segala hal yang kulakukan, Bapak adalah yang selalu mengingatkan aku agar melakukan dan mengerjakan apa saja dengan hati yang ikhlas. Bapak tidak pernah lelah-lelahnya mengajariku dan menunjukkan kepadaku bagaimana caranya agar ikhlas dan memaklumi banyak hal. Mengeluh karena lelah itu boleh dan manusiawi, tapi sesekali saja, setelah itu jangan lupa bangkit lagi.

Meski bisa kutemukan banyak sekali sosok dalam dirinya, bagiku Bapak adalah sosok teman terbaik. Aku tidak pernah segan untuk bercerita apa saja kepadanya. Saat aku sedang sangat bahagia, sangat sedih, sangat bingung, butuh penguatan dan penenang, Bapak adalah laki-laki pertama yang kucari. Ada satu perbincanganku dengannya melalui telepon pada suatu malam.

“Pak, aku mau ikut xxxx. Nanti kalau aku wis bingung, tak riwuki lagi ya…”
(Pak, aku mau ikut xxxx. Nanti kalau aku sudah bingung, aku merepotkan lagi ya…)

“Ya. Ncen kudu gitu. Tugas orang tua adalah diriwuki anak-anaknya…”
(Ya. Memang harus begitu. Tugas orang tua adalah direpotkan oleh anak-anaknya…)

Satu hal darinya yang semoga bisa selalu kupegang erat sampai aku tua nanti. Bapak selalu mengatakan kalau bahagia itu tidak dicari, tetapi diciptakan. Yang tahu takaran kebahagiaan kita tentulah diri kita sendiri. Jadi, tidak perlu berlebihan. Ciptakan yang cukup saja, dengan cara atau hal kecil sekalipun. Yang penting, “Jangan bohong dan jangan nyolong (mencuri).

Selamat Hari Bapak 🙂

***

Cici Srilestari

Bapak nggak banyak bicara, tapi aksi nyata. Pernah saat kelas 4 SD, aku pamit sepedaan bersama teman lewat jalan raya mau ke Pamela. Saat aku pulang, eh, sudah dibuntutin dari belakang.

Loyalnya ngalahin Ibu. Pernah minta permen murah nggak dikasih sama Ibu, tapi giliran pergi sama Bapak udah dibelikan kue implek yang gede wujudnya.

Hobinya Bapak jadi hal yang ngangenin. Nonton tinju dan bergadang nonton wayang.

Favorite moment adalah kalau lagi diajari PR aksara Jawa. Modal papan sama kapur plus penghapus kain bekas. Intim banget, lah.

Bapak, ya, menurutku sosok yang kuat, yang punya cara sendiri untuk berkomunikasi denganku. Nggak selembut Ibu, tapi dari sedikit ngomongnya dan galaknya itu, tetap saja demi anak pokoknya yang terbaik.

Diam tapi melihat. Ketika aku butuh, dia sudah sedia di sampingku.

***

Adlan A.A.

Jika Bapak berdiri mematung, Anak yang sejak lulus SMA merantau sehingga menjadi jarang bisa menatap Bapak, memperhatikan betapa cepat kulit Bapak keriput, rambut memutih, pipi mencekung, gigi jadi jarang, wajah yang semakin nampak bersih tanda dekat dengan semesta dan Tuhan. Sudah berapa lama Anak tak menyapa Bapak?

Yang tak pernah menua dari Bapak adalah kasih sayang, usahanya memasang badan agar Anak tak kesusahan, juga menyembunyikan persoalan hidupnya agar Anak tak terbebani pikiran.

Sampai Anak sadar, bahwa satu-satunya cita-cita yang pantas Anak pelihara adalah, minimal, agar bisa menjadi seperti Bapak. Maksimal, bisa lebih baik dari Bapak.

***

Ismi Rinjani

Barangkali, Ayah adalah orang pertama yang mengajariku perihal kesetaraan. Sebenarnya bukan mengajari, lebih tepatnya memberi contoh langsung. Jika anak perempuan lain belajar memasak dan menjahit dari ibunya, aku mendapatkan ilmu itu dari Ayah. Jika anak perempuan lain mendapat kursus merangkai bunga dari kelompok keputrian, Ayah dengan senang hati berbagi kemahirannya menata kembang di dalam jambang kepadaku. Ketika adik bungsuku lahir, Ayah tak canggung dalam memandikan, memberi makan, sampai meninabobokkan. “Ayah hanya tak bisa menyusui adikmu,” begitu kelakarnya.

Ayah dalam kesehariannya selalu membantu Bunda di dapur. Tak jarang, Ayah pulalah yang kebagian tugas mencuci baju, menyetrika, hingga mengepel lantai. Pekerjaan domestik bukan hanya urusan perempuan, katanya. Setiap anggota keluarga punya tanggung jawab untuk memastikan semua tetek bengek rumah tangga selesai dengan baik. Ayah telah memberi teladan kepadaku dan dan kedua adikku bahwa perempuan dan laki-laki seharusnya menjadi tim yang solid. Saling memberi support satu sama lain. Saling melengkapi satu sama lain. Tidak ada yang lebih unggul, satu di atas yang lainnya. Di tengah dunia maskulin yang semakin menampakkan egonya, Ayah adalah contoh lain yang teladannya sangat aku syukuri. Aku bangga terlahir sebagai putrinya.

Selamat Hari Ayah Nasional!

***

Danang Pamungkas

Sosok Ayah begitu melekat dalam diri saya. Ia sosok yang pekerja keras, ulet, dan keras kepala. Entah mengapa sosok Ayah selalu seperti itu. Namun, di balik itu semua, Ayah adalah energi terbesar saya dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan terus berkarya. Karena sejak kecil saya sering sekali dimarahi dan diajari untuk bekerja keras, hal itu membuat saya sadar saat dewasa ini. Ternyata, bertanggung jawab kepada pilihan hidup itu berat sekali. Saya mulai menyadari di umur yang kian bertambah ini, menjadi seorang ayah bagi keluarga belum bisa saya bayangkan. Saya ragu, apakah saya bisa menjadi ayah nantinya? Melihat kerja keras dan perjuangan Ayah saya di rumah, saya begitu minder dan tidak yakin, hehe.

Saat saya masih kecil, keluarga kami hidup pas-pasan. Ayah saya harus kerja serabutan menjadi pengamen jalanan hanya untuk membelikan susu bagi anak-anaknya. Padahal ayah saya hanya hafal kunci gitar D, G, A, dan C. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana ia bisa senekat dan seberani itu. Namun, itulah Ayah. Apa pun ia lakukan demi keluarganya bisa hidup dan sejahtera. Ayah merupakan sosok yang kontroversial. Di sisi lain, ia orang yang menginspirasi, namun di sisi lain juga orang yang menyebalkan. Suatu kali saya sangat jengkel dan ingin minggat dari rumah, karena sifat protektifnya itu. Namun, saya rasa, apa pun yang dilakukan oleh Ayah saya itu, saya rasai sebagai kecintaannya yang dalam terhadap keluarga kami.

Selamat hari Ayah dan jadilah Ayah bagi kita semua.

***

N.H. Maryam

Ayah sebenarnya tidak merasa perlu untuk kuliah, tapi Ibu bilang Ayah harus kuliah dan giliran Ibu yang akan membiayainya. Ayahku pun bergelar sarjana pendidikan, tapi ia tidak pernah mau menjadi guru atau bahkan mendaftar PNS. Katanya, sayang uang untuk hanya dapat lulus tanpa hambatan. Ia lebih memilih berdikari dengan burung dan ikan-ikannya.

Ayah punya kamar. Aku punya kamar. Tapi kami tidak benar-benar tidur di kamar masing-masing. Hanya barang-barang kami yang tinggal. Begitu pun saat aku tidur di kamar Ayah. Pagi-pagi sekali aku akan terbangun dengan bau parfumnya. Aku tidak begitu suka parfum, apalagi parfum Ayah yang baunya kuat. Ayah bisa menghabiskan satu botol parfum 100 ml dalam dua minggu.

Ayahku sombong. Ia akan membeli banyak makanan untuk menyambut kepulangan anaknya. Besoknya, sambil melinting rokok di depan TV, ia akan bilang kepada Ibu untuk menghubungi temannya, barangkali temannya akan bayar hutang.

Ayah bilang ia bodoh dan menganggap Ibu adalah orang yang pintar. Itulah kenapa saat kutanya cita-citanya, ia hanya menjawab “menikahi ibumu”. Ayah bilang ia miskin. Itulah kenapa setelah menikahi ibu, cita-citanya bertambah menjadi jajan bersama anak-anaknya.

Ayah bilang ia menjadi yatim sejak usia 5 tahun dan banyak yang ia bayangkan saat itu. “Andai yang membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk bali itu kakekku, mungkin ia akan punya lebih banyak mobil-mobilan. Andai setiap pulang sekolah ikut kakekku bersepeda ke ladang, mungkin ia akan lebih cepat bisa naik sepeda. Andai, andai, andai….” dan andai-andai lainnya yang sesungguhnya tidak pernah ia tangisi, tapi ia ingin segala sesuatu menjadi lebih baik dari dirinya. Karenanya, Ayah ingin berumur panjang.

Suatu hari aku menelpon Ibu, tapi yang mengangkat Ayah. Dengan canggung ia menanyakan seorang laki-laki yang dekat denganku. Lalu, terakhir ia bilang, “Dengan siapa pun kamu, yang penting kalau Ayah atau Ibu meninggal, kalian bisa pulang….”

***

Tomyzul Habib

Kulitnya begitu tebal. Kukuh. Tegas. Bahkan, Kaido, salah satu yonkou penguasa laut East Blue-North Blue-West Blue-South Blue, pun tidak cukup untuk menegaskan betapa tebal dan kukuhnya kulit yang telah menemani istri dan kedua anaknya selama lebih dari dua puluh lima tahun itu.

Kulitnya boleh jadi tebal. Teguh bahkan. Lebih dari itu, sentuhannya begitu menenangkan dan menentramkan. Mulai dari genggamannya ketika mengendarai motor untuk mengantarkan salah satu dari kedua anaknya yang sering kali mendengarnya mengatakan, “Ayah berangkat, ya…”, sampai genggaman tangannnya ketika salim dan mengatakan, “Aku berangkat ya, Yah…” Sentuhan dalam setiap genggamannya selalu mendamaikan. Selalu menguatkan.

Egonya hampir selalu gagal menguar. Sabarnya selalu berhasil berdiri kukuh.
Diamnya selalu menampilkan sakral. Senyumnya selalu memberikan kekal.

Terima kasih, Ayah.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: KAMI BERCERITA TENTANG AYAH!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/cerita-kami-tentang-ayah/