DARI MUSISI UNTUK MASA DEPAN PANGAN: CATATAN KEDUA

 In Liputan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Setelah merampungkan rangkaian Konser 2500 Kalori dari sore hingga menjelang malam, malam harinya, Sangkring Art Space mulai dipadati pengunjung. Tiga ratus tiket yang disediakan panitia langsung sold out dalam sekejap. Pada sesi konser malam hari terdapat lebih banyak penampil seperti Kopibasi, Orkes Kodok Ngorek, Setu Bengi, Shoppinglist, Tiger Paw, Merah Bercerita, Farinela, ROBBRS, dan Dharma.

Orkes Kodok Ngorek membuka konser sesi malam hari dengan menampilkan pertunjukan musik dangdut dan aksi panggung yang gila. Mereka mampu membuat pengunjung bergoyang bersama mengikuti irama penabuh gendang. Berbeda dengan penampil sebelumnya, lewat lagu Nasi Addicted mereka menyindir sekaligus menceritakan bagaimana nasi telah menjadi candu bagi orang Indonesia. Pagi, siang, dan malam selalu makan nasi, seakan tak ada pilihan lain. Kalau harga beras naik, bersiaplah untuk irit agar nasi tidak segera habis. Kalau ditelisik lebih jauh dari akar historis, nasi menjadi makanan pokok utama semenjak orde baru membuat standar kesejahteraan pangan. Sebuah keluarga bisa dikatakan sejahtera kalau makanan pokoknya nasi, sebaliknya keluarga yang tidak mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok dianggap sebagai keluarga kurang mampu. Penyeragaman makanan pokok menjadi nasi merupakan startegi orba untuk memompa industri pertanian pada saat kebijakan Revolusi Hijau tahun 70-an.

Suasana belum klimaks. Masih ada beberapa musisi yang belum tampil. Shoppinglist membuka kembali lagu bernuansa kritik sosial terhadap persoalan konflik agraria di Kulonprogo. Lewat lagu Ibu Tani mereka menyuarakan kepedulian atas tersingkirnya petani dari lahannya. Lagu solidaritas untuk petani yang dibawakan Shopping List mendapatkan gemuruh tepuk tangan dari pengunjung. Pada akhir pertunjukan, mereka juga menampilkan musikalisasi puisi dengan kata-kata yang tajam berisi kritikan terhadap fenomena penggusuran petani oleh penguasa. Puisi yang dibacakan oleh Gunawan Maryanto tentang “mau makan apa kita jika sawah-sawah ditanami beton” seperti menggugah kesadaran akan penderitaan petani yang kehilangan sumber penghidupannya. Band ini membawa pendengar merasakan kepedihan yang dialami petani sekaligus menggalang aksi solidaritas bersama.

Kopibasi tak mau kalah dengan penampil sebelumnya. Lewat lagu Tempe 1, Kopi Basi menceritakan proses fermentasi tempe lewat dialog antara pedagang dan pembeli. Dengan lirik yang unik sekaligus membuat banyak orang penasaran, Kopibasi membuat penonton hanya senyum-senyum sendiri. Menurutku, lagu ini mempunyai tingkat kerumitan tersendiri. Zat organik dilukiskan secara detail dalam liriknya yang dirangkai sedemikian rupa sehingga tetap nyambung dan enak didengar. Lagu Ini juga merupakan proses kreatif yang jarang sekali dapat diracik dengan sempurna oleh musisi.

Pengunjung kian memadati panggung musik. Tak mau kehilangan momen, band Setu Bengi menggetarkan suasana lewat musik rock dan aksi atraktif para personilnya. Lagu Blues Lapar yang bercerita tentang remaja kosan kelaparan mempunyai daya tarik tersendiri. Bagi pendengar, khususnya mahasiswa, lagu ini sangat cocok karena menggambarkan remaja perantauan yang harus ngekos dan menabung agar bisa hidup. Gelak tawa pengunjung pun pecah tatkala bassist dan vokalis saling bersahutan lirik yang menjelaskan orang kelaparan.

Penampilan Tiger Paw seperti menambah adrenalin pengunjung untuk tetap semangat menikmati konser. Dengan musik heavy metal, pengunjung tak segan lagi untuk mosing dan bersenggolan menikmati double pedal pemain drum. Lagu CIU membuat penonton kegirangan untuk bernyanyi bersama. “Ciu … Orang mencintainya … Ciu … Orang memanggilnya …” Penggalan lirik ini agak konyol, namun menarik bila didengar. Bagi Tiger Paw, ciu merupakan minuman lokal yang sebenarnya berasal dari kecerdasan masyarakat Indonesia mengolah bahan pangan. Tanpa merek dan botol bagus, ternyata ciu mampu menembus pasar dan dikenal banyak orang. Meskipun banyak omongan negatif terhadap bahan pangan satu ini, setidaknya kita mendapatkan pandangan alternatif dari pandangan arus utama yang mengatakan ciu berbahaya dan tidak layak konsumsi.

Datang dari Solo, Merah Bercerita membawakan lagu Orde Sintetis untuk menyampaikan pesan bahwa negeri ini dalam keadaan bahaya. Bahaya akan betonisasi tanah, betonisasi hutan, dan betonisasi sawah. “Akan kutanami lagi tanah-tanahmu yang kutumbuhi beton, kutumbuhi pabrik-pabrik …” Penggalan lirik ini seperti menyampaikan kerisauan yang kita alami bersama. Desa sekarang sudah berubah menjadi kota dan kota berubah menjadi kumpulan pabrik. Akhirnya, sebagai manusia biasa, kita tidak bisa menikmati lingkungan yang sehat dan alami. Lagu ini juga menceritakan bagaimana lahan petani digusur untuk proyek industri besar sehingga petani kehilangan sumber pendapatan dan terasing dari lingkungannya.

Secara bergantian, penampil band terakhir membawakan tema makanan yang beragam. ROBBRS lewat lagu Dine and Whine mencoba menangkap suasana pertengkaran antara ibu dan anak. Mereka merindukan suasana makan bersama, namun setelah mencobanya ternyata semuanya berubah. Sang ibu dan anak pun saling menjauh. Ketika masih anak-anak, pasti kalian ingat bagaimana orang tua menyayangi kita. Akan tetapi, zaman pun berubah. Tiba-tiba kita telah menjadi dewasa dan mempunyai impian. Akhirnya keluarga pun ditinggalkan. Kondisi ini pasti pernah kita alami, kan? Lagu ini berhasil membawaku ke masa kecil dan banyak menyesali keputusanku saat dewasa.

Farinela dengan lagu Wedangan membawa pengunjung berimajinasi untuk menikmati minuman tradisonal. Dengan alunan musik tenang dan santai, mendengar lagu Farinela membuatku tergoda untuk segera pulang ke rumah menyantap minuman itu bersama keluarga. Alunan gitar akustik dan suara vokal yang kalem membuat kita seolah merasakan semilir angin di sawah ataupun rimbunan pohon di sekitar rumah.

Penampilan terakhir dari Dharma membuat suasana menjadi klimaks. Semua pengunjung berdiri untuk bersenang-senang dan menikmati alunan musik nge-beat dari Dharma. Lagu Beda Selera menjadi penengah wacana isu pangan. Lagu ini menceritakan bagaimana semua orang yang berbeda ras, agama, etnis, dan wilayah, dipersatukan oleh kenikmatan mencicipi makanan. “Mau kiri dan kanan, pernah terlibat cinta murahan…” penggalan lirik yang menarik untuk ditafsirkan lebih jauh. Ada pepatah yang bilang, kamu belum berdemokrasi jika kamu belum mencicipi makanan dari daerah lain. Itulah inti lagu yang bisa kutangkap dari Dharma.

Akhirnya, kebahagiaan dinikmati oleh pengunjung. Kulihat sorot mata dan wajah yang berseri-seri di antara banyak orang. Album bertema pangan ini mungkin satu-satunya album yang mengangkat tema pangan di Indonesia. Musik memang media yang bisa diterima oleh banyak orang. Lewat media musik, semua isu bisa terangkum dengan baik. Selera dan rasa memang tidak bisa diperdebatkan, namun apa salahnya kalau sesekali kita mencoba berkompromi dengan kenyataan? Yuk, mencoba dan menikmati album 2500 Kalori untuk mendekatkan diri kita pada isu pangan!

Galeri

Dok. Yoga

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: DARI MUSISI UNTUK MASA DEPAN PANGAN: CATATAN KEDUA!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/dari-musisi-untuk-masa-depan-pangan-catatan-kedua/