DEPOT VIDEO DAN HARAPAN PENGARSIPAN KITA

 In Opini, Ulasan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Apa yang terbayang di benak Anda saat mendengar kata “arsip”? Mungkin yang langsung terlintas adalah tumpukan kertas usang, berdebu dengan suasana tempat lawas, dan petugas-petugas yang juga sudah berusia. Pandangan itu tidak sepenuhnya salah, karena kenyataanya memang demikian. Itu pun sudah untung, ada pihak yang mau melakukan kegiatan yang “super tidak populer” ini. Ya, karena pada kenyataannya tidak semua pihak sadar akan betapa pentingnya pengarsipan, bahkan untuk setingkat negara sekalipun.

Melakukan usaha pengarsipan memang terlihat mudah, dan saking mudahnya, sampai-sampai tersepelekan. Bahkan untuk sekadar mencatat pun tidak banyak yang mau melakukannya. Dalam perfilman nasional, kita mengenal JB Kristanto, yang disebut sebagai ensiklopedia berjalannya film Indonesia oleh sebagian orang. Salah satu karya fenomenalnya adalah Katalog Film Indonesia 1926−2007 (terus mengalami revisi). Seluruh film Indonesia secara rapi dan runtut dicatatnya, lengkap dengan identitas film tersebut. Nampak sepele bukan? Akan tetapi, kalau tak ada buku tersebut, mungkin kita tak akan pernah tahu betapa populernya kuntilanak dan pocong di bioskop-bioskop kita dulu.

Selain itu, dalam perfilman nasional, kita juga mengenal adanya Sinematek Indonesia. Sinematek Indonesia merupakan pusat arsip perfilman Indonesia yang ada sampai saat ini, bahkan disebut-sebut sebagai yang pertama di Asia Tenggara. Meski perfilman nasional kita dari segi kuantitas dan kualitas terus mengalami peningkatan, ironisnya tidak demikian dengan Sinematek Indonesia. Kondisinya “begitu-begitu” saja dari dulu, bahkan banyak dari pita-pita film nasional kita di masa lampau yang berjamur karena buruknya pengaturan temperatur ruangan. Padahal, dari satu film saja, ah, jangankan satu film, satu gambar saja dalam sebuah film, kita dapat melihat busana, gaya arsitektur, moda transportasi, ciri fisik orang, dan lain sebagainya untuk dijadikan sebagai referensi. Kemudian, bagaimana dengan satu film? Oleh karena itu, saya sepakat dengan pernyataan Joko Anwar yang intinya jangan salahkan pembuat film kita dengan gaya kebarat-baratan, wong film nasional kita terdahulu saja tak terurus. Mau belajar dari mana?

Seiring dengan perkembangan zaman, berkembang pula berbagai macam alat tutur manusia, salah satunya adalah kamera digital. Bahkan, smartphone yang dijual di pasaran saat ini sudah dilengkapi dengan kamera berkualitas yang tak kalah dengan kamera profesional. Perkembangan tersebut tentu juga diikuti oleh perkembangan pengarsipan. Bukan hanya media cetak yang penting untuk disimpan dan dirawat, melainkan berbagai bentuk rekaman audio-visual pun penting untuk diarsipkan. Itulah yang saat ini diusahakan oleh teman-teman di Yayasan Kampung Halaman dengan program Depot Video-nya.

Dok. Depot Video

Depot Video adalah wadah arsip audio-visual yang dapat dimanfaatkan seluas-luasnya oleh berbagai kalangan untuk berbagai kepentingan. Depot Video mulai diinisiasi pada 2006, bersamaan dengan didirikannya Yayasan Kampung Halaman. Tercatat hingga saat ini terdapat 547 video yang berasal dari 87 komunitas dan 35 kabupaten di Indonesia. Tidak hanya dapat diakses secara online, yang menarik dari Depot Video ini juga dapat diakses secara offline. Tercatat sudah ada lima kampus di Indonesia yang menyediakan layanan Depot Video untuk dinikmati. Kelima kampus tersebut adalah Universitas Gajah Mada, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Udayana Bali, Universitas Muhammadiyah Malang, dan Universitas Indonesia.

Hal lain yang menarik dari Depot Video adalah adanya gerakan berupa produksi video (termasuk film) yang dikerjakan oleh remaja, baik produksi yang berupa program dari Kampung Halaman maupun produksi yang dilakukan secara mandiri untuk mengadvokasi komunitas masing-masing (metode partisipatori). Secara umum, video yang di produksi tersebut dari segi teknis memang masih biasa. Akan tetapi, seperti yang dikatakan oleh Nugroho dan Herlina (2013:299) dalam buku Krisis dan Paradoks Film Indonesia, “Melalui video komunitas diketahui bahwa masyarakat memiliki potensi menciptakan jenis estetika film yang berbeda dibanding dengan estetika versi sekolah film”. Berdasarkan kutipan tersebut, saya pun sepakat bahwa remaja yang memegang kamera akan berbeda dengan seorang profesional yang memegang kamera. Terdapat orisinalitas dan kejujuran yang langka untuk kita temukan pada seorang profesional.

Setelah melakukan produksi, pertanyaan selanjutnya adalah, ke manakah karya tersebut akan ditayangkan? Masalah distribusi dan eksibisi pada akhirnya akan selalu dihadapi. Jangankan teman-teman yang berkegiatan di komunitas, mereka yang profesional dengan orientasi profit saja sampai saat ini masih menghadapi masalah tersebut, film nasional kita misalnya. Oleh karena itu, adanya Depot Video ini menjadi penting sebagai saluran distribusi dan juga sebagai display (ekshibisi) karya-karya remaja.

Apabila dilihat secara bentuk, apa yang dilakukan teman-teman Yayasan Kampung Halaman ini memang bukan hal yang baru. Akan tetapi, yang terpenting sebenarnya adalah konsistensi dalam menjalankan gerakan ini. Sudah cukup banyak pihak yang memutuskan untuk menjadi wadah arsip dalam berbagai bidang, namun tidak banyak yang secara konsisten melakukannya hingga saat ini. Mungkin mereka akhirnya menyadari betapa jenuhnya melakukan usaha pengarsipan. Ya, kenyataan tentang adanya kesan membosankan dalam melakukan usaha pengarsipan juga menjadi perkerjaan rumah bagi teman-teman di Yayasan Kampung Halaman. Perlu adanya pencarian akan terobosan-terobosan baru dalam melakukan usaha pengarsipan, tentunya yang sesuai dengan tuntutan zaman dan karakteristik remaja saat ini.

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: DEPOT VIDEO DAN HARAPAN PENGARSIPAN KITA!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/depot-video-dan-harapan-pengarsipan-kita/