Dewasa ini, jika akan melewati jalur pantai utara kota Tuban-Lamongan-Gresik-Sidoarjo-Surabaya, kita akan menjumpai pelbagai perusahaan besar yang kini telah menjadi jantung ekomoni di sana. Beberapa industri besar yang ada di wilayah Lamongan saat ini terletak di wilayah Kecamatan Brondong dan Paciran. Beberapa perusaahan yang telah berdiri dan memulai aktivitas industrinya adalah PT LIS (Lamongan Integrated Shorbase) yang berdiri sejak 2007 1), PT Dok Pantai Lamongan, PT Jaya Brix Indonesia, dan lain-lain. Banyaknya pabrik yang dibangun tersebut menyerubung dan seperti halnya gulma, masyarakat produktif di dalam dan sekitar kota Lamongan datang untuk bekerja dan menetap di pantura, setidaknya menurut data BPS (BADAN PUSAT STATISTIK) Lamongan tahun 2015, ada sekitar 46.532 ribu orang yang bermigrasi ke Lamongan. Ini belum termasuk jumlah total masyarakat Lamongan pada tahun yang sama, yakni 1.179.059 jiwa. Padahal, pada 2009, data BPS Lamongan mencatat bahwa jumlah penduduk total Lamongan adalah 77.929 jiwa.

Mengolah Penumpukan

Kenaikan jumlah penduduk ini tentu berdampak pada beberapa hal, salah satunya limbah yang mereka hasilkan. Di beberapa desa yang merupakan tempat pariwisata di pantura Lamongan, penanggulangan sampah memang menjadi perhatian masyarakat. Akan tetapi, di desa-desa yang agak ke selatan dari pantura, saya justru menjumpai hal yang berbeda, yakni banyaknya jumlah sampah yang dibuang sembarangan, bahkan di tengah alas. Hal ini terjadi karena minimnya TPA (tempat pembuangan akhir) di tiap-tiap desa maupun kecamatan, apalagi TPA yang tersedia memang jauh aksesnya. Masyarakat di pedesaan Lamongan dahulu memiliki tempat untuk membuang sampah rumah tangga sendiri yang lazim disebut jublang (semacam galian tanah untuk menimbun sampah), namun jumlah kubik sampah rumah tangga saat ini dirasa semakin besar, sehingga jublang saat ini tidak lagi efisien untuk menampung jumlah sampah rumah tangga masyarakat.

Salah satu penumpukan sampah yang terjadi di hutan bisa dilihat di Desa Payaman Kabupaten Solokuro. Jumlah sampah ini bisa terjadi karena satu kecamatan, yakni kecamatan Solokuro, hanya memiliki satu TPA yang terletak di Desa Dadapan, sedangkan TPA Solokuro menanggung beban sampah dari 10 desa, dan jarak Desa Pamayan dengan Desa Dadapan cukup jauh. Terjadinya penumpukan sampah ini merupakan salah satu sisi lain di balik bonus demografis di suatu daerah dan merupakan PR besar yang mesti dipecahkan bersama.

Untungnya, penumpukan sampah ini dipahami oleh sebagian alumni pondok pesantren Tarbiyatut Tholabah yang terletak di Desa Kranji, Kecamatan Paciran. Mereka bersama-sama melihat adanya potensi dari sampah-sampah tersebut untuk didayagunakan.

karya_berkah-dari-sampah_2
Dok. Bagus Ferry

Ide awalnya pengumpulan sampah bermula dari seorang sahabat bernama Badrul Ibad yang merupakan alumni sebuah pondok pesantren di pantura. Badrul menilai bahwa kaum santri seharusnya juga memiliki andil yang besar bagi masyarakat. Di samping itu, Badrul juga merasa bahwa pondok pesantren yang dihuni beberapa ratus/ribu santri juga memiliki andil terhadap jumlah sampah yang kian menumpuk. “Pada awalnya kami berinisiatif untuk membuat gerakan gerobak sampah yang nantinya dipergunakan untuk pengolahan sampah di dalam pondok pesanteren sendiri, sehingga pondok pesantren menjadi mandiri untuk mengelola hasil sampah yang ada,” kata Badrul. Selanjutnya, dengan mengumpulkan beberapa relawan yang semuanya merupakan alumni Pondok Pesantren tersebut, dia mencoba mengumpulkan berbagai macam barang dari hasil penumpukan sampah masyrakat untuk diolah dan nantinya bisa dipergunakan ulang, kemudian diberikan kepada santri-santri di Pondok Pesantren.

Seperti kegiatan yang baru-baru ini mereka lakukan dengan mencari pelbagai macam kaleng yang nantinya akan dipergunakan untuk menjadi celengan, dengan harapan para santri akan giat untuk menabung dan juga memberikan efek kebergunaan atas sampah.

karya_berkah-dari-sampah
Dok. Badrul Ibad

Menurut Badrul, apa yang dilakukan para alumni santri ini bisa selayaknya bisa ditiru dan menjadi pelatuk bagi beberapa Pondok Pesantren yang lain untuk sadar terhadap lingkungan, serta mendayagunakan apa pun di sekitar lingkungan mereka supaya lebih berkah. Hubungan relasi antara para santri dan pondok pesantren tidak akan bisa lepas walaupun para santri tersebut sudah tidak lagi menuntut ilmu di dalam lingkungan pondok pesantren. Hal itu karena terdapat adagium yang selalu menempel bagi mereka ketika pernah mondok (belajar di Pondok Pesanteran), yakni “ngalap barokah poro Kyai” dan inilah yang menjadi patokan bagi Badrul dan kawan-kawan dalam menjalani kondisi kehidupan sehari-hari.

Semoga keberkahan juga datang dari alam yang telah kita huni.

CATATAN KAKI   [ + ]

1. http://nasional.kompas.com/read/2008/08/26/01512926/metamorfosis.lamongan
Related Projects
X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: BERKAH DARI SAMPAH!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/deretan-karya/berkah-dari-sampah/