DI BALIK LAYAR SELAMAT PAGI

 In Liputan, Opini
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Sore hari. Gemercik air sungai terdengar indah dan memecahkan kesunyian. Gesekan batang bambu yang diterpa angin membuat Badrun dan Gharuk segera memfokuskan pandangan ke semak-semak di panggung tepi sungai yang mulai meninggi. Veri masih sibuk wira-wiri membawa botol cat mural warna-warni di tangannya, sementara Azhar masih santai menyeduh kopi sambil melihat tingkah Badrun dan Gharuk yang sedang gusar. Aku masih duduk santai melihat Veri wara-wiri mempersipakan peralatan mural.

Deru suara motor dari arah belakang SD Krapyak mulai terdengar semakin mendekat. Galih, Sulton, teman-teman Tropical Attack langsung memarkirkan motor bersamaan. Galih membawa puluhan koran yang ia ikat dengan tali rafia hitam. Sulton membawa gunting, kertas putih, dan beberapa plastik yang ia taruh di depan meja tempat peralatan membuat zine.

Aku masih terjaga di tempat duduk sambil mengisap sebatang rokok ditemani alunan dangdut koplo yang menyegarkan pikiran. Kulihat teman-teman wira-wiri seperti orang bingung. Sepuluh langkah dari tempatku duduk, Mang Aceng dan Teteh Mariam sedang memotong kertas karton dan membuat beberapa motif topeng bersama anak-anak Krapyak yang kegirangan.

Dok. Selamat Pagi

“Ayo sekarang gotong royong motongin rumput di bawah,” kata Gharuk yang membawa arit

“Sebentar aku tak ngambil gunting rumput sama pacul,” sahut Veri

Aku, Azhar, dan Galih merespons langsung dengan mematikan rokok dan berjalan seperti pahlawan yang sudah siap membantu dengan perasaan malas. Datanglah ‘Trio Kwek-kwek’ dari ISI Solo yang membawa kamera dan peralatan video yang memusingkan mata.

“Kau ini mau lomba main film atau mau bersih-bersih rumput?” kataku yang meledek

“Kita kan, tim pemotret yang mendokumentasikan acara bersih-bersih rumput…” jawab seorang Trio Kwek-kwek sambil tertawa

Kami semua yang menganggur dengan setia menunggu aba-aba dari Gharuk untuk bekerja. Benar saja, tak berlangsung lama, Gharuk dengan ke-gentle-annya tampak sedang giat memaculi rumput.

“Ayo sekarang mulai bersih-bersihnya. Tinggal 18 jam lagi Selamat Pagi sudah mulai. Semangat…”

Pantikan dari Gharuk membuat kami bekerja dengan ceria. Galih dan Sulton mulai membersihkan dedaunan yang berserakan untuk dibakar, sementara Veri menyapu semua kotoran yang terlihat di depan mata. Aku, Trio Kwek-kwek, dan Badrun mencabuti rumput dengan peralatan sederhana. Trio Kwek-kwek mencabuti rumput dengan tangan, aku membabati rumput menggunakan arit, sementara Badrun membersihkan semak-semak menggunakan gunting rumput yang tumpul. Gharuk masih sibuk membersihkan anak tangga dari tumbuhan liar dengan pacul. Karena letih, sesekali ia mengibaskan rambutnya yang panjang itu untuk menghirup udara segar, kemudian bekerja lagi.

Kami semua bahu-membahu membersihkan tempat pelapak Selamat Pagi yang mulai dimakan rayap. Musim penghujan memang kurang bersahabat untuk kegiatan kesenian seperti ini. Namun apa daya, kami hanyalah manusia biasa yang tak bisa menghentikan hujan. Jalan terbaik hanya berdoa kepada Tuhan agar saat Selamat Pagi hujan tidak datang.

Menjelang petang, Mang Aceng dan Teteh Mariam bersama anak-anak Krapyak berlatih drama di panggung tepi sungai. Tropical Attack sibuk membuat sketsa gambar di dinding Yayasan Kampung Halaman. Pemandangan menarik ini membuat kami terhibur dan tersenyum-senyum sendiri. Tiba-tiba Yoga datang sambil tertawa cekikian.

“Dateng telat, ketawa cekikian lagi. Sana ngarit dulu. Kerja! Kerja! Kerja!” kata Veri yang sedang membakari sampah

Santai wae, to. Aku sudah siap mental…” jawab Yoga

Yoga bertindak cepat. Tanpa berpikir panjang, ia membabati rumput di sekitaran panggung dengan lincah. Meskipun dengan arit tumpul, ia mudah sekali menyisir rerumputan ke dalam karung. Nampak jelas kalau dulunya ia sering mengarit di sawah.

Malam tiba lebih cepat. Kami bergegas menuju ruangan atas Kampung Halaman dan mengangkati beberapa meja, kursi, serta papan untuk persiapan diskusi Minggu Pangan. Kulihat wajah teman-teman tampak riang gembira. Tak ada hal yang perlu dirisaukan, asal dilakukan dengan gotong royong.

Kami beristirahat sejenak untuk makan nasi telor yang dibeli dari Burjo dekat SD Krapyak. Makanan sederhana itu nyatanya habis tak tersisa. Apa pun makanannya, kalau dimakan sehabis bekerja pasti rasanya jadi enak! Hanya beberapa menit kami istirahat, datanglah peralatan musik dari Mas Black yang seperti biasanya memasang wajah santai. Kami mengambil satu per satu alat dari Mas Black, mulai dari sound, gitar, bass, drum, dan alat-alat lainnya. Mas Black sudah terbiasa bekerja lembur kesana-kemari untuk mengantar alat musik. Kedatangannya pada tengah malam itu menjadi hiburan tersendiri bagi kami yang mulai lelah dan ngantuk.

Dok. Selamat Pagi

***

Apa salah dan dosaku sayang, cinta suciku kau buang-buang… lihat jurus yang kan kuberikan…  jaran goyang, jaran goyang.

Mendengar Nella Kharisma bernyanyi, aku bergegas menuju sumber suara tersebut. Ternyata suara itu berasal dari sound Mas Black. Kulihat mata teman-teman yang masih merah akibat kurang tidur. Galih kemudian datang membawa segelas kopi panas yang aromanya membuatku ingin ikut menyesapnya. Aku langsung berjalan ke dapur untuk membuat kopi. Kulihat Badrun, dan Veri sibuk menata lapak jualan. Gharuk menyiapkan konsep acara sambil berkoordinasi dengan soundman dan MC, sementara Ismi yang menjadi penanggung jawab Minggu Pangan dibantu oleh beberapa orang untuk menyiapkan peralatan membuat makanan. Tropical Attack kembali mengecat dinding dengan menyelesaikan beberapa motif yang kemarin belum selesai, sementara Yoga sibuk menata pengaturan pada kameranya. Trio Kwek-kwek menyiapkan peralatan video dan memasang tripod di titik-titik yang strategis. Semuanya terlihat serius dengan pekerjaannya, namun mereka tak lupa untuk bercanda dengan orang sekitar.

Galih dan Sulton mulai sibuk mengguntingi koran dan menempelkan kertas HVS ke papan putih yang khusus disediakan untuk workshop zine. Mereka terlihat lihai dalam mengajari anak-anak untuk membuat zine dari koran. Terlihat beberapa orang tertawa melihat zine yang dibuat oleh peserta workshop yang menceritakan banyak tema.

Dok. Selamat Pagi

Di tempat lain, Mang Aceng dan Teteh Mariam berdiskusi dengan anak-anak Krapyak terkait persiapan pentas. Mereka mulai memakai topeng dengan motif berbeda-beda. Ada yang memakai topeng bermotif monyet, matahari, dan elang. Beberapa warga yang datang tertawa lepas melihat pemandangan itu, ada pula yang berswafoto dengan anak-anak untuk diunggah ke Instagram story masing-masing. Menyaksikannya membuatku terbayang akan keluarga impianku semasa kecil dulu.

Tepat pukul 8 pagi, teman-teman mulai berdatangan dan mulai menyiapkan alat-alat. Terlihat Gabriela Fernandez, Kremun, Tiger Paw, dan Eternity telah siap untuk pentas. Musisi yang tampil di panggung Selamat Pagi selalu memiliki ciri khas masing-masing. Jogja bisa dikatakan sebagai gudangnya seniman yang potensial. Mereka ada di mana-mana, mulai dari kota sampai desa. Selamat Pagi juga dapat dikatakan sebagai wahana bagi musisi untuk mempresentasikan karya sekaligus bercengkrama dengan pendengarnya.

Acara dimulai dengan suara MC, Ichidilaga dan Kevin, yang memecah suasana. Beberapa orang langsung berkumpul di depan pusat suara. Lapak-lapak jualan mulai dipenuhi oleh pembeli, ibu-ibu sibuk menggoreng makanan, dan puluhan orang datang memenuhi area Selamat Pagi.

Dok. Selamat Pagi

Pertunjukan yang ditampilkan oleh Mang Aceng, Teteh Mariam, dan anak-anak Krapyak menjadi pembuka dari acara panggung tepi sungai. Adegan-adegan konyol di sepanjang penampilan membuat penonton tertawa lepas. Mereka mengusung tema lingkungan yang mudah untuk dipahami. Aku yakin, jika tema apa saja, baik serius maupun santai, dapat ‘dibungkus’ seringan ini, pembelajaran di sekolah akan  jauh lebih menarik tanpa harus memaksa siswa belajar hal-hal yang tidak mereka sukai.

Penampilan Tiger Paw menaikkan kembali suasana dan adrenalin penonton. Musik heavy metal yang mereka mainkan membuat banyak orang bersemangat untuk berolahraga di pagi hari. Penampil selanjutnya, Eternity pun tak kalah seru. Mereka tampil dengan musik pop-rock yang nyaman didengar.

Selain itu, ada pula Kremun dan Gabriela Fernandez yang mengklimakskan pertunjukan. Musik elektrik dan sentuhan distorsi gitar dari Kremun membuat banyak orang menggerakkan badan, mengikuti alunan musik Kremun. Gabriela dengan musik santai dan kalemnya berhasil membuat orang-orang tetap bertahan menikmati kopi di siang hari.

Dok. Selamat Pagi

Tak dapat dibendung, hujan pun datang kian deras. Semua orang terjebak di Kampung Halaman. Meski begitu, ada sisi positif dari turunnya hujan siang itu. Kami semua dapat berdiskusi dan saling menceritakan apa saja. Semua orang terlihat bahagia saat itu. Kalau hidup setiap hari seperti ini, aku meyakini bahwa kami semua bisa hidup tenteram. Mungkin saat itu Tuhan hadir di antara kami dan mendekatkan manusia yang bahkan pada awalnya tak saling mengenal.

Hujan mulai reda. Kami semua kembali bekerja untuk membereskan alat-alat. Kursi dan meja yang berserakan diangkat dan dikembalikan ke tempat semula. Semua sudah beres. Lelah itu pasti, namun kalau tidak seperti ini, tak ada cerita menarik yang bisa dituliskan. Kalau tidak ada Selamat Pagi, mungkin kami semua tak akan dapat saling sapa, apalagi membuat kegiatan bersama. Selamat Pagi, oh, Selamat Pagi, kebersamaanmu membuat kami kecanduan!

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: DI BALIK LAYAR SELAMAT PAGI!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/di-balik-layar-selamat-pagi/