DI LERENG GUNUNG KAMI BELAJAR

 In Tulisan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dok. Sekolah Remaja

Menyusuri jalan setapak yang curam. Kerikil dan bebatuan membuat mobil bergoyang ke kiri dan kanan. Siang hari yang sedikit mendung, Tim Sekolah Remaja (SR) Yayasan Kampung Halaman bersama Tim Sokola Kakigunung menuju Dusun Sumber Candik yang terletak di lereng Pegunungan Argopuro. Dusun ini menawarkan pemandangan alam yang luar biasa indah, yaitu perkebunan kopi yang menutupi bukit dengan buahnya yang berwarna merah, kuning, dan hijau, yang tentu sangat memanjakan mata.

Menurut Kernet, Guru Sokola Kakigunung, sudah hampir 10 tahun warga mengandalkan komoditas kopi sebagai mata pencaharian utama. Di samping komoditas kopi, warga juga menanam jagung, cabai, durian, alpukat, dan tanaman lainnya. Pekerjaan sebagai petani sudah dijalankan warga sejak zaman nenek moyang hingga sekarang. Anak-anak dan remaja memiliki kemampuan mengolah lahan.

Sejak tahun 2015, Tim Sokola Kakigunung mengajarkan literasi dasar di Sumber Candik. Anak-anak belajar di rumah panggung yang berukuran sekitar 50 m2. Warga menyebutnya “Rumah Guru” karena di situlah tempat anak-anak berkumpul untuk belajar membaca dan menulis. Sementara itu, orang tua juga belajar membaca dan menulis di masjid yang berada di tengah-tengah dusun.

Dok. Sekolah Remaja

Tim SR datang untuk berkegiatan bersama remaja Sumber Candik. Teknologi—GPS, laptop, QGIS, kamera—digunakan sebagai media belajar untuk mengenali potensi lingkungan sekitar. Sejak kedatangan kami pada Juni 2017 hingga Februari 2018, Giarian Harik, Community Organizer SR dan remaja melakukan banyak kegiatan: pembentukan panitia lomba 17 Agustus, film dokumenter mengenai tradisi pencak, kesenian glundengan, peternakan lebah, dan pemetaan lahan menggunakan QGIS serta GPS.

Remaja Sumber Candik mayoritas merupakan lulusan Sekolah Dasar. Sehari-harinya, mereka bekerja di ladang. Selain itu, ada juga yang bekerja serabutan sebagai buruh bangunan. Kami berkenalan dengan banyak remaja yang kreatif dan berani termasuk 8 orang yang mengikuti proses Sekolah Remaja secara keseluruhan. Kedelapan remaja tersebut tentu memiliki kelebihan sekaligus keunikan masing-masing yang sangat luar biasa.

Abdur merupakan remaja yang paling jago bertani dan beternak kambing, sementara Isbat dan Hanafi jago dalam urusan sound system dan video editing. Musfik dan Pipin jago dalam beternak lebah dan panjat-memanjat, sementara Riki dan Farid jago dalam menggunakan kamera dan laptop. Berbeda pula dengan Arifin yang paling jago dalam mengambil video dan ilmu pertukangan.

Pada awalnya, mereka sama sekali tidak tertarik dan malu untuk belajar kamera, laptop, GPS, dan QGIS. Namun, setelah belajar, tak disangka mereka dengan cepat menguasai alat-alat tersebut. Pengoperasian alat-alat itu mereka gunakan dalam mendokumentasikan lomba 17 Agustus, kesenian pencak, kesenian Glundengan, dan pemetaan lahan kelompok tani.

Dok. Sekolah Remaja

Saat kegiatan beternak lebah, peserta SR bahu-membahu mencari lebah di hutan yang dipandu oleh Musfik dan Pipin. Mereka menyusuri ribuan pohon kopi dan mendaki medan yang curam. Musfik dan Pipin dengan lincah mengambil lebah tanpa disengat. Sejak kecil, mereka sudah terbiasa mengambil lebah di hutan sehingga tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh lebah untuk dibudidayakan bersama. Baru kali ini para remaja bergotong-royong membuat peternakan lebah bersama. Kegiatan ini juga diselingi belajar menggunakan GPS untuk mengukur jarak sarang lebah dengan titik kumpul dari Rumah Guru.

SR tidak hanya berkegiatan dengan remaja, namun juga dengan orang tua. Pada kegiatan membuat sarang lebah, Pak Wa mengajarkan kepada remaja teknik menghaluskan dan memotong kayu agar terlihat rapi dan halus. Peserta SR menyimak dengan seksama dan antusias, serta langsung mempraktikkan hasil belajarnya dengan membuat sarang lebah baru.

Pada akhir program, Tim SR, Sokola Kakigunung, remaja, dan warga bergotong-royong membuat kelompok tani sebagai wahana belajar bersama sekaligus belajar memasarkan produk ke pasar. Kelompok tani juga mempunyai inisiatif untuk membuat pupuk organik guna meminimalisasi penggunaan pupuk kimia yang tidak ramah lingkungan dan harganya semakin mahal. Riki dan Isbat sangat antusias untuk mendokumentasikan kelompok tani dan pembuatan tutorial pupuk organik agar semua orang bisa langsung mempraktikkannya. Pembuatan logo untuk memasarkan produk juga dibantu oleh remaja agar pupuk organik hasil buatan warga bisa mudah dipasarkan dan memiliki ciri khas. Sementara itu, untuk kelengkapan administrasi kelompok tani, remaja bersama warga menitik lokasi lahan dan luas lahan menggunakan GPS untuk divisualisasikan dalam bentuk Peta QGIS.

Dok. Sekolah Remaja

Tujuh bulan lamanya kami telah belajar bersama dengan remaja dan warga. Segala pengalaman dan ilmu dari banyak kegiatan yang telah dilakukan bersama akan selalu berguna bagi kami sebagai generasi muda untuk terus berjalan ke depan.

Sore itu, hujan turun cukup deras, seakan mewakili segala bentuk syukur yang bisa kami rapalkan. Embun kian tebal dan suasana hutan yang hening menambah kekuatan ingatan kami untuk terus merawat segala bentuk proses kebersamaan. Hingga akhirnya kami tersadar bahwa harus segera berpamitan untuk pulang dan siap mengurai segala pengalaman dan pengetahuan yang telah didapat.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: DI LERENG GUNUNG KAMI BELAJAR!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/di-lereng-gunung-kami-belajar/