FAJAR MERAH: BERKARYA TANPA BEBAN

 In Tulisan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Minggu (28/1) pagi, matahari bersinar sangat cerah seolah semesta sedang memberkati semua makhluk. Selamat Pagi sudah mencapai volume ke-17. Kegiatan yang dilaksanakan tiap dua bulan sekali di Kampung Halaman, Yogyakarta kali itu mengangkat tema “berwarna-warni”. Selamat Pagi menjadi ruang untuk berkumpul dan berkolaborasi teman-teman dari berbagai kalangan. Ya, seperti warna-warni pelangi yang indah di angkasa.

Salah satu suguhan Selamat Pagi yang dinanti adalah Panggung Tepi Sungai. Untuk edisi kemarin, Panggung Tepi Sungai dimeriahkan oleh Uncle T and Fams, JB Blues, Fis Duo, Juan Kolemar, dan Fajar Merah. Nama terakhir yang disebutkan itu pasti sudah tidak asing di telinga kita. Suara vokalnya yang kuat dan bersahaja sering kita dengar tengah menyanyikan doa-doa dan seruan perjuangan lewat band-nya Merah Bercerita. Putra kedua dari pasangan Wiji Thukul dan Diah Sujirah itu memiliki jiwa seni seperti ayahnya. Lagu ciptaan Fajar Merah memiliki ciri tersendiri, yakni dibaluti dengan lirik yang puitis.  Misalnya, pada salah satu lagu yang kemarin dibawakannya terdapat penggalan lirik “ada hantu di balik batu, tak kelihatan terus menggerus. Dia suka makan apa saja, diam-diam sangat lahap makannya. Penderitaan diciptakan, masa depan digelapkan.” Riuh tepuk tangan terdengar jelas tiap kali Fajar Merah menyelesaikan lagunya.

Dok. Yoga LGY

Dalam suasana yang ceria, Tim Berisik.id berkesempatan untuk bercengkrama dengan Fajar Merah selepas tampil. Pria kelahiran Solo, 23 Desember 1993 itu tampak santai mengenakan kaus hitam dan celana jin. Meskipun tidak selesai dalam mengenyam pendidikan formal di salah satu sekolah seni, Fajar Merah tetap semangat berkarya untuk meraih cita-citanya.

Bagaimana kesan dari Fajar tampil di Selamat Pagi Volume 17? Apakah ini kali pertama tampil di Selamat Pagi?

Aku pertama kali itu tampil di volume pertama. Itu aku sama band-ku Merah Bercerita dan ternyata perkembangannya pesat sekali. Wah, akhirnya bisa berjalan seperti yang diharapkan oleh teman-teman Kampung Halaman.

Tadi membawakan empat lagu, salah satu yang dinyanyikan adalah Bunga dan Tembok. Apakah itu lagu wajib setiap kali manggung?

Aku rasa seperti aku mendapatkan energi yang positif tiap kali menyanyikan itu. Semacam itu, Aku seperti melepaskan doa untuk kebaikan kehidupan. Karena aku punya makna sendiri, dari keseluruhan Bunga dan Tembok itu, terlepas dari tulisan aslinya yang mungkin maksud si penulis itu sama apa yang aku cerna berbeda. Aku merasa seperti sedang berdoa ketika bernyanyi itu. Semua hal-hal yang buruk, jahat, itu bisa hilang dari kehidupan.

Sebenarnya sejak kapan sih, suka nyanyi atau bermusik? Dan belajar dari mana?

Aku sebenernya sejak TK itu sudah main musik. Jadi ceritanya aku TK itu suka main drum, terus ikut grup drumband TK. Terus sampai kelas 1 dan 2 itu sama anaknya budeku tiap kali sepupuku itu latihan sama band-nya aku diajak dan di akhir mereka latihan aku diajak jamming berdua. Lah, terus di situ aku belum suka nyanyi, cuma suka beat-beat drum yang riuh. Pada akhirnya kelas 3 aku ingin beli drum, cuma kan, sini anak kampung, beli permen aja gak bisa.

Wah, gak bisa itu, gak bisa itu, ya udah. Hahaha. Terus aku gak main musik selama setahun. Waktu itu kelas 4 SD, aku minta dibelikan gitar sama ibuku, setelah itu aku belajar gitar dari kelas 4 SD dan sampai sekarang masih belajar terus. Aku pernah ikut les, tapi hanya berjalan satu bulan kayaknya. Saya pernah sekolah juga di sekolah seni, jurusan musik diatonik di Solo, SMK Negeri 8, SMKI itu. Cuma gak bertahan lama, setahun aku keluar.

Kalau mulai nyanyi justru setelah aku keluar dari SMKI. Aku awalnya membentuk band, aku cuma pegang gitar karena dari dulu belajarnya gitar. Tapi kenyataannya, cari vokalis itu sulit waktu aku bikin band. Akhirnya aku memutuskan untuk, ya, temenku juga sih, yang nyaranin untuk aku aja yang nyanyi daripada bingung-bingung cari vokalis. Akhirnya dicoba aja.

Sejauh ini udah menulis berapa lagu?

Keseluruhan lagu mungkin 25 lagu yang aku tulis. Cuma ada beberapa lagu yang aku adopsi dari puisinya Wiji Thukul.

Lalu proses kreatif Fajar dalam pembuatan lagu itu seperti apa?

Tergantung suasana hati dan waktu. Jadi kalau kebetulan feel-nya gini, dapat inspirasi, ditulis di handphone dulu. Kalau kebetulan langsung dapat nada, ya, direkam nadanya tok na-na-na-na-na-na, gitu. Macem-macem, kalau lagi pegang gitar ya, pakai gitar. Kalau lagi pegang piano ya, pakai piano.

Topik yang sering dituangkan dalam lagu-lagu Fajar biasanya topik yang seperti apa?

Sebenarnya beraneka ragam. Karena aku pikir, semua orang mengalaminya walaupun dalam keadaan yang berbeda. Terkadang masalahnya sama, pelakunya beda, atau latar belakangnya beda, dan lain-lain itu tadi.

Punya gitar kesayangan gak, nih?

Ada. Cuma biasanya aku bawa kalau sama band. Itu gitar elektrik pertama yang aku beli pakai uangku sendiri. Itu rasanya seneng banget dan sampai sekarang jadi gitar kesayangan. Pun kalau ada yang lain, gak bisa menggantikan.

Dengar-dengar Fajar sedang punya project solo, ya?

Iya. Tapi, sebenarnya, kenapa jadi jalan sendiri itu awalnya karena pihak yang ngundang. Jadi (mereka) maunya aku sendiri gitu. Iki ki piye iki, tapi ya gak apa-apa, lah. Akhirnya harus punya tanggung jawab karya yang dinyanyikan waktu tampil sendiri, beda sama lagu yang dibawakan oleh band.

Merasa terhalang gak sih, dalam berkarya karena sempat putus sekolah?

Malah jadi lebih bebas, bukan karena apa-apa ya. Menurutku, aku bisa jadi lebih fokus. Mungkin presentasinya jadi lebih banyak daripada ketika aku berkarya tapi sambil sekolah. Karena sekolah itu yang diajarin gak cuma musik, walaupun itu memang jurusannya musik. Jadi merasa kaya beban, ini beban, semacam mengira-kira masa depan. Iki bakal kepake gak ya, besok itu dalam kehidupanku? Gitu. Enggak nih, kelihatannya. Hahaha.

Cuma yakin aja gitu, kalau melakukan satu hal dengan sungguh-sungguh ya, pasti akan dapat buahnya.

Fajar Merah tidak bisa terlepas dari identitas Wiji Thukul. Bagaimana pengaruh stigma tersebut terhadap proses Fajar berkarya?

Ya kalau itu tak maklumin aja, karena kenyataannya juga memang kebetulan Wiji Thukul itu ayah saya. Dan persepsi orang itu gak bisa aku haruskan untuk melihat aku seperti keinginanku. Dan anggap untuk berproses saja, justru karena itu aku jadi lebih yakin bahwa aku harus berkarya terus dan mempunyai identitas sendiri di lagu-laguku, di karya-karyaku.

Ada gak sih, musisi impian yang ingin diajak manggung bareng? Kenapa?

Ada. Dave Grohl sama McCartney. Dave Grohl itu dulu drummer-nya Nirvana, tapi sekarang vokalisnya Foo Fighters. McCartney itu bassist-nya The Beatles, sekarang masih jalan dan udah tua. Aku terinspirasi dengan apa yang mereka buat dalam bunyi dan tindakan. Mereka bisa membuat perubahan skala dunia.

Ada tujuan lain dalam berkarya? Misalnya, untuk mengenalkan sosial politik kepada remaja di masa sekarang?

Kalau aku rasa teman-teman bakal punya cara sendiri untuk mengetahui hal itu. Cuma kalau tujuan lainnku selain berkarya itu ya, biar menghindarkan aku dari tindakan yang mungkin kurang baik. Jadi kan, ketika menciptakan karya itu lebih fokus ke situ daripada aku mabuk-mabukan atau nyolong, gitu. Tujuan selain berkarya itu ya, bahagia. Itu hal yang wajib dicapai manusia, ketoke toh yah. Hahaha.

Boleh kasih kiat-kiat untuk teman-teman agar bisa sukses dan mantap dalam berkarya?

Selain yakin itu ya, mungkin mulai belajar untuk mencintai apa yang ada dalam diri kita, apa yang kita lakukan. Jadi apa pun yang dilakukan itu sebisa mungkin tidak ada beban yang mengikuti. Yakin dan percaya, apa yang kamu lakukan udah cukup.

Prinsip yang dipegang dalam berkarya?

Jujur dan apa adanya. Soalnya kenyataannya susah sekali mengeluarkan karakter kita. Dan, jangan meniru karya orang lain.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: FAJAR MERAH: BERKARYA TANPA BEBAN!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/fajar-merah-berkarya-tanpa-beban/