MENGHIDUPKAN “LAGI” PRAM DI TANAH KELAHIRANNYA

 In Liputan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Pram telah menjadi bagian dari kemajuan. Namanya akan selalu dikenang sebagai tokoh yang menginspirasi siapa pun yang peduli pada pencerahan dan kemanusiaan.

Dok. Danang Pamungkas

Malam itu, saya bersama tiga kawan melakukan perjalanan dari Rembang menuju Blora dengan mobil. Perjalanan Rembang–Blora cukup dekat, hanya membutuhkan waktu 45 menit. Saat mobil sudah sampai di Kota Blora, saya cukup kaget karena jalanan begitu ramai dan banyak mobil berseliweran masuk ke area Lapangan Golf tempat pembukaan Festival Cerita dari Blora dilangsungkan dengan pentas Kesenian Rakyat. Acara itu benar-benar megah. Lampu sorot menerangi langit-langit dan ribuan pengunjung berdatangan. Mulai dari remaja hingga orang tua duduk bersila. Di sana terlihat beberapa pejabat dinas, seniman, dan tamu kehormatan duduk bersama Susilo Toer, adik kandung Pramoedya Ananta Toer. Saya melihat acara pembukaan itu dengan penuh rasa bangga. Sejarah membuktikan bahwa Pram sudah kembali dengan kemenangan.

Karena saya datang terlambat, pagelaran pun terasa sangat singkat dan tiba-tiba telah sampai ke pengujung acara. Namun, hal itu ternyata menjadi momen yang pas untuk dapat bertemu dengan Susilo Toer. Beberapa anak muda berkumpul untuk bersalaman dengan beliau. Saya merasa bahwa Pak Sus seperti anak muda yang terlahir kembali. Ia bercakap-cakap dengan bahasa yang gaul sembari menceritakan pengalamannya saat diwawancarai oleh Dedy Corbuzer di program Hitam Putih kepada orang-orang yang datang. Hal yang saya kagumi darinya malam itu adalah keterusterangannya kepada siapa pun yang ingin mengetahui kehidupan pribadinya. Susah sekali bagi kita untuk bertemu dengan orang sepertinya. Pak Sus bergelar Ph.D, menyelesaikan studi lanjutnya di Rusia, dan telah merasakan asam garam pengetahuan Eropa, namun itu semua tak membuatnya jemawa. Ia tidak pelit ilmu kepada siapa pun yang ingin mendapatkan pencerahan. Ia merupakan guru bagi siapa pun yang mencintai kesederhanaan dan kejujuran.

Tanpanya, hampir mustahil Pram bisa dikenal luas oleh warga Blora. Kerja kerasnya dalam menghidupkan perpustakaan PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa) dan membuat gerakan literasi ke sekolah-sekolah untuk mengenalkan karya Pram kepada remaja, telah kita petik hasilnya saat ini. Jika tidak ada perpustakaan PATABA, bisa jadi kita tidak mempunyai akses yang cukup untuk dapat mengenal Pram lebih dekat dan melihat sejarah masa kecilnya secara langsung. Jika kalian belum pernah ke sana, akan saya berikan sedikit ilustrasi tentang tempat tersebut. Perpustakaan itu berada di rumah masa kecil Pram yang saat ini ditempati oleh Pak Sus. Rumahnya bernuansa kuno dengan kayu jati sebagai bahan bangunannya. Sementara itu, halaman depan rumahnya cukup luas dan dilengkapi dengan pepohonan rindang. Di halaman belakang rumah terdapat kebun dengan ratusan pohon yang cocok digunakan untuk berteduh di siang hari. Kemudian, di dalam perpustakaan terdapat arsip dan buku-buku karya Pram yang berhasil terselamatkan, baik yang berupa terjemahan lama maupun terjemahan baru.

Pak Sus pernah bercerita, saat Pram mulai sakit-skitan dan tidak bisa menulis, ia kembali ke Blora untuk nyekar di makam orang tuanya sekaligus melihat kondisi rumah yang ditinggalkannya selama berpuluh-puluh tahun. Pada saat itu, Pram berkeinginan agar rumah orang tuanya dipugar dan dijadikan sebagai perpustakaan umum, namun keinginannya tidak terlaksana sampai dengan ia tutup usia pada 2006. Oleh karena itu, Pak Sus lah yang kemudian merealisasikan keinginan almarhum Pram tersebut.

Pak Sus yang pada saat itu hidup di Jakarta—rumahnya digusur oleh Pemda—memutuskan untuk pulang ke Blora untuk membangun rumah dan perpustakaan bermodalkan ganti rugi penggusuran dari Pemda DKI. Akhirnya, rumah warisan itu dikelola oleh Pak Sus hingga sekarang. Tak hanya membuat perpustakaan, Pak Sus juga membuat penerbitan independen bernama Pataba Press yang ia kelola bersama Benee Santoso, putra semata wayangnya. Pak Sus memiliki energi menulis yang luar biasa. Di usia yang sudah tidak muda lagi, ia telah menerbitkan lebih dari sepuluh buku dan menjadi mentor untuk para penulis baru. Tanpa jerih payahnya dalam membangun perpustakaan, membuat gerakan literasi di sekolah-sekolah, dan membuat penerbitan, Pram hanya “tinggal nama” di Blora. Jika hanya mengandalkan nama besar Pram yang hidup di Blora, perpustakaan ini mustahil untuk berjalan. Bertahun-tahun pemerintah sedikit tak acuh terhadap Pram dan sejarah masa kecilnya. Hal itu tak membuat Pak Sus ciut nyali. Ia membangun sedikit demi sedikit perpustakaan yang ala kadarnya, membuat penerbitan indie, hingga tiba saatnya jerih payah itu terbayar dengan apresiasi masyarakat luas. Pak Sus pun banyak diundang ke acara-acara literasi ataupun tolkshow di televisi. Bisa jadi, karena seringnya Pak Sus diundang ke acara-acara tersebut, pengambil kebijakan pun menjadi lebih peduli kepada Pram. Pada 2018, pemerintah mulai menginisiasi pemugaran rumah Pram di Blora untuk pelestraian budaya dan menggandeng Kementerian Pendidikan untuk mengadakan Festival Cerita dari Blora.

Malam itu, setelah pembukaan festival selesai dilangsungkan, banyak anak muda yang berkunjung ke rumah Pak Sus. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 24.00, namun Pak Sus tetap meladeni beberapa anak muda yang ingin berbagi cerita dengannya. Meski hari itu sibuk menjadi pembicara dan tamu kehormatan di acara festival, ia masih tetap bugar menemani anak muda yang selalu ingin tahu seluk-beluk hidup Pram. Malam itu, ia banyak bercerita tentang karya-karya Pram yang taklain adalah sejarah hidup Pram sendiri. Banyak anak muda yang kaget mendengar penjelasan Pak Sus mengenai tokoh utama novel Gadis Pantai yang ternyata adalah nenek Pram sendiri. Belum lagi ketika Pak Sus bercerita mengenai tokoh-tokoh di novel Bumi Manusia yang Pram ambil dari kisah tetangganya di desa. Menurut Pak Sus, Pram juga manusia biasa yang terkadang mudah frustrasi dan pernah mengalami titik terendah dalam hidupnya. Yang membuat Pak Sus geram adalah mengapa Pram tidak pernah berbicara mengenai persoalan hidupnya secara langsung dan lebih memilih menuliskan kisahnya dalam bentuk cerita fiksi. Ternyata, Pram tidak bisa marah dengan orang-orang yang dicintainya, namun lebih memilih memendam perasaan dan merayakan emosinya dalam bentuk tulisan. Perkataan Pak Sus itu membuat saya diam membisu dan wajah anak-anak muda yang ada di sana pun tampak tidak percaya. Namun, itulah Pram, seorang manusia biasa yang punya banyak kelemahan dan kelebihan.

Berbincang tentang Pram dan orang-orang sekitarnya memang tiada habisnya  sampai tak terasa Malampun telah larut. Ketika itu juga, Pak Sus sudah diberi “kode” oleh istrinya untuk segera tidur. Sebelum beranjak tidur, Pak Sus mempersilakan kami untuk tetap kumpul-kumpul dan menikmati jamuan makanan yang sudah disiapkan. Hanya rasa hormat dan bahagia yang bisa saya lihat dari mata anak-anak muda yang duduk di depan rumahnya. Pram telah terlahir kembali di Blora atas kerja keras adik kandungnya. Bagi saya, kedua orang ini memiliki kemiripan, yaitu pekerja keras dan suka berbagi cerita dengan anak muda.

Festival Cerita dari Blora adalah awal untuk masyarakat luas mengenal pahlawan tanpa gelar bernama Pram. Selanjutnya, adalah tugas kita bersama untuk tidak hanya memujinya, namun juga mempelajari nilai-nilai luhur dalam karyanya dan memberikan dukungan sekecil apa pun agar perpustakaan serta penerbitan PATABA tetap lestari. Mengutip kata-kata bijak dari Multatuli, “Tugas manusia adalah menjadi manusia.” Pram telah menjadi bagian dari kemajuan. Namanya akan selalu dikenang sebagai tokoh yang menginspirasi siapa pun yang peduli pada pencerahan dan kemanusiaan.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: MENGHIDUPKAN “LAGI” PRAM DI TANAH KELAHIRANNYA!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/festival-cerita-dari-blora-menghidupkan-lagi-pram-di-tanah-kelahirannya/