FILM PUISI: ISTIRAHATLAH KATA – KATA

 In Ulasan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
film-puisi

Penulis
Damar Rahayu Jati Kencana (20), mahasiswi institusi perfilman di Jogjakarta. Menulis blog dan menjadi volunteer di Yayasan Kampung Halaman sejak tahun 2015.


Lagu Bunga dan Tembok sering sekali diputar semasa saya masih SMA. Lagu ini menarik perhatian saya untuk menjadikannya teman kala berkegiatan. Hendak mengunduhnya secara gratis, saya malah menemukan bahwa lagu ini adalah sebuah musikalisasi puisi. Lirik tersebut adalah puisi karya Wiji Thukul, yang di populerkan oleh kelompok musik Merah Bercerita, Berawal dari lagu inilah saya mulai mengenal beliau.

Film Istirahatlah Kata – Kata, fiksi berdasarkan kisah nyata dari larinya Wiji Thukul yang dikemas secara humanis. Film IKK fokus pada suasana kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan seorang Wiji Thukul yang sedang bersembunyi pada masa rezim Soeharto. Suatu film representasi dari puisi karyanya saat Ia bersembunyi kala menjadi buronan. Tidak memperlihatkan kekerasan sama sekali terhadap Wiji Thukul sebagai tokoh utama, namun film ini berhasil membawa saya masuk ke dalam rasa was – was, cemas, dan takut.

“Ternyata jadi buron itu jauh lebih menakutkan daripada menghadapi sekompi kacang hijau bersenapan lengkap yang membubarkan demonstrasi.” Satu kalimat yang dilontarkan Wiji Thukul dalam film IKK. Seperti kalimat utama atas adegan – adegan sederhana, serta percakapan yang tidak ditemui dalam kegiatan sehari – hari. Gambaran ketakutan dan kecemasan Wiji Thukul menjadi sorotan film IKK. “Ada pintu lain buat keluar tidak? Buat jaga – jaga nanti kalau harus lari.” Kalimat yang paling saya ingat pasca Wiji Thukul menginap di rumah temannya, Thomas. Ada pula adegan saat ia mengantisipasi rasa takutnya, Ia menghitung ketinggian jalan keluar lain memakai tali rafia. Detail – detail ini yang membuat saya ikut merasa cemas dan was – was. Bagi saya, film ini dieksekusi dengan berhasil secara konten maupun teknis.

Saya merasa sangat didekatkan dengan karakter Wiji Thukul dalam Istirahatlah Kata – Kata. Film IKK membawa saya untuk merasakan cara pandang dari tokoh utama. Hal ini dipengaruhi oleh kisah nyata di balik film IKK dan dari isu yang di sekitar saya. Wiji Thukul harus lari meninggalkan keluarganya, serta mengalami ketakutan bila mana ia tertangkap. Ia mengganti namanya, tinggal bersama orang yang ia tidak kenal, dan mengubah penampilannya. Wiji Thukul seakan selalu siap lari kapan saja. Sedangkan istrinya di kampung halaman tetap teguh dalam menghadapi kepergian suaminya, lalu lalang polisi yang datang ke rumahnya, dan mengahadapi tetangganya yang aneh.  Namun film IKK tidak menampilkan suatu kesan yang begitu dramatis sehingga saya tidak merasa kalau ini ‘fiksi’.

Pembacaan puisi dalam beberapa rangkaian adegan film IKK membuat saya terkesima. Contohnya dalam adegan bermain badminton. Suara setiap tangkisan raket seperti suara tembakan senjata. Permainan badminton adalah kegiatan yang sehari – hari dilakukan oleh masyarakat sebagai olahraga rumahan. Pembacaan puisi yang menjadi suara latar dalam adegan ini, bagi saya menggambarkan ini kekacauan yang mulai terbiasa, seakan kejadian sehari – hari pada umumnya. Adapun rangkaian kejadian lain sebagai analogi puisi yang melatari adegan tertentu. Seperti rajutan “The Last Supper” yang dipajang saat Wiji Thukul di ruang makan, atau saat pagi hari saat ia menulis puisi di depan rumah Thomas – disitu ada seorang tentara, dan masih banyak lagi.

Saya menyimpulkan Istirahatlah Kata – Kata adalah film tentang puisi. Puisi seorang penyair yang berjuang melawan kecemasan dan ketakutan. Puisi seorang penyair yang menjadi buron karena karyanya. Puisi Wiji Thukul seorang penyair dan pembela hak asasi manusia.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: FILM PUISI: ISTIRAHATLAH KATA - KATA!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/film-puisi-istirahatlah-kata-kata/