FILM “SEARCHING” DAN KENYATAAN ADUHAI DI DUNIA INTERNET

 In Liputan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Film ini membawa pada perenungan bagaimana sikap manusia saat berada di hadapan layar dan menjelajah internet.

searching-feature

Dok. indianexpress.com

Belakangan ini, film “Searching” berhasil mencuri perhatian para penikmat layar lebar. Film bergenre thriller yang menceritakan hilangnya remaja bernama Margot ini ramai diperbincangkan di media sosial. Beberapa netizen terpukau dengan film yang disutradarai oleh Annesh Chaganty ini. Dengan menggunakan sudut pandang monitor atau screen cast, bagi saya film ini sukses membawa penontonnya masuk ke cerita yang dibangun. Pada beberapa bagian, penonton seakan tidak sedang menonton sebuah film. Mereka dibuat seperti sedang memadang layar laptopnya sendiri-sendiri, bahkan seakan-akan mereka sendirilah yang sedang bermain media sosial di film itu.

Selain itu, sounds effect pada film ini juga sangat pas dan sama sekali tidak lebay. Dengan menggunakan sudut pandang media komunikasi (suara notifikasi media sosial, rekaman suara, dll.), suara-suara yang terdengar sangat menyatu dengan adegan-adegan dan mampu membawa emosi kita naik-turun sesuai dengan yang sedang ditampilkan di dalam layar.

Begitu juga jika berbicara soal plot dalam film ini. Plot dalam film ini menyuguhkan beberapa twist, bukan hanya satu twist di akhir cerita. Kalau kalian mau menonton film ini, bersiap saja dengan berbagai teka-teki dan kejutan yang tidak akan bisa kalian sangka. Aktor-aktor yang bermain dalam film ini, terutama John Cho yang memerankan David Kim dan Michelle La yang memerankan Margot Kim juga patut diacungi dua jempol. Cho berhasil menumbuhkan kegelisahan pada dirinya sebagai seorang ayah yang kehilangan anak semata wayangnya. Michelle La berhasil menampilkan mimik muka yang konsisten sebagai remaja yang galau, bersedih, dan takpunya banyak teman.

Keluar dari persoalan teknis, bagi saya, film ini membawa pada perenungan bagaimana sikap manusia saat berada di hadapan layar dan menjelajah internet. Film ini membuat saya tersadar akan emosi manusia yang dalam sepersekian waktu dapat berubah-ubah, tergantung pada apa yang hadir di dalam layar yang sedang ditekuri. Sepersekian waktu, seseorang yang sedang memandang gawainya dapat merasa jengkel karena melihat sebuah posting-an seorang ayah yang terkesan gagal mendidik dan menjaga anaknya. Sepersekian waktu lagi, orang itu akan tertawa karena tayangan komedi ataupun tragedi (semisal melihat postingan yang menampilkan seorang anak kecil yang meringis karena kemaluannya terhantam bola saat bermain sepak bola). Sepersekian waktu lainnya, orang itu dapat menangis melihat tayangan tentang bencana. Sepersekian waktu pula, orang itu dapat merasa jengkel, menangis, tertawa, jengkel, menangis, tertawa, sesuai dengan irama scrolling-an dari ibu jari dan hal-hal yang hadir di layar gawainya. Dalam satu waktu itu pula, manusia takpernah tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi di dalam tayangan yang ada di gawai itu.

Dalam film “Searching” digambarkan pemberitaan dan komentar para netizen di internet bahwa hilangnya Margot adalah kesalahan sang ayah. Hal itu diperkuat dengan dugaan bahwa hubungan Margot dengan ayahnya tidak baik-baik saja. Berbeda dengan keadaan di luar internet. Ayah Margot sedang terpuruk dan berjuang sekuat mungkin untuk dapat menemukan Margot kembali. Semua itu terasa tidak penting bagi netizen, namun terasa bagai di neraka bagi ayah Margot. Bahkan, netizenlah yang kemudian dapat membuat ayah Margot depresi karena membuatnya semakin dihinggapi rasa bersalah dan kehilangan fokus dalam proses pencarian Margot.

Scene tersebut mengingatkan saya pada kenyataan internet yang biasa saya temui sehari-hari. Apa kalian juga pernah mendapati, misalnya seorang perempuan mendapatkan pelecehan seksual, kemudian justru dirundung dan disalahkan oleh netizen? Padahal, kita takpernah tahu kejadian yang sesungguhnya terjadi. Kita pun tidak tahu bagaimana keadaan korban secara psikologis.

Kenyataan yang berikutnya adalah tentang siapa diri manusia yang sebenarnya saat di dalam dan di luar internet. Dalam suatu babak di film “Searching”, ayah Margot mencoba menghubungi orang-orang yang berhubungan dengan anaknya di dunia maya. Namun sayangnya, usahanya tersebut kurang membawa hasil. Orang-orang yang terhubung sebagai teman Margot di internet rupanya bukan betul-betul temannya. Mereka takbanyak tahu tentang Margot dan takbisa memberikan bantuan informasi apa pun kepada ayah Margot. Sekali lagi, ini mirip dengan kenyataan yang ada dewasa ini. Di dalam internet, kita bisa saja mengunggah foto bersama banyak orang, memiiki hubungan pertemanan dengan ribuan orang, melempar senyum selebar-lebarnya, memajang kemewahan dan kebahagiaan yang tak terkira. Akan tetapi, apakah itu selaras dengan kenyataannya? Ataukah semua itu hanya seakan-akan bahagia, seakan-akan berteman, seakan-akan hidup mewah, dan sebagainya? Di sinilah letak kesadaran bahwa seringkali kita mendapat ujian saat sedang berselancar di dunia maya. Sayangnya, terkadang alam bawah sadar atau ego kita yang memenangkannya sehingga seringkali kita mencoba mengejar apa yang kita lihat di internet dengan kepayahan. Sebuah usaha agar kita bisa terlihat seperti mereka di internet. Sebuah usaha yang barangkali sia-sia dan justru menghilangkan pendirian manusia yang sesungguhnya.

Masih banyak kenyataan kehidupan di dalam internet yang lain, yang disuguhkan dalam film “Searching”. Dengan sedikit cermat, kita tidak akan kesulitan untuk menemukannya. Film ini berhasil membuat saya mengumpat—pertanda sangat puas.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: FILM “SEARCHING” DAN KENYATAAN ADUHAI DI DUNIA INTERNET!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/film-searching-dan-kenyataan-aduhai-di-dunia-internet/