FOLK MUSIC FESTIVAL 2018: LITERASI, FILM, HINGGA JAGUNG GODHOG

 In Liputan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dok. Ismi Rinjani

Melewati musim kemarau di Batu, Jawa Timur, bukanlah hal yang bijak. Bagi manusia-manusia tropika macam saya, apalagi. Udara dingin membuat gigil sekujur tubuh. Matahari dan pakaian berlapis belum cukup meredam tiupan-tiupan angin yang tipis namun menyiksa. Suhu udaranya berkisar antara 12—16 derajat celcius. Celakalah kaum kaus tipis dan celana pendek yang lebih mendahulukan fashion daripada kehangatan.

Dingin tak mungkin tanpa penawar. Rasa hangat pun disajikan dengan cara lain. Selama 3 hari berturut-turut, Folk Music Festival dihelat untuk yang ke-4 kalinya di Kusuma Argowisata, Batu, Jawa Timur. Musisi-musisi yang hadir terbukti dapat melumerkan Batu yang beku di siang sampai tengah malam menjelang. Lalu, kenapa 3 hari, padahal di festival-festival sebelumnya hanya digelar sehari penuh? Ini karena tim Folk Music Festival menambahkan unsur literasi dalam tema besarnya. Musik dan Literasi yang sebelumnya terlihat berjarak, kini dijembatani melalui festival ini. Pertemuan antara keduanya yang menawarkan alternatif yang segar, bakal jadi perbincangan hingga waktu-waktu mendatang.

Dok. Ismi

Hari pertama adalah harinya literasi. Panel-panel diskusi seputar sastra, festival, puppet theatre, sejarah musik folk Indonesia Timur, lokakarya puisi, hingga dramatic reading seakan saling berlomba untuk menaikkan suhu udara. Dialog aktif selama panel berlangsung, diselingi satu tangan yang berusaha menghangatkan tangan lainnya, berhasil membuat suhu udara lamat-lamat meningkat. Penulis-penulis berbagi cerita, baik di dalam maupun di luar panel. Para penyair berbagi soal proses kreatifnya dalam menulis puisi. Sejarah di balik folksong (lagu rakyat) dikupas secara mendalam oleh ahlinya. Kami kenyang literasi.

Berfestival tak lengkap rasanya tanpa berkuliner ria. Dengan dalih menghangatkan tubuh, saya pun icip-icip beberapa makanan dan minuman yang dijual di dekat area literasi. Salah satunya adalah booth jagung godhog yang dikelola oleh Amilia Wulandari (17 tahun) dan Alissya Dwi Fatma (17 tahun). Mereka termuda di antara penjual lainnya. Amilia dengan cekatan menyisir jagung, memasukannya ke dalam mangkuk kecil, dan menaburkan keju di atasnya.

Saya pun akhirnya berbincang banyak dengan mereka. Keduanya adalah sahabat dekat sejak sekolah menengah yang baru lulus tahun ini. Karena ingin mengisi kekosongan waktu sebelum kuliah, dara muda asli Batu ini pun memutuskan untuk mendaftar sebagai tenant di Pasar Kearifan Lokal di Folk Music Festival 2018. Informasinya didapat dari instagram. “Di sini kan mayoritas petani. Banyak petani jagung dan stroberi juga. Jadi kami mutusin untuk jualan jagung godhog dan stroberi segar,” terang Alissya. Modal berjualan pun dikumpulkan dengan urunan. Keuntungan akan mereka tabung untuk biaya kuliah dan untuk berjualan di acara selanjutnya.

Dok. Ismi

Usut punya usut, Amilia dan Alissya bersekolah di SMKN 3 Batu jurusan Broadcasting. Beberapa film telah mereka buat bersama teman-temannya selama sekolah. Di antaranya adalah “Siwer”, “On Action”, “Sempol”, “Tilem ten Pawon”, dan “Kebes”. “Bikin film itu seru, Mbak. Kami suka kebersamaannya, gotong royong, susah senang bareng. Suka ada emosinya sih, pas capek, tapi kebayar sama hasilnya yang memuaskan,” terang mereka. Amilia memilih jurusan Teknik Pangan untuk kuliah, sedangkan Alissya menargetkan untuk masuk jurusan Komunikasi di tahun depan. Keduanya berharap dapat membuat film lagi di masa yang akan datang. Siapa tahu juga, jagung godhog mereka yang nikmat itu masuk dalam salah satu scene-nya.

“Aku suka Fourtwnty sama Banda Neira (sudah bubar, Dek~),” jawab Amilia, ketika ditanya siapa kelompok musik folk favoritnya. Alissya menambahkan, “Kalau saya suka Payung Teduh!”

Malam literasi pun ditutup oleh FSTVLST yang mendadak folk, berkolaborasi dengan Is Pusakata, Cholil Mahmud, hingga Gunawan Maryanto. Farid Stevy pun tetap melemparkan tubuhnya ke penonton yang sudah hampir membeku di akhir acara. “Siapa bilang crowd surf haram di acara folk!” tutupnya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: FOLK MUSIC FESTIVAL 2018: LITERASI, FILM, HINGGA JAGUNG GODHOG!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/folk-music-festival-2018-literasi-film-hingga-jagung-godhog/