GIBRAN TRAGARI: MENJADI PETANI MILLENNIAL DI HUTAN TEMBOK, KOTA DEPOK

 In Ngobrol
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Berkebun tuh kumpulan kebahagiaan kecil yang terus ada di setiap harinya.

Dok Sendalu Permaculture

Sebelum berhijrah ke Yogyakarta, saya merupakan gadis desa tulen. Jika tidak sedang mendapat tugas liputan ke luar kota, sehari-hari saya menemani ibunda berkebun. Teman saya adalah kawanan burung liar, tupai yang kerap mengendap-endap di jendela kamar, dan kambing-kambing peliharaan yang bunyinya kadang mengganggu ketenangan saat tidur. Berinteraksi dengan tanah, mengurus anggrek kaya warna, hingga memantau pertumbuhan pohon-pohon yang sudah saya tanam lebih dari 8 tahun lamanya telah menjadi bagian dari keseharian saya.

Gerbong hidup takselalu terduga lajunya. Kini, saya terdampar di (yang katanya) kota pelajar, ikut nyicip kehidupan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Jauh dari halaman rumah saya yang rimbun oleh kawanan bambu. Terasing dari kebiasaan saya menyendiri di saung sambil menyeruput kopi hitam dari batok kelapa. Meski ditukar dengan kawan-kawan baru yang sangat saya sayangi, guru-guru baru dengan ilmu luhur yang dibagikan kepada saya dengan cuma-cuma, hingga pacar yang super pengertian #eh, saya terkadang rindu dengan kehidupan lambat saya di kampung halaman.

Yogyakarta pun mempertemukan saya dengan Gibran Tragari, seorang pemuda yang memilih untuk menjadi petani urban di Kota Depok. Dipertemukan yang saya maksud di sini adalah secara digital. Kenal lewat Instagram, sist! Kami berkorespondensi dan banyak berbagi cerita, terutama soal pengalaman kami yang sama-sama pernah nyantri di Bumi Langit Institute.

Kini, Gibran mengasuh Sendalu Permaculture, studio milik ayahandanya yang disulap menjadi kebun permakultur di kawasan Sukmajaya, Kota Depok. Kata sendalu didapat Gibran dari istilah pelayaran yang artinya angin yang berembus sedang-sedang saja. Tidak bertiup terlalu kencang, tidak juga terlampau pelan. Gibran ingin kebun permakulturnya seperti sendalu; tumbuh tidak terlalu kuat sampai memaksa orang lain, tapi juga tidak terlalu pelan sampai tidak membuat perubahan apa pun.

Di kebunnya ini, Gibran mencoba menciptakan sistem hidup berkelanjutan. Pemuda ini secara one man show menjadi punggawa satu-satunya di sini. Ia menanam berbagai macam tanaman pangan seperti labu, terong, sorghum, tomat, hingga kacang koro. Ayam dan kelinci juga menjadi bagian dari Sendalu. Mereka membantu pemupukan organik yang ramah alam. Usaha ini dilakukan secara perlahan namun pasti, meniru sistem kerja semesta yang tidak pernah terburu-buru.

Kita simak wawancara seru bareng Gibran, yuk!

Gibran, sekarang lagi asik apa di kebun?
Lagi asik apa yaaa. Lagi berkabung seharian nih, sebenernya. Ayam abis mati tiga tadi pagi.

Woalah. Kenapa bisa mati?
Musang. Dimakan musang.

Di kota juga masih ada musang toh?
Oh, banyak. Di sini kayak udah beranak pinak. Badannya lebih gede dari kucing.

Turut berduka, ya.
Makasih, Mi.

Gibran, apa sih yang ngebedain permakultur sama pertanian yang biasa kita temui sehari-hari di desa?
Kayak kuis pas di sekolah ya (sambil tertawa). Dua-duanya cukup berbeda, ya. Tapi gue lebih sering ditanyain soal perbedaan permakultur sama agroekologi karena dua-duanya hampir mirip, tapi tetep beda. Permakultur kan bukan cuma tentang bertani aja, tapi sistem kehidupan menyeluruh yang saling terkoneksi. Ada pertanian, peternakan, sampai cara hidup yang ramah alam dan sustainable. Kenapa gue milih permakultur, yang penting buat gue sendiri soal etik-etiknya. Itu berdampak langsung ke kehidupan gue. Sepertinya itu yang nggak ada di laku pertanian lain.

Jadi permakultur tuh sistem yang holistik, ya?
Yup!

Udah ngasih impact apa aja permakultur ke kehidupan kamu?
Sebenernya simple, sih. Kalau gue kan tujuannya lebih ke pengembangan diri. Dimulai dari berkebun, terus berlanjut ke usaha zero waste, sampai gaya hidup minimalis. Semuanya kumpulan kebiasaan-kebiasaan baik. Awalnya dari kebun, terus gue jadi conscious akan banyak hal. Gue mulai misahin sampah kompos dan plastik, mulai coba zero waste, hidup gue jadi minimalis. Bagi gue, itu perkembangan yang baik buat gue.

Kalau dari inner circle-mu, sudah ada yang mulai ngikutin gaya hidup kamu ini?
Belum seratus persen, sih. Soalnya gue kan terbilang cukup nekat, nih, karena gue mutusin untuk nggak kerja kantoran dan lain-lain, ya. Sekarang gue nge-Gocar buat menuhin kebutuhan hidup. Gue pengin fokus ke kebun. Untuk permulaan udah cukup baik, sih.

Lebih milih ngurusin Sendalu ini, ya. Dari kapan sih mulainya?
Sendalu tuh dari tahun 2017.

Terus awalnya tertarik belajar permakultur tuh kapan dan kenapa?
Dulu gue kuliah di jurusan Teknik Pangan di Fulda University of Applied Science, Jerman, tapi nggak sampai lulus. Terus balik ke Indonesia. Nah, terus orang tua gue khawatir, kan. Akhirnya gue dikenalin ke Pak Iskandar (pendiri Bumi Langit Institute) sama bokap dan ditawari untuk belajar berkebun. Awalnya karena bokap nggak terlalu ngerti Teknik Pangan itu apa dan mikir kalau bicara soal kebun pasti nyambung sama pangan. Akhirnya gue nyantri ke Bumi Langit selama 3 bulan. Gue nggak tau sama sekali soal permakultur saat itu, ya. Terus gue buka-buka website-nya Bumi Langit, ini sekte apa bukan ya (sambil tertawa). Setelah beneran belajar dan tinggal di sana, barulah gue ngerti permakultur itu apa dan gue rasa ini worth buat dijalani.

Dengan pilihan hidup kamu sekarang—nggak kerja kantoran dan milih untuk berkebun—orang tua dukung nggak?
Mungkin awal-awal mereka bingung kali, ya. Sebelum balik dari Bumi Langit, orang tua gue dateng ke Jogja kan, terus gue bilang “Pah, kasih aku waktu dua tahun, mau coba berkebun”. Ya emang agak membingungkan awalnya buat orang tua. Cuma untungnya buat gue, orang tua itu orang-orang seni, jadi mereka memaklumi lah untuk hal-hal kayak gini. Dan yang bikin mereka mulai percaya juga karena kebunnya ada progress. Jadi, tiap gue ngelakuin sesuatu di kebun, gue laporan kan sama mereka. Terus mereka juga ngelihat, oh ini anak nggak cuma leha-leha di kebun. Sekarang udah punya logo sendiri, ada yang field-trip ke Sendalu, juga produk kebun mulai dipasarkan. Kalau orang tua kan yang penting bukan dapet duit berapa, tapi ni anak tujuannya jelas nggak sih, terus kerja sesuai passion-nya nggak. Paling gitu, sih.

Sejauh ini, kamu yakin nggak, bisa hidup layak dari mempraktikkan permakultur ini?
Kalau buat gue pribadi sih, belum tau, ya. Soalnya baru mulai juga kan. Tapi kalau nggak dicoba sendiri ya, mana tahu? Definisi layak pun beda-beda juga, kan. Yang pasti sih, gue sangat menikmati proses ini, baik kegagalan-kegagalan maupun keberhasilannya. Jadi, kalaupun nanti gagal di sini, gue yakin, untuk proses selanjutnya, pelajaran-pelajaran yang gue dapet selama ngurus Sendalu bakal berguna.

Terus gimana rasanya berkebun di tengah hutan tembok Depok ini?
Hampir nggak ada bedanya sih, sebenernya. Yang agak susah sih, nyari perlengkapan dan alat pertanian aja. Kalau di desa kan kayak ada tempat khusus beli alat-alatnya. Di sini agak susah, nih. Nyari sekam bakar juga agak susah, kebanyakan mereka punyanya media tanam buat tanaman hias doang. Cuma untuk udara sama air, gue nggak begitu masalah sih, sebenernya. Sebelum berkebun di sini, ada beberapa orang yang menyangsikan keputusan gue. “Yakin lo mau berkebun di Jabodetabek yang udaranya udah nggak bagus, air juga nggak bagus?” kayak gitu, itu yang jadi concern orang-orang, kan. Tapi gue tetep jalanin. Kalau nggak dicoba, mana pernah kita tahu hasilnya, kan?

Dok. Sendalu Permaculture

Temen-temen seumuranmu, ada yang tertarik untuk berkebun nggak setelah berkunjung ke Sendalu?
Sebenernya banyak, sih. Cuma kan kebanyakan ngomong doang (sambil tertawa). “Wah kayaknya seru ya,” gitu kata mereka. Tapi ya berhenti di situ. Yang lebih banyak tertarik malah anak-anak umur 22 sampai 25, yang lagi cari-cari jati diri dan mau ngapain dalam hidupnya.

Kalo dari kamu sendiri, gimana pendapatmu tentang keadaan petani saat ini?
Gue milih berkebun di kota juga alasannya karena Jon Jandai pernah bilang, “Orang-orang di desa tuh look up ke orang-orang di kota.” Jadi, kita yang di kota yang bikin tren kan, sebenernya. Bagi gue, kalau hidup di kota dengan gaya konsumerisme, itu yang bakal ditiru orang-orang di desa. Dengan masifnya urbanisasi, gue penginnya temen-temen di desa ngelihat temen-temen di kota dan berkebun, kemudian bilang “Buat apa kita jauh-jauh ke kota?” Anak-anak muda di Amerika atau Eropa malah banyak yang berhijrah ke desa. Tujuannya bukan untuk nambah penghasilan, tapi untuk konservasi dan tujuan mulia lainnya. Kalau di sana kan pikirannya jauh lebih terbuka dan jauh ke depan. Di Indonesia masih ngutamain untuk berpenghasilan banyak dan cukup bahagia dengan jadi konsumen. Dan anak-anak desa yang pinter-pinter malah ditarik kan untuk kerja di kota, bukan untuk ngebangun desanya sendiri. Mindset-nya jadi “uang-uang-uang-uang”.

Mudah-mudahan makin banyak yang terinspirasi ya, dengan apa yang kamu lakukan sekarang. Terus, pengin ikut kelas permakultur lebih lanjut nggak? Atau mau eksperimen di Sendalu aja?
Kalau untuk permakultur sendiri, yang gue rasain kan sebenernya sangat berbeda ketika belajar di Bumi Langit dan turun ke kebun langsung, ya. Bukannya gue udah tahu semuanya, tapi ketika praktik langsung, gue kayak udah nangkep maksud dan tujuannya apa. Gue sekarang malah pengin belajar yang lain kayak soal arsitektur bambu dan lain-lain.

Jadi tetep nyambung dan menunjang juga gitu, ya?
Iya. Yang penting dasarnya udah kuat dulu aja. Jadi, belajar apa pun bakal balik lagi ke situ. Kayak gue bikin Sendalu ini, belajar apa pun baliknya akan ke sini lagi. Nggak jauh-jauh, sih.

Hal paling seru apa yang dialamin selama tumbuh bareng Sendalu?
Kayaknya nggak ada yang “paling”, deh. Berkebun tuh kumpulan kebahagiaan kecil yang terus ada di setiap harinya. Misalnya, lo pagi-pagi bangun ngelihat benih lo bertunas, seneng. Ngelihat ayam lo bertelor, seneng. Di tiap prosesnya bersyukur. Seru, sih. Gue ngerasain bukan kebun aja yang berkembang, tapi diri gue juga. Sebenernya gue introvert kan, jarang interaksi sama orang. Tapi, setelah ngurus Sendalu ini, gue dituntut untuk bisa menjelaskan ke orang-orang, mulai ngajarin, mulai ngisi acara. Gue merasa, gue pun mulai bertumbuh secara perlahan.

Sedap! Sampai sekarang udah ada produk apa aja yang dihasilkan dari kebun?
Produknya lebih banyak benih, sih. Soalnya yang berlebih dari kebun sekarang ya, benih. Tapi sebenernya agak kebentur sama peraturan pemerintah yang harus punya sertifikat hak edar benih gitu, harus berbadan hukum, dan lain-lain. Terus gue nanya ke komunitas berkebun gue, kata mereka kalau benihnya masih untuk scope kecil komunitas, nggak apa-apa. Dan mungkin banyak orang yang kontra juga karena gue jualan benih yang sebetulnya sangat bernilai. Cuma bagi gue kan, tujuan gue adalah makin banyak orang yang menanam makanan sendiri. Yang gue pengin capai dari Sendalu juga menyebarkan hal ini, dengan menyebarkan benih yang baik dan terjangkau.

Itu penting, sih. Sekarang kan mau beli benih agak lumayan mahal, ya. Nah, nyambung soal menanam makanan sendiri, menurut kamu permakultur itu berhubungan sama ketahanan pangan enggak?
Sangat, sih. Menurut gue ketahanan pangan nggak bakal tercapai kalau perilaku orang-orangnya belum berubah, ya. Kalo masih konsumtif tanpa bisa produktif, kayaknya agak susah untuk tercapai. Makanya, buat gue permakultur itu penting karena bisa menghasilkan kebiasaan-kebiasaan baik, termasuk soal memproduksi bahan pangan sendiri. Gue juga pengin menyuntikkan ide-ide bahwa makanan sehat tuh, nggak harus mahal. Di Sendalu juga terbuka banget untuk persoalan itu, kalau ibu-ibu komplek sini pengin sayuran dari kebun, gue jual dengan harga yang sama dengan abang-abang sayur yang suka keliling. Toh, modalnya nggak besar juga, kan.

Terakhir nih, apa saranmu untuk anak-anak muda yang mau mulai menanam, Bran?
Dulu sebelum mulai berkebun, yang gue tau tuh cuma pohon pisang sama pepaya. Ya lo tau lah ya, di kota jarang banget nemuin pohon atau tanaman pangan. Yang pasti sih, kenali dulu tanaman-tanamannya. Lo bisa mulai dari yang kecil-kecil, seperti menanam di pot kalau nggak ada lahan. Terus ikutan komunitas-komunitas berkebun yang sekarang udah lumayan menjamur dan isinya rata-rata emang anak muda. Di sana kita bisa tukeran informasi sama tips-tips berkebun. Menyenangkan, banyak teman, dan banyak ilmu pula!

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: GIBRAN TRAGARI: MENJADI PETANI MILLENNIAL DI HUTAN TEMBOK, KOTA DEPOK!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/gibran-tragari-menjadi-petani-millennial-di-hutan-tembok-kota-depok/