HARMONI DALAM SEMANGKUK BUBUR AYAM

 In Opini
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Siapa pun yang memuji agamanya sendiri dan merendahkan agama lain, hanya akan merugikan agamanya sendiri. Kerukunan antarpenganut agama atau kepercayaan patut dihargai. Hendaknya kita mendengar dan memahami ajaran yang baik dari agama lain.

Prasasti Raja Asoka tentang kerukunan umat beragama di Vihara Vipassana Graha, Lembang, Bandung.

Dok. Ayu Wulandari

Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan viralnya berita mengenai anak-anak yang meneriakkan ujaran bernada kebencian yang dilandasi perbedaan agama, seperti yang dapat dibaca di sini. Tentunya hal ini membuat kaget, sedih, dan juga prihatin. Terlepas dari agenda politik yang mungkin disisipkan dalam kegiatan tersebut, yang jelas aktivitas ini sarat dengan sentimen antikeberagaman. Tak perlu saling menyalahkan, kita semua bertanggung jawab untuk memupuk bibit-bibit toleransi kepada anak-anak calon penerus bangsa agar harmoni antarumat beragama tercipta.

Angin sejuk berhembus dari Bandung, manakala pada 25 Mei 2017 sekumpulan anak dari berbagai usia, latar belakang, dan lintas agama diajak bertamasya ke lima tempat ibadah, yaitu Vihara Vimala Dharma, Masjid Agung Al-Ukhuwwah, GKI Taman Cibunut, Katedral St. Petrus, dan Pura Wira Satya Dharma. Kegiatan ini dicetuskan oleh Komunitas Bhinneka, sebuah komunitas non-profit yang cair dan non-partisan, yang sepenuhnya percaya akan keberagaman suku, ras, dan agama sebagai kekuatan Indonesia yang melekat pada Pancasila. Acara dengan tajuk “Bersatu Dalam Keragaman” ini menitikberatkan pada pengenalan terhadap aturan, kebiasaan, dan filosofi masing-masing agama.

Dok. Krisna Harumurti

Dalam press release-nya, Pastor Maman Suparman memaparkan latar belakang didirikannya Komunitas Bhinneka. “Ketika kita masih kecil, guru kita pernah mengajarkan lagu “Pelangi-Pelangi” karya A.T. Mahmud. Sebuah lagu sederhana tetapi memiliki pesan moral yang baik bagi kehidupan manusia. Pelangi itu indah karena memiliki banyak warna: merah, kuning, dan hijau, sebagaimana yang dituliskan dalam lirik lagu tersebut. Begitulah kiranya warna pelangi yang sering kita lihat. Pelangi nampak indah dengan beberapa warna yang dimilikinya. Warna-warna itu tampak berpadu, bukan saling mengalahkan antara satu warna dan warna yang lain. Hal itu mengajarkan kepada kita bahwa hidup ini seharusnya mau menerima berbagai macam perbedaan yang ada. Dengan perbedaan itulah, hidup bisa menjadi semakin indah.” Beliau pun melanjutkan, “Kita bangun generasi muda kita, khususnya anak-anak, remaja, dan orang dewasa untuk memiliki kecintaan akan kebinekaan yang ada di Indonesia. Kaum muda adalah tunas penerus masa depan bangsa Indonesia. Kita berharap bahwa mereka adalah tunas-tunas penerus bangsa yang memiliki semangat cinta akan kebinekaan. Untuk mewujudkan harapan ini, Komunitas Bhinneka hadir sebagai wadah pendidikan bagi mereka menuju semangat tersebut.”

 

Respons dari pesertanya pun positif. Tidak ada yang mengklaim bahwa agamanya yang paling baik dan benar dibanding yang lain. Mereka malah saling mengenalkan agama masing-masing hingga ritual-ritual yang dilakukan. Mulai dari cara berdoa, doa apa saja, sampai lagu-lagu yang dinyanyikan ketika beribadah. Mereka semua menerima informasi tersebut dengan tangan terbuka, nyaris tanpa prasangka.

Dua anak lelaki yang bernama Adit (Hindu) dan Revata (Buddha), begitu akrab sepanjang kegiatan berlangsung, padahal mereka baru bertemu dan berkenalan pada hari itu. Ketika mengunjungi Pura Wira Satya Dharma, Adit dengan sigap membantu Revata yang kesulitan memakai sabuk yang wajib dipakai kala mereka akan masuk ke Pura. Begitulah menurut penuturan Ayu Wulandari, salah seorang volunteer di kegiatan ini. Anak-anak bersosialisasi dengan luwes, tanpa memandang perbedaan sebagai penyekat.

Sebuah percakapan terjadi antara salah seorang peserta dan ibunya di rumah ketika sudah pulang dari kegiatan.

“Mam, aku diajarin wudhu. Mama gak marah?” tanyanya kepada sang ibu.
“Kok mama harus marah?” ibunya menjawab.

Anaknya melanjutkan, “Teman Buddha kalau doa, ada 3 gerakan. Kalau teman Katolik berdoa ada gerakan awalnya juga, kalau Hindu ada area sucinya. Di Gereja itu ada organ pipe lho. Di Katedral ada tempat baptis anak dan tempat sujud di bangku.”

“Mam, kalau semangkuk bubur doang itu kan, tawar ya rasanya. Butuh suwiran ayam, kacang, seledri, cakue, kerupuk biar semangkuk bubur itu enak,” tutupnya.

Dari sini teringat lagi ucapan Tenzin Gyatso, atau yang biasa kita kenal dengan Dalai Lama ke-14, “Semua tradisi agama di seluruh dunia membawa pesan yang sama; cinta, kasih, pengampunan, toleransi, mawas diri, dan disiplin. Ini semua adalah akar yang sama dan praktik yang umum. Pada tahapan inilah kita dapat membangun keharmonisan yang tulus dan berdasarkan atas rasa saling menghormati, saling belajar, dan saling menghargai.”

Dok. Krisna Harimurti

Mengenali dan menerima perbedaan, juga memupuk rasa welas asih tanpa membentengi diri, memang mesti ditanamkan sejak kecil, apalagi dengan karakter masyarakat Indonesia yang heterogen. Toh, bagaimanapun juga keberagaman sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, bahkan jauh sebelum kata ‘Nusantara’ ditemukan.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: HARMONI DALAM SEMANGKUK BUBUR AYAM!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/harmoni-dalam-semangkuk-bubur-ayam/