HMGNC DAN GELIAT MUSIK POP ELEKTRONIK

 In Tulisan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dok. HMGNC

Sore hari menjelang petang, Tim Berisik.id berkesempatan untuk mengobrol santai via telepon dengan Dea HMGNC. Suasana gembira dialami oleh ketiga personel HMGNC yang sukses mengeluarkan album kelimanya. Band ini terdiri atas Amanda di Vokal, Dina di Synth/Programming, dan Dea di Synth/Programming. Band yang mengusung musik Pop Elektronik ini memang unik. Kalau kebanyakan musik elektronik identik dengan dugem, lagu-lagu HMGNC ini berbeda karena lebih menceritakan sisi lain dari kehidupan manusia biasa.

Di album kelima ini, HMGNC tampil dengan suasana baru dan musik yang lebih segar. Band yang awalnya bernama Homogenic dan bermatomorfosis menjadi HMGNC ini memang sudah melanglang buana di jagat musik tanah air. Sejak tahun 2002 sampai sekarang, praktisnya 15 tahun, mereka sudah merasakan asam-garamnya industri musik Indonesia. Pastinya banyak cerita menarik yang bisa dibagi oleh Dea kepada teman-teman di sini.

Musik HMGNC cocok banget buat kamu yang sedang suntuk mengerjakan tugas dan belajar. Nuansa kalem, santai, dan tenang akan membuat pendengar merasakan getaran nada yang membuat hati menjadi nyaman. Sikap ramah dan cerita ceplas-ceplos yang diberikan Dea kepada Tim Berisik.id membuat kami merasa bahwa HMGNC adalah band yang bersahabat kepada siapa pun.

Halo HMGNC! Sebelumnya selamat ya, sudah sukses mengeluarkan album kelima. Gimana kabarnya, nih?
Iya, amin, terima kasih doanya. Baik, semuanya masih pada baper dengan segala keseruan launching album kemarin. Akhirnya kita launching juga dan sesuai dengan yang kita inginkan.

Kalau boleh tahu, sekarang HMGNC lagi sibuk apa?
Kalau HMGNC kesibukannya promo album baru. Kita juga punya PR besar untuk memperkenalkan kalau HMGNC itu Homogenic. Kita coba promo terus dan membuat artikel yang menjelaskan HMGNC biar semua orang tahu. Di luar itu, kita masing-masing punya kerjaan dan kesibukan sendiri-sendiri.

Kalau Homogenic berubah menjadi HMGNC sejak kapan?
Tahun 2015 kita mengubah nama. Waktu kita ngeluarin single baru, kita berusaha me-rebranding nama. Karena kalau ilmu marketing katanya udah 10 tahun nama brand-nya harus diregenerasi terus, kan. Nama Homogenic kayaknya terlalu lawas gitu, terus kita lagi mencoba menimbang-nimbang album baru seperti apa, tahun baru kayak gimana, terus temanya kayak gimana. Jadi sebenarnya kita ada kesulitan, kita kesulitan pakai nama Homogenic. Soalnya akun Twitter, kalau kita nge-set di Google nanti keluarnya Bjork gitu. Jadinya malah mempersulit kita, karena Bjork semakin lama malah makin edan. Apalagi sekarang judul album terbarunya Bjork, Utopia. Itu kan, nama single-nya sama dengan single Homogenic dulu. Hehe. Makanya kita memutuskan nama HMGNC biar mudah dicari aja. Makanya tambah lama makin lucu karena alias kita di Facebook dan Soundcloud pakainya nama HMGNC.

Album kelima kalian ini menceritakan tentang apa, sih, Kak?
Album kelima kita judulnya juga HMGNC. Eponymus namanya. Kenapa kita pakai Eponymous? Jadi sebenarnya album ini menceritakan titik baliknya kita. Kita sempat galau juga kemarin, mau nerusin band apa ya, terus kita cari pencapaian apa lagi. Terus kenapa kita masih ngeband terus. Sebenarnya album ini menceritakan proses kita berpikir panjang membuat karya, apa saja yang kita rasakan, dan apa yang keluar. Jadi sempat ada obrolan kita bertiga. Kita mau bikin album kayak gimana, ya? Ah, pokoknya kata Manda, vokalis kita, sekeluarnya aja jangan terlalu banyak dipikirin. Ya, ini memang benar-benar hasil sekeluarnya itu. Jadi berbagai macam emosi yang kita rasakan selama tahun-tahun kemarin, 2015 sampai 2017, kita jadikan lagu-lagu di album ini. Rekaman terhadap perasaan kita pas bikin lagu, mikirin zaman dulu, mengapa kita memilih musik seperti ini. Ingat masih zaman sama Risa, yang waktu pertama kali kita negeluarin album. Hal-hal kayak gitu membuat kita jadi mikirin aja. Apa yang kita dapatkan sekarang nih, kan aku berprofesi sebagai software developer dan Dina juga dosen, kan. Jadi kita sering main bareng dan nongkrong. Itu gaya-gaya Homogenic. Kita percaya banget sama kata pepatah bahwa; mari berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Album ini semacam refleksi atas diri kita.

Dok. HMGNC

Dari tahun 2002 sampai zaman now, HMGNC masih konsisten di jalur musik independen dengan mengusung musik Pop Elektronik. Apa, sih, resepnya bisa bertahan selama 15 tahun?
Kita bertiga memang sering gontok-gontokan dan konflik pasti ada. Tapi kita tipikal bukan orang yang menunda masalah. Jadi kalau ada masalah selalu kita omongin, dan kita bertiga dekat di kehidupan personal. Memang pada dasarnya temenan, kalau kita merasa itu jadi resep utamanya. Kita juga banyak lihat temen-temen kita yang gontok-gontokan dan enggak ngobrol sampai tahunan. Kalau kita sih, komunikasinya bagus, main bareng sering, ketemu sering, main ke rumah, anak-anak kita juga sering main bareng, dan pasangan kita juga sering ketemu. Iya secara personal kita memang cocok. Dulu sih, sempat melenceng ke mana-mana tahun 2014. Dina dengerin apa banget, aku dengerin apa. Cuma gara-gara main DJ bareng juga, jadi kita disatuin di situ. Jadi ketahuan kan, Manda sukanya kayak gimana, Dina sukanya kayak gimana, aku sukanya kayak gimana. Jadi kita mencoba saling mengalah untuk menyatukan kesukaan kita dalam bermusik.

HMGNC bisa dibilang pionir musik Pop Elektronik di Indonesia. Kalau boleh tahu, kenapa dulu memutuskan untuk memilih musik pop elektronik yang sebenarnya dulu masih asing di Indonesia?
Jadi memang secara sound kita suka. Kalau musik elektronik kan, sound-nya aneh tapi membawa suasana. Kita tipikal orang-orang kayak gitulah. Suka melamun, melihat hujan, melihat laut, hehe. Jadi kita tipikal orang yang melamun. Ya, jadi pas dengerin pertama kali musik elektronik di era itu, kita langsung jatuh cinta. Orang kan, punya pengalaman beda-beda terkait pertemuannya dengan musik. Cuma kita merasa musik yang kayak gini pas. Apalagi pada masa itu, musik elektronik malah jadi musik dugem dan disco.

Jadi waktu tahun 2000-an, musik dugem itu lagi gila-gilanya. Kalau kita sukanya malah pop elektronik. Dulu masih aneh, kok manggung gak ada gitarnya, penonton waktu lihat kita manggung kok manggungnya pake laptop, pakai alat yang jarang dilihat, jadi aneh, kan? Iya, sekarang malah jadi now banget musik kayak gini. Otomatis dengan keadaan kayak gitu, gue harus mengikuti zaman apa nih, mau didugemin tapi kok, mmm … di album kelima ini tantangannya itu, sih. Tantangannya kita mau bikin apa lagi? Apa yang masih Homogenic, tapi baru.

Bekerja di dunia musik selalu diawali dengan hobi. Nah, dari dunia hobi sampai menuju ke tahap profesi pekerjaan itu gimana ya langkah-langkahnya, Kak? Bisa diceritain terkait pengalaman HMGNC terkait hal ini?
Jadi intinya kalau musik pasti hobi dari zaman dulu. Kita dari zaman SMP udah mulai bermusik. Biasalah nyoba-nyoba segala macem. Kalau aku sih, ditambah suka komputer. Karena suka komputer, otomatis mengeksplor banyak, tuh. Zaman dulu sering main di forum musik elektronik. Karena hobi, kita jadi ngulik terus sampai berjam-jam bahkan sampai ribuan jam. Ada istilah kan, orang itu bisa mencapai master kalau sampai 1.000 jam. Mungkin karena kita suka, enggak terasa waktu untuk ngulik terus. Karena cinta jadinya diulik terus, karena diulik terus kita dapetlah dari sana. Akhirnya jadi profesi. Kita jadi gak bisa meninggalkan profesi yang itu. Meskipun semua pada sibuk, pasti bermusik gak akan ditinggalin. Itu kan gift ya. kalau kita sih, bahasanya, kalau kamu bisa main musik terlepas seperti apa musiknya, itu kan gift yang harus dipertanggungjawabkan. Jadi memang mesti dijadikan sesuatu. Dijadikan karya, mesti harus ada output-nya.

Kalau sedang menulis lagu dan membuat karya kan, menghabiskan banyak pikiran dan tenaga ya, Kak? Biasanya ketika deadlock dan bosan, apa sih, yang kalian lakukan untuk mengembalikan mood untuk kembali menulis lagu?
Nah, justru bagi kita bermusik adalah jalan keluar dari kesuntukan. Karena kalau aku kan, kerjanya bikin software. Kalau Dina mengajar jadi dosen. Kita punya profesi di luar musik, utamanya sehari-hari.  Musik adalah jalan keluar bagi kita. Cara kita untuk mendapatkan job di luar kota, akhirnya jadi liburan. Cara bagi kita ketika sedang capek, kesel dengan segala sesuatu, semuanya kita tumpahkan di musik. Memperbaiki mood juga dari musik. Menumpahkan kekesalan, menumpahkan kesuntukan, pokoknya segala hal itu jadi rekaman emosiku sesaat itu aja.

Kalau nulis lagu mentok pernah. Mentoknya itu masa 2013-2014. Pokoknya transisi dari album yang ketiga sampai kelima. Itu bisa dibilang masa-masa enggak jelasnya kita. Mau ke arah mana nih men-direct-nya? Kalau sebagai musisi kan, karya kita mesti ada progress. Mesti ada sesuatu yang baru tapi enggak melenceng dari yang lama. Hal-hal kayak gitu, mentok sih. Karena ada beberapa lagu di masa-masa itu yang enggak jadi apa-apa. Lagunya cuma jadi setengah, atau jadi, tapi enggak kita keluarin.

HMGNC sudah mengeluarkan 5 album. Boleh diceritain enggak, proses pengaryaan HMGNC itu seperti apa, biar temen-temen remaja bisa copypaste metode kalian?
Emmm, tentunya. Jadi gini aja deh.  Kita memang sekeluarnya saja. Selain sekeluarnya, kita juga punya deadline. Karena waktu kita terbatas, kan. Kayak aku ngulik ya cuma di sela-sela waktu ngantor. Jadi mesti ada deadline supaya semuanya bisa sesuai target. Hal-hal kayak gitulah. Kantoran banget ya jadinya, hahaha. Jadi bagi kita kreativitas mesti dibatasi, kalau enggak akan ke mana-mana. Jadi metode kita seperti itu, eksplorasi terus.

Kita eksperimental banget orang-orangnya. Misalnya satu lagu bisa ada beberapa aransemen yang berbeda-beda, sampai akhirnya kita pilih satu yang paling cocok. Jadi eksplorasi jalan terus karena kita merasa suka. Jadi enggak merasa itu menjadi beban. Ngulik terus, jadi enggak pernah berhenti untuk nyaman dengan satu metode. Kita ganti software yang lain, kita ganti alat lain, ganti gaya bermusik lain, dengerin musisi lain. Kita kan juga nge-DJ, hal itu banyak membantu, sih. Membantu untuk mengkurasi apa yang kita dengar dan apa yang akan kita presentasikan ke pendengar. Karena main DJ kan bikin playlist, mungkin kita enggak jago main DJ, tapi kalau bikin playlist kita serius. Apa ya, kira-kira yang masih Homogenic? Kalau kita main DJ enggak hanya musik yang kita suka saja, tapi apa yang bisa mendefiniskan itu sebagai Homogenic.

Musik yang teman-teman HMGNC bawa kan remaja banget ya. Kalau bisa dibilang HMGNC kan, sudah enggak remaja lagi, hehe. Dulu semasa remaja kalian punya cerita menarik apa sih, tentang musik, hingga sekarang bisa jadi musisi yang profesional?
Jadi hidup kita waktu remaja habis dengan bermusik. Kuliah enggak bener, sering bolos terus. Hahaha. Sama temen-temen kampus enggak terlalu deket karena manggung terus. Waktu pacaran juga berkurang karena manggung saat wekeend. Hal-hal kayak gitulah. Hehehe.

Sebenarnya musik kita enggak semuanya yang mendengarkan remaja, sih. Karena demografi pendengar kita yang paling ramai usia 18 sampai 29 tahun, kalau lihat dari data statistik di berbagai macam layanan streaming yang kita kelola. Mungkin kalau sekarang udah bergeser ya, ke pendengar yang agak dewasa. Kalau dari song writing dia pernah cerita, lagu-lagu yang dia tulis kalau enggak dari pengalaman pribadi, curhatan temen, sama dari film. Jadi sebenarnya kalau masalah song writing itu sangat personal.

Kalau distribusi karya, HMGNC punya metode dan cara seperti apa sih, biar pendengar dari banyak daerah bisa menikmati karya kalian?
Jadi kita mengalami eranya kaset tahun 2000-an. Dari era kaset ke CD terus era digital. Terus balik lagi ke piringan hitam. Kita mengalami masa-masa itu. Jadi dari segi distribusi fisik tentunya harus dengan label. Makanya penting juga punya label, maksudnya label fisik, lho. Kalau digital kayaknya semua orang sudah tahu. Kalau digital kita sendiri yang pegang. Karena kita sukanya ngulik-ngulik statistik, hahaha. Pas kita upload lagu, kita lihat data demografi pendengarnya seperti apa, kesukaan mereka seperti apa, mereka mendengarkan apa, kita bisa masuk ke mana aja, lagu-lagu yang nge-hits seperti apa. Ternyata kita punya hits di negara mana aja. Hal-hal kayak gitu seru sih, karena membuat kita tahu karakter pendengar Homogenic seperti apa, siapa sih yang sering komen. Kita mencoba mengerti pendengar banget. Kita suka banget dengan hal-hal yang kayak gitu. Digital itu biasa saja, semuanya juga bisa main digital, tinggal upload aja beres. Cuma kalau digital kan, enaknya statistiknya bisa dianalisis lebih jauh.

Bisa dibilang musik HMGNC pasarnya ke remaja urban, ya? Kira-kira HMGNC akan menyasar pasar remaja daerah rural juga enggak, ya?
Emmm … selama mereka bisa menikmati karya kita, ya, baik-baik aja. Sebenarnya musik kita kan universal juga. Jadi kita menganggapnya manifestasi emosi karena menurutku itu bisa dinikmati semua orang. Orang-orang akan melihat masa lalunya, masa depan, ngomongin cinta. Itu kayaknya standar semua orang pernah mengalami. Cuma memang musiknya kita bungkus sesufistik mungkin.

Target apa sih, yang ingin HMGNC capai setelah mengeluarkan album kelima ini?
Ekspektasi kita, nih. Jadi kita punya gap yang sangat jauh antara pendengar lama dan pendengar sekarang. Nah, kita pengen menyatukan itu. Kita ingin anak-anak muda yang mendengar lagu kita, ya, usia-usia pertengahan kuliah ke atas. Musiknya untuk menemani bikin tugas, menemani belajar.

Kita ingin menyasar usia demografi di bawahnya. Kita juga ingin memperkuat esksistensi Homogenic di musik elektronik karena enggak banyak orang tahu tentang Homogenic. Apalagi kids zaman now, mereka enggak terlalu tahu Homogenic. Yang mereka tahu EDM aja. Kita pengin menguatkan lagi musik elektronik dalam negeri. Sebenarnya kan, musik elektronik ini mulainya tahun 90-an, yang kita dengerin zaman ABG. Kita pengin orang punya identitas. Jadi gak cuman dengerin musik di radio yang muterin lagu-lagu barat. Penginnya mereka lebih sadar kalau musik Indonesia lebih kena di hati mereka karena liriknya juga bahasa Indonesia, temanya juga Indonesia banget.

Bagaimana pesan dan kesan HMGNC untuk remaja di Indonesia yang mau berkarya untuk menunjukkan kemampuannya, baik di bidang musik maupun bidang lainnya?
Kalau buatku, sih, harus menikmati yang namanya proses berkarya. Jadi kalau kita menikmati prosesnya, otomatis hasilnya akan bagus. Zaman kita muda kan, waktu SMA sukanya enggak sabar sama proses. Penginnya langsung bagus. Tapi itu sebenarnya proses yang harus dilalui karena itu yang membentuk kita, karena kita belajar dari kesalahan, kita belajar dari sekeliling kita, kita belajar dari masukan dan kritik yang membangun. Ini ada dua ya pesannya, hahaha. Satu lagi, jangan terlalu berorientasi dengan hal yang sifatnya online. Yang online itu hanya segala sesuatu di lingkaran kita aja, karena mem-follow Twitter atau Instagram teman-teman yang dia kenal aja. Jadi, justru di dunia yang serba online, yang offline malah berharga. Yang nyata lebih berharga, bukan yang maya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: HMGNC DAN GELIAT MUSIK POP ELEKTRONIK!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/hmgnc-dan-geliat-musik-pop-elektronik/