JADI, SUDAH BAPER BELUM?

 In Liputan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Ketika mendengar kata baper, kita bukan terBAwa PERasaan, melainkan lebih merujuk pada bagaimana kita bisa memBAwa PERubahan.

Dok. Ismi Rinjani

“Aku bagian dari 63 juta remaja yang BAPER, BAwa PERubahan!” Begitulah kiranya tagline Jalan Remaja 1208 yang diadakan tahun ini. Lain halnya dengan akronim baper yang marak digunakan oleh anak muda sebagai tendensi negatif, baper yang kali ini terekonstruksi dan merujuk pada hal yang lebih positif. Dengan demikian, ketika mendengar kata baper, kita bukan terBAwa PERasaan, melainkan lebih merujuk pada bagaimana kita bisa memBAwa PERubahan. Hal itu disampaikan oleh salah satu panitia Jalan Remaja 1208 ketika menjelaskan seputar program yang berlangsung hari Minggu (12/08) itu.

Jalan Remaja 1208 kali ini direalisasikan secara serentak di empat belas titik di Indonesia, salah satunya di Antologi Collaboractive Space Yogyakarta. Siang itu, Antologi dipenuhi oleh peserta yang rata-rata adalah remaja berusia sekolah menengah ke atas. Peserta mula-mula menyemut di halaman luar Antologi tempat dilangsungkannya workshop zine dan pemutaran video diary bertema ‘Remaja BAPER’. Seiring tenggelamnya matahari, kerumunan peserta mulai merayap masuk ke space indoor Antologi. Di sana sudah ada tiga remaja BAPER yang akan menjadi narasumber dalam kegiatan sharing sore itu. Sebelum sharing dimulai, Wucha dan Gundhi yang memoderatori kegiatan tersebut melemparkan pertanyaan kepada seluruh peserta seputar Hari Remaja Internasional (Youth International Day). Satu dari kurang lebih seratus lima puluh peserta mengacungkan tangan. Ia mengaku tidak tahu kapan diperingatinya Hari Remaja Internasional, bahkan ia baru mengetahui adanya Hari Remaja Internasional dan bahkan diperingati. Sontak semua peserta tersenyum, entah sebagai tanda hendak menertawakan atau malah merasakan hal yang sama.

Sharing dibuka dengan penampilan dari narasumber pertama, Aruna, yang memainkan gitar klasik. Aruna bercerita tentang ketertarikannya terhadap gitar dan musik klasik. Awalnya, Aruna bermain piano, kemudian kecintaannya pada alat musik kian bertambah setelah orang tuanya mengenalkan Aruna pada gitar klasik. Bersama gitarnya, Aruna telah banyak meraih juara dan pengahargaan di bidang musik. Sampai pada tantangan membuat album dari orang tuanya ia lakoni dengan senang hati. Malahan, karena kecintaannya pada buku, hasil dari penjualan albumnya pun ia kontribusikan untuk membuat sebuah perpustakaan di Sekolah Pagesangan. Aruna mengaku bahwa hal itu bukan semata perkenalannya dengan Sekolah Pagesangan yang dijembatani oleh ibu, melainkan Aruna merasa terinspirasi dengan teman-temannya yang ada di sana sehingga ia lebih bersemangat untuk berkarya.

Narasumber kedua sore itu adalah Livia dari Sekolah Pagesangan. Passion wirausaha yang dimilikinya sangat memengaruhi semangatnya dalam memaparkan kegiatan yang dilakoninya hingga begitu detail. Sekolah Pagesangan telah mengubah Livia yang mulanya merasa malu untuk bertani. Hingga kini, ia pun malah menjadi koordinator anak-anak di bidang yang dulu ia segani itu. “Sekolah Pagesangan sudah menjadi kebutuhan saya sendiri,” tukas Livia saat menceritakan pengalamannya. Kematangannya dalam mengenali potensi diri dan lingkungan yang ia tinggali lewat Sekolah tersebutlah yang membuat ia begitu yakin mengucapkan hal demikian. Livia juga tahu apa yang akan ia perjuangkan dan apa yang bisa ia lakukan.

Berbeda dengan dua narasumber sebelumnya yang berasal dari Jogja, Tarapti Ikhtiar Rinrin atau yang akrab dipanggil Rinrin merupakan musisi sekaligus penulis lagu yang berasal dari Bogor. Rinrin mengawali karirnya atas dasar kecintaannya pada musik. Bagi Rinrin, bermusik itu untuk menyenangkan dirinya. “Setelah senang, kita akan lebih percaya diri dan mampu menggerakkan teman-teman kita,” terang remaja bersuara merdu itu.

Bermula dari sebuah lomba cipta lagu saat kelas 3 SD, Rinrin bertekad untuk mendalami musik dengan mengikuti kelas musik dan mempelajari teori penciptaan lagu. Tak ada kata bosan untuk Rinrin. Segala hal yang telah ditemukan dan dikuasainya bukanlah pertanda untuk berhenti.

“Jangan mudah kenyang! Terus mencari, terus pelajari!” begitu ucapnya.

Sambil menunggu Rinrin yang baru saja diberi tantangan untuk membuat lagu dengan tema remaja, Wucha dan Gundhi mempersilakan beberapa peserta yang ingin sharing dan juga memperkenalkan diri atau komunitasnya. Ada Jendra yang memaparkan FKPO (Forum Komunikasi Pelajar Osis) dan bagaimana program itu berlangsung. Ada pula Nabila yang menceritakan pengalamannya di pesantren dan bagaimana ia tetap mampu melihat dunia luar bahkan mengikuti program exchange di beberapa negara, salah satunya Itali. Setelah cukup lama menunggu, salah satu remaja dari Sanggar Anak Alam menceritakan pengalamannya selama bersekolah di sana. Terakhir, ada pula Akademi Olimpiade yang tetap konsisten berkarya hingga sekarang.

Ke-gayeng-an sore itu dilengkapi dengan adanya lagu remaja (“Aku Remaja Indonesia”), lagu tentang kota (“Bogor Kota Hujan”), dan juga lagu “Rindu Sendiri” (OST Dilan 1990) yang diciptakan sekaligus dilantunkan dengan sangat merdu oleh Tarapti Ikhtiar Rinrin.

Antologi pun kian menghangat. Satu demi satu peserta bangkit dari duduknya dan melanjutkan berbincang dengan sesama peserta, bahkan dengan ketiga narasumber.

Halaman Antologi mulai gelap, pertanda hari sudah malam. Barangkali matahari pun setuju dengan ‘semangat memBAwa PErubahan’ yang telah dikantongi oleh semua yang hadir hari itu.

 


 

Program yang diprakarsai oleh yayasan Kampung Halaman ini merupakan kegitan refleksi remaja Indonesia di Hari Remaja Internasional (International Youth Day). Tahun ini, Jalan Remaja 1208 mengajak berbagai komunitas untuk berpartisipasi melalui dua aktivitas, yaitu Kompetisi Video Diary ‘Remaja Baper’ 1-5 menit dan Let’s do Action.

Kompetisi Video Diary “Remaja Baper” berhasil membuahkan empat belas video diary, diantaranya:

  1. BAPER_Indonesia Timur Tertinggal karya Muh. Zein (Palu Sulawesi Tengah)
  2. Literasi Membawa Perubahan karya komunitas Kompensasi (Yogyakarta)
  3. Berkarya Untuk Unjuk karya Nikoplak (Yogyakarta)
  4. Pinjam sandalnya ya… iya! karya PAC IPNU IPPNU Pagelaran (Malang, Jawa Timur)
  5. Bingah karya Sanggar Lare Mentes (Klaten, Jawa Tengah)
  6. Membaca Mengubah Hidup karya Perpustakaan Baca (Medan, Sumatera Utara)
  7. Berkarya Bersama karya Panggung Bersama Institut Mosintuwu (Poso, Sulawesi Tengah)
  8. ARBI Peduli, ARBI Berbagi karya Aliansi Remaja Biinmafo (Kafamenanu, NTT)
  9. Lentera Nagari karya Lentera Nagari (Pesisir Selatan, Sumatera Barat)
  10. #RoadtoArtKids karya Rumah Belajar Ilalang (Jepara, Jawa Tengah)
  11. Kodok Bali (Kelompok Dolanan Kreatif Bantaran Kali) karya Sinau Art (Cirebon, Jawa Barat)
  12. Kering di Gunung karya Brankas Film (Purbalingga, Jawa Tengah)
  13. Selamatkan Bumi Kita karya komunitas Sangkanparan (Cilacap, Jawa Tengah)
  14. Ayo Membaca karya komunitas Sangkanparan (Cilacap, Jawa Tengah)

Sementara itu, Let’s do Action sendiri berhasil direalisasikan secara serentak di lima belas titik di Indonesia:

  1. Aku Remaja Indonesia | Daerah Istimewa Yogyakarta
  2. Komunitas Adem Atie | Daerah Istimewa Yogyakarta
  3. Komunitas Bois Pustaka | Banggal Laut | Sulawesi Tenggara
  4. Pelangiku | Kolaka Utara | Sulawesi Tenggara
  5. Cinta Baca Sumut | Medan | Sumatera Utara
  6. Forum Anak Banda Aceh | Banda Aceh
  7. Islam Versus Reality | Bandung | Jawa Barat
  8. Komunitas Sahabat Alam | Maros | Sulawesi Selatan
  9. Lentera Nagari | Pesisir Selatan | Sumatera Barat
  10. SMAN 3 Kisaran | Asahan | Sumatera Utara
  11. Rame | Kebun Veteran | Bengkulu
  12. Rumah Belajar Ilalang | Jepara | Jawa Tengah
  13. Sangkanparan | Cilacap | Jawa Tengah
  14. Sinau Art | Cirebon | Jawa Barat
  15. Film Muda Surabaya | Jawa Timur
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: JADI, SUDAH BAPER BELUM?!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/jadi-sudah-baper-belum/