JIWA-JIWA PERIANG DI PAGELARAN DANGDUT KOPLO

 In Opini
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dangdut koplo bukan saja jadi gaya hidup, melainkan sudah berubah menjadi ritual sakral para pemuda perantauan untuk kembali ke desanya dan menghibur diri.

jiwa-periang

Dok. Danang Pamungkas

Malam itu seorang teman datang ke rumah untuk mengajak saya menonton konser dangdut koplo, yang diselenggarakan Pemuda Desa setempat. Tanpa berpikir panjang, saya pun menerima ajakannya karena tempatnya tak jauh dari rumah, terlebih lagi saat itu saya sedang tidak ada kesibukan. Malam itu suasana desa tidak seperti biasanya. Suara sound yang bass dan echo-nya bisa didengar satu wilayah kecamatan membuat tetangga desa sebelah berbondong-bondong menonton konser ini. Hilir mudik motor dengan knalpot yang sudah dimodifikasi membuat telinga saya sedikit memerah. Baik ibu-ibu, bapak-bapak, maupun anak muda berdandan se-gaul mungkin agar terlihat rapi dan bersih. Orang-orang berkumpul ramai dan pedagang dari desa sekitar mulai mendirikan lapaknya. Padahal pada hari-hari biasa, warga di sini jarang keluar rumah karena sibuk bekerja, sementara bila sudah jam 9 malam rumah-rumah sudah ditutup dan jalanan begitu sepi.

***

Sejak kecil telinga saya begitu akrab dengan dangdut koplo. Tetangga saya bahkan saling bersaing untuk membeli sound system yang berjubel agar suara nyaring biduan dan alat musik kendang yang bersuara patah-patah itu dapat didengar oleh tetangga lain. Alunan musik biasanya diputar pada pagi hari saat ibu-ibu sedang pergi ke pasar sampai pada sore hari saat bapak-bapak pulang dari sawah. Lagu-lagu yang sering diputar biasanya dari grup dangdut koplo macam Om Monata, Om Sera, dan New Palapa. Saya sampai hafal lagu-lagu dangdut yang dimainkan oleh grup dangdut koplo tanpa harus melihat video klip atau biduannya. Saya cukup mendengarkan tempo, ritme, dan alunan kendang. Bila suara biduan memainkan lagu dengan suara serak nge-rock dan kendangnya bertempo cepat, itu pasti Om Sera yang sedang main. Kalau suara biduannya menyanyikan lagu dengan suara lembut dan kendangnya bertempo agak lambat, itu pasti New Palapa. Tetapi, kalau suara biduannya kalem dan kendangnya bertempo sedang, itu pasti Om Monata.

Dulu saya pernah berasumsi bahwa orang yang suka nonton dangdut koplo adalah orang-orang yang hanya ingin melihat goyangan biduan dangdut dan hanya ingin melihat kemolekannya. Namun demikian, setelah beranjak dewasa, ternyata saya salah. Pertama kali saya menonton konser dangdut di desa secara langsung, saya sungguh menikmati irama lagunya dan semua orang hanya ingin bergoyang–termasuk saya. Saya melihat bagaimana pemuda desa yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik, petani, dan guru, bisa menggerakkan badannya dengan bebas dan tertawa ceria. Itulah kebahagiaan yang tak pernah saya temukan di desa, kecuali pada saat menonton dangdut koplo.

Setelah bertahun-tahun menonton konser musik, saya mencermati dan menilai bahwa fans dangdut koplo adalah salah satu fans yang paling militan dalam mengekspresikan identitasnya. Bila seseorang menyukai biduan tertentu, si fans akan menemani sang biduan ke manapun ia manggung. Bahkan, secara sukarela mereka membentuk fans club agar lebih mudah berkoordinasi saat sang idola tampil di pelbagai acara.

Setelah Idul Fitri dua bulan lalu, untuk pertama kalinya saya mengikuti rembuk pemuda desa. Para pemuda desa saat itu ngebet banget ingin mengundang grup dangdut koplo untuk tampil di desa. Hari itu saya tak habis pikir bagaimana mereka mengorganisasi diri tanpa organisasi yang sistematis, tetapi ingin menyewa grup dangdut yang harganya bisa sampai 15 juta rupiah. Padahal, saya tahu bahwa pemuda di desa kebanyakan hanya bekerja serabutan dan malah sebagaiannya adalah pengangguran. Di situlah saya melihat tekad mereka untuk membangun kesadaran pemuda agar saling peduli dan agar desanya tidak kalah dengan desa yang lain dalam hal menampilkan konser dangdut koplo. Tidak main-main, hasil keputusan rapat itu adalah setiap pemuda harus menyumbangkan uang  100.000 rupiah agar keinginan itu bisa tercapai. Beberapa dari pemuda itu bahkan membuat kepanitiaan untuk penarikan dana ke segala sumber. Di situ saya melihat keuletan sekaligus kenekatan luar biasa yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Penggalangan dana itu hanya berlangsung selama H-7 dari acara digelar sehingga hanya butuh waktu enam hari, para pemuda sudah mendapatkan uang 15 juta rupiah untuk menyewa grup dangdut koplo. Itu belum termasuk biaya menampilkan biduan yang harganya bisa mencapai 1 juta rupiah per manggung.

Setelah saya merenungi mengapa pemuda desa begitu loyal bila menyangkut dangdut koplo, saya mendapatkan satu kesimpulan. Semua itu bermuara dari kehidupan perantauan dan urbanisasi dari desa-kota.

Sebenarnya, desa kami bukanlah desa yang subur dalam hal pertanian, namun juga bukan desa yang tandus. Buktinya, tanaman tembakau dan tebu bisa menghidupi keluarga di sini. Namun demikian, persoalan yang nyata adalah pada saat musim kemarau tiba. Di situlah semua aset tanah bisa terjual habis karena terhimpit kebutuhan. Musim kemarau juga bisa disebut musim kemiskinan karena sawah-sawah di sini adalah sawah tadah hujan, yang hanya bisa ditanami padi pada musim penghujan. Hasil padi pun hanya untuk dikonsumsi sendiri. Pada musim kemarau, orang-orang mengubah profesi yang awalnya petani menjadi buruh bangunan, buruh borongan kayu, dan buruh pertanian. Sisanya merantau ke daerah yang jauh, bekerja di perusahaan sawit di Sumatra, menjadi TKI di luar negeri, menjadi pekerja bangunan di kota-kota besar, dan segala macam pekerjaan lainnya. Hanya sedikit pemuda yang bertahan di desa. Bila menjelang petang, suasana desa pun sudah sangat sepi. Tak ada kumpulan pemuda yang duduk untuk sekadar nongkrong. Semuanya sudah terlalu letih bekerja.

Dulunya, pemuda-pemudi desa tak perlu susah mencari uang ke luar kota karena ada perusahaan mebel dari Jepara yang membuka cabangnya di desa kami. Hampir setengah penduduk desa bekerja sebagai buruh perusahaan mebel. Bermacam-macam profesi ditawarkan oleh perusahaan, seperti sopir truk, kuli kayu, tukang ukiran, tukang bongkar muat barang, hingga tukang pembuang limbah kayu.

Namun demikian, seiring berjalannya waktu dan faktor ketidakberuntungan, perusahaan mebel harus tutup. Salah satu penyebabnya adalah perusahaan ini tutup karena kebakaran besar yang membuat jutaan kubik kayu dan ukiran yang siap diekspor ke luar negeri tinggal menjadi abu. Peristiwa kebakaran itu terjadi hingga tiga kali dalam satu tahun. Sejak itulah, warga desa mulai kesulitan mencari pekerjaan dan mulai banyak warga yang merantau ke kota-kota besar.

Jika memasuki musim para pemuda perantau pulang, mereka pasti membawa uang dengan jumlah yang banyak. Sampai pada akhirnya muncul sebuah kesepakatan bahwa seorang perantau akan disebut sukses apabila ia bisa membeli motor, mobil, dan yang paling penting memberikan iuran untuk acara dangdut koplo. Nah, pada saat acara dangdut koplo inilah wajah-wajah yang jarang terlihat di desa karena merantau, tiba-tiba muncul dan jumlahnya sangat banyak. Di sinilah dangdut mempertemukan seluruh pemuda untuk bersilaturahmi dan bersenda gurau. Lewat acara dangdut koplo juga, pemuda desa setidaknya bisa menikmati keceriaan selama satu hari dengan berjoget dan bernyanyi dengan puas. Tak ada tawuran atau pelecehan apa pun. Penggemar dangdut koplo adalah jiwa-jiwa yang periang, ingin bahagia, dan hanya ingin keluh kesahnya selama di perantauan dapat disuarakan dengan goyangan dua tangan di langit-langit. Dangdut koplo bukan saja menjadi gaya hidup, melainkan sudah berubah menjadi ritual sakral para pemuda perantauan untuk kembali ke desanya dan menghibur diri sendiri.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: JIWA-JIWA PERIANG DI PAGELARAN DANGDUT KOPLO!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/jiwa-jiwa-periang-dalam-pagelaran-dangdut-koplo/