KARANG TARUNA MITRA TARUNA BAKTI GELAR PEMENTASAN TEATER

 In Liputan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Pada 1 April 2018, Pemuda dan Pemudi Karang Taruna Mitra Taruna Bakti Kalisoko Next Generation menggelar pementasan teater bertajuk “Ngoyo Woro”. Pementasan ini merupakan salah satu rangkaian dari Merti Dusun Kalisoko dan Krebet. Merti Dusun rutin diadakan setiap tahun setelah panen, sebagai bentuk rasa syukur masyarakat. Lokasi Merti Dusun bergantian setiap tahunnya. Pada tahun sebelumnya, Merti Dusun dilakukan di Dusun Krebet, sedangkan tahun ini dilakukan di Kalisoko.

Sebelum pementasan teater berlangsung, ada dua penampilan pembuka. Yang pertama adalah penampilan musik yang dibawakan oleh Ahmat Sofyan dan Maryanto. Mereka membawakan dua lagu ciptaan Ahmat Sopyan sendiri. Lagu pertama berjudul Lemah Resik. Lagu ini menceritakan tanah dan manusia yang baik. Sebuah lagu yang menggambarkan harapan agar tanah mereka selalu terjaga dengan baik dan desa mereka dipenuhi dengan manusia yang becik.

Lagu kedua berjudul Nggodog Banyu Dewe. Lagu ini berbicara tentang air. Salah satu penggalan liriknya menceritakan ajakan untuk tidak membeli air kemasan karena air di desa melimpah. Ajakan itu diperkuat dengan harapan agar anak cucu selalu sehat dengan meminum air yang jelas dari mana asalnya. Lirik dalam kedua lagu tersebut ditulis dalam bahasa Jawa. Banyak penonton yang ikut bernyanyi. Barangkali hal itu karena kedekatan tema yang dibawakan dan bahasa yang digunakan.

Selanjutnya, penampilan kedua adalah Tari Tani. Tarian-tariannya sangat nyata dalam menggambarkan proses bertani. Di panggung, ada bapak-bapak dengan cangkul dan ibu-ibu yang mempersiapkan benihnya, persis adegan bertani, tetapi diberi sentuhan-sentuhan estetis berupa gerakan yang serempak, kostum yang cantik, dan make-up yang indah. Bagi saya, tarian ini sangat menyentuh jiwa masyarakat. Hal ini tergambar dari sorak sorai yang terdengar dari penonton.

Setelahnya, pementasan teater yang ditunggu-tunggu pun berlangsung. Jangan dibayangkan pementasan ini digelar dalam sebuah gedung yang pengap dengan bangku penonton yang berderet seperti anak tangga. Pementasan ini dilakukan di pinggir jalan, tepat di depan Padukuhan Kalisoko. Penonton bebas menonton dari sisi depan, kiri, atau kanan panggung. Juga, jangan kira pementasan ini akan hening dan suara yang keluar hanya dari panggung. Semua penonton boleh menyahuti setiap dialog, pun boleh bersiul saat ada adegan bernuansa mesra di atas panggung.

Di dalam pementasan Ngoyo Woro terdapat peran utama seorang janda yang harus survive untuk membesarkan dan menyekolahkan anaknya. Dia membuka warung di pinggir jalan. Dari warung itu kemudian terlihat berbagai masalah warga kampung. Mulai dari orang yang mengaku kaya tetapi setiap belanja berhutang, anak-anak SD yang terbiasa jajan sembarangan, sampai kasus persebaran narkoba. Menarik.

Saya melihat pementasan ini begitu kompleks. Banyak hal dan/atau isu yang dimasukkan dalam satu panggung, tetapi bisa tertata rapi. Isu-isu yang diusung pun begitu dekat. Salah satu yang paling menancap dalam ingatan saya adalah tentang tempe benguk. Menurut penuturan Ahmat Sopyan selaku pendamping proses teater Karang Taruna Mitra Taruna Bakti Kalisoko Next Generation, tempe benguk adalah kudapan yang selalu ada di setiap hajatan di desanya. Di atas panggung, tempe benguk disandingkan dengan jajanan instan. Digambarkan seorang anak SD hendak membeli jajanan, setelah proses memilah dan memilih, si anak SD ini memilih tempe benguk untuk dibeli. Anak SD itu menegaskan jika makanan instan banyak bahan pengawet, lebih baik memakan tempe benguk saja. Pesan dalam adegan itu sangat jelas, Bahwa memang kita harus berhati-hati dengan segala bentuk makanan instan dan tidakkah harusnya kita percaya dengan makanan yang kita paham betul asal usul bahan-bahannya.

Selain tentang tempe benguk, ada juga pesan yang disampaikan dengan cara memaknai lagu Gundul-Gundul Pacul di atas panggung. Aktor yang berperan sebagai Guru pada pementasan tersebut menjelaskan bahwa lagu Gundul-Gundul Pacul itu mengisahkan bagaimana menjadi pemimpin. Menjadi pemimpin itu harus arif dan bijak, tidak boleh gembelengan agar apa yang menjadi amanahnya untuk disunggi  tidak bubrah.

Sekitar satu jam lebih pementasan teater berlangsung dan harus selesai. Tepuk tangan penonton begitu meriah mengiringi seluruh pemain yang memberi hormat. Beberapa crew dan penonton sampai menangis haru.

Esoknya, dalam suasana yang santai, beberapa pemuda berkumpul dan membahas lagi tentang isu dan pesan-pesan yang disampaikan dalam pementasan tersebut. Saya yang menginap semalam di Dusun Kalisoko sama sekali tidak merasa canggung untuk ikut menimpali obrolan. Semuanya ramah dan menyenangkan. Tentu saya menunggu pementasan selanjutnya dari teman-teman Karang Taruna Mitra Taruna Bakti Kalisoko Next Generation.

Akhir kata, selamat!!!

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: KARANG TARUNA MITRA TARUNA BAKTI GELAR PEMENTASAN TEATER!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/karang-taruna-mitra-taruna-bakti-gelar-pementasan-teater/