KASIAN, IKANNYA TENGGELAM

 In Cerpen, Sastra
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Ikan-ikan kecil berlarian, berkecipak di air sungai yang tenang, seperti sedang menyaksikan pesta yang sangat meriah, kamu bermain di sekitaran pinggir sungai dengan kawanmu yang selalu tertawa, berambut tipis, berbadan ceking. Kamu mengejar kepiting untuk dikumpulkan dalam sebuah bubu berjaring. Pada punggungan sawah yang menjorok ke sungai, rerimbunan pohon bambu bergesekan tertiup angin. Sungguh, sore hari yang manis, kamu memandangnya sambil tersenyum.

Kamu tertawa girang, setelah mendapati kepiting, kamu melemparkannya pada kawanmu yang sedang sibuk berenang. Kemudian kamu berjalan menapaki air, di bawahnya terdapat bebatuan berlumut, dan kamu memainkan air yang mengalir dari saluran pembuangan air sawah. Air setenang ini, bagi dirimu adalah sebuah anugerah yang belum bisa menerjemahkannya, kamu belum jauh memikirkan bagaimana sejarah sungai ini pada masa kerajaan Mataram kuno, bagaimana sikap masyarakat menghormati sungai sebagai tempat yang dikeramatkan. Kamu tidak peduli pada semua itu, kamu hanya bermain mengisi hari-hari di waktu kecilmu.

Melihat temanmu sedang berenang dalam bendungan menyebabkan kamu melepas bajumu, menyimpan bubumu pada sebuah batu besar, kamu loncat bersalto dan mencebur ke aliran air yang sangat tenang, meski tidak terlalu dalam tapi air di bendungan ini sering dijadikan tempat mencuci segala perlengkapan rumah tangga atau juga mencuci hewan peliharaan. Tapi sayang, kali ini bendungan sedang sepi, mungkin gara-gara waktu sudah menjelang maghrib. Kamu menyelam menghampiri temanmu, kemudian memercikkan air ke wajah temanmu. Kamu dan temanmu asyik bermain air. Sebuah bendungan yang dibuat pada zaman Belanda ini mengingatkanmu pada cerita dari orang tuamu, cerita mistis atau yang lainnya yang membuat bulu kudukmu berdiri. Pada saat bersamaan tiba-tiba temanmu mengajak pulang.

“Ayo kita pulang,  sudah mulai gelap” temanmu mengajak pulang
“Ah bentar, ini kepiting masih sedikit, lagian kita masih berenang”
“Kepiting buat apa ih ?”
“Buat dibakar, habis dibakar ya dimakan”
“Boleh dimakan ?”
“Iya boleh, tapi dimakan ikan, kan buat mancing”
“Euuuh, dikirain”

Kamu bersama temanmu berjalan meninggalkan sungai Kelanduan, kemericik suara sungai semakin jauh semakin kecil, kamu dan temanmu pulang ke rumahnya masing-masing. Kepiting hasil tangkapan tadi kamu simpan dalam wajan dekat tungku perapian, nanti sehabis isya rencananya kamu akan membakarnya untuk dijadikan umpan. Kamu mendesah pelan, akhirnya besok sore bisa memancing ikan.

Besok harinya kamu sudah bertengger di atas batu besar, kau sudah melemparkan kailmu pada air yang lebih dalam, terlihat sisik ikan berkilatan namun tak jua memakan umpanmu, racikan kepiting bakar itu mungkin hal baru bagi lidah ikan. Sebenarnya kamu juga ragu, apakah kepiting bisa menjadi selera yang bagus untuk bisa dimakan ikan, ah entahlah, ini hanya percobaan, karena kalau pakai umpan cacing kamu ketakutan, semacam phobia.

Sudah hampir tiga jam, dan matahari sedang terik-teriknya, tak satu pun ikan melirik umpanmu itu, kamu gelisah, tapi tiba-tiba tali pancingmu bergerak cepat, ditarik oleh entah apa, kamu kaget dan tanpa mengulurnya kau langsung menariknya. Tak dinyana, seekor ikan mirip ikan mas sebesar telapak tangan akhirnya kau dapatkan. Ikan itu tidak melakukan perlawanan, seolah menyerah pada kailmu yang tertancap di bibirnya. Kamu loncat kegirangan dan berteriak sangat keras sekali.

“Hahahahaha, akhirnyaaaaa !!!!”

Ikan itu kamu masukkan pada bubu yang sama ketika mencari kepiting kemarin, ikan itu bergerak-gerak seolah ingin berenang lagi. Kamu tatap mata ikan itu dalam-dalam, sehingga kau menerima tatapannya. Seolah ikan pun berkata, “santaplah aku dengan segenap keserakahanmu, aku hanya bagian alam yang tunduk kepadamu”. Selang beberapa menit kemudian, ikan kedua berhasil kamu tangkap, ikan ketiga, ikan keempat dan sampai selusin lebih. Hari yang luar biasa, sangat heroik sekali, kau bisa pamer pada teman-temanmu, kau bisa pamer pada ibumu, bahwa hari ini kau menangkap ikan sangat banyak. Bubumu hampir kenyang dipenuhi dengan ikan yang berlimpah.

Mungkin hari itu terakhir kalinya kamu menangkap ikan penuh dengan gairah, atau juga pertama dan terakhir kalinya, karena besok harinya kamu dengan tiba-tiba diharuskan berangkat kuliah ke luar negeri, Leiden Unversity, Belanda. Negara si pembuat bendungan di tempatmu itu, ya Belanda di eropa sana. Kamu masih ingat bagaimana terakhir kalinya menyaksikan sungai yang begitu tenang dengan air yang jernih, sekumpulan pohon bambu, deretan pohon-pohon besar dengan akar yang jalin menjalin memayungi sungai. Petakan sawah nan menghijau seolah memberikan lambaian kesunyian dari perpisahan.

****

Waktu bergulir sangat cepat, setelah beberapa tahun kamu belajar mendalami berbagai macam filsafat, bercampur dengan budaya barat, kamu tidak mendapatkan apa-apa selain rindu tanah leluhurmu sendiri, apalagi memancing ikan. Memang yang mudah sekali untuk dibayangkan sembari tersenyum adalah memancing ikan. Kerinduan itu datang dengan tiba-tiba dan terus mengisi hari-harimu di Belanda sana. Tugas akhir sudah kau rampungkan, urusan kampus dan segala macamnya sudah kelar, tinggal meminta izin dari kedutaan mengenai laporan studi.  Ah sangat melegakan sekali rasanya, desahmu dalam hati.

Dalam perjalanan pulang kamu tidak memikirkan bagaimana kebanggaan keluargamu, gelar sarjana luar negeri, atau bercerita tentang foto-foto yang menakjubkan di eropa, tetapi yang kamu pikirkan adalah bagaimana caranya menahan rindu untuk berenang dan memancing ikan di sungai Kelanduan. Kamu sangat tidak sabar, sambil tersenyum kamu memandang ke sekitar awan-awan yang menggumpal. Dari pesawat ini kamu rasakan kebahagiaan yang berlimpah ketika ban pesawan landing di bandara Yogyakarta. Ah bahagia sekali rasanya, lirihmu.

Keluarga yang menyambut kedatanganmu sangat sumringah, kamu sekarang berjenggot, rambut gondrong, pakaian eropa dan tas cover yang kamu sorong. Orang tuamu menangis ketika menyambutmu, tentunya tangis haru penuh bahagia menyaksikan anaknya bisa kembali lagi bersamanya. Kamu peluk erat mereka satu persatu, kepalamu dielusnya berkali-kali. Ah rasanya kamu ingin menangis saja, tapi kamu tahan, kamu mungkin malu. Setibanya di rumah, setelah semua barang bawaan kamu taruh di kamarmu, kamu tidak menghampiri tetanggamu, tapi kamu berangkat ke rumah temanmu si Tarno, teman bermainmu di sungai, tapi sayang, kata ibunya dia sudah menikah dan ikut istrinya ke Kalimantan. Sedih rasanya, kamu rindu berenang di sungai.

Kamu berjalan pelan kembali ke rumahmu, langkah penuh lunglai dan merasa bersalah karena tidak bisa menghadiri pernikahan temanmu, ah daun-daun sudah berguguran, rasanya kamu sudah semakin tua. Rumah perkampungan sudah banyak yang berubah, dari bangunan dan cat pun ada yang baru, jalanan sudah semakin ramai, kamu hanya melihat ke sekitar dan merasakan oksigen asli dari tanah leluhurmu.

Akhirnya kamu memutuskan untuk pergi ke sungai sendirian, kamu masih ingat detik-detik terakhir saat menyaksikan segala keindahannya, yang kamu rindukan selama ini adalah suasana sungai yang tenang, ikan-ikan kecil berlarian, sawah yang menghijau, pohon besar dengan akar yang jalin menjalin, bendungan dan tentunya adalah memancing. Langkahmu semakin cepat, sangat terburu-buru, kamu setengah berlari menuju bendungan buatan Belanda itu.

Apa yang kamu lihat sekarang ? Apa yang kamu rasakan sekarang ? Apa yang mau kamu bicarakan sekarang ? Semuanya tidak ada, pohon-pohon besar itu tumbang, sesampahan berserakan di sekitar sungai, air penuh dengan polutan, ikan-ikan kecil itu tidak tampak, dan kamu tertunduk lesu. Benar-benar kasian, sekarang ikannya tenggelam.

SELESAI

Grisse Kopi, 27 Juni 2015

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: KASIAN, IKANNYA TENGGELAM!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/kasian-ikannya-tenggelam/