KEBUN KITA, SUMBER MAKANAN KITA

 In Cerita, Inspirasi

Dengan memahami konsep bahan pangan lokal, kebun dan halaman rumah sendiri bisa jadi sumber bahan pangan kita. Siapa bilang belanja sayuran harus di pasar atau supermarket?

“Coba sebutkan sebanyak mungkin jenis sayuran yang kalian tahu!” adalah kalimat pertanyaan pembuka yang dilontarkan oleh Dyah Soemarno, pemilik Warung Kita yang sekaligus jadi tempat diadakannya Minggu Pangan #2 lalu. Sekitar 20 teman-teman remaja yang berkumpul di joglo mulai antusias menjawab. Sepuluh jenis pertama disebutkan satu per satu dengan lancar,”Selada, bayam, kangkung, kacang panjang, paprika, brokoli, daun singkong, dan…” intensitas jawaban mulai melambat pada hitungan –belas. Beberapa mulai berpikir keras dan berhasil menyebutkan beberapa lagi hingga benar-benar berhenti di angka 20. “Kita hanya tahu 20 jenis ya, padahal jenis tumbuhan yang bisa kita makan itu sebenarnya sekitar 10.000 jenis loh,” tutup Dyah menjelaskan.

Dok. Minggu Pangan

Bahan pangan lokal, jadi tema utama di Minggu Pangan #2. Rangkaian acara #menuju2500Kalori ini diadakan pada 12 November 2017 lalu. Mendung menggelayut padat di langit Nitiprayan, namun wajah teman-teman remaja justru menunjukkan cuaca sebaliknya. Senyum cerah dan antusiasme terlihat saat materi bahan pangan lokal dipresentasikan oleh Dyah Soemarno. Menurut Dyah, Bahan Pangan Lokal adalah bahan pangan yang bisa ditemukan di sekitar tempat tinggal. “Kalau kita tahu bahan pangan lokal, nggak harus belanja ke supermarket. Bisa hemat, tur sehat juga!,” ujarnya.  Ia menceritakan, pada halaman rumah atau kebun kita saja, atau bahkan dalam sepetak tanah kosong yang ditumbuhi berbagai tanaman hijau, sebenarnya pasti ada yang bisa dikonsumsi. Jarak dan pengetahuan jadi kunci untuk memahami lebih banyak soal bahan pangan lokal.

Nah, karena (seperti yang tertulis dalam buku tulis Sidu) pengalaman adalah guru terbaik, maka Minggu Pangan #2 juga tidak hanya berhenti di duduk ngobrol bersama. Iyak! Tur kebun jadi agenda berikutnya. Gerimis turun cukup lebat, tapi peserta yang terlanjur terpantik rasa penasarannya memilih memakai mantel dan tetap berangkat. Dibagi dalam dua kelompok, peserta Minggu Pangan #2 berjalan mengikuti panduan dari dua ‘ahli kebun’ kita, Dyah Soemarno dan Anneste. Sepanjang jalan Dyah dan Anneste berhenti berkali-kali di beberapa titik dan menjelaskan banyak hal soal tanaman yang sebenarnya bisa jadi bahan pangan. “Kalau kita tahu, sebenarnya mengambil bahan pangan lokal di sekitar rumah itu rasanya kayak kamu lagi main Mario Bros trus lagi nyundul-nyudul koin. Mudah dan banyak sekali, seperti hadiah dari alam.” Dan jangan bayangkan rute tur kebun kami di kebun produktif sungguhan. Dua gerombolan berwarna merah dan hijau (warna mantel) berjalan menyusuri pinggir jalan, tanah tak terurus, pematang sawah, bahkan halaman rumah warga.

Dok. Yoga LGY

Selama perjalanan, banyak sekali pertanyaan yang muncul. Juga celetukan-celetukan dari peserta yang ternyata ada beberapa yang sudah mengelai tanamannya di rumah mereka, ada yang belum. Di daerah depan Warung Kita, Dyah dan Annes sempat menebang pohon pisang untuk mengambil bagian inti batang pisang atau Ares yang ternyata bisa diolah dan lezat. Akhirnya setelah 30 menit berjalan, peserta kembali ke Warung Kita membawa temuan bahan pangan lokal masing-masing.

“Aku bawa Petai Cina kak!,” ujar salah satu peserta, disambung peserta yang lain memamerkan plastiknya yang penuh dengan dedaunan, “Ini ada bayam, cabai rawit, daun pepaya juga,” ujarnya sambil terkekeh. Hasil ‘belanja’ tur kebun lalu dimasak. Malika, siswa SMP Ali Maksum yang kali ini jadi asisten koki membantu Anneste memasak tumis Ares hasil tur kebun tadi. Selama demo masak, obrolan tentang bahan pangan berlanjut.

Dok. Minggu Pangan

Dari banyaknya hasil tur kebun yang bisa dibawa, terlihat bahwa sebenarnya dalam radius 5-20 meter dari rumah saja, sudah banyak sekali tanaman yang bisa diolah jadi makanan. “Sebenarnya bahan pangan lokal seperti Daun Kelor, Daun Singkong, Daun Pepaya, Petai Cina itu gizinya tidak kalah dibanding sayur-sayur yang kita beli di supermarket. Justru kadang lebih beragam,” ujar Yhona Paramanitya, ahli gizi yang hari itu mendampingi Minggu Pangan #2. Anneste menambahkan bahwa kreativitas juga sangat diperlukan untuk memaksimalkan eksplorasi bahan pangan lokal. “Belum pernah goreng terong pake olesan susu kan? Itu ternyata enak banget lho!,” ujarnya.

Salah satu hal yang juga ditekankan oleh Dyah Soemarno, adalah bahwa kita harus tahu asal bahan makanan yang ada di meja makan kita setiap hari. Karena dengan begitu, kita bisa menjamin kualitas bahan pangan kita. Konsep bahan pangan lokal juga sangat terkait dengan rantai distribusi bahan pangan di pedagang. Makin dekat kita mendapatkan bahan pangan, selain makin sehat, juga kesempatan saling mensejahterakan orang makin besar. Beberapa warung di Yogya sendiri sudah mulai menerapkan sistem ini. Mengambil beras dari petani lokal misalnya, atau coklat dari petani Kulonprogo, sayur dari kebun lokal, dan lainnya.

Dok. Minggu Pangan

Obrolan barusan juga langsung dipraktekkan dengan makan bersama. Hujan yang terus mengguyur, ditambah rasa lelah setelah berjalan dan otak yang mulai panas setelah berdiskusi menemukan pelunasnya saat lembar-lembar daun pisang ditata di joglo Warung Kita. Benar sekali, alih-alih menggunakan piring, kami makan bersama dengan alas daun pisang. Berbagai masakan Warung Kita digilir, mulai dari nasi, sayur Ares, Omlet Kelor, Botok Ares, dan lainnya. Makan bersama dengan daun pisang inipun sebenarnya adalah kebiasaan orang indonesia kuno yang masih komunal. Alhasil, keakraban di tengah makan menjelma gurauan-gurauan dan lahapnya makan menggunakan tangan.

Di Minggu Pangan kali ini, lagi-lagi ditunjukkan bagaimana makanan bisa menjadi alat untuk belajar banyak sekali hal. Di tengah makanan zaman sekarang yang kadang makin ngawur dari segi bahan dan pengolahan, mengetahui dan bisa mendapat bahan pangan lokal secara mandiri cukup penting untuk menjaga kesehatan kita sendiri. Dyah Soemarno menutup Minggu Pangan #2 dengan sangat jitu lewat sebuah ungkapan, “Treat Our Gut as Our Second Brain, jadi jangan lupa selalu makan yang sehat!”

Dok. Minggu Pangan

Rangkaian Minggu Pangan ini sendiri akan diadakan tiga kali. Setelah kekenyangan makanan dan ilmu, di tanggal 10 Desember 2017 yayasan Kampung Halaman akan meluncurkan sebuah album kompilasi yang (masih akan) membahas soal makanan: 2500 Kalori. Tidak sabar!

Recommended Posts
X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: KEBUN KITA, SUMBER MAKANAN KITA!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/kebun-kita-sumber-makanan-kita/