KEMANDIRIAN ANAK DAN REMAJA BADUY DALAM

 In Berisik

Dok. Don Hasman

Kawan, pernahkah kalian berkunjung ke kelompok masyarakat Urang Kanekes atau yang lebih dikenal dengan Orang Baduy? Jika pernah, tentu kalian akan mudah merindukan kehidupan yang damai di sana. Terletak di Pegunungan Kendeng di Banten Selatan, mereka hidup berharmoni dan selaras dengan alam. Sungainya begitu jernih karena kita tak diperbolehkan mengotorinya dengan sabun, sampo, pasta gigi, dan bahan bersenyawa kimia lainnya. Hutan-hutan masih rapat terjaga. Rumah-rumah panggung yang terbuat dari bambu beratap rumbia tertata rapi. Tak ada listrik, tak ada alat elektronik, tak ada sekolah formal.

Urang Kanekes terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu tangtu, panamping, dan dangka. Urang Tangtu atau Orang Baduy Dalam adalah mereka yang masih memegang teguh pikukuh1) dan adat istiadat yang diturunkan oleh nenek moyang mereka. Urang Tangtu tinggal di tiga kampung, yaitu Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo.

Urang Panamping atau Orang Baduy Luar adalah mereka yang telah keluar dari Baduy Dalam karena telah melanggar adat atau mereka yang mengimani hal-hal religiusitas yang sama dengan masyarakat Baduy Dalam, hanya saja aturan adat yang diterapkan lebih longgar sifatnya. Misalnya, masyarakat Baduy Luar boleh bepergian menggunakan kendaraan bermotor, mengenakan alas kaki, dan berbagai hal lainnya. Akan tetapi, untuk permasalahan keimanan dan pikukuh, masyarakat Baduy Luar tetap berkiblat kepada Baduy Dalam. Mereka tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah kampung Baduy Dalam. Urang Dangka adalah sebutan untuk Orang Baduy yang tinggal di luar wilayah hak ulayat masyarakat Kanekes.

Dok. Don Hasman

Orang Baduy percaya bahwa mereka hidup di muka bumi ini sebagai penyeimbang semesta. Tak ada sedikitpun unsur kemewahan yang melekat di diri mereka. Tugas mereka adalah tapa, menahan nafsu duniawi, dan mendoakan seluruh makhluk hidup di dunia.

Baduy Dalam dan Kemandirian

Sejak kecil, kemandirian sudah menjadi nama tengah mereka. Kemandirian itu bahkan sudah ditanamkan sejak anak berumur 1,5 tahun. Begitu mereka sudah berdiri sendiri, diikhtiarkan mereka tak dibantu lagi untuk dapat berjalan. Hal ini yang membuat mereka cepat beradaptasi dengan lingkungannya. Alam lah yang selanjutnya menempa dan mengajarkan mereka banyak hal. Secara alamiah, mereka belajar dari memperhatikan sekitar.

Dok. Don Hasman

Ketika saya berkunjung pertama kali ke sana pada 2012, saya dibuat takjub dengan kegesitan anak laki-laki bernama Pulung. Ia yang baru berumur 7 tahun sudah membawa golok di pinggang kirinya dan memikul tumpukan kayu bakar di pundaknya. Otot-otot kakinya lencir dan kukuh. Pulung pun sudah piawai membersihkan rumput-rumput liar di pekarangan saung huma2) milik keluarganya tanpa dikomando. Sejak dini, baik anak lelaki maupun perempuan memang sudah terlibat dalam segala sendi kehidupan di sana, terutama dalam berladang yang menjadi aktivitas utama kelompok masyarakat ini. Elis, anak perempuan Aki Nadip yang bermukim di kampung Cikeusik, bahkan sudah dapat menanak nasi sejak umur 6 tahun. Menumbuk padi pun sudah dilakukannya sejak masa kanak-kanak.

Seorang kakak, lelaki ataupun perempuan di Baduy Dalam wajib menjaga adik-adiknya meski ia sendiri masih kecil. Saya menyaksikan sendiri seorang anak perempuan yang berumur sekitar 8 tahun menjaga dua adik balitanya yang kembar. Ia dengan cekatan menggendong dan memberi mereka makan ketika ibunya sedang pergi mengambil air di sungai. Ia sungguh membuat saya berdecak kagum.

Anak-anak umur 8 tahun hingga remaja mendapatkan transfer pengetahuan tentang adat dari kumpulan yang diadakan 3 kali dalam setahun. Di sana mereka diberi tahu soal larangan-larangan dan sanksi yang didapat jika melanggarnya oleh tetua dan perangkat adat. Di saat seperti itu pula, para tetua adat mulai menanamkan falsafah dan tugas mereka selaku Orang Baduy. Hal yang tidak akan berhenti dilakukan oleh para Tetua adat hingga anak-anak tersebut memasuki jenjang pernikahan. Kemampuan baca tulis mereka dapatkan secara autodidak. Terkadang mereka pun belajar dari para tamu yang berkunjung ke sana.

Memasuki masa remaja, mereka sudah diberi tanggung jawab yang lebih. Untuk remaja lelaki, semua tahapan berladang sudah mesti dikuasainya. Berburu, membuat dan membetulkan rumah dan jembatan haruslah sudah dipahami dan dijalankan dengan baik. Menyiapkan makanan, mencuci baju, menumbuk beras, menenun, dan menjahit telah piawai dilakukan oleh para remaja perempuan.

Selain melakukan tugas-tugas utama, mereka pun senang bergaul secara berkelompok. Terkadang mereka berkumpul untuk memainkan alat musik yang terdiri atas suling, kendang, karinding, dan kecapi si saung huma. Untuk alat musik angklung, mereka belajar bersama-sama di bale gede yang terletak di sebelah utara lapangan komunal.

Dok. Don Hasman

Tanpa mencicipi bangku sekolah pun, anak-anak Baduy ternyata dapat menghargai sesama dan tahu apa yang menjadi tugas mereka. Pendidikan bagi kaum muda bukan hanya menjadi tugas keluarga atau institusi tertentu, melainkan juga menjadi tanggung jawab bersama dari masyarakat umum. Mandiri, adaptif, dan bertanggung jawab, tiga hal ini sudah melekat pada mereka sejak kecil. Bahkan terkadang lebih kentara daripada mereka yang bersekolah formal.

CATATAN KAKI   [ + ]

1. Pedoman adat
2. Saung yang bertempat di ladang, tempat beristirahat selepas berkebun dan bertani.
Recommended Posts

Leave a Comment

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: KEMANDIRIAN ANAK DAN REMAJA BADUY DALAM!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/kemandirian-anak-dan-remaja-baduy-dalam/