KENYANG PERUT, KENYANG ILMU DI MINGGU PANGAN #1

 In Cerita, Inspirasi

Ketika Indonesia dihadirkan di meja makan, sepiring nasi jadi tak cuma soal makan dan perut kenyang. Lewat makanan kita belajar soal keberagaman.

Coba ingat kapan dan dimana kamu pernah mengalami keberagaman Indonesia. Kalau jawabannya adalah saat menonton peragaan baju daerah di pawai Agustus-an di balai kota tiap tahun, sungguh sayang, dolanmu kurang adoh lur!. Seringnya, stereotip soal keberagaman Indonesia memang hanya diwujudkan lewat pengalaman yang sangat umum dan dangkal seperti menonton perbedaan baju dan lagu daerah, lain tidak. Sedihnya, fakta ini membuat kita tak benar-benar menghidupi pluralisme di negara ini.

Apalagi kita tinggal di Yogyakarta, kota yang jadi salah satu tujuan utama para pemuda untuk merantau dan berkuliah. Di kota ini kita akan mudah sekali menemukan orang dari ujung timur sampai ujung barat Indonesia duduk dalam satu tongkrongan. Berbicara dengan logat yang berbeda, gestur yang berbeda, dan tentunya latar belakang kultural dan sosial politik yang berbeda pula. Namun apakah situasi ini sudah membuat kita sudah mengamini keberagaman kita? Berangkat dari pertanyaan ini, Minggu Pangan #1 diadakan sebagai pengalaman merasakan keberagaman Indonesia dalam bentuk unik, yaitu makanan.

Lima kolaborator yang mewakili kontingen yang berbeda dari seluruh Indonesia dihadirkan. Alhasil, Minggu, 28 Oktober lalu, ruang depan Yayasan Kampung Halaman disulap jadi ruang makan yang menghadirkan ‘Indonesia mini’.

Dok. Minggu Pangan

Aceh diwakili oleh teman-teman dari Asrama Tjut Nyak Dien yang membawa Gulai Pliek, Keumamah dan Rujak Aceh. “Kalau di Jawa, Gulai Pliek itu kayak lodeh ya,” celetuk seorang peserta mengomentari sayur Pliek yang berkuah coklat pekat. Sayur Pliek ini diolah dari fermentasi buah kelapa yang dibusukkan. Rasanya cukup unik, kombinasi asam dan pedas. Selain itu ada Keumamah alias Ikan Asap yang dulunya merupakan makanan raja-raja Aceh, olahan ikan pedas yang menerbitkan air liur. Dua masakan itu ditutup dengan Rujak Aceh yang pedas namun segar.Masakan Aceh sendiri didominasi rasa asam, manis dan pedas. Perpaduan antara bahan pangan pesisir dan gunung yang bertemu dalam satu piring. “Sayang banget kita nggak jadi bawa Sambal Ganja,” ujar Yulis yang mewakili Aceh disambut dengan huuu panjang dari peserta lain, sayang sekali ya.

Berpindah ke Kalimantan yang diwakili teman-teman dari asrama Kalimantan Selatan membawa Gangan Asam, Sop Buah, dan Roti Pisang. Masing-masing punya rasa yang tak terlalu asing oleh lidah peserta yang didominasi orang Jawa. Ini karena masakan Kalimantan Selatan diakui sangat terpengaruh oleh banyak bumbu dari kebudayaan lain. Yang menarik, Gulai Pedas yang sebenarnya populer sebagai makanan khas dari sana tidak dibawa karena mereka tidak bisa menemukan bahan-bahannya di Yogyakarta. Sebuah absen yang memantik diskusi, bahwasanya memang tidak hanya hewan saja yang bisa endemik, bumbu dan bahan pangan pun juga begitu.

Menuju lebih ke Timur, teman-teman dari Sulawesi Selatan membawa Parede, Tunu Bale, Kapurung, dan Sara’bba. Secara bentuk dan rasa, makanan dari Sulawesi Selatan ini sangat unik. Kapurung misalnya, adalah bubur sagu, yang berbeda dari Papeda Papua yang sudah kita tahu. Kapurung ini bubur sagu yang langsung diisi dengan sayuran dan ikan di adonannya. Tekstur dan bentuknya yang jarang ditemui menghadirkan pengalaman baru ketika mencicipinya. Saya sendiri jatuh hati pada Sara’bba’, minuman khas mereka yang dibuat dari jahe, gula aren, santan dan sereh yang sekilas mirip jamu gendong di Yogya, tapi menghangatkan perut. Soal ikan bakar Sulawesi yang terkenal itu, silahkan cicipi Tunu Bale yang aih.. sedap sekali.

Dok. Minggu Pangan

Namun soal ikan-ikanan, teman-teman dari Maluku juga menghadirkan pengalaman unik lewat Gohu-Gohu. “Ini sejenis Sashimi, tapi versi Maluku,” ujar Je, yang menerangkan potongan ikan tongkol mentah yang dibumbui jeruk nipis dan rempah-rempah. Soal rempah-rempah, sempat muncul diskusi soal Pala dan Cengkeh yang jadi khas kepulauan Maluku. Fakta bahwa dulu Pala adalah komoditi berharga yang konon katanya jadi cikap bakal datangnya kumpeni untuk menjajah kita. Fakta itu menunjukkan bahwa penjajahan negeri ini diawali soal perut juga, yaitu karena Pala adalah rempah berharga untuk bumbu masak di negara subtropis, bahan pengawet makanan, pewangi, bahkan mengandung zat adiktif yang ampuh. Selain Gohu-Gohu, mereka juga membawa Ulang-Ulang yang terlihat seperti salad sayuran segar, bedanya mereka memakai kenari dan ikan. “Ikan di Jawa ini sudah mati 5x, di laut, di nelayan, di distributor, di pedagang dan di dapur. Kalau di Banda, kami beli ikan harus yang masih hidup dan gerak-gerak, jadi segar,” tutup mereka.

Setelah keliling, kita kembali ke Jawa lewat suguhan yang dibawa oleh SMK Budi Mulia 2. Mereka membawa Kupat Tahu, Kipo, dan Wedang Sereh. Meski sudah akrab di lidah, tapi ternyata banyak peserta yang belum tahu bahwa Kupat Tahu sebenarnya mewakili komposisi makanan yang sangat banyak ditemukan hampir di seluruh pulau Jawa, yaitu perpaduan saus kacang dengan sayur, ketupat atau lainnya. Kita akan menemukan pola yang sama pada Kupat Tahu, Lotek, Gado-Gado, Tahu Telor, Rujak, bahkan Ketoprak. Presentasi dari Jawa ini juga mengemukakan sejarah menarik tentang Kipo yang merupakan makanan raja Mataram Kuno yang kini sudah hampir punah karena resepnya tak tersebar dan dianggap ketinggalan zaman. Padahal soal enaknya, tak perlu ditanyakan.

Dok. Minggu Pangan

Sebelum sesi makan-makan belajar soal keberagaman, diskusi terlebih dahulu dimulai dengan perkenalan dan berbagai rahasia selera makan masing-masing peserta. Sesi ini menguak fakta, bahwa ternyata pemuda-pemuda asli Yogyakarta mayoritas menyukai makanan dari daerah asal mereka sendiri. Ini memunculkan dua pertanyaan, apakah memang karena (seperti bahasa) lidah mereka bergitu terhubung dengan masakan ibu, atau karena meski tinggal di Yogyakarta, mereka kurang terpapar masakan-masakan dari daerah lain?

Ahli Gizi yang kami hadirkan, Yhona Paratmanitya memamarkan materi menarik soal gizi dalam makanan yang beragam. Ia menjelaskan bahwa kita tak bisa hanya makan itu-itu saja terus, apalagi remaja yang seringnya tidak doyan sayur. Ini karena setiap bahan pangan tidak punya gizi sempurna, jadi harus diimbangi dengan makan beragam makanan. Ia juga memamarkan bahwa makan harusnya tidak asal kenyang atau mengikuti tren saja. Karena tren yang didasari oleh kepentingan kapital seringnya justru abai soal gizi dan manfaatnya untuk tubuh. “Semua orang tahu 4 sehat 5 sempurna kan? Sebenarnya konsep ini sudah tidak relevan. Yang harusnya dipopulerkan adalah gizi seimbang,” ujarnya. Ini karena sebenarnya susu bukan satu-satunya penyempurna, karena kandungan kalsium, protein dan lemaknya juga bisa ditemukan di bahan pangan lain.

Dok. Minggu Pangan

Jika Yhona ngobrol soal gizi, Deugalih lebih banyak memaparkan soal lanskap sosial politik dan budaya di balik tiap sendok makanan yang kita makan. Ia menceritakan misalnya budaya mencari garam di suku Sunda di Jawa Barat. Budaya mencari garam itu ternyata punya kelindan yang sangat luas dengan sifat komunal masyarakat. Atau fakta bahwa nasi dan ayam yang sekarang bisa dibilang jadi makanan pokok kita adalah konstruksi rezim politik tertentu, yang justru menomorduakan urusan perut. Hal-hal trivial yang historis soal pangan yang dipaparkan Deugalih diperhatikan dengans seksama oleh peserta.

“Tadi lidahnya belum menyesuaikan. Lalapannya enak, soalnya saya suka asin dan pedas. Tapi yang belum pas tadi tuh ikan Gohu-Gohu, bawangnya menyengat sekali. Paling suka Ikan Parede dari Sulaawesi Selatan. Tapi menarik sih, acaranya bahas makanan, tapi nggak cuma soal makanannya,” cerita Misbahkul Anan dari SMK Bina Harapan yang berhasil mencicipi semua makanan. Lain lagi dengan Abeliko Rynando yang hanya sempat mencicipi sop buah Kalimantan Selatan, “Sayangnya tadi cuma makan Sop Buah, tapi rasanya bikin berdebar,” ujarnya sambil tertawa.

Dok. Minggu Pangan

Dalam sesi makan-makan sebelum diskusi tadi, tiap peserta bebas mencicipi masakan dari lima daerah sekaligus. Untuk kemudian menyerap rasa dan pengetahuan yang baru saja mereka terima. Soal rasa dari Jawa dan luar Jawa yang sangat berbeda misalnya, atau soal fakta yang aneh bahwa mayoritas orang Indonesia ternyata lebih banyak makan ikan, tapi kita di Jawa justru sangat jarang menemukannya di piring. Saya membayangkan, sambil makan, peserta menemukan rasa baru, juga pemikiran-pemikiran baru yang berkecamuk. Lewat Minggu Pangan, kita jadi tahu bahwa dari sepiring makanan, kita bisa belajar banyak hal.

Minggu depan akan ada Minggu Pangan #2 yang akan menyoal bahan pangan lokal. Rangkaian Minggu Pangan ini sendiri akan diadakan tiga kali. Setelah kekenyangan makanan dan ilmu, bulan Desember nanti yayasan Kampung Halaman akan meluncurkan sebuah album kompilasi yang (masih akan) membahas soal makanan: 2500 Kalori. Tidak sabar!

Dok. Minggu Pangan

 

Recommended Posts
X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: KENYANG PERUT, KENYANG ILMU DI MINGGU PANGAN #1!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/kenyang-perut-kenyang-ilmu-di-minggu-pangan-1/