LANSKAP MUSIKAL KERONCONG BARU DARI UBIET

 In Tulisan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Boleh dikatakan tulisan ini telanjur kedaluwarsa. Proyek Kroncong Tenggara sudah melewati lebih dari satu dekade, tapi tak apalah, ini refleksi musikal atas perkenalan saya mendengarkan mereka untuk pertama kali. Toh, banyak yang belum tahu.

ubiet-keroncong-tenggara
Dok. flickr

Keroncong dalam kesenian Indonesia merupakan sebuah warisan budaya yang masih memiliki kekeruhan pada jejak asal-muasalnya. Terlepas dari itu, keroncong adalah keroncong dan tetaplah keroncong. Ia adalah satu wujud kesenian kita yang masyhur, yang telah melewati proses penyesuaian yang begitu panjang.

Menurut Victor Ganap dalam penelitiannya yang berjudul Krontjong Toegoe (2011), keroncong memiliki unsur musik fado dalam tradisi musik Portugis yang sangat dipengaruhi tradisi Islam bawaan bangsa Moor dari Afrika Utara. Namun demikian, keroncong telah berhasil beradaptasi dengan baik dan berkesesuaian dengan irama serta intonasi Nusantara.

Pada gilirannya, keroncong memiliki ciri khasnya sendiri di tiap daerah—keroncong gaya Jakarta, gaya Yogyakarta, dan gaya Solo—namun tetap pada narasi utama, yaitu keroncong. Artinya, keroncong sebagai suatu wujud dari hasil suatu proses penggabungan dan penyesuaian dapat dikembangkan lagi menjadi suatu wujud pencampuran dan penggabungan yang baru.

Inilah yang juga dilakukan oleh Nya Ina Raseuki, alias Ubiet, 11 tahun silam dalam albumnya yang bertajuk Kroncong Tenggara, yang kemudian menjadi sebuah grup Keroncong Tenggara yang digagas Ubiet sendiri dengan dibantu oleh Dian HP dan Riza Arshad. Album ini menawarkan suatu sensasi berbeda dari kelenturan musik keroncong. Ubiet yang juga dikenal sebagai seorang komponis telah membuat keroncong menjadi begitu modern sehingga bisa terlepas dari kesan “jadul”-nya.

Tembang-tembang lama seperti Kroncong Kemayoran, Kroncong Gambir, Gambang Semarang, hingga Aksi Kucing, mampu dimodifikasi serta dipadukan dengan sentuhan jazz yang kental. Hasilnya berupa sebuah paduan yang membawa angin segar dalam dunia musik di Tanah Air.

Instrumentasi yang digunakan pun sifatnya umum, seperti ukulele cak dan cuk, selo, bas elektrik, dan flute. Ada juga beberapa instrumen yang sudah banyak dikenal, seperti kendang Sunda, saksofon, dan akordeon. Dalam kekuatan bunyinya, akordeon membuat lagu menjadi terdengar lebih padat dan tebal, namun porsinya tidak berlebihan sehingga instrumen lain tetap ambil bagian. Kombinasi yang berbeda adalah ketika instrumen ini dimainkan secara serempak, berpadu dengan flute atau saksofon seperti pada bagian-bagian prelude atau interlude yang terdengar renyah dan gurih.

Pada aspek ritmikal, penggunaan selo dan kendang menjadi sebuah perpaduan yang asyik. Dialog antarkeduanya berpadu-padan menggiring pendengar menuju kenikmatan yang indah. Warna suara juga menjadi lebih tebal, selaras dengan format ukulele, akordeon, flute, dan saksofon yang berada di wilayah nada tinggi.

Tatanan harmoni diperluas. Perluasan akor yang lazim pada musik jazz diterapkan dengan baik tanpa ada tendensi yang berlebihan. Ubiet dapat memilah kebutuhan yang efektif pada proses berkomposisi. Contoh terbaik adalah tembang Kroncong Kemayoran. Sentuhan komposisi ala Allan Holdsworth akan terasa hadir pada akor-akor yang beterbangan.

Komposisi yang paling mengena dan utuh adalah Senja di Pelabuhan Kecil—puisi Chairil Anwar—yang menjadi nomor paling akhir dari susunan tembang pada album tersebut. Rekonstruksi yang dilakukan olehnya begitu centil dan menggila. Dikemas dengan gaya kontrapung1)) bebas. Struktur melodi pada vokal tidak terpatok pada satu tonalitas belaka. Lagu ini menunjukkan sisi liar Ubiet dalam mengolah komposisi.

Kendati demikian, Ubiet tidak menghilangkan nilai-nilai mendasar dari keroncong. Justru kerangka estetika dari keroncong masih dapat diidentifikasi dengan jelas. Dialog ritme antara cak, cuk, selo, dan kendang menjadi poros utama sehingga siapa pun akan setuju bahwa keroncong menjadi tema utama, bukan sebaliknya.

Perkawinan dialektis semacam ini sejatinya bukan hal baru di Indonesia. Pada era sebelumnya, ada grup Guruh Gipsy yang digagas oleh Guruh Soekarno Putra pada era 70-an menawarkan perpaduan progressive rock dengan tetabuhan gamelan. Ada pula gagasan Djaduk Ferianto pada grup Kua Etnika yang eksis pada 2000-an.

Album ini merupakan salah satu dari sekian banyak yang berhasil melakukan eksekusi dialektis dengan sangat luar biasa. Tidak sedikit musisi lokal yang gagal melakukan hal serupa, yang berujung pada hasil kerja yang mentah dan alot. Keroncong Tenggara adalah pengejawantahan Ubiet di tengah-tengah kemuraman musik tradisional saat ini.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

CATATAN KAKI   [ + ]

1. alah satu teori musik yang mengajarkan seni susunan melodi banyak (polifoni
X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: LANSKAP MUSIKAL KERONCONG BARU DARI UBIET!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/lanskap-musikal-keroncong-baru-dari-ubiet/