MASYARAKAT ADAT: PENJAGA TERBAIK POHON DAN HUTAN

 In Opini
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Terbayang lanskap The Forbidden Forest-nya Harry Potter di kepala. Pohon-pohon menjulang berumur ratusan tahun, setapak yang hampir tertutupi gulma karena jarang dilewati, sampai makhluk-makhluk seperti Buckbeak serta Aragog.

Dok. Suryo A. Sumarahadi dan Ismi Rinjani

Pondok teu bisa disambung
Lojor teu meunang dipotong
 
Gunung teu meunang dilebur
Lebak teu meunang dirusak

Kutipan di atas adalah sepenggal pikukuh (petunjuk yang tidak dapat diubah/diganggu gugat lagi) bagi masyarakat adat Kanekes di Banten Selatan atau yang lebih familiar dengan sebutan Urang Baduy. Kalimat-kalimat di atas berarti ‘pendek takbisa disambung, panjang takboleh dipotong’. Gunung takboleh dihancurkan. Lembah takboleh dirusak. Bagi orang Baduy, manusia dan alam adalah satu kesatuan. Ambil seperlunya (dari alam) dan jaga dengan segenap tenaga, adalah prinsip yang terus dirawat sampai ratusan tahun lamanya.

Pada kunjungan keempat kalinya ke sana, saya diajak beberapa kawan dari Baduy Dalam untuk melewati jalur yang berbatasan langsung dengan hutan larangan atau yang biasa disebut Leuweung Kolot (hutan tua). Untuk mempersingkat waktu sampai ke kampung yang dituju, katanya. Saya pun menyetujui meskipun dibalut rasa was-was sekaligus penasaran. Terbayang lanskap The Forbidden Forest-nya Harry Potter di kepala. Pohon-pohon menjulang berumur ratusan tahun, setapak yang hampir tertutupi gulma karena jarang dilewati, sampai makhluk-makhluk seperti Buckbeak serta Aragog.

Semua fantasi saya jadi kenyataan, kecuali makhluk astralnya—mungkin nggak kelihatan aja. Hehehe. Dilihat dari setapak yang memisahkan jalur biasa dan hutan larangan yang hanya boleh dimasuki oleh Urang Baduy, berbagai macam pohon, dari jati sampai asam kranji, tumbuh subur di sana. Mereka hidup seperti yang sudah seharusnya tanpa disumbat semen di atas tanahnya dan tanpa khawatir ditebang karena pucuk-pucuknya mengganggu kabel listrik di pinggir jalan. Salah satu aturan yang dimiliki Urang Baduy adalah pohon di hutan larangan tidak bisa ditebang sembarangan. Sebelumnya harus mendapatkan izin dari tetua adat dan hanya pohon dengan ukuran tertentu yang bisa ditebas. Hasilnya pun adalah milik komunal dan harus ada mufakat soal pembagian hasilnya.

Uniknya, hampir setiap masyarakat adat di Nusantara punya konsep dan laku seperti itu. Peraturan di masyarakat adat Mentawai, misalnya: hanya pohon tertentu yang bisa ditebang dan diwajibkan untuk menanam lagi setelah menebang pohon. Ritualnya pun cukup panjang dan rumit. Jadinya, hutan nggak bisa sembarangan dibuka.

Hutan juga merupakan aspek terpenting dalam melakukan pengobatan tradisional yang dilakukan oleh Sikerei (dukun/penyembuh di Suku Mentawai) ataupun Simatak (penyembuh tradisional yang bukan Sikerei). Selain sumber makanan seperti sagu dan tumbuhan pangan lainnya, segala bahan untuk ramuan obat ada di hutan. Maka dari itu, hutan mesti dijauhkan dari orang-orang yang hanya berniat mengambil untung sebesar-besarnya tanpa ada upaya untuk konservasi.

Begitu pula dengan masyarakat adat Kajang di Sulawesi Selatan. Mereka memiliki hutan larangan yang disebut Borong Karamaka. Mereka percaya, Borong Karamaka adalah kediaman leluhur yang mesti dijaga dan tidak boleh dirusak. Flora dan fauna penghuni hutan larangan pun tidak boleh diganggu.

Seperti yang dikutip dari jurnal Konservasi Masyarakat Adat di Indonesia (ICCAs), Ammatoa, pemimpin spiritual tertinggi masyarakat adat Kajang, meyakini ada keterkaitan antara hutan yang terjaga dan kondisi musim. Batang-batang pohon dipercaya memiliki peran untuk memanggil hujan dan akar-akar pohon menjaga air untuk tetap mengalir dari sela-selanya. Tanaman-tanaman tetap terjaga dan anggrek-anggrek yang takpernah tersentuh menjadi nutrisi dan sumber hara bagi seluruh habitat yang ada dalam hutan. Karena itu, Ammatoa melarang pengambilan pohon-pohon yang sudah tumbang karena kelak akan menjadi pupuk yang menjaga kesuburan tanah.

Dari ketiga cerita di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa masyarakat adat adalah garda terdepan penjaga bumi. Keterikatan yang mendalam dengan alam membuat mereka sangat berhati-hati dalam memperlakukannya. Barangkali, kita semua adalah bagian dari mereka sebelum menjadi manusia modern yang gemar merusak dan mengeksploitasi seperti hari ini. Apakah sekarang kita sedang amnesia saja?

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: MASYARAKAT ADAT: PENJAGA TERBAIK POHON DAN HUTAN!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/masyarakat-adat-penjaga-terbaik-pohon-dan-hutan/