MENGENAL ANAK-ANAK JALANAN DI PARE

 In Opini
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Tidak hanya klub sepak bola Persik Kediri saja yang memiliki cukup banyak supporter, komunitas BMX di Kediri kian hari juga kian tumbuh dan berkembang baik peminat, maupun ruangnya berkespresi.

Dok. Samsul Maarif

Ketika mendengar istilah anak jalanan, yang terlintas di benak kita ialah kumpulan anak yang tidak bisa diatur, kumuh, berperilaku bebas tak taat aturan, tidak memikirkan masa depan, sukanya dan tahunya hanya main. Entah, kalau kalian telah menonton sinetron Anak Jalanan di televisi, mungkin kini sudah berubah. Namun, paling tidak, saat ini jarang ada yang tahu kalau sebenarnya ada sisi menarik dan positif dari mereka.

Cukup untuk ber-abang-abang lambe-nya. Zaman sekarang ini tidak ada lagi yang tidak mungkin. Tentu saja, dengan tekad yang kuat, segala keinginan akan tercapai—semua sudah tahu. Saking banyaknya motivasi hidup, mungkin orang-orang masa kini banyak yang pintar bikin jargon hidup, tapi praktiknya sedikit, bahkan nol. Bosan, ah!

Oke, kita langsung saja ke jalanan.

Mari kita mengenali anak jalanan ini. Mereka adalah anak-anak jalanan dari bumi laskar bledug kelud. Di sana adalah kandang tim sepak bola yang pernah juara nasional (sekarang bernama Liga 1) dua kali, Persik. Bagi akademisi pun daerah itu mungkin sangat akrab, apalagi yang dari bidang antropologi, daerah tersebut juga dijuluki Modjokuto oleh antropolog asal Amerika, Pak Geertz. Pada 2014 silam, dari sana ada gunung yang memuntahkan segala isi perutnya dan menyemburkan abunya se-Jawa. Yang paling common, kalian pasti tahu Kampung Inggris itu di mana. Hehehe.

Anak jalanan itu adalah para pengendara—lebih kerennya disebut rider, lebih-lebih ditambahkan sematan ganteng setelahnya sehingga menjadi rider ganteng. Wah, keren maksimal! Rider berarti memiliki kendaraan andalan yang bernama BMX yang merupakan kependekan dari Bicycle Motocross, sebuah sepeda yang berangka kecil yang dimainkan dengan atraksi-atraksi berbahaya serta dengan gaya bebas alias freestyle.

BMX adalah salah satu cabang dari olahraga ekstrem. Kenapa disebut olahraga? Karena pengendara BMX akan melakukan gerak badan dan dapat berdampak positif, yaitu menguatkan dan menyehatkan. Orang yang tidak cukup enerjik dan latihan akan sulit memainkannya. Dalam permainannya pun terdapat banyak teknik yang kemudian disebut trik. Kata ekstrem merujuk pada ketidaklaziman dan juga risiko bahaya tingkat tinggi bagi pelakunya. Dalam perkembangannya, BMX telah menjadi sebuah gaya hidup bagi masyarakat urban. Pada umumnya terdapat dua macam kategori BMX, meskipun sebenarnya lebih banyak, yaitu BMX Street dan BMX Flatland.

Kategori yang pertama adalah kategori atraksi dengan mengandalkan lompatan-lompatan berbahaya dan memukau, dengan rintangan seperti halnya yang ada di jalanan atau di taman seperti pagar, undakan, bangku, dan alat buatan dari logam bernama ramp. Rider dalam kategori street adalah pelompat yang andal, tentunya dengan trik-trik yang mereka kuasai. Mereka bisa melompat dengan ketinggian lebih dari 100 cm sambil memutar-putar setir atau meliuk-liukkan BMX-nya di udara. Kategori ini sangat berisik. Benturan antara besi sepeda dan ramp atau pagar buatan menimbulkan suara yang keras.

Kategori selanjutnya dan yang akan kita bahas adalah flatland. Flatland merupakan kategori yang lebih lembut dari street, namun tetap saja berbahaya. Sesuai dengan namanya, atraksi atau trik dalam flatland dilakukan di bidang yang datar. Triknya mengandalkan keseimbangan dari penunggangnya. Bentuk BMX-nya pun disesuaikan untuk mengoptimalkan trik. Peg atau besi menonjol untuk tumpuan kaki terpasang di seluruh sisi badan sepeda dan di samping roda depan belakang. Sekilas, kategori ini seperti atraksi sepeda di sirkus dan memang keindahan gerakan adalah yang utama. Berbeda dengan street yang mengandalkan lompatan berbahaya untuk memperoleh penampilan sempurna.

Biasanya, rider-rider flatland berlatih di emperan toko bangunan pinggir jalan kota. Mungkin pemilik toko dan masyarakat sudah terbiasa dengan keberadaan pemuda yang suka atraksi itu dan bahkan terhibur. Tak sedikit masyarakat yang sedang lalu-lalang memberhentikan kendaraannya tiba-tiba dan memarkirnya secara sembarangan. Bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, mas-mas, mbak-mbak, mereka antusias untuk menonton.

Satu  per satu rider menampilkan trik-trik andalannya yang indah dan berbahaya. BMX dikayuh berputar seperti menyambut seluruh penonton, roda bergulir, lantas rider akan beraksi. Ada yang dapat membawakan trik secara sempurna, namun juga tak sedikit yang gagal karena terjatuh menyentuh tanah. Untuk kelas yang lebih lanjut atau sebuah pertandingan, misalnya, yang bisa dimasukkan dalam kelas Open, atraksi dan triknya bisa lebih berbahaya lagi. Kecepatan memainkan trik juga bertambah. Mereka bisa meloncatkan tubuh untuk mengubah posisi. Atraksi itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berani dan tekun berlatih. Jika tidak, akibatnya tentu saja fatal.

Saya teringat dengan pagelaran kompetisi BMX tahun lalu di sana dalam rangka merayakan Hari BMX. Pagelaran tersebut bernama Pare BMX Day. Pagelaran yang sudah pernah dilangsungkan sebanyak dua kali itu diadakan oleh beberapa komunitas BMX yang ada di sana, seperti Street Bandit, Pare BMX, Crazy BMX, 831 Flatland, dan Focus Flat. Keluarga BMX seantero Jawa Timur dan beberapa dari Jawa Tengah berkumpul dan bertanding secara kekeluargaan. Acara ini memang diadakan secara swadaya dan memanfaatkan sumber daya yang ada. Mereka menghimpun semangat bersama untuk mengembangkan BMX. Hal yang menarik dan baru saya dengar adalah ketika MC kompetisi mengenalkan olahraga ekstrem itu kepada masyarakat dan menegaskan bahwa anak-anak muda jalanan ini bukan sedang membahayakan diri. Olahraga ini juga dapat membawa pegiatnya sukses berprestasi hingga tingkat internasional. Tercatat di antara rider-rider ganteng itu juga pernah mewakili negara dalam kompetisi internasional. Pandangan awam barangkali tidak menyangka bahwa atraksi jalanan yang digelar tanpa izin itu bisa membuat seseorang membanggakan bangsa. Sungguh anak-anak muda yang enerjik, semngat, dan mandiri. Kegiatan urban ini pun rasanya cukup potensial meski kebanyakan daerah mungkin belum merasa perlu untuk memberikan perhatiannya.

Saya mendengar bahwa mereka sering diusir saat latihan oleh aparat-aparat dinas yang berjaga di tempat yang biasa mereka pakai selama bertahun-tahun. Mereka sering berpindah-pindah tempat karena hal yang sama, padahal tempat itu hanya mereka gunakan untuk berlatih dan berkegiatan secara positif. Tak jarang mereka pun berlatih secara militan dan nomaden, yaitu di emperan toko dan di lapangan sekolah, yang jika sewaktu-waktu mengalami hal yang sama, mereka pun akan bermigrasi. Belakangan ini, rider-rider ganteng itu bisa sedikit merasakan angin segar. Car free day yang baru saja diadakan di jalanan kota setiap Minggu pagi bisa memberikan mereka tempat untuk “tampil” secara resmi dan terhormat. Orang-orang yang sedang CFD-an juga terlihat sangat senang menyaksikan. Mereka yang tadinya berjalan-jalan memilih untuk berhenti sejenak untuk menyaksikan, dan ada juga yang sampai merekam mereka dengan ponsel pintar.

Komunitas BMX anak jalanan di Pare itu sangat mandiri. Saya pun melihat bahwa perkembangan mereka cukup baik. Dulu mungkin hanya satu komunitas yang ada di sana. Seiring berjalannya waktu, komunitas-komunitas BMX lain mulai bermunculan. Mereka saling mendukung satu sama lain. Pendatang dan generasi baru disambut serta diberi motivasi, baik yang masih anak-anak maupun orang dewasa yang baru belajar BMX. Kompetisi lokal juga sering diikuti sehingga komunitas-komunitas itu diakui dan memiliki eksistensi di antara komunitas yang sudah berkembang sebelumnya. Harapan saya, kegiatan yang positif dan juga bisa menghibur masyarakat ini akan terus ditingkatkan semangatnya. Pemerintah juga harus mendukung dengan lebih optimal, dengan menyediakan ruang terhadap komunitas tersebut agar tidak ada sambatan-sambatan lagi, “Ketika susah tidak diperhatikan, namun ketika berprestasi diklaim sana-sini, seperti menunggu durian jatuh tanpa harus merawat, menyirami, memberi pupuk, dan memetik…”

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: MENGENAL ANAK-ANAK JALANAN DI PARE!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/mengenal-anak-anak-jalanan-di-pare/