MENGHARGAI TIDAK SAMA DENGAN MENGASIHANI: KISAH DALAM TOTTO-CHAN; GADIS CILIK DI JENDELA

 In Ulasan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Sesuatu yang membuat Totto-chan senang tapi bagi gurunya menjengkelkan yaitu saat Totto-chan mengumumumkan pada seluruh kelas bahwa pemusik jalanan telah tiba mendekati sekolahnya. Seketika seisi kelas pun berlarian menuju jendela dan memanggil para pemusik itu. Sementara guru yang malang hanya bisa menunggu sampai kegaduhan selesai. (hlm. 14)

totto-chan-kompasiana

Memiliki fokus pada tema psikologi pendidikan dan anak, novel  Totto-chan akrab terdengar di telingaku selama berkuliah di jurusan Psikologi hingga saat ini—memang aku belum memutuskan untuk merampungkan kuliah. Tapi, justru aku baru membaca Totto-chan dua tahun setelah aku benar-benar yakin untuk memiliki minat terhadap pendidikan dan anak-anak.

Novel karangan Tetsuko Kuroyanagi ini memiliki pandangan yang menarik dalam menghargai anak-anak sebagaimana mestinya, bukan sebagai manusia yang tidak mengerti apa-apa dan dengan mudahnya dibatasi serta dijejali dengan apa saja.

Memakai sudut pandang Totto-chan sebagai seorang anak pada sebagian besar babnya semakin membuatku yakin bahwa novel ini mampu memberikan pengalaman baru, tidak hanya bagiku, tetapi juga bagi kita dalam memahami anak-anak di sekitar kita.

Kali ini aku akan menyuguhkan beberapa bagian dari novel Totto-chan yang kuanggap memiliki tendensi pada sikap menghargai dan memahami anak-anak. Tentunya kalian bisa juga menarik hal lain seperti halnya aku. Terdapat bagian-bagian kisah yang kuanggap mengandung unsur penghargaan dan pemahaman di dalamnya. Jika hanya membidik perihal mendidik anak (parenting) atau lebih spesifik pada metode pendidikan di sekolah, keduanya itu terkandung hampir di setiap paragraf yang tersaji dalam novel. Sementara itu, menghargai dan memahami adalah hal penting bagi perkembangan anak selanjutnya, terutama pada ranah sosial, yakni memengaruhi anak dalam berhubungan dengan orang lain.

Memahami, Memberi Kesempatan, dan Mempercayai Kemampuan
“Bagaimana kalau kau pindah ke sekolah baru? Mama dengar ada sekolah yang sangat bagus.” (hlm. 18)

Obrolan tersebut digunakan ibu Totto-chan untuk mulai memberikan pemahaman perihal perpindahannya ke sekolah baru. Saat itu Totto-chan baru saja masuk sekolah kelas satu SD, tapi tingkahnya yang super aktif membuat gurunya di sekolah kewalahan dan mengeluarkan Totto-chan dari sekolah. Ibunya tidak lantas menyembunyikan kejadian itu, tapi ia akan memberitahu Totto-chan saat gadis kecilnya tumbuh menjadi dewasa.

Pada bagian yang lain, ibunya digambarkan selalu mendengarkan apa yang Totto-chan sampaikan, bahkan sesuatu yang terus berulang.

Mendapati seseorang yang mau mendengarkan segala ceritanya, sebagai seorang anak yang sangat suka bercerita dan sulit sekali menghentikan cerita, Totto-chan merasa dirinya memiliki kecocokan dengan kepala sekolah.

“Sekarang ceritakan semua tentang dirimu. Ceritakan semua dan apa saja yang ingin kau katakan.” (hlm. 25)

Sulit bagiku untuk secara spesifik menunjukkan bab mana yang menghadirkan perihal menghargai dan memahami anak. Ketika membaca bab demi babnya, kutemukan hal yang hampir sama esensinya dengan memahami dan terkadang menghargai anak. Mulanya aku akan menganggap bahwa bab itulah yang mengandung sisi pemahaman terhadap anak, tapi pada bab-bab lain aku akan menemukan makna yang serupa.

Meski begitu, ada dua peristiwa pada bab berbeda yang kuanggap paling cocok untuk memaknai kembali perihal penghargaan yang sesungguhnya diinginkan oleh anak-anak. 

Bab 14 Masukkan Kembali Semua!
Pada bab ini, kepala sekolah mendapati Totto-chan sedang menciduk isi kakus untuk mencari dompet kesayangannya. Kepala sekolah tidak sedikitpun membantu Totto-chan.

“Kau akan mengembalikan semuanya kalau sudah selesai, kan?”

“Ya,” jawab Totto-chan riang. (hlm. 58)

Kepala sekolah sama sekali tidak menawarkan bantuan dan tidak iba melihat Totto-chan. Ia hanya memastikan agar Totto-chan mengembalikan semua seperti semula. Hingga akhirnya Totto-chan menghentikan pencarian karena telah merasa puas dengan usahanya sendiri dalam mencari dompet yang sangat ia sayangi.

Bab 49 Pita Rambut
Seorang anak sangat senang dengan apresiasi, baik terhadap kemampuannya akan suatu hal maupun penampilannya. Begitu pula dengan Totto-chan. Saat ia mengenakan pita rambut pemberian bibinya, kepala sekolah memuji Totto-chan. Namun, kepala sekolah juga menyampaikan kepadanya tentang seorang teman yang sangat menginginkan pita rambut itu. Jelas saja pita rambut itu tidak dijual di mana pun. Oleh karena itu, Totto-chan bersedia untuk tidak memakai pita rambut itu lagi ke sekolah agar temannya tidak terus-menerus merengek.

***

Totto-chan bukan anak yang dengan sendirinya tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan. Semuanya ia dapatkan berkat orang-orang di sekitarnya. Selain orang tua, Totto-chan juga beruntung karena masuk sekolah Tomoe yang punya metode belajar berbeda dengan sekolah lainnya pada saat itu. Tomoe lebih fokus pada perkembangan sosial anak dan cara belajar Tomoe meyakini bahwa kemampuan setiap anak pasti berbeda-beda sehingga setiap anak mampu mengoptimalkan kemampuannya masing-masing. Oleh karena itu, Tomoe menerima murid dengan semua latar belakang, bahkan murid dengan keterbatasan fisik, dengan harapan semua anak mampu terbiasa dengan hal itu dan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh dan di luar kita.

Totto-chan merasa menjadi anak yang berharga dengan berada di lingkungan itu. Ia pun dengan bebas mengembangkan apa yang ia inginkan.

Satu pesan penting dari Totto-chan, “Kita sama-sama anak-anak!! Kita semua sama.” (hlm. 155)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: MENGHARGAI TIDAK SAMA DENGAN MENGASIHANI: KISAH DALAM TOTTO-CHAN; GADIS CILIK DI JENDELA!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/menghargai-tidak-sama-dengan-mengasihani-kisah-dalam-totto-chan-gadis-cilik-di-jendela/