Minggu Pangan 3: Tahu Porsi Makan, Kurangi Sampah Pangan

 In Cerita, Inspirasi

Data FAO menyebutkan, jika 1/4 saja dari limbah makanan secara global dapat diselamatkan, akan cukup untuk memberi makan 870 juta orang yang kelaparan di dunia.

Apa yang pertama terlintas di kepalamu saat mendengar limbah makanan? Butiran nasi sisa makan yang teronggok di sudut piring? Tumpukan sayur tak termakan di tempat sampah? Lalu, apakah kebiasaanmu menyisakan makanan selama ini juga ikut menyumbang besarnya jumlah makanan yang terbuang di Indonesia setiap harinya? Menurut data Barilla Center for Food & Nutrition pada 2006, Indonesia adalah negara pembuang makanan terbesar kedua di dunia, kalah satu tingkat dari Arab Saudi yang menempati peringkat pertama. Ironis nggak sih, jumlah orang-orang yang telantar dan kelaparan di negeri ini masih cukup tinggi, tapi di sisi lain, sebagian besar dari kita tega menyisakan untuk kemudian meneruskan sisa makanan kita ke tempat sampah?

Nah, di Minggu Pangan #3 yang dihelat pada 26 November 2017 kemarin, kami mengupas banyak soal limbah pangan, cara mengorganisasi makanan agar tak terbuang percuma, porsi makan ideal untuk remaja, hingga mencicipi makanan yang berasal dari sisa olahan bahan pangan lain yang dimasak ciamik oleh tim Bakudapan Food Study Group.

Dok. Minggu Pangan

“Jika tiap satu orang Indonesia menyisakan 1 butir nasi tiap kali makan, berarti dalam sehari kita membuang sekitar 5 ton nasi,” terang Arini Hardianti, ahli gizi dari Universitas Alma Ata membuka diskusi. Peserta yang berasal dari berbagai sekolah menengah atas di Yogyakarta pun terperangah dengan fakta ini. Membayangkan sisa nasi menumpuk bak gunung saja sudah membuat sedih. Belum lagi kalau mengingat sisa lauk, sayur, dan makanan pendamping lainnya yang angka pembuangannya kemungkinan sama besar dengan nasi, atau bahkan lebih.

Lalu, adakah cara supaya remaja bisa ikut berkontribusi untuk mereduksi jumlah gunungan sisa makanan yang terbuang tersebut? Tentu saja ada! Arini memaparkan, “Yang pertama, jangan lapar mata waktu belanja! Kadang kita memasukkan banyak jenis makanan ke kantong belanjaan hanya karena nafsu belanja yang menggebu, eh besoknya sudah ingin makanan yang lain lagi. Kita mesti benar-benar bisa memilah mana yang perlu, mana yang sekadar pemuas keinginan yang akhirnya tak termakan dan terbuang percuma.”

Arini pun memperkenalkan istilah “First in First out”, yang berarti makanan yang paling lama disimpan adalah yang pertama diambil ketika mengolah makanan. Hal ini supaya semua bahan makan digunakan dengan baik dan tidak ada makanan yang terbuang percuma karena ‘lupa’ diambil atau digunakan hanya karena ditempatkan di paling ujung atau belakang. “Satu lagi yang tak kalah penting, ambil makanan sesuai dengan porsi dan kebutuhan. Remaja rata-rata membutuhkan asupan sebanyak 2.200 kalori per harinya, dengan rincian: 6 porsi makanan pokok, 3 porsi lauk hewani, 3 porsi lauk nabati, 3 porsi sayur, 3 porsi buah-buahan, dan 2 porsi susu,” tutupnya. Dengan menyesuaikan porsi dan kebutuhan asupan sehari-hari, semakin kecil kemungkinan kita untuk menyisakan makanan.

Dok. Yoga LGY

Pemaparan dilanjutkan oleh Bakudapan Food Study Group, sebuah kelompok studi yang mengkaji topik-topik mengenai makanan. Mereka pernah melakukan sebuah proyek yang bertajuk “Living Leftover” yang membicarakan sisa, residu, ampas, atau sesuatu yang dianggap tidak memiliki nilai guna lagi setelah melalui proses konsumsi. “Hotel adalah salah satu penyumbang limbah pangan terbesar di Yogyakarta,” tutur Elia Nurvista, salah seorang anggota Bakudapan. Berawal dari kegelisahan akan sisa makanan yang menumpuk di hotel-hotel, Elia dan teman-teman dari Bakudapan berinisiatif untuk mengolah ulang sisa sarapan dari salah satu hotel di Yogyakarta untuk kemudian dimakan bersama dan didiskusikan dengan peserta yang tertarik akan isu ini.

Beberapa teman remaja tampak mengernyit. Sisa makanan diolah terus dimakan lagi? Emangnya bisa? Eh, jangan salah, tentu bisa dong! Elia mencontohkan, sisa nasi goreng di meja prasmanan di salah satu hotel (masih baik dan layak tentunya), mereka olah kembali menjadi isian untuk pangsit goreng. Hasil olahan ulang nasi goreng ini memantik obrolan lebih lanjut dengan peserta-peserta yang hadir kala itu. Salah seorang peserta Minggu Pangan pun menanggapi, “Kalau gitu, harusnya bisa dimulai gerakan mengumpulkan dan mengolah makanan sisa yang masih layak dari hotel atau restoran di Jogja dong ya, pasti banyak manfaatnya, apalagi kalau dibagikan ke yang membutuhkan,” ujarnya.

Dok. Minggu Pangan

Diskusi pun berlanjut membahas sayuran dan bahan makanan yang dijual di pasar. Biasanya, jika terlihat sudah kuyu dan layu, para pedagang akan mencipratkan air ke sayuran-sayuran hijau seperti bayam, kangkung, atau kacang panjang agar tampak kembali segar. Soalnya, para pembeli lebih mengutamakan tampilan luar saat membeli. Jika terlihat segar, bahan pangan tersebut akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibanding jenis yang sama namun tampak tidak terlalu bagus. Beberapa pedagang bahkan memberikan secara cuma-cuma kepada siapa pun yang berminat pada sayuran-sayuran  yang dianggap sudah tak layak jual di akhir hari. Daripada berakhir di tong sampah, lebih baik dibagikan, ya?

Saat yang dinantikan pun tiba. Yap, makan bersama! Tim dari Bakudapan sudah menyiapkan beberapa makanan dan minuman yang bahannya terbuat dari sisa olahan bahan pangan lain seperti gembus yang merupakan sisa dari pengolahan tahu plus satu bahan kejutan: bunga kamboja yang dipungut setelah jatuh alami. Teman-teman remaja mengantre menanti giliran untuk menyantap oseng-oseng gembus cabe ijo, gembus goreng, sup ayam, dan es melon kamboja yang memberikan pengalaman baru bagi lidah mereka. Terlebih saat mencicip es melon kamboja, beberapa peserta menceletuk, “Masa sih, kamboja bisa dimakan?” Elia pun menyahut, “Bisa, dong! Selain nambah wangi, kamboja juga ngasih rasa yang beda ke minuman.” Teman-teman dari GAMA 55 bahkan bergantian memotret diri mereka masing-masing dengan es melon kamboja sebagai bintang utama. “Aneh sih, tapi enak, segeeer,” jawab mereka saat ditanya kesannya setelah mencecap minuman yang membuat penasaran tersebut.

Dok. Minggu Pangan

Selain bisa diolah untuk dikonsumsi kembali, nyatanya masih banyak yang bisa dilakukan untuk mendaur ulang limbah makanan, seperti menjadikannya pupuk organik/kompos, hingga “disumbangkan” kepada hewan-hewan ternak di rumah ataupun peternakan. Namun, alangkah bijaknya jika kita bisa meminimalisasi sampah yang kita hasilkan sehari-hari, terutama dari piring kita sendiri.

Rangkaian program Minggu Pangan pun menemui titik akhir sebelum album 2500 Kalori diluncurkan pada 10 Desember 2017 ini. Mudah-mudahan, diskusi dan pengenalan lebih jauh soal pangan tak berhenti sampai di sini, tapi berlanjut di meja makan keluarga, meja warteg langganan, ataupun ruang diskusi lainnya. Sampai jumpa lagiii!

Dok. Yoga LGY

Recommended Posts
X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: Minggu Pangan 3: Tahu Porsi Makan, Kurangi Sampah Pangan!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/minggu-pangan-3-tahu-porsi-makan-kurangi-sampah-pangan/