MUTAYASAROH REKAM FENOMENA SENI DALAM GARIS TEPI

 In Tulisan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
garis-tepi1

Pendapat tentang bagaimana seni itu muncul memang bermacam-macam. Mutayasaroh dalam kumpulan cerpennya, Garis Tepi, yang diterbitkan beberapa pekan lalu ini menangkap keberagaman pandangan tentang munculnya seni tersebut menjadi dua pandangan sederhana. Pertama, buku setebal 102 halaman ini menempatkan seni yang harus dilihat sebagai ‘seni’ saja, sebagai satu kesatuan yang utuh, tanpa melihat siapa yang membuatnya. Kedua, seni yang dilihat bukan hanya dari karya seni itu, tetapi juga dari siapa yang membuatnya, dari perilaku sampai pribadi si pembuat. Kumpulan cerpen Aya—sapaan akrab Mutayasaroh—bukanlah karya pertamanya. Dia juga kerap melahirkan berbagai karya tulis komunal.

“Banyak yang bilang kalau kumpulan cerpen perdana saya sebagai individu ini cocok dibaca oleh teman-teman yang berprofesi sebagai pegiat media, seni, dan pemerhati budaya, serta sosial. Seni, tokoh dalam salah satu cerpen berjudul “Ini adalah Mantra” mengalami pergolakan psikologis. Dia (tokoh) punya bakat besar di bidang seni lukis. Persoalannya adalah kondisi lingkungan yang belum bisa menerima imajinasinya. Dia berperang melawan pendapat masyarakat dengan ideologinya. Kalau dia berhasil di sini, seharusnya dia bisa keluar dari Indonesia karena di negara ini seni belum bisa dilihat secara utuh,” jelasnya ketika ngobrol santai di sebuah kafe di Jalan Kaliurang.

Tema yang dipilih oleh Aya cenderung bukan tipe tema populer. Hal tersebut menjadi salah satu alasan penulis berparas manis ini lebih memilih menerbitkan kumpulan cerpennya secara mandiri. Selain itu, banyaknya proses sensor yang diberlakukan penerbit-penerbit besar untuk selalu mengedepankan bisnis daripada kualitas karya mengukuhkan pilihannya untuk lebih memilih indie dalam menerbitkan karyanya. Bukan hanya proses distribusinya saja yang mandiri, melainkan juga keseluruhan proses kumpulan cerpennya dikerjakan sendiri oleh perempuan kelahiran Purworejo ini. Mulai dari isi, artwork cover, dan juga ilustrasinya.

“Saat ini saya nggak bisa ramah dengan karya populer. Bukan berarti novel atau kumpulan cerpen yang populer itu tidak berkualitas, tapi passion kami saja yang berbeda. Kalau buku ini ketemu sama karya berjenis sama yang populer, maka kalah (tema). Inilah yang bikin saya memutuskan menerbitkannya secara indie. Untuk menghindari pemotongan di sana-sini. Akhirnya, semua saya kerjakan sendiri, mulai dari isi sampai artwork sampul dan ilustrasi,” ungkap penulis yang sudah melahirkan empat karya komunal berupa kumpulan puisi dan cerpen itu.

Keputusan Aya untuk mengangkat tema yang cenderung sensitif atau tidak populer untuk kumpulan cerpennya bukanlah hal yang mudah. Dia perlu melewati proses panjang sebelum akhirnya memilih tema tersebut. Keputusannya untuk keluar dari tempat kerjanya adalah titik temu lahirnya Garis Tepi. Setelah menyelesaikan studinya di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNY, Aya memilih untuk mendalami bidang seni dan media. Bahkan, dia juga sempat mencicipi jurnalistik populer pada 2015 sebelum akhirnya memutuskan untuk mengumpulkan catatan-catatannya ke dalam sebuah kumpulan cerpen.

“Sebenarnya bikinnya (Garis Tepi) random. Ada yang dari 2014, 2016, dan 2017. Dikumpulin jadi satu pada 2018. Temanya sebenarnya beda-beda. Judulnya Garis Tepi karena masing-masing punya benang merah yang sama. Konfliknya punya satu kesamaan. Masing-masing tokoh punya dilema tersendiri, konflik pribadi dibenturkan dengan konflik sosial dan bagaimana dia bisa konsisten dengan dirinya sendiri,” cerita Aya.

Stileto Book adalah penerbit indie yang dipilih Aya untuk menerbitkan kumpulan cerpennya dan mendistribusikannya ke pembaca yang berusia di atas 18 tahun. Tidak hanya diterbitkan secara cetak, Garis Tepi juga disebarluaskan dalam bentuk digital melalui Google Books. “Harapannya sederhana saja, agar bisa dibaca juga sama penikmat buku digital dan semoga apa yang saya tuliskan di sini bisa merapikan pikiran pembaca. Warning-nya cuma satu, ada sifat magis di dalamnya,” tutup Aya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: MUTAYASAROH REKAM FENOMENA SENI DALAM GARIS TEPI!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/mutayasaroh-rekam-fenomena-seni-dalam-garis-tepi/