NASI TAK BOLEH MENANGIS LAGI

 In Inspirasi

Dok. Ismi Rinjani

Kalau memang nasi yang tak habis kita makan dan kita buang bisa menangis, niscaya bangsa kita akan dihujam tangis setiap waktu. Bayangkan kengeriannya. Setiap malam ketika hendak tidur dan setiap bangun hendak mengawali hari-hari, terdengar suara menuntut di mana-mana. “Makan aku!!! Makan aku, Tuan!!! Makan aku, Nyonya!!!” sambil nasinya plugetpluget membuntuti ke mana pun kamu pergi. Hiiii … lebih seram dari ulat bulu yang cukur gundul seluruh tubuh.

Dulu, semasa kecil, ibu saya kerap menakut-nakuti jika tak menghabiskan makanan. Mulai dari ayam saya akan mati, sampai nasi/makanan yang dibuang akan menangis. Soal ayam mati, setelah saya teliti dengan baik, mestinya hal itu tak perlu ditakuti karena nyatanya saya tak punya peliharaan ayam. Soal nasi yang menangis, saya justru membayangkan, terbuat dari apa air mata nasi? Apa pestisida? Dan lagi, apa air matanya akan lebih deras dari air mata Tomy, seorang kawan yang ditinggal menikah kekasihnya? Sedih betul ….

Tentu, pikiran-pikiran tentang ayam yang mati sebab tak menghabiskan makanan dan nasi yang menangis sebab dibuang mulai tidak saya percaya setelah sudah dewasa. Dulu semasa kecil pun, entah sempat percaya atau tidak, teknik menakuti seperti itu efektif belaka. Dengan malas, biasanya saya akan tetap menghabiskan makanan setelah ibu menakut-nakuti. Kini saya tentu tahu, bahwa semua itu dilakukan agar saya mau makan dan untuk penghormatan terhadap makanan yang dihasilkan dari sekian jerih payah sebelum akhirnya bisa dihidangkan.

Akan tetapi, sedikit banyak, jika nasi memiliki perasaan, saya bisa memaklumi tangisannya jika ia tidak dimakan. Semasa masih menjadi padi, penuh kasih dan sedari benih, ia diperhatikan dan dirawat oleh para petani. Setelah dipanen, dikuliti, baru ia menjadi beras. Setelah menjadi beras, ia dibeli dengan uang hasil bekerja ayah yang penuh peluh. Setiba di tangan ibu, ia ditampi dan dicuci hingga bersih kemudian dimasak menjadi nasi. Sudah jauh perjalanannya hingga akhirnya menjadi nasi, eh, dibuang begitu saja tak jadi dimakan, kok ya, PHP betul, tho ….

Semakin ke sini, saya semakin mengerti bahwa makanan bukanlah hal yang remeh. Tanpa makanan, kita semua bisa mati. Terlalu banyak makanan, kita juga akan kesusahan. Tubuh kita punya batasan. Tak semua makanan bisa kita konsumsi dengan serampangan.

Mengenai kenyataan bahwa tubuh kita memiliki batasan dalam mengonsumsi makanan, kita semua nisbi tahu. Akan tetapi, hal itu rasanya masih terlalu sering luput dari perhatian. Sebagai anak kos misalnya, kita seringkali dihadapkan pada perut yang keroncongan lebih dahulu, baru setelahnya sibuk mencari warung makan. Biasanya lagi, dalam keadaan lapar tak tertahankan, yang terbayang adalah warung-warung prasmanan dengan menu ‘Nasi Ambil Sendiri’. Ya, ‘Nasi Ambil Sendiri’ adalah menunya karena itu yang kita beli. Perkara apa sajian makanannya, bagaimana rasanya, apa kandungan gizinya adalah yang kesekian. Setelah sampai pada warung makan yang kita tuju, kita bergegas menimbun nasi banyak-banyak dan segera memilih lauk yang beragam. Pada keadaan lapar tak tertahankan itu, kita sama sekali tak terbayang apa akan bisa menghabiskan seluruh makanan yang kita ambil. Dan biasanya, kita tak bisa menghabiskannya. Kita hanya terbawa nafsu sebab terlalu lapar. Perut kita ternyata tak bisa menampung seluruh makanan yang kita beli. Sayang makanannya, sayang juga uangnya. Sayang sudah makan? Eh ….

Kembali ke jika nasi bisa menangis, maka bangsa kita akan dihujam tangis sepanjang waktu. Hal itu saya utarakan bukan tanpa alasan, Kasih, eh, Kawan. Jadi, dilansir dari DetikFinance, menurut penuturan Kepala Perwakilan Badan Pangan PBB (Food and Agriculture Organization of The United Nations/FAO) untuk Indonesia dan Timor Leste, kebutuhan makanan bagi 250 juta penduduk Indonesia setiap tahunnya adalah sekitar 190 metrik ton. Kemudian, sebanyak 13 juta metrik ton terbuang sia-sia. Tiga belas juta metrik ton yang terbuang itu kawan-kawan, bisa digunakan untuk memenuhi sekitar 28 juta atau 11% kebutuhan penduduk Indonesia setiap tahunnya. Angka itu hampir-hampir sama dengan jumlah penduduk miskin di Indonesia. Di situlah ironisnya perihal makanan. Di saat tetangga sebelah kekurangan gizi, tetangga sebelahnya lagi mati-matian diet ketat demi menurunkan berat badan karena obesitas. Sekali lagi, jika nasi—dan beragam makanan lain tentunya—memang bisa menangis, mereka tentu akan menangis sejadi-jadinya. Melebihi tangisan seorang ibu terhadap nasib buruk yang diterima anaknya.

Akan tetapi, nasi dan makanan lain tak pernah menangis dan tak akan menangis. Meski makanan-makanan dibuang tanpa ampun dan bahkan beberapa tak lepas dari disalahkan sebab didakwa sebagai sumber penyakit. Percayalah, sejatinya yang patut menangis adalah kita yang membuang makanan. Yang patut dipersalahkan atas penyakit-penyakit kita adalah kita sendiri yang lebih bernafsu daripada anjing berahi manapun untuk melahap segala tanpa ukuran dan menyulap apa pun demi produksi yang lebih tinggi. Taik betul.

Kesadaran-kesadaran mengenai pangan ini harus selalu kita perjuangkan. Setidaknya untuk mengurangi alasan kita menangis. Banyak cara yang bisa dilakukan. Kita bisa menyebarkan kesadaran-kesadaran dasar soal pangan/makanan dan cara memperlakukannya melalui diskusi, penelitian, tulisan, video, musik, dan lain sebagainya yang disebarkan. Ah ya, sedikit bocoran bagus, Yayasan Kampung Halaman yang juga bekerja sama dengan berbagai musisi sedang merancang album kompilasi dengan tajuk 2.500 Kalori. Album ini bertemakan pangan dan memang seluruh materi musik di dalamnya membicarakan soal pangan dan hal-hal di sekitarnya. Rencananya, album ini akan diluncurkan pada Desember tahun ini. Patut dinanti.

Terakhir dari saya sebelum racauan ini diakhiri. Saya hendak bertanya kepada kawan-kawan. Ehmmm … sudah ngingetin patjar buat makan? Sekalian ingetin buat gak buang makanan yak, Gaesss ….

 

Eh, situ gak punya patjar, yha???

 

Recommended Posts
Comments
pingbacks / trackbacks
  • […] derai air mata nasi, yang juga patut kita tafakuri adalah nasib para sayur. Keberadaan sayur di sekitar kita nisbi […]

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: NASI TAK BOLEH MENANGIS LAGI!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/nasi-tak-boleh-menangis-lagi/