NUR AZKA INAYATUSSAHARA: TRANSFORMASI SANTRI HARI INI

 In Ngobrol
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Saat ini santri sudah bertransformasi, tidak hanya paham agama, namun juga banyak yang mendalami ilmu-ilmu umum.

Dok. INAYATUSSAHARA

Menurut KBBI, santri adalah orang yang mendalami agama Islam; orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang yang saleh. Santri biasanya mondok di pesantren, yang kini jumlahnya mencapai 25.938 dan tersebar di seluruh Indonesia. Sebanyak 82.2%-nya berada di Pulau Jawa. Jumlah santrinya bisa mencapai 3.962.700 jiwa. Pesantren adalah satu ciri corak pendidikan Islam yang ada di Indonesia.

Beberapa sahabat saya kebetulan juga seorang santri. Mereka selalu jadi rujukan kalau kami―para budak duniawi ini—sedang gamang menghadapi problem kehidupan. Salah satunya adalah Gus Adlan, yang kerap berbagi ayat dan hadits yang berkorelasi dengan permasalahan yang kami hadapi. Tapi, ternyata belio tetap manusia biasa yang terkadang teduh, namun terkadang menyebalkan juga.

Saya juga pernah ikutan ngaji di pesantren, tapi pesantren kilat semasa sekolah dasar. Hehehe. Waktu belajarnya hanya seminggu setiap tahun, yaitu saat bulan puasa. Kami berlomba-lomba menghafal ayat dan mengisi buku kegiatan Ramadan—tentu saja banyak bolongnya. Seru-seru aja sih, soalnya waktunya singkat. Kalau mondok beneran, belum tentu juga saya bakalan kuat.

Pada 2015, Presiden Joko Widodo menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Hingga kini, Hari Santri dirayakan setiap tahun. Saya pun berkenalan dengan Nur Azka Inayatussahara, seorang santri yang pernah mondok di Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Inaya, begitu sapaan akrabnya, berasal dari Bandung. Dekatlah dengan kampung saya, kota tahu, Sumedang. Kami pun ngobrol banyak soal kehidupan para santri di pondokan. Rasanya, banyak orang yang belum tahu soal keseharian mereka di pesantren. Simak obrolannya, yuk!

Hai Inaya! Sekarang lagi sibuk apa?
Sibuk kuliah aja, Mbak. Sekarang aku studi di program studi Ilmu Alquran dan Tafsir, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Aku dengar kamu pernah nyantri di Krapyak, ya? Terus, seperti apa rasanya jadi santri? Aku belum pernah soalnya. Hehehe.
Betul, mulai tahun 2010 setelah lulus SD sudah nyantri di Krapyak hingga lulus MA tahun 2016 di tempat yang sama. Mulai 2016 hingga sekarang masih nyantri di Krapyak, tapi di pondok pesantren yang berbeda.

Menurutku jadi santri itu termasuk sebuah keberuntungan. Sukanya, kita punya banyak teman dan hidup bersama-sama selama 24 jam. Kalau ada tugas bisa langsung diskusi dengan teman. Beda dengan di rumah yang kurang ramai karena nggak ada teman sebanyak yang ditemukan di pesantren. Sukanya lagi, di pesantren kita dilatih dewasa, peka, dan peduli sosial, serta mengatur waktu karena kegiatan di pesantren juga cukup banyak. Dukanya, kita jauh dari orang tua, apalagi jika di daerah tempat nyantri nggak ada saudara sama sekali. Walaupun begitu, lama kelamaan kita bakal ngerasa biasa aja sih, nggak terlalu banyak kangennya.

Apa alasanmu masuk pesantren?
Kalau aku tadinya disuruh orangtua, tapi akunya juga semacam termotivasi. Soalnya di kampungku pergaulannya udah rawan gitu, jadi semacam protect diri masuk pesantren. Juga ada keinginan mendalami ilmu-ilmu agama.

Nah, kan ada stereotipe tentang santri yang beredar di masyarakat, seperti: santri itu bekas anak nakal―makanya dimasukkan ke pesantren, santri itu hanya paham soal agama, dan yang paling parah: santri dituduh sebagai biangnya terorisme. Gimana pendapatmu soal ini?
Stereotipe yang pertama memang masih sering terdengar hingga sekarang. Kalau menurutku pribadi, apa yang menjadi stereotipe itu tidak bisa digeneralisasikan, meskipun memang benar-benar ada yang seperti itu. Tapi, pondok pesantren nyatanya bukan tempat rehabilitasi anak-anak nakal. Bisa saja ketika di pesantren anak-anak nakal itu makin menjadi-jadi. Yaaa gitu, tergantung bagaimana pesantren dan kesepakatan antara wali santri dan pengasuhnya.

Tentang stereotipe kedua, kurasa untuk saat ini sudah kurang relevan lagi, meskipun tetap saja ada yang beranggapan demikian. Saat ini santri sudah bertransformasi, tidak hanya paham agama, namun juga banyak yang mendalami ilmu-ilmu umum. Kebetulan juga saya mendapat beasiswa PBSB, Mbak, beasiswa khusus santri di perguruan tinggi. Jurusan yang ditawarkan juga beragam, bukan hanya melulu tentang agama. Di antaranya ada jurusan Kedokteran dan Teknik. Di medsos juga kita banyak menemukan santri-santri yang mahir desain grafis sekarang.

Kalau untuk stereotipe terakhir, mungkin itu juga karena ada beberapa kasus terus digeneralisasikan. Hehe. Pada dasarnya, pondok pesantren itu kan—kalau pinjam istilah Cak Nur—sistem pendidikan Indonesia yang indigenous, khas Indonesia banget. Ia pasti tidak mengajarkan kekerasan atau paham berbahaya, ya meskipun kita juga tidak dapat memungkiri bahwa yang seperti itu ada. Namun, menurutku kadang metode-metode atau sumber pengajaran tertentu di pesantren memang melahirkan pemikiran berbahaya, seperti materi khilafah dan jihad dalam fiqh serta metode yang terkadang kurang inklusif. Tapi, itu kembali lagi ke pribadi masing-masing sih, hehehe.

Gimana caramu dan kawan-kawan “melawan” stereotipe itu?
Kami nggak merasa melawan juga sih. Hehehe. Karena dulu kan fokus kami juga hanya belajar dan mengaji, bahkan mungkin nggak tahu gimana pandangan orang ke kami. Ya, kami jalani apa yg kami harus jalani aja. Berbuat baik. Usahain jaga nama baik pesantren. Itu aja, sih.

Seberapa dekat kehidupan di pesantren dengan teknologi?
Kebetulan pesantrenku letaknya di kota, dekat ke mana-mana, dan bisa akses internet (ke warnet) kapan saja karena memang tidak terlalu ketat melarang santrinya ke luar pondok. Jadi, bisa dibilang pesantrenku sangat dekat dengan teknologi. Kami hanya dilarang membawa handphone dan laptop/netbook. Lain dari itu boleh, seperti kamera, mp4 player, atau speaker dan flash disk.

Kalau di pesantren, dapat ilmu apa saja yang terkait dengan teknologi?
Hmmm pernah dapat soal desain grafis, Mbak. Karena itu program unggulan di sekolah. Selain itu, kita juga bisa akses info apa pun lewat internet di warnet. Aku pribadi cukup kenal beberapa aplikasi downloader di pesantren.

Boleh diceritain nggak tentang masa-masa remajamu di pesantren?
Aku termasuk santri yang nggak lurus-lurus banget, Mbak. Hehehe. Aku kadang nggak taat aturan. Sewaktu di pesantren, aku pernah ke bioskop dan pulang malam, padahal itu dilarang. Menurutku, masa remajaku di pondok sangat menyenangkan. Aku mengalami berbagai pengalaman suka dan duka bersama teman-temanku. Aku berkesempatan pergi ke luar Jogja karena lomba. Aku juga berkesempatan menjuarai beberapa lomba. Seru pokoknya, nggak kalah seru dari siswi nonsantri.

Ada pesan-pesan nggak untuk teman-teman remaja yang mau jadi santri kayak kamu?
Harus sabar dan menikmati aja, sih. Sabarnya dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang lumayan banyak, nahan kangen ke keluarga, sabar juga dalam taat aturan dan nggak melanggar. Hehehe. Menikmati. Semua proses yang disabari itu harus dijalani dengan senang hati, jangan terpaksa! 😉

Inaya merupakan salah satu santri yang telah “bertransformasi” seiring berkembangnya arus globalisasi. Teknologi seolah sudah menjadi konsumsi sehari-hari para santri untuk mendukung ilmu agama yang ada di pondok pesantrennya masing-masing. Bahkan di Yogyakarta, ada salah satu pondok pesantren yang telah menggabungkan ilmu agama dan ilmu teknologi menjadi ilmu utama bagi para santrinya. Berisik.id berhasil mengemasnya dalam bentuk video dengan Aryo dan Hamdani sebagai content creator. Yuk simak!

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: NUR AZKA INAYATUSSAHARA: TRANSFORMASI SANTRI HARI INI!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/nur-azka-inayatussahara-saat-ini-santri-sudah-bertransformasi/