OCTAVIANA ROMBE DAN CINTA UNTUK KOPI INDONESIA

 In Ngobrol
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dok. Scholastica Asyana

Berasal dari Toraja, yang memang dikenal sebagai salah satu penghasil biji kopi terbaik Nusantara, Octaviana Rombe pada masa kecilnya kerap diceritakan oleh Sang Ayah mengenai perkebunan kopi. Meski ketika dewasa memilih untuk mempelajari teknik arsitektur secara formal, Baby, panggilan akrabnya, tetap memiliki ketertarikan khusus pada kopi Indonesia. Dosen green-architecture design di sebuah universitas di Jakarta ini awalnya memang hanya memandang kopi sebagai sebatas minuman, kelamaan ia mulai melihat ada kehidupan sosial di baliknya. “Saya bertanya-tanya, kenapa negara kita sebagai salah satu penghasil kopi terbesar dunia, tak pernah jadi nomor satu?”, ujarnya.

Berbekal buku-buku, ia mempelajari secara otodidak seluk beluk pengolahan kopi, hingga pada 2010 mulai turun ke perkebunan kopi dan 3 tahun kemudian memberanikan diri membentuk Kopi Ketjil, kedai sekaligus komunitas pecinta kopi di Yogyakarta, kota yang ia anggap sangat multikultural dan ditinggali oleh anak-anak muda. Baby menjelaskan, “Motor penggerak Kopi Ketjil harus anak muda. Mereka kaya akan fresh idea. Kita bahkan hanya merekrut mahasiswa-mahasiswa yang belum lulus dari berbagai jurusan, misal mahasiswa kedokteran, pertambangan, dan lain-lain. Karena bisa jadi, cara pandang mereka terhadap kopi itu juga berbeda-beda”.

Ketika ditanya mengenai persaingan dengan cafe lain yang menjamur di Yogyakarta, Baby hanya menjawab lugas, “Lha kita itu bukan cafe, apa yang mau disaingi? Konsepnya ‘kan beda. Kita bahkan tidak menjual makanan, tidak memperluas parkiran, tidak gedein tempat, meski ya banyak sekali yang nanya, hahaha. Karena goal kita itu green bean dan roasted bean, komunitas yang terbentuk melalui kopi. Kadang ada waffle atau titipan cookies, itupun tidak selalu. Karena orang datang ya untuk menikmati kopi”.

Kini sedang berusaha menginisiasi perkebunan kopi di Boyolali, Baby mengaku sangat tertantang. “Untuk yang di Boyolali ini kita bantu belikan bibit kopinya, meski pada awalnya secara geografis digunakan untuk perkebunan tembakau. Memang dengan letak 1500 meter di atas permukaan laut itu sangat mencukupi untuk perkebunan kopi, tapi tantangannya adalah mindset masyarakatnya”, terangnya. Masyarakat setempat memang telah terbiasa untuk berkebun tembakau, sehingga Baby memutuskan untuk lagi-lagi mengajak kaum mudanya terlebih dulu. “Saya ketemu dengan salah satu anak muda, lalu saya belikan bibit kopi, karena saya lihat dia mau dan punya niat untuk berkebun kopi. Sekarang umur bibitnya sudah satu tahun lebih sedikit, jika satu setengah tahun ke depan berbuah, bisa jadi inkubator percontohan untuk teman-teman yang lain”.

Mengenai tantangan pasar kopi Nusantara, Baby menegaskan bahwa sustainability dan nilai sosial kopi itu sangat penting, bukan hanya teknik perkebunan seperti penggunaan media organik dan pupuk non kimia. “Rantai antara petani dan roastery itu harus tetap tersambung, sehingga petani yang mata pencahariannya terpusat di kebun kopi otomatis akan naik derajat hidupnya. Biasanya pasca panen ada banyak tengkulak, lalu petani sudah lepas tangan sampai situ. Ini yang ingin kita bantu sambung lagi”.

Rencana akhir tahun 2017 ini, Baby sedang dalam tahap ekspansi ke Uni Emirat Arab, namun ia menegaskan kelak akan tetap hanya menjual kopi asli perkebunan Indonesia. “Saya tak akan ganti konsepnya, harus tetap community-based, apalagi pasar Indonesia itu masih luas sekali, jangan adjust tradisi lokal kita dengan cara ngopi Amerika, misalnya. Pendekatannya berbeda. Kopi bisa punya value yang lebih ketika ia dipandang tak hanya sebagai komoditas, kita harus lihat kehidupan sosial di belakangnya juga, terutama petani”, tegasnya. Ia juga melihat bahwa fenomena cafe berbungkus trik marketing kini sudah mulai menjamur, tapi ruang-ruang komunitas kopi masih tak begitu banyak.

Mengenai target-target yang ingin dicapai selanjutnya, Baby hanya menukas ringan, “Saya setia dengan langkah-langkah kecil. Karena Bapak saya pernah bilang, kalau kita punya mimpi, gantungin aja tuh setinggi langit, tapi kita tak usah kejar susah-susah, jalanin aja, lama-lama juga tercapai sendiri. Small steps matter“.

Informasi selengkapnya mengenai project Cita-Cita Kartini dan kisah perempuan inspiratif lainnya dapat dilihat dalam akun instagram http://www.instagram.com/schasyana

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: OCTAVIANA ROMBE DAN CINTA UNTUK KOPI INDONESIA!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/octaviana-rombe-dan-cinta-untuk-kopi-indonesia/