PASAR EKOLOGIS ARGOWIJIL: ANAK MUDA MAKNAI RUANG PUBLIK

 In Liputan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

“Artinya, sebisa mungkin di setiap padukuhan ada ruang publik untuk menjadi wadah bersama masyarakatnya, khususnya remaja,” jelas Asep.

Dok. Triyo Handoko

Ketika mayoritas remaja Gunungkidul memilih untuk mencari penghidupan di luar daerahnya, Karang Taruna Gari, Wonosari mencoba membalik budaya tersebut. Pandangan bahwa sulit untuk mengais penghidupan di Gunungkidul karena daerah ini sepi menjadi landasan kuatnya budaya merantau sehingga kelompok remaja di Desa Gari mencoba untuk memberi warna ruang publiknya dan menjadikannya tidak sepi.

Pada minggu kedua November ini, saya menemui Septyan Nur Mansyah untuk mendengar pengalamannya membangun desa dengan semangat remajanya. Asep, sapaan akrabnya, adalah ketua Karang Taruna Gari. Asep memulai ceritanya dengan sejarah kerusakan bentang alam karst yang menjadikan lahan di desanya kritis.

“Penambangan batu gamping dari 1980 sampai 2006 mengakibatkan kerusakan lingkungan parah,” buka Asep dengan mimik misterius. Awalnya, kawasan tersebut adalah gunung karst Wijil, tetapi akibat tidak ada kontrol dari penambangan liar mengakibatkan gunung tersebut rusak. Akibatnya, ada kubangan-kubangan besar yang menyebabkan lahan krisis dan tidak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Pemerintah daerah akhirnya mereklamasi kubangan-kubangan besar tersebut. Pada 18 April 2017, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan meresmikan Pasar Ekologis Argowijil. Konsep yang dibawa oleh pasar ini adalah ramah lingkungan dengan area peresapan air yang memadai, penggunaan solar sel sebagai pembangkit tenaga listrik, dan unit pengelolaan sampah. Pasar ini dikelola bersama oleh Karang Taruna dan BUMDes.

Di pasar tersebut kebanyakan menjajakan jajanan pasar tradisonal khas Gunungkidul. Ada juga aneka ragam kerajinan lokal, sayur-mayur hasil pertanian masyarakat sekitar, dan sembako. Misalnya, Wassinem yang menjual emping atau Sumarmi yang menjual jajanan tradisional. Dua orang yang saya temui ini merasa bersyukur atas hadirnya pasar tersebut.

“Sudah banyak hasil manis yang didapat dengan dibukanya pasar ekologis tersebut bagi masyarakat Desa Gari,” ujar Asep dengan senyum. Omset yang dihasilkan dari kegiatan di pasar tersebut adalah sebesar 30 juta. Pasaran dilaksanakan umumnya tiap akhir pekan atau ketika ada acara sehingga tidak menganggu aktivitas sebagian besar masyarakat, yaitu bertani. Namun, pasaran secara pasti mebantu perekonomian masyarakatnya.

Selain pada sektor ekonomi, sektor lingkungan juga mendapatkan hasil yang baik. Asep memberi contoh dengan mulai sadarnya masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Kemudian, perihal bagimana mengelola kawasan bentang alam karst. Bukan hanya untuk memperoleh keuntungan, melainkan juga bagaimana cara melestarikannya dengan tetap bisa mengambil keuntungan. “Kalau ditambang seperti itu kan, untungnya cuma jangka pendek dan masyarakat tahu itu,” jelas  Asep.

 

Mewarnai Ruang Publik

Di Desa Gari terdapat sembilan padukuhan yang terdiri atas sekitar 50 remaja di tiap padukuhannya. Oleh karena itu, paling tidak terdapat 450 remaja dalam satu desa. Hal inilah yang coba dibangun oleh Asep dengan kelompok Karang Taruna. “Potensi besar ini kalau tidak dikelola dengan baik akan sangat merugikan,” ungkap Asep.

Untuk meminimalisasi angka urbanisasi di desanya, Asep mencoba menjadikan Pasar Ekologis Argowijil sebagai wadah untuk remaja. “Pasar Ekologis itu memang dikonsep bukan hanya untuk kegiatan ekonomi, melainkan untuk berbagai sektor, seperti keseniaan, olahraga, bahkan arena rekreasi,” tutur Asep dengan serius.

Pasar Ekologis Argowijil adalah ruang publik untuk publik agar dapat beraktivitas sesuai minatnya. “Kami rutin mengadakan beberapa kegiatan seperti Argowijil Expo, Festival Jajanan Desa, dan Peken Sonten,” jelas Asep. Bahkan, ada banyak kegiatan perayaan rutin yang diselenggarakan di pasar tersebut. Misalnya, baru-baru ini diadakan perayaan sumpah pemuda.

Kegiatan seperti itulah yang mengakomodasi banyak hal hingga bisa dilakukan oleh remaja di Desa Gari. Menurut Asep, tidak ada lagi keharusan untuk merantau karena alasan ‘daerah asal yang sepi’. “Ya … kalau sepi, mari kita bikin ramai karena hanya kita sendiri yang bisa melakukannya,” kata Asep penuh semangat.

Lewat pasar tersebut juga mulai tumbuh komunitas-komunitas kesenian di tiap padukuhan yang dimotori oleh remaja. Misalnya, kesenian jaran kepang, karawitan, atau campursari. Wadah-wadah seperti itu yang akan membuat remaja tetap tinggal di desa dan bergerak mengembangkan desanya.

Harapan selanjutnya, menurut Asep, adalah dapat membuka kawasan lain seperti halnya pasar tersebut. Asep mencoba membangun konsep pengembangan kawasan yang terintegritas satu dengan yang lain. “Artinya, sebisa mungkin di setiap padukuhan ada ruang publik untuk menjadi wadah bersama masyarakatnya, khususnya remaja,” jelas Asep.

Ketika obrolan dengan Asep hampir pada titik usia, Asep menunjukkan kaus yang dikenakannya. Kaus tersebut adalah karya remaja Desa Gari. Ia menceritakan salah satu kegiataannya, yaitu pelatihan sablon kaus dengan hasil seperti kaus yang sedang ia pakai. Hal-hal seperti itu yang menjadikan remaja di desanya aktif.

Yang dapat membaca kebutuhan dan minat remaja di suatu desa atau suatu daerah adalah remaja itu sendiri. Menurut Asep, remaja tidak bisa berharap pada pemangku kebijakan untuk memfasilitasi kebutuhan dan minatnya jika hanya berpasif diri. “Berkat keaktifan tersebut, kami sudah buktikan bahwa kami bisa berkarya dengan tetap tinggal di desa dan membangun desa sebagai komunitas masyarakat bersama,” tutup Asep dengan semangat.

Hal ini ditunjukkan dengan prestasi yang sudah diraih oleh Karang Taruna Gari. Pada 2018, mereka sudah menyabet juara pertama Karang Taruna tingkat kabupaten. Hal serupa juga dicatatkannya dalam lomba Karang Taruna tingkat provinsi. Saat ini, mereka sedang menunggu hasil dari penjurian lomba Karang Taruna tingkat nasional.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: PASAR EKOLOGIS ARGOWIJIL: ANAK MUDA MAKNAI RUANG PUBLIK!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/pasar-ekologis-argowijil-anak-muda-maknai-ruang-publik/