PEREMPUAN BERDAULAT DI HALMAHERA BARAT

 In Opini
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Tapi satu hal yang pasti: perempuan di mana pun, kekuatan, daya dobrak dan kelembutan berkelindan dalam jiwanya.

Dok. Ismi Rinjani

Mobil berwarna abu-abu tua membawa kami bertujuh menyusuri jalanan terjal di Kecamatan Ibu, Halmahera Barat, Maluku Utara (kenapa desanya dinamai “Ibu”, saya pun belum mendapatkan jawaban hingga sekarang, meskipun sudah bertanya kepada tetua di sana). Suara azan magrib terdengar sahut-menyahut dari surau-surau di tengah padatnya kebun kelapa di kiri-kanan jalan. Jalanan yang belum teraspal dengan sempurna membuat waktu tempuh menuju Jailolo sedikit memuai.

Pak Khalik, supir kesayangan kami yang juga penggemar berat Via Vallen, menerjang kerikil-kerikil dan batuan besar di sepanjang jalan dengan hati-hati sambil bersiul lagu “Sayang”. Lalu dari kejauhan terlihat dua orang ibu yang memikul saloi (semacam keranjang yang terbuat dari kulit luar pohon rotan yang dianyam berbentuk kerucut dan dilengkapi dua tali untuk menggendong). Mobil berhenti. Kami semua turun, hendak menyapa kedua perempuan ini.

Ma, mo pi mana (Ibu mau pergi ke mana)?”  Kak Yuyun berteriak dari seberang jalan. “Mo pulang ka rumah (mau pulang ke rumah),” sahut mereka sambil menghentikan langkah. Kami pun menyebrang dan menyalami keduanya. Genggamannya kokoh meskipun usianya sudah jauh melampaui setengah abad. Di saloi-nya tampak bersisir-sisir pisang. Beratnya kemungkinan mencapai 7 kilogram lebih, namun mereka tampak santai tanpa beban melenggang dengan isi saloi yang mencuat penuh ke udara. Mereka baru saja kembali dari kebun. Selain mengolah kebun pisang, mereka juga memiliki kebun pala dan cengkih. Jarak tempuh berkilo-kilometer dari rumah ditempuh dengan berjalan kaki.

Perempuan memiliki tempat khusus di Halmahera Barat. Dua patung setinggi 8 meter yang menjadi simbol kota ini berbentuk perempuan yang menggendong saloi di pundaknya. Pembuatan patung ini merupakan bentuk usaha penghormatan kepada perempuan. Simbol kekuatan dan ketegaran. Tidak salah, memang. Perempuan di sini tulangnya sekuat baja. Kulitnya liat, tak gentar diterjang matahari meski berjemur di bawahnya selama berjam-jam. Badannya terbuat dari molekul-molekul energi yang tak habis terbakar. Namun demikian, bukan hanya kekuatan fisik belaka yang dimaksud, melainkan keteguhan hati dan pikiran juga tecermin dari sikap mereka sehari-hari.

perempuan-halmahera-16
Dok. Ismi Rinjani

“Pokoknya kalau lagi di Jailolo, dilarang diet!” ujar Faudjia Madjid, atau yang akrab disapa “Cik Fau” sambil menaruh nampan-nampan berisi ikan bakar di meja. Beliau adalah pemilik homestay dan katering di Desa Guaemadu, Jailolo. Masakannya nggak ada tandingannya, deh. Macam-macam olahan ikan segar dari tangan dinginnya bikin saya dan kawan-kawan merem-melek berlumur kenikmatan. Dalam hati saya pun berseru “Diet? Sebodo amat!” Malam itu, terhitung tiga kali saya menciduk nasi dan lauk pauknya.

Selain menjadi master dalam hal masak-memasak, Cik Fau juga jadi panutan dalam usahanya memberdayakan janda-janda di desanya. Sejak 2009, mereka diajari keterampilan sekaligus diberi pekerjaan untuk membantunya dalam urusan katering. “Saya pengin mereka bisa dapat uang sendiri. Mandiri kan jadinya. Bisa nyekolahin anak-anak juga meski udah gak punya suami,” jelasnya. Cik Fau bahkan pernah menjadi pemateri di Seminar Three Ends, sebuah program dalam upaya mengurangi kekerasan pada perempuan di Jailolo, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tahun 2016.

Rumahnya yang merangkap homestay pun kerap menjadi ruang bagi remaja Jailolo untuk berekspresi. Contohnya ketika Festival Teluk Jailolo dihelat, beranda rumahnya yang cukup besar dijadikan tempat latihan menari oleh pemuda-pemudi setempat. Mereka dilatih oleh Eko Supriyanto, koreografer sekaligus dosen di ISI Solo. Mulai dari anak muda sampai janda-janda yang dibantunya, menganggap Cik Fau seperti ibunya sendiri. Saya juga, sih. Hehehe. Semua karena kasih sayang, dedikasi, dan upaya beliau untuk tetap terus memberi ruang dan kesempatan kepada siapa pun tanpa pandang bulu.

perempuan-halmahera-14
Dok. Ismi Rinjani

Dalam kunjungan ke Desa Worat-Worat, Kecamatan Sahu, Halmahera Barat, saya pun berjumpa dengan perempuan-perempuan yang tak kalah kerennya. Saat itu sedang diadakan ritus adat Orom Sasadu atau makan bersama di rumah adat dalam rangka syukuran atas hasil panen yang melimpah. Saya berkenalan dengan Pendeta Baby Hohari dari Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH). Di halaman gereja yang hanya sepelemparan batu dari sasadu (rumah adat), kami mengobrol panjang lebar sambil membantu mama-mama memasak nasi cala (kembar) dalam bambu. “Kalau di sini, agama dan adat itu saling membutuhkan satu sama lain. Gak bertentangan. Kalau sedang ada acara adat seperti ini, ya masaknya di halaman gereja. Semua saling bantu tanpa pamrih,” ucapnya.

Menurut beliau, laki-laki dan perempuan sama di mata Tuhan. Pendeta Baby sudah bertahun-tahun menjalankan tugasnya sebagai pendeta. Berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya dilakoni tanpa beban. Selama menjelajahi Halmahera Barat, saya pun menjumpai banyak perempuan yang menjadi pendeta. Hal itu sudah lumrah di sini, meskipun di luar sana masih banyak perdebatan tentang boleh tidaknya perempuan menjadi pemimpin agama.

Dalam ritus adat suku Sahu pun, perempuan duduk setara dengan laki-laki. Sasadu bagi masyarakat suku Sahu bahkan merupakan bentuk penghargaan bagi kaum perempuan. Di dalam ruangannya tersedia dua buah meja, satu meja khusus untuk perempuan di bagian depan dan satu meja lagi bagi laki-laki di bagian belakang. Tempat duduknya pun sejajar, sama tinggi. Pintu masuk ke sasadu pun dibagi sama rata. Dua untuk perempuan, dua untuk laki-laki.

Perempuan-perempuan di Halmahera Barat bebas menentukan nasibnya sendiri. Tidak ada larangan dari orang tua untuk melanjutkan sekolah setinggi-tingginya. Pun urusan perjodohan. Si anak tidak dibebankan dengan hal ini. Menikah muda atau menunda hingga siap, pilihannya benar-benar ada di tangan mereka. Meski jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, saya rasa Halmahera Barat sudah selangkah lebih maju dalam perkara kesetaraan. Akan tetapi, satu hal yang pasti: perempuan di mana pun, kekuatan, daya dobrak, dan kelembutan berkelindan dalam jiwanya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: PEREMPUAN BERDAULAT DI HALMAHERA BARAT!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/perempuan-berdaulat-di-halmahera-barat/