“POSESIF”: REMAJA MEMBANGUN HUBUNGAN SEHAT

 In Ulasan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Ketegasan untuk berkata “tidak” dalam sebuah hubungan sehat amatlah penting bagi pemahaman remaja hari ini.

posesif-katamedia.co_feature
Dok. katamedia.co

Judul Film : Posesif
Tahun         : 2017
Durasi         : 102 menit
Sutradara   : Edwin
Penulis        : Gina S. Noer
Produksi     : Palari Films

Film ini bercerita tentang dua siswa SMA. Yudhis (Adipati Dolken), si anak pindahan membuat Lala (Putri Marino) jatuh cinta untuk kali pertama. Tak butuh waktu lama bagi Lala dan Yudhis untuk bersepakat membangun hubungan bersama. Lala merupakan atlet loncat indah. Ia punya kepadatan jadwal antara sekolah dan latihan loncat indah. Awal hubungan mereka—seperti hubungan asmara pada umumnya—dipenuhi dengan rasa cinta dan hari-hari yang menyenangkan. Yudhis sering menemani Lala latihan. Begitu juga Lala sering belajar bersama Yudhis.

Akan tetapi, hubungan mesra tersebut tak berlangsung lama. Atas kesibukan Lala, Yudhis merasa dinomorduakan. Pada sebuah adegan ketika Yudhis mengatar Lala latihan, “Gue ini pacar atau supir lu, La?”. Yudhis berubah menjadi pasangan yang kasar. Posesif, seperti judul film ini.

Tidak hanya karena latihan loncat indah, Yudhis juga mempermasalhkan Lala yang dekat dengan sahabat-sahabatnya. Padahal, salah satu sahabatnyalah yang mencomblangi Lala dan Yudhis. Yudhis mulai membatasi pergaulan Lala, bahkan mengintimidasi salah satu sahabat laki-laki Lala agar tidak mendekati Lala. Padahal, mereka sudah bersahabat sejak lama.

Atas tingkah laku Yudhis, kita patut belajar cara Lala meresponsnya. Pertama, Lala menegur Yudhis, kemudian Yudhis meminta maaf. Kedua, Lala berusaha untuk menyudahi hubungan karena Yudhis tidak kunjung berubah. Lala memberi batasan antara dirinya dan Yudhis. Ia tidak mau menemui Yudhis.

Sikap Lala merupakan satu ketegasan yang tidak banyak dimiliki oleh remaja perempuan saat ini. Ketegasan yang dimiliki Lala muncul karena ia tidak bergantung dengan pasangannya. Kemandirian itu tidak banyak dimiliki oleh remaja putri saat ini. Terbiasa dengan mengantar-jemput, selalu makan dan nonton bersama membuat remaja putri menjadi terlalu bergantung kepada pasangannya. Sebetulnya itu bukan sebuah kesalahan selama hal tersebut tidak membuat jadi ketergantungan.

Kembali lagi kepada film. Karena Lala tidak tega dengan Yudhis yang memohon dan melukai dirinya sendiri sebagai bentuk permintaan maaf yang disertai dengan janji untuk tidak mengulanginya lagi, akhirnya Lala pun luluh dan menerima Yudhis kembali.

Cinta Remaja dan Khayalan Masa Depan

Yudhis tidak serta merta bisa menghilangkan sikap kasarnya kepada Lala. Yudhis dan Lala kembali mendapati permasalahan dalam hubungan mereka. Diceritakan bahwa mereka tengah merencanakan studi masing-masing di jenjang pendidikan tinggi. Lala memilih kampus UI (Jakarta), sedangkan Yudhis memilih kampus ITB (Bandung).

Pertimbangan masing-masing atas kampus yang dipilih tidak bisa lepas dari permintaan orang tua. Lala memilih UI karena permintaan ayahnya. Yudhis pun memilih ITB karena permintaan ibunya. Kedua kampus tersebut menurut orang tua masing-masing menunjang karier anaknya. Bagi Yudhis dan Lala, hal tersebut sulit untuk ditolak.

Pertengkaran kembali dimulai. Perlakuan kasar Yudhis muncul kembali untuk meminta Lala ikut dengannya memilih kuliah di Bandung. Lala menolak, ia pun dijambak dan dicekik. Namun, Yudhis kemudian sadar. Lagi-lagi ia bersalah. Ia meminta maaf sambil menampari pipinya sendiri, barangkali untuk membalas kelakuan kasarnya kepada Lala.

Akan tetapi, bukan berarti masalah telah selesai. Masalah berikutnya adalah hubungan mereka terancam kandas oleh jarak Jakarta-Bandung. Akhirnya Yudhis pun mengalah. Ia mengajak Lala kabur dari rumah. Sebelum kabur, Yudhis terlibat pertengkaran dengan ibunya. Lala yang bersembunyi di dalam lemari baju Yudhis melihat bahwa ibu Yudhis sangat kasar. Ia melihat Yudhis dipukul kepalanya hingga berdarah.

Barangkali itulah yang menyebabkan Yudhis memiliki tabiat kasar, pikir Lala. Lala akhirnya memaklumi hal tersebut. Kisah kabur mereka pun berakhir nahas, terutama untuk Lala. Apa yang bisa diharapkan dari hubungan dua remaja yang belum mampu mandiri dalam hal ekonomi? Tidak ada, kecuali bergantung dari restu orang tua.

Uang hampir habis dan Yudhis pun putus asa. Ia meninggalkan Lala di tempat yang asing. Hal tersebut menjadi pelajaran bagi Lala. Ia merasa bersalah kepada ayahnya. Cinta monyetnya hampir membawa kehidupannya jauh dari kenyataan. Ia memulai kehidupan baru dengan sahabat-sahabat yang ditinggalkannya sejak menjalin hubungan dengan Yudhis.

Hal semacam ini banyak kita temui atau bahkan kita alami sekarang ini. Masa remaja dapat membuai bahkan membutakan rencana yang telah disusun dengan baik. Tak jarang pula kita temui hubungan asmara remaja yang tidak sehat, yang menjadikan masa depan mereka berantakan. Kehamilan yang tidak direncanakan pada masa remaja, misalnya. Kegagalan studi adalah contoh lainnya. Seperti hal yang bisa saja atau hampir dialami oleh Lala, misalnya.

Ketegasan untuk berkata “tidak” dalam sebuah hubungan sehat amatlah penting bagi pemahaman remaja hari ini. Tidak hanya pada remaja perempuan, tetapi juga remaja laki-laki. Pemahaman akan mana yang baik dan sehat serta sebaliknya harus mengakar sejak dini. Masa remaja adalah masa-masa yang penuh dengan ketidakstabilan emosi. Hal ini yang menjadikan nilai yang baik dan buruk menjadi kabur. Pemahaman seperti itu sebetulnya sudah dimiliki Lala dengan sikap tegasnnya. Akan tetapi, sikapnya melunak karena emosi dan rasa sayangnya yang menggebu-gebu kepada Yudhis hingga mengaburkan nilai baik-buruk yang sebelumnya telah digenggamnya.

Terlepas dari itu, kita dapat belajar soal kesetaraan pada remaja putri seperti Lala. Dari awal hingga akhir cerita, Lala konsisten dengan pandangannya bahwa laki-laki dan perempuan harus setara dalam sebuah hubungan. Cinta buta kemudian membuatnya jauh dari realitas. Dari sikap gegabah dan kasar yang dimiliki Yudhis, kita pun dapat belajar untuk tidak berperilaku sepertinya. Setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi yang harus ditanggung setelahnya. Termasuk pilihan pada masa remaja yang kelak akan membawakan konsekuensi di masa mendatang.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: “POSESIF”: REMAJA MEMBANGUN HUBUNGAN SEHAT!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/posesif-remaja-membangun-hubungan-sehat/