POSYANDU REMAJA: UJUNG TOMBAKNYA INDONESIA ADA DI REMAJA!

 In Ngobrol
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Mereka belum tahu dampak menikah muda itu apa. Kalo yang perempuan, belum tahu kalau sebenernya rahim mereka belum siap.

Dok. Yoga Andika

Apa yang pertama kali terlintas di kepala kalian saat mendengar kata “posyandu”? Timbangan badan dari kain? Antrean ibu dan balita yang mengular sampai ke halaman? Bubur kacang gratis? Atau kartu imunisasi yang berwarna-warni? Semuanya benar. Dan entah mengapa, bayangan akan posyandu masih memenuhi ceruk-ceruk memori saya. Mungkin karena dulu keseringan dapat bubur kacang gratis kali, ya?

Lalu, apa yang ada di pikiran ketika mendengar posyandu remaja? Hal yang persis sama seperti di posyandu balita? Oh, tentu tidak, kawan! Meski dalam beberapa konsep memiliki kemiripan, keduanya mempunyai program yang jelas berbeda. Posyandu remaja diinisiasi dan dikelola oleh teman-teman remaja sendiri. Remaja untuk remaja. Salah satu isu yang menjadi sorotan adalah soal kesehatan reproduksi. Isu yang jelas-jelas masih tabu untuk dibahas di kalangan anak muda. Sekolah-sekolah pun belum menyediakan informasi yang memadai soal ini. Padahal, pengetahuan tentang kespro ini sangat penting dan mendasar untuk diketahui sedini mungkin.

Semuanya berawal dari kekhawatiran sekelompok pemuda dan pemudi di kaki gunung Bromo, lebih tepatnya di Kecamatan Tosari, Pasuruan, Jawa Timur. Mereka melihat kawan-kawan sebayanya banyak yang lebih memilih menikah daripada sekolah. Pun, angka hamil di luar nikah pada anak usia SMP dan SMA yang cukup tinggi menjadi alasan lainnya.

Rasa peduli pun disalurkan menjadi aksi. Posyandu remaja didirikan pada tahun 2015. Selain melakukan penyuluhan, pemberdayaan, dan edukasi, tim posyandu remaja juga memiliki aksi tahunan bersama siswa-siswi sekolah menengah pertama dan lanjutan, yaitu melakukan pawai di hari AIDS sedunia. Sekitar 150—200 siswa membawa poster-poster dengan desain kreatif yang berkaitan dengan HIV AIDS. Semua biayanya swadaya, hasil patungan antaranggota.

Saya pun menemui Yoga Andika (21 tahun), salah satu pendiri posyandu remaja, di Kota Malang yang kian sejuk. Ditemani segelas jus nanas dan segelas kopi pahit, kami berbincang banyak soal apa itu posyandu remaja, sejarahnya, juga kesulitan-kesulitan yang dihadapi selama program bergulir. Mari simak wawancaranya!

Apa sih Posyandu Remaja itu?
Posyandu Remaja itu kegiatan remaja mengedukasi remaja. Tujuannya untuk mengurangi masalah-masalah yang ada di sana. Ada penyuluhan soal narkoba, merokok, sampai risiko menikah muda. Karena di Kecamatan Tosari ada 8 desa, jadi di tiap desa ada satu Posyandu Remaja.

Jadi diinisiasi sama remajanya, ya?
Awalnya kami punya komunitas, namanya Laskar Pencerah. Laskar Pencerah itu komunitas yang peduli sama remaja di sana. Peduli karena remaja-remaja di sana banyak yang minum minuman keras, pakai narkoba. Jadi kita penyuluhan ke sekolah-sekolah. Terus ide bikin Posyandu Remaja itu datang dari masalah yang ada di Desa Wonokitri. Perangkat desa mengeluh karena di sana banyak anak yang menikah di bawah umur. Karena adatnya juga yang masih kental, jadi mereka mau nggak mau mengizinkan pernikahan itu. Jadi, pihak desa punya ide untuk bikin Posyandu Remaja. Tapi, mereka belum punya konsepnya. Ya udah, jadi Laskar Pencerah yang ngonsep.

Jelasin dong, konsepnya gimana?
Kami bikin konsep empat meja, mbak. Hampir mirip dengan posyandu balita. Meja pertama itu presensi, mengisi daftar hadir. Meja kedua pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk mengetahui perkembangan setiap bulannya gimana. Yang ketiga itu pengukuran lila (lingkar lengan atas) dan tensi, biar tahu tekanan darahnya stabil atau tidak. Kalau kurang darah, karena kami kerja sama dengan puskesmas, nanti dikasih obat penambah darah. Kalau meja keempat itu namanya KIE, kependekan dari Komunikasi, Informasi, dan Edukasi. Jadi kami berikan informasi dan penyuluhan soal dampak dari menikah muda itu apa, dampak dari pakai narkoba itu apa, HIV/AIDS itu apa.

Dok. Yoga Andika

Laskar Pencerah itu didirikan tahun berapa? Sejarah berdirinya gimana?
Laskar Pencerah itu didirikan tahun 2013, waktu saya kelas 3 SMP. Anggota Laskar Pencerah ini kan, remaja-remaja yang masih bersekolah. Jadi temen-temen remaja ini direkrut untuk jadi pembimbing teman sebaya juga. Awalnya, Laskar Pencerah itu rintisan dari kakak-kakak Pencerah Nusantara. Mereka itu relawan utusan Presiden untuk terjun ke daerah pelosok. Terus mereka berpikir, kalau pengabdiannya sudah selesai, mau bikin apa. Akhirnya didirikanlah Laskar Pencerah tahun 2013. Ada beberapa bidang yang ditangani Laskar Pencerah. Ada pendidikan, kesehatan, kebudayaan, dan kewirausahaan. Jadi dulu itu pas saya masih SMA, organisasi itu kan, butuh biaya. Terus kami jualan roti untuk menghidupi organisasinya.

Sebagai gerakan yang terbilang progresif di tempat tinggalmu, gimana tanggapan warga sekitar soal Posyandu Remaja?
Sebagian bilang “Posyandu kok buat remaja?”. Ada beberapa warga juga yang menyepelekan kami. Terus ada juga remaja yang takut dateng, karena takut disuntik (sambil tertawa). Lucu-lucu sebenernya tanggepannya. Ya akhirnya kita kasih pengertian soal Posyandu Remaja tuh sebenernya kayak gimana.

Tapi kami gak melulu bicara soal kesehatan terus. Kami juga bicara soal pelestarian budaya. Kadang ada latihan nari bersama. Terus kemarin pernah kerja sama sama teman-teman dari Surabaya untuk bikin gantungan kunci. Tujuannya supaya hobi mereka tersalurkan dan gak mikirin nikah dulu.

Selain ada segelintir orang yang kurang mendukung, apa aja sih rintangan kalian selama bikin kegiatan di Posyandu Remaja?
Kadang-kadang, pas kami mau ngadain Posyandu Remaja, balai RW-nya suka dipakai hajatan. Padahal kami sudah menentukan tanggal dan waktu. Akhirnya harinya diundur. Eh, malah bentrokan lagi, akhirnya diundur lagi. Itulah kendala kami, karena balai RW-nya hanya satu. Pihak desanya suka minta kami untuk mengalah. Ya, begitulah, Mbak. Beberapa desa memang sudah mendukung, bahkan memfasilitasi seperti proyektor, timbangan, dan lain-lain. Tapi, sebagian lain ya, masih belum terlalu.

Kalo dari kami sendiri, kesulitannya itu membagi waktu antara belajar dan penyuluhan.

Itu aja sih kayaknya.

Dok. Yoga Andika

Gambaran remaja di Kecamatan Tosari tuh kayak gimana sih?
Remaja di sana tuh, minat untuk belajarnya kurang. Mereka banyak kerja di kebun. Selain itu, mereka juga kadang jadi driver untuk ke Bromo. Kebanyakan dari mereka juga setelah lulus SMP atau SMA memilih menikah. Dan kebanyakan di sana itu hamil di luar nikah. Masih SMP sudah hamil dan dianggap wajar.

Kamu punya data soal jumlah anak yang menikah dini di sana nggak?
Ada, saya ngambil datanya dari puskemas. Saya mintanya data yang menikah di bawah 20 tahun. Untuk tahun 2017, ada sekitar 86 anak yang menikah di bawah 20 tahun. Terus dari bulan Januari sampai Juli 2018 sudah ada 25 anak. Semoga aja angkanya turun di tahun  ini. Angka ini kebanyakan yang hamil di luar nikah. Mungkin mereka melakukan hal-hal seperti itu karena belum tahu dampak ke depannya kayak gimana.

Lumayan besar ya, angkanya?
Iya, Mbak. Tapi grafiknya emang naik turun sejak tahun 2015. Kadang angkanya kecil, terus tahun depannya naik lagi. Kami hanya bisa berusaha memberikan edukasi dan informasi sebaik-baiknya. Masalah iman, mereka sendiri yang bisa jaga.

Menurut kamu, hal apa aja yang membuat temen-temen remaja ini memutuskan untuk menikah muda?
Pertama, faktor ketidaktahuan. Mereka belum tahu dampak menikah muda itu apa. Kalo yang perempuan, belum tahu kalau sebenernya rahim mereka belum siap. Kedua, faktor orang tua. Di sana banyak orang tua yang menyuruh anak-anaknya cepat menikah dan jangan sampai disebut perawan tua. Yang berikutnya itu faktor ekonomi. Jadi anak-anak itu disuruh menikah dengan orang-orang dengan strata ekonomi yang tinggi, yang lebih kaya. Karena di sana mayoritas penduduknya menengah ke bawah. Terus yang paling menonjol itu, minat belajar mereka kurang. Makanya kami memberikan motivasi-motivasi untuk membangkitkan minat belajar mereka. Biar sekolahnya nggak hanya sampai SMP. Minimal sampai SMA, dan tentu baiknya ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka pasti bisa kok.

Kalau kamu dan teman-teman Posyandu Remaja sendiri, kerja sama dengan siapa untuk memberi penyuluhan-penyuluhan? Ada pembinaan dulu nggak?
Kami kerja samanya dengan puskesmas, pemerintah desa, dinas kesehatan, pusat informasi, dan konseling remaja kabupaten. Jadi, sebelum melakukan penyuluhan ke sekolah-sekolah dan Posyandu Remaja, kami minta dibina dulu. Jadi, kami minta materi ke dokter di puskesmas. Misalnya “Dok, izin, kami mau minta materi ini. Mohon dibimbing.” Jadi kami kumpul di puskesmas dulu, terus dijelaskan panjang lebar. Baru pas kami sudah mengerti, kami terjun ke lapangan.

Terus pas penyuluhannya didampingi juga?
Enggak. Kami-kami aja yang turun. Soalnya kalau yang ngasih penyuluhannya teman sebaya kan, lebih enjoy. Bisa sambil bercanda juga. Kalau sama orang yang lebih tua kan, kesannya formal banget, gitu. Dengan suasana yang rileks dan penuh canda, informasinya bisa diserap dengan baik, biasanya.

Gimana proses pengkaderan untuk penyuluh di Posyandu Remaja?
Jadi di setiap desa, kami cari 5 orang untuk jadi pengurus Posyandu Remaja di sana. Kelima orang di tiap desa ini kami kumpulkan dan bina dulu. Jadi, alurnya, informasi dari puskesmas masuk ke Laskar Pencerah dulu, setelah itu baru kami sampaikan ke kader Posyandu Remaja. Laskar Pencerah juga ngadain kaderisasi lagi untuk jadi penerus organisasinya. Anggotanya harus yang masih sekolah. Tapi, buat Posyandu Remaja, kadernya yang sudah berhenti sekolah pun gak apa-apa, yang penting punya keinginan untuk mengubah daerahnya.

Angka putus sekolahnya tinggi nggak sih, di Kecamatan Tosari?
Lumayan tinggi, Mbak. Soalnya di sana banyak yang nyambi, sekolah sambil cari uang. Kalau mereka sudah pegang uang, mau sekolah itu males. Dari situ kami mulai berpikir, gimana caranya mengubah mindset mereka. Meskipun dapat penghasilan, tetap mau ngelanjutin sekolah. Kami bawa temen-temen yang udah jadi TNI, polisi, dokter, buat memotivasi mereka.

Soal menikah muda nih, apa emang kulturnya sudah berlangsung sejak lama?
Waktu saya masih SMP dulu, saya pernah nanya sama orang tua. “Bu, apa emang nikah muda itu udah wajar dari dulu?” Ibu saya jawab, ya itu emang udah biasa, dari dulu kayak gitu. Baru saya sadarnya tuh pas ikut organisasi Laskar Pencerah ini. Kalau menikah di bawah 20 tahun tuh risikonya sangat besar. Kandungannya belum siap, cara mengasuhnya juga belum tahu, kan?

Apakah yang menikah di bawah umur ini kebanyakan perempuan?
Paling banyak memang perempuan. Tapi, laki-laki juga ada. Kebanyakan, laki-laki yang masih sekolah ini kan coba-coba sama pacarnya. Sama adik tingkat biasanya. Ya sudah, kalau sudah hamil, akhirnya mereka menikah. Kemarin itu malah anak SMP kelas 2 yang hamil di luar nikah. Saya nggak bisa ngebayangin gimana ngasuhnya.

Kalau untuk kamu pribadi, selain jadi anggota Laskar Pencerah dan mengurusi Posyandu Remaja, mimpi apa lagi yang ingin kamu wujudkan?
Kalau saya, penginnya bikin perpustakaan umum di desa saya. Soalnya saya berpikir, kalau bikin perpustakaan umum, nanti remaja-remaja itu bisa belajar. Mungkin dengan banyak membaca itu, bisa membuka wawasan mereka. Harapan lain saya, semoga makin banyak remaja di sini yang mau kuliah, terus bekerja, tidak hanya menikah. Semoga semuanya terwujud.

Aaamiiin. Berarti sampai sekarang, Posyandu Remaja hanya ada di tempatmu, ya?
Sudah ada di beberapa tempat kok, Mbak. Tapi sampai sekarang yang konsultasi masih banyak. Pada nge-WhatsApp ke saya, “Mas, kalau mau bikin Posyandu Remaja gimana prosesnya?” Beberapa juga minta dikirimkan modulnya. Nah, tahun ini, program Posyandu Remaja sudah diadaptasi juga sama Kementerian Kesehatan RI dan sudah mau disebarkan ke daerah lain.

Luar biasa! Semoga programnya diadaptasi dengan baik dan bawa banyak kebaikan juga di daerah lainnya, ya. Nah, beberapa waktu lalu kan, kalian dapat penghargaan dari Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2016 dan sampai diundang ke Kick Andy juga. Apakah setelah dapat apresiasi dari banyak pihak, warga di sana jadi berpikir lebih positif soal gerakan kalian?
Untuk saat ini, memang belum kelihatan dampaknya kayak gimana. Tapi, mudah-mudahan membuka wawasan mereka juga. Dan utamanya para orang tua bisa berubah dan mendorong anak-anaknya untuk lanjut sekolah dan berprestasi.

Aaamiiin. Yoga, terakhir nih, apa pesan kamu untuk remaja-remaja di seluruh Indonesia?
Untuk remaja yang tinggal di perkotaan dan punya kesempatan untuk belajar setinggi-tingginya, jangan lupa untuk terjun ke daerah-daerah terpencil untuk membagikan ilmu yang didapat. Dan untuk seluruh remaja di Indonesia, kita harus terus belajar bersama, karena ujung tombaknya Indonesia ada di remaja! Remaja sehat, prestasi hebat!

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: POSYANDU REMAJA: UJUNG TOMBAKNYA INDONESIA ADA DI REMAJA!!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/posyandu-remaja-ujung-tombaknya-indonesia-ada-di-remaja/