REMAJA INDONESIA DAPAT DIHARAPKAN

 In Berisik

Dok. Akademi Olimpiade

Saya mencoba searching dengan kata kunci “Remaja Yogyakarta” di Google. Hasilnya sesuai dengan yang saya duga. “Klitih” menempati urutan teratas hasil pencarian tersebut. Selanjutnya, saya mencoba mengganti dengan kata kunci “Pelajar Yogyakarta”. Tak kalah dengan yang pertama, isinya adalah berita pembacokan. Sisanya tentu masih ada berita-berita semacam remaja penjambret, mesum, dan sebagainya.

Apakah tidak ada berita yang menenangkan mengenai remaja atau pelajar Yogyakarta? Jawabannya tentu ada. Beberapa berita mengabarkan tentang pelajar yang mengadakan kegiatan Kajian Pelajar Kritis, Tiga Remaja berjuang masuk Timnas U-19, dan sebagainya. Akan tetapi, ya, begitulah, tentu berita-berita itu sebatas nylempit di antara berita-berita yang bersifat negatif.

Melalui temuan kecil-kecilan tersebut, kita tidak dapat serta merta menyimpulkan bahwa remaja atau pelajar hanya dapat berbuat hal-hal negatif, sehingga berita-berita tentang remaja pun berisi hal yang negatif. Ada banyak kemungkinan dari temuan kecil-kecilan tersebut, misalnya kegiatan-kegiatan postitif remaja tidak ter-expose, media lebih suka mengangkat berita negatif, tidak ada kegiatan positif yang dilakukan remaja, remaja tidak cukup penting untuk diberitakan, dan/atau masih ada kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Dari sekian banyak kemungkinan alasan mendominasinya berita negatif tentang remaja, hal yang paling ditakutkan adalah terbentuknya stigma negatif masyarakat kepada remaja. Saya berharap hal tersebut tidak terjadi. Saya sendiri masih percaya bahwa remaja adalah harapan kita bersama. Merekalah yang nanti akan menggantikan kita, generasi sebelum mereka, di berbagai sektor. Saya percaya betul bahwa masa depan sebuah bangsa dapat dilihat dari kondisi remajanya saat ini. Di sini saya hendak menyampaikan bahwa remaja kita masih sangat mampu untuk menjadi tumpuan harapan kita bersama.

Sebelumnya, pembuktian bahwa remaja masih dapat kita harapkan untuk masa depan bersama sudah diberikan oleh beberapa remaja yang ikut andil dalam kegiatan membersihkan masjid Istiqlal. Kali ini, betapa bahagia kita mendapatkan lagi semangat baik dari remaja Yogyakarta yang berkegiatan positif di sela-sela pemberitaan tentang “klitih” yang meresahkan banyak pihak.

Pada 4−5 Maret 2017, teman-teman komunitas Academy Olimpiade yang digawani oleh Galih, Setta, dan Sulton mengadakan kegiatan Live Mural dan Workshop Membuat Komik di Jlagran Lor, Pringgokusuman, Gedong Tengen, Yogyakarta. Kegiatan yang diberi tema “Membaca adalah Senjata” itu merupakan insiatif mereka secara mandiri. Begitu pula dalam hal pendanaan, mereka juga mengumpulkan dana kegiatan dengan sistem patungan. Galih menceritakan bahwa pada awal perencanaan kegiatan tersebut, mereka hanya akan mengadakan live mural, tetapi setelah didiskusikan kembali, mereka merasa ada yang kurang. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk membuat workshop sekaligus.

Dok. Akademi Olimpiade

Live Mural yang dilaksanakan pada 4 Maret diikuti oleh sembilan remaja dari SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) Yogyakarta. Kegiatan itu bertempat di dinding garasi salah seorang warga yang juga berada di area taman bermain ramah anak. Lokasi tersebut sudah mendapat izin dari pemilik dinding. Lokasi tersebut dipilih agar pesan yang ada di mural tersampaikan kepada warga dan anak-anak kampung Jlagran Lor yang biasa beraktivitas di sana.

Keesokan harinya, kegiatan workshop membuat komik berlangsung dan diikuti oleh 27 anak dari sekitar Desa Jlagran. Beberapa peserta workshop mengungkapkan kegembiraannya dalam mengikuti kegiatan tersebut. Mereka senang mengikuti workshop yang kegiatannya adalah menggambar dan mendapat banyak ilmu. Workshop ini tidak hanya sebatas pada penyampaian materi, tetapi hasil dari workshop ini nantinya akan dijadikan Zine.

Di sela-sela obrolan saya dengan Galih tentang kegiatan Live Mural dan Workshop Komik, Galih juga mengomentari tentang fenomena klitih yang terjadi di Yogyakarta. Menurutnya, para pelaku klitih hanyalah remaja yang kekurangan perhatian dari keluarga maupun warga sekitar. Galih juga mengajak remaja Indonesia untuk menjadi remaja yang ‘nakal’ dalam hal yang positif.

Menurut saya, remaja-remaja seperti Galih ataupun teman-teman dari Komunitas Academy Olimpiade ini hanyalah salah satu contoh. Saya yakin masih banyak remaja di luar sana yang juga berkegiatan dan berkarya positif untuk sekitarnya. Hanya saja, mungkin selama ini kita tidak pernah tahu atau tidak memiliki perhatian terhadap kegiatan remaja kita.

Tugas kita sebenarnya tidak susah. Kita tidak harus selalu terlibat aktif dalam kegiatan remaja. Akan tetapi, setidaknya, kita harus selalu mengapresiasi kegiatan positif mereka sebisa kita. Misalnya melalui media sosial. Jika kita menemukan kegiatan-kegiatan mereka, kita bisa merespons kegiatan tersebut dengan sekadar ikut membagikan atau menyebarluaskannya. Saya yakin mereka akan senang dan menganggapnya sebagai salah satu bentuk apresiasi. Selain itu, kita juga akan ikut menjadikan timeline media sosial kita berisi hal-hal yang positif. Bukankah selama ini kita cukup responsif jika ada hal-hal yang negatif di media sosial? Kenapa kebiasaan tersebut tidak diubah menjadi hal-hal yang positif saja?

Recommended Posts

Leave a Comment

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: REMAJA INDONESIA DAPAT DIHARAPKAN!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/remaja-indonesia-dapat-diharapkan/