REMAJA KALI SUCI DAN PARIWISATA EKOLOGIS YANG MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT

 In Liputan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Remaja pengelola Kali Suci, menurut Winarto, mengorganisasi dirinya sendiri sesuai dengan yang dibutuhkan dalam mengurus Kali Suci sebagai objek wisata.

Dok. Triyo Handoko

Pada tahun 2009, sebelum Gunungkidul dikenal dengan kekayaan pariwisata berupa pantainya, kelompok pemuda di Kali Suci, Semanu sudah membuka wisata susur gua. “Bahkan sebelum Goa Pindul, kami sudah buka wisata duluan,” ujar Muslam Winarto, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kali Suci. Saya menemui Winarto, nama sapaannya, pada Minggu (11/11) di Sekretariat Kali Suci. Kami mengobrol soal konsep wisata yang ditawarkan Kali Suci yang pengelolanya mayoritas adalah kelompok remaja.

Sejak awal, Kali Suci memiliki konsep berbeda dengan wisata susur gua yang lain. “Kami tidak sepenuhnya mencari rupiah dalam membuka Kali Suci sebagai wisata,” tambahnya. Winarto menjelaskan bahwa Kali Suci dibuka sebagai objek wisata dengan memperhatikan lingkungan dan masyarakat sekitarnya.

“ … sehingga tidak heran jika ada yang bertanya mengapa Gua Pindul lebih ramai dari Kali Suci,” jelasnya sambil tertawa kecil. Hal itu lantaran Kali Suci dibuka bukan hanya untuk khalayak ramai, sedangkan Gua Pindul memang dibuka agar ramai oleh pengunjung.

Bahkan, jika memang remaja Kali Suci dirasa tidak mampu untuk membuka objek wisata, lebih baik dibiarkan begitu saja. Ia menjelaskan bahwa kelompok remaja Kali Suci tidak menghendaki adanya investasi dari luar untuk masuk. “Hal ini sudah menjadi kesepakatan dari awal. Dalam mengambil keputusan, kami mendasarkannya pada musyawarah bersama,” tegasnya. Lebih baik menunggu sampai masyarakat, terutama kelompok remaja siap daripada diserahkan pihak lain.

Takhanya soal kemandirian dan pemberdayaan masyarakat yang menjadi nilai dasar kelompok remaja Kali Suci. Dalam membangun objek wisata, mereka juga melandasinya dengan wawasan yang ekologis. Hal ini ditunjukkan dengan hal-hal kecil, seperti tidak digunakannya pengaspalan untuk akses jalan ke Kali Suci, tetapi dengan penyusunan batu sebagai landasan jalan masuk agar air hujan tidak melimpah dalam satu titik saja.

“Kalau dilihat, di bawah jalan masuk tadi itu kan gua bawah tanah. Jika diaspal, air hujan tidak akan masuk ke dalam gua,” jelas Winarto. Hal ini bisa menjadikan stalaktit dan stalakmit mati jika tidak ada air tanah yang masuk. Jika stalaktit dan satalakmit mati, ancamannya adalah gua bisa runtuh.

Tidak hanya itu, untuk menjaga biota dan ekosisitem sungai bawah tanah, kelompok remaja Kali Suci membatasi jumlah pengunjung. Menurut penelitian yang sudah dilakukan oleh seorang mahasiswa untuk disertasinya, disebutkan bahwa batas amannya adalah 500 pengunjung per hari. Namun, angka tersebut masih dirasa tinggi oleh kelompok remaja Kali Suci. “Kami mengambil batas 250 pengunjung per hari sebagai batas maksimum,” ujarnya.

Batas itu juga diambil untuk mempertimbangkan kemampuan dari kelompok remaja Kali Suci dalam memandu aktivitas susur gua. “Jangan sampai malah membuat pemandu wisatanya mengerjakan batas yang tidak mampu dilakukannya. Risikonya adalah keamanan.” lanjut Winarto. Dalam memandu wisatawan di Kali Suci juga terdapat batasan jumlah maksimal wisatawan untuk satu orang pemandu, yakni tujuh orang wisatawan.

Hal-hal seperti itu, menurut Winarto, kurang diperhatikan oleh pengelola wisata yang mulai merebak di penjuru Gunungkidul lantaran yang dikejar hanya keuntungan. Baginya, tanpa mempertimbangkan alam, wisata hanya akan menyimpan risiko bencana alam di kemudian hari. Oleh karena itu, ia ingin mencoba membuat wacana lain, yakni bahwa pengelolaan wisata dengan tetap memperhitungkan alam juga bisa menghasilkan keuntungan. Hal tersebut berhasil ia praktikkan di Kali Suci. 

Semua Adalah Bos

Prinsip kerja yang dilakukan oleh kelompok remaja Kali Suci juga menarik untuk disimak. Tidak ada hierarki. Semua hal dilakukan dengan musyawarah. Pembagian kerjanya pun disesuaikan dengan kemampuan setiap remaja. “Tidak ada pemaksaan dan aturan yang begitu mengikat, bahkan bisa dibilang tidak ada aturan,” tutur Winarto dengan gelak tawanya.

Remaja pengelola Kali Suci, menurut Winarto, mengorganisasi dirinya sendiri sesuai dengan yang dibutuhkan dalam mengurus Kali Suci sebagai objek wisata. Hal inilah yang tetap menjaga harmonisasi dan kerukunan di tengah masyarakat. “Di Kali Suci tidak ada konflik sosial seperti di daerah lain ketika membuka objek wisata,” ujarnya.

Winarto menjelaskan bahwa memang sedari awal kelompok remaja Kali Suci tidak menghendaki adanya konflik horizontal. Oleh karena pemberdayaan masyarakatlah yang menjadi tujuan, tanpa adanya kerukunan akan sulit untuk membangunnya. “Kalau tiap hari ribut mending tidak usah buka wisata,” lanjutnya.

Semua dijalankan dengan prinsip keadilan dan demokratis. Karena prinsip tersebut, terbangunlah iklim komunitas yang nyaman untuk saling belajar dan mengembangkan diri masing-masing anggota. Setiap remaja dapat mengukur kemampuannya sendiri dalam melakukan sesuatu.

Banyak keterampilan yang bisa dikembangkan. Winarto mencontohkan banyak remaja Kali Suci yang kemampuan bahasa Inggrisnya berkembang, kemampuan navigasi dan pemetaan susur guanya semakin baik, serta kemampuan pertolongan dan penyelamatan pertamanya semakin mumpuni. “Makanya, komunitas ini tidak hanya menjadi ajang mencari uang. Ada banyak hal yang bisa didapat dan diakomodasi oleh komunitas,” jelasnya.

Interaksi Sosial dan Memanusiakan Manusia

Ramah dan pandai berinteraksi menjadi satu poin lebih yang dimiliki oleh pemandu Kali Suci. “Kami punya database setiap pengunjung. Kami juga membangun interaksi yang menyenangkan dan nyaman kepada pengunjung,” terang Winarto. Bahkan, pada tahun ini ada tiga pasangan yang dipertemukan berjodoh di Kali Suci.

Hal tersebut lantaran memanusiakan manusia menjadi nilai yang selalu dipegang setiap anggota kelompok remaja Kali Suci. “Kami memandang pengunjung tidak hanya sebatas uang, tapi juga persaudaraan,” jelasnya. Hal tersebut yang mulai hilang dari remaja kita saat ini.

Padahal nilai seperti itu, menurut Winarto, merupakan bagian dari promosi untuk meningkatkan pengunjung. Karena pengunjung merasa bersahabat dengan pengelola wisata, mereka pun mempunyai kemungkinan tinggi untuk ikut mempromosikan Kali Suci ke lingkaran jaringan yang mereka miliki.

Takhanya kepada pengunjung, kelompok remaja Kali Suci juga terbuka bagi orang dengan latar belakang identitas berbeda untuk bergabung dan belajar bersama. “Pernah ada orang dari Aceh bekerja dan belajar di sini selama empat tahu. Orang itu anak vespa yang punya rencana keliling Indonesia,” jelasnya.

Ada pula yang berasal dari Banyumas sedang belajar dan bekerja bersama selama dua tahun. Takhanya laki-laki, perempuan pun ada. Dia berasal dari Mojokerto dan sangat berbaur dengan kelopok remaja Kali Suci. “Kami memang membuat ini semua dengan iklim yang nyaman dan inklusif tanpa membeda-bedakan,” ujar Winarto. Tidak ada seragam kerja  yang menjadi standar operasi. Yang terpenting adalah rapi, itu sudah cukup bagi mereka. Winarto mengartikan itu dengan tidak adanya penyeragaman. Mereka menghargai setiap perbedaan.

Hingga hari ini, kelompok remaja di Kali Suci terdiri atas 50 orang. Kebanyakan dari mereka adalah warga lokal yang tinggal di sekitar Kali Suci. “Kadang kalau sedang musim liburan, ada sekitar 100-an orang yang bergabung,” tutup Winarto.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: REMAJA KALI SUCI DAN PARIWISATA EKOLOGIS YANG MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/remaja-kali-suci-dan-pariwisata-ekologis-yang-memberdayakan-masyarakat/