RESENSI: KEBIJAKAN BHAGAVAD GITA BAGI GENERASI Y

 In Ulasan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dok. gramedia.com

Judul : Kebijakan Bhagavad Gita bagi Generasi Y
Penulis : Anand Krishna
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2017
Tebal : viii + 181 halaman

Suatu hari datang pada saya sebuah pertanyaan besar tentang hidup yang saya jalani. “Apakah saya bahagia?” Pertanyaan yang terdengar sepele namun ternyata sangat sulit saya jawab. Kesulitan ini muncul karena saya melihat feeds Instagram teman saya yang rapi sekali. Saya melihat posting-an medsos teman saya yang isinya jalan-jalan ke tempat-tempat jauh. Saya melihat teman satu geng saya adalah anak-anak hits. Saya melihat pacar baru teman saya yang tampan, kaya raya, dan romantis. Saya melihat teman saya cantik sekali wajahnya. Saya melihat teman saya memiliki kamera dan handphone terbaru. Saya melihat teman saya berhasil mendapatkan kesempatan kuliah di luar negeri. Saya melihat teman saya menjadi juara perlombaan nasional. Saya melihat keluarga teman saya sangat harmonis. Saya melihat teman saya sudah bekerja di perusahaan multinasional. Saya melihat teman saya menjadi religius sekali.

Pemikiran tentang kehidupan teman saya membuat saya terus memikirkan tentang kebahagiaan. Hingga kemudian saya dipertemukan dengan buku berjudul Kebijakan Bhagavad Gita bagi Generasi Y yang ditulis oleh Anand Krisnha. Buku kecil berwarna hijau ini adalah ringkasan sederhana dari kitab Bhagavad Gita yang ditulis oleh Sri Krishna Dvipayana Vyasa atau Resi Byasa. Bhagavad Gita merupakan bagian dari karya sastra kuno termasyhur, Mahabharata. Dialog di dalam Mahabharata menampilkan Sri Krishna sebagai personalitas Tuhan Yang Maha Esa, yang menjadi pembicara utama dan menguraikan ajaran-ajaran filsafat vedanta, serta menampilkan Arjuna sebagai murid langsung Sri Krishna yang menjadi pendengarnya. Bhagavad Gita merupakan ajaran universal yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia dan berlaku sepanjang masa.

Diceritakan secara singkat dalam buku hijau tentang Arjuna, ksatria yang sakti dari Pandawa diserang rasa bimbang ketika harus melawan saudaranya sendiri, yakni Kurawa. Berhadapan dengan para tokoh terhormat, termasuk para gurunya, Arjuna berkecil hati. Ia pun mempertanyakan kembali makna pertempurannya. “Akankah aku memenangkan perang ini?” Makna di balik keraguan itu adalah mempertanyakan ulang pemahaman Arjuna akan makna hidup dan kematian, makna karya dan kewajiban, yang secara pelan dan pasti disingkapkan oleh sang guru sejati, Sri Krishna. Pertanyaan dan ketakutan yang dihadapi oleh Arjuna itu juga dihadapi oleh remaja saat ini, yaitu pertanyaan tentang jati diri dan tantangan dalam hidup ke depan.

Beberapa bagian yang paling menusuk jantung saya adalah pesan untuk menghadapi permasalahan hidup. Sering kali, energi yang meluap-luap sebagai anak muda kemudian membuat saya lebih sering menghindari permasalahan. Sri Krishna kemudian berkata kepada Arjuna yang ingin menghindari pertempuran, “Dengan menganggap sama suka dan duka, keberhasilan dan kegagalan, kemenangan dan kekalahan, bertempurlah! Demikian kau akan bebas dari segala dosa, kekhilafan yang dapat terjadi dalam menjalankan tugasmu (2:28).” Tidak ada jalan lain yang bisa dilakukan kecuali menghadapi masalah tersebut, karena dalam menghadapi masalah bukan tentang baik buruk lagi, melainkan tentang keberanian memulai dan mengakhiri.

Perkara energi yang meluap-luap ini mendatangkan perkara lain, yakni pikiran yang tidak bisa dikendalikan. Saya menjadi mudah khawatir, mudah tidak fokus, mudah terluka, mudah takut pada apa yang masih sangat jauh dari saya, dan juga mudah untuk mendendam. Semuanya berkecamuk dan sulit sekali saya kendalikan hingga saya mencapai taraf depresi. Persoalan pengendalian pikiran ini ternyata memang sukar, sebagaimana yang dinasehatkan oleh Sri Krishna, “Arjuna, niscaya pikiran memang liar–pun sulit ditaklukkan. Namun ia dapat dikendalikan dengan upaya tanpa henti, dan dengan mengembangkan ketidakterikatan (pada segala pemicu di luar yang menambah keliarannya), demikian adanya, wahai Arjuna (6:35).” Maka butuh kebulatan tekad dan pengorbanan yang besar untuk mengendalikan diri hingga terasa seperti mustahil.

Ketika membaca buku hijau yang dapat dibawa ke mana-mana ini (saya membawanya ke kafe dan kampus), saya seperti sedang diajak berbicara dengan seorang guru yang tidak menggurui. Saya seperti bertemu dengan sesuatu yang sudah sangat tua dan sangat berwibawa. Kebijaksanaan dalam buku ini meski ditulis dengan bahasa yang ringan dan ringkas, tetapi tidak mengurangi sakitnya tamparan terhadap diri ini karena kejujuran dalam setiap kalimatnya. Saya juga merasa bangga bahwa saya bisa membaca kebijaksanaan kuno di zaman yang sangat meremehkan keluhuran pekerti karena arus modernisasi, globalisasi, dan komodifikasi. Saya membacanya berulang-ulang untuk meyakinkan diri saya, bahwa, “Tak seorang pun bisa hidup tanpa melakukan sesuatu. Setiap orang senantiasa terdorong untuk berbuat sesuai sifat dan kodrat alaminya (3:5),” sebagaimana yang diucapkan Sri Krishna kepada Arjuna. Namun, jika menginginkan penjelasan yang lebih detail, kita tetap harus membaca kitab Bhagavad Gita yang supertebal!

Kembali ke pertanyaan saya yang belum saya jawab. “Apakah saya sudah bahagia?” Saya memang belum bisa menjawabnya, tetapi setidaknya saya tidak lagi amat tertarik dengan kehidupan teman saya dan lebih tertarik untuk mengelola energi saya untuk melakukan hal-hal kreatif!

Wejangan tokoh Khrisna kepada Arjuna dalam Bhagavad Gita dari zaman kuno sampai sekarang dan yang akan datang akan tetap relevan. (Semoga) Bhagavad Gita karya Anand Krishna ini akan memberikan pencerahan kepada semua pembaca.

Prof. Dr. Marsono, S.U.; Ketua Program Studi Pariwisata, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: RESENSI: KEBIJAKAN BHAGAVAD GITA BAGI GENERASI Y!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/resensi-kebijakan-bhagavad-gita-bagi-generasi-y/