RUANG-RUANG YANG MESTI DIREBUT PENULIS PEREMPUAN DI INDONESIA

 In Liputan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Apa yang bisa kamu tulis, tulislah. Kesempatan sudah makin banyak, tinggal kita mau merebutnya atau tidak.

Dok. Happy Nuraini

“Bersama kamu, aku tidak takut lagi menjadi pemimpi. Bersama kamu, aku ingin memberi judul bagi buku ini. Karena hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat, segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar. Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.”

Kutipan tersebut diambil dari buku Perahu Kertas karya Dee Lestari, penulis yang karyanya menemani masa-masa jatuh cinta saya yang lebih banyak kandas dibanding  suksesnya saat di sekolah menengah atas. Dee kerap menyihir pembaca dengan kemampuan bertuturnya, pun lewat kerja-kerja risetnya sebelum menulis. Baginya, riset perlu dilakukan penulis bukan hanya sebagai pengganti kekuatannya bercerita, melainkan juga untuk memperkuat cerita yang ditulisnya. Karya-karyanya menawarkan cara pandang baru terhadap hal-hal makro sampai mikro, hingga mengangkat isu-isu yang jarang diketahui khalayak. Di buku Partikel, Dee mendedah keberadaan entitas jamur sebagai pembuka gerbang spiritualitas. Narasi cerita dan sains dikawinkan di Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Kecoak bisa memiliki kisah romansa tersendiri di kumpulan cerpen Filosofi Kopi. Menurut saya, sosok unik berzodiak Aquarius ini tidak hanya menulis sebagai perempuan, tapi sebagai manusia yang peka akan peristiwa di sekitarnya.

Selain Dee, ada beberapa nama penulis perempuan Indonesia yang menurut saya berada di garda depan barisan penulis yang ruangnya masih banyak diokupasi laki-laki. Sebut saja Nh. Dini, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, hingga Intan Paramaditha. Namun demikian, terkadang masih ada stereotipe yang melekat kepada penulis perempuan di negeri ini. Salah satunya adalah di balik kemampuan kepengarangan seorang perempuan, ada bayang-bayang dan kontribusi laki-laki di sana. Seolah-olah perempuan tidak punya kapasitas dan level intelektual yang sama dengan laki-laki. Apa betul seperti itu?

Dok. Ismi Rinjani

Beberapa hari yang lalu, tepatnya dari 10—13 September 2018, Kampung Buku Jogja digelar untuk keempat kalinya di gedung PKKH Universitas Gajah Mada. Saya datang pada hari ketiga dan terdorong untuk mengikuti panel diskusi yang bertajuk “Jejak Langkah Penulis Perempuan”. Dengan kantung mata menghitam karena kebanyakan begadang, saya pancal saja dan berbekal rasa penasaran. Ketiga pembicaranya adalah Kalis Mardiasih, seorang kolumnis detik.com yang sedang giat-giatnya mengkaji soal Islam dan perempuan. Kemudian ada Wening Udasmoro, dosen Sastra Prancis sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM. Selanjutnya adalah Yona Primadesi, pegiat literasi yang juga dosen Sastra Indonesia di Universitas Negeri Padang. Amanatia Junda, penulis sekaligus editor buku, didaulat sebagai moderatornya.

Dalam diskusi yang berlangsung selama dua jam lebih ini, saya seperti sedang mencerna makanan utama yang berat namun bergizi. Nalar saya dipaksa untuk melumat sajian-sajian berserat tinggi secara perlahan namun pasti. Benar-benar asupan baik bagi tubuh. Kalis dan Ibu Wening setuju bahwa Ayu Utami berperan besar dalam dinamika sastra perempuan di Indonesia. Yona menimpali: tidak ada yang paling berpengaruh, namun ia berpendapat bahwa Rasuna Said dan Rohana Kudus dari Minangkabau punya peran penting jauh sebelum nama-nama perempuan penulis masa kini muncul.

Nama-nama penulis perempuan tersebut boleh jadi memiliki peran signifikan dalam dunia literasi. Akan tetapi, kemudian, realitas dunia literasi, khususnya literasi perempuan yang ada, berkata lain. Kalis bercerita, dari 10 penulis perempuan yang diajak untuk menulis buku oleh sebuah penerbitan yang cukup besar di Indonesia, hanya 3 orang yang menyanggupi. Selebihnya beralasan baru melahirkan dan merawat anak. Makanya, kalau pilih pasangan, cari yang mau berbagi tugas di rumah ya~ Gitu~

Perempuan butuh uang dan ruang pribadi untuk menulis. Begitulah buah pikir Virginia Woolf, seorang novelis Inggris yang dianggap sebagai salah satu tokoh terbesar sastra modernis dari abad ke-20. Benarkah demikian? Selama ini, laki-laki memang lebih leluasa menulis daripada perempuan. Ia bisa nongkrong di depan mesin tik atau komputer dari pagi ke pagi lagi tanpa perlu mengurusi hal-hal domestik. Berbeda dengan perempuan yang mesti mengurus dapur, membersihkan rumah, hingga mengurus anak. Begitulah konstruksi budaya yang sudah berlangsung sejak lama. Kalau mau menulis, meja makan mesti terisi penuh dulu, lantai harus bersih cling, baju-baju sudah terlipat dengan baik di lemari.

Yona menyatakan, sebelum menulis, seorang perempuan mesti selesai dulu dengan dua hal: apa itu penulis dan apa itu perempuan sehingga perempuan bisa keluar dari keperempuanannya dan menulis sebagai manusia yang utuh. Kesetaraan gender bukan tentang perempuan lebih hebat dari laki-laki maupun sebaliknya, tetapi keduanya memiliki kesempatan yang sama dan adil dalam kehidupan. Ibu Wening, Kalis, dan hadirin pun turut mengamininya.

Namun demikian, kini ruang-ruang menulis bagi perempuan sudah terbuka lebar. Beberapa kawan perempuan saya berprofesi sebagai penulis. Mereka membuktikan bahwa mereka bisa mandiri dan produktif tanpa bayang-bayang siapa pun di belakangnya. Perempuan memegang peranan penting untuk mengedukasi dan mengenalkan nilai-nilai ke anggota keluarganya dan juga masyarakat. Hélène Cixous, penulis perempuan kenamaan Prancis, menyerukan “Dare to write!

Berani untuk menulis. Apa yang bisa kamu tulis, tulislah. Kesempatan sudah makin banyak, tinggal kita mau merebutnya atau tidak.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: RUANG-RUANG YANG MESTI DIREBUT PENULIS PEREMPUAN DI INDONESIA!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/ruang-ruang-yang-mesti-direbut-penulis-perempuan-di-indonesia/