RUBAH LOST IN PUPPETS: MISI BUDAYA RUBAH DI SELATAN

 In Tulisan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dok. Rubah di Selatan

Ada tanggung jawab besar di pundak Ronie Udara (perkusi), Malinda (vokal), Gilang (gitar, vokal), dan Adnan (kibor) usai menerima penghargaan sebagai band dengan karya kreatif dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) beberapa waktu lalu di Yogyakarta. Mereka, yang ketika melebur akrab dikenali sebagai Rubah di Selatan, harus membuktikan diri bahwa penghargaan itu layak. Band yang bergenre folk itu menggondol label kreatif di belakang nama mereka, yang bukan hanya aktivitas estetik semata, melainkan juga menyibakkan jalan hidup partikular yang membawa nilai-nilai.

Mereka menjawab tantangan itu lewat sebuah pertunjukan hasil kerja sama Djarum Foundation dan Tim Garin Nugroho di Galeri Indonesia Kaya (GIK) Jakarta, Sabtu (3/3) sore lalu. Bertajuk “Rubah Lost in Puppets”, pertunjukan ini menggabungkan musik kontemporer dan wayang. Band yang lagu-lagunya sempat jadi backsound peragaan busana sebuah perusahaan batik raksasa Jerman di Jepang itu memvisualkan enam karya lewat wayang dengan Ki Hariyanto dan Ki Wahono sebagai dalangnya.

“Tajuk ‘Rubah Lost in Puppets’ adalah gambaran ketersesatan kami di kota besar, dalam hal ini Jakarta. Tapi ketersesatan ini punya konotasi yang baik di mana kami bisa berbagi cerita dengan orang-orang baru yang asing di lingkungan yang juga serba baru. Alasannya sesederhana itu saja,” beber Ronie.

Ada enam lagu yang mereka bawakan di depan lima puluhan orang yang menyaksikan pertunjukan. Enam lagu saling berkaitan satu sama lain dan membentuk jalan cerita di tangan para dalang. Mereka yang sering datang ke pertunjukan Rubah di Selatan di Yogya tak akan asing dengan repertoar yang dibawakan karena diambil dari Macapat Jawa tentang fase kehidupan. Rubah juga membuat 40-an jenis wayang, termasuk lakon mereka sendiri, yang digambarkan sebagai punakawan.

Dok. Rubah di Selatan

Malam itu, Rubah di Selatan melangkah keluar dari belakang panggung bertelanjang kaki. Penonton nyaris tak bisa melihat ekspresi muka mereka. Ruang pertunjukan gelap. Penonton hanya bisa melihat layar berukuran sedang yang digunakan untuk memantulkan bayangan wayang sebagai panggung utama dari Ki Hariyanto dan Ki Wahono. Pertunjukan dibuka dengan Selaba, lagu pembuka yang menceritakan fase manusia di dalam kandungan yang divisualkan dengan gunungan besar dan dua jenis wayang yang menyimbolkan kehidupan dalam rahim Ibu Sang Rubah.

Lakon lahir ke dunia, bayi suci yang tak tahu apa-apa. Nyanyian Ronie di depan kendinya menjelma jadi rapalan mantra, melanjutkan kisah dalam lagu berjudul Malicious Time. Fase kehidupan selanjutnya diceritakan dengan Water yang menggambarkan Sang Lakon dalam cerita wayang tengah mencari jati diri. Lalu Lil Fox menggambarkan lakon seolah mendapat jawaban dari pencarian jati diri. Ia menyadari identitas, teman, dan cinta sebelum akhirnya menemukan persoalan hidup yang dilagukan dalam Mata Air Mata. Pertunjukan ditutup dengan lagu terakhir berjudul Leaving Anthera yang menggambarkan saat lakon berpulang ke Yang Maha.

Penonton tidak menyadari bahwa pertunjukan kolaborasi itu selesai. Ketika lampu dinyalakan, wajah-wajah mereka terlihat asing dalam kekhusyukan. Maklum, apa yang Rubah di Selatan suguhkan bukan pertunjukan yang masuk dalam kategori populer. Cerita lagu yang divisualkan lewat wayang memang asing bagi anak muda kekinian—sebagian besar hanya bisa dijumpai dalam upacara atau hajatan besar bagi yang bersuku Jawa. Setidaknya, penonton butuh beberapa menit untuk menyadari bahwa pertunjukan telah usai, yaitu ketika melihat keempatnya bergandengan tangan lalu membungkuk di depan penonton. Rubah pun disergap tepuk tangan meriah.

Usai pertunjukan, Rubah bercerita panjang lebar di depan penonton. Mereka mendiskusikan karya dan alasan menggelar pertunjukan yang berlangsung selama 60 menit itu. Ada yang tak puas karena menganggap pertunjukan terlalu singkat, padahal konsepnya sangat menarik dan jarang ditemui. Ada pula yang mengaku pertunjukan itu mampu merapikan pikiran di tengah pengapnya persoalan di Jakarta.

Ruang diskusi yang disediakan tak disiakan. Rubah di Selatan berbagi mimpi mereka di depan penonton. “Di pertunjukan ini, kami membawa misi budaya. Kami ingin mengubah pakem wayang yang selama ini membosankan di mata anak muda. Walau cara kami kontemporer, paling tidak, setelah pertunjukan ini, anak-anak muda seperti kita di sini mau lagi menengok ke wayang, baik dari cerita maupun visual. Harapannya, bisa lebih memiliki lagi,” katanya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: RUBAH LOST IN PUPPETS: MISI BUDAYA RUBAH DI SELATAN!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/rubah-lost-in-puppets-misi-budaya-rubah-di-selatan/