SERIAL ’13 REASONS WHY’ DAN PERUNDUNGAN DI SEKITAR KITA

 In Opini, Ulasan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dok. IMDB

Hannah Baker (diperankan oleh Katherine Langford) adalah seorang remaja perempuan yang memutuskan untuk bunuh diri setelah sebelumnya membuat 13 kaset rekaman audio berisi alasan-alasan mengapa ia mengakhiri hidupnya. Kumpulan rekaman tersebut menceritakan peristiwa-peristiwa memilukan tentang satu atau lebih dari 13 individu, yang menurutnya, turut andil dalam pembuatan keputusan bunuh diri tersebut.

Instruksinya jelas; setiap orang yang menerima paket rekaman tersebut adalah salah satu alasan mengapa ia bunuh diri, dan setelah selesai mendengarkan semuanya, mereka harus mengoper paketnya kepada orang berikutnya. Jika ada yang memutuskan untuk melepas rantai itu maka satu set kaset terpisah akan disebarkan ke publik. Setiap rekaman ditujukan kepada orang terpilih di sekolahnya dengan rincian keterlibatan mereka dalam bunuh diri Hannah Baker. Ini seperti sebuah upaya seorang Hannah untuk “balas dendam” terhadap apa yang dilakukan teman-temannya kepadanya semasa hidup dengan memberi tekanan mental kepada mereka.

13 Reasons Why adalah sebuah serial drama yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Jay Asher dan dirilis oleh Netflix pada tahun 2017. Tontonan ini menjadi populer di kalangan remaja Amerika karena ceritanya yang memikat dengan plot yang membuat penasaran.

Alur cerita yang maju-mundur serta diimbangi dengan pemilihan tone warna yang kontras saat menceritakan masa kini dan masa lalu membuat serial ini menarik untuk diikuti. Tokoh-tokohnya pun tidak stereotip atau pun superfisial. Serial ini menunjukkan bahwa remaja yang populer pun memiliki alur cerita yang kompleks, misalnya tokoh Justin Foley (dimainkan oleh Brandon Flynn), Si Bintang Basket yang dipuja-puja oleh satu sekolah karena bakat dan paras gantengnya. Di balik kepopuleran Justin Foley, ternyata ia memiliki latar belakang keluarga yang berantakan. Orang-orang yang mengidolakan dan ingin dekat dengan Justin Foley karena kepopulerannya tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kedirian Justin Foleyn secara utuh. Mereka hanya peduli bahwa Justin Foley berbakat dan ganteng, serta ingin dekat dengannya. Padahal, Justin lebih butuh ‘teman’ berbicara daripada ‘pengidola’, karena pada kenyataannya banyak pengidola pun tidak membantu sama sekali persoalan Justin secara pribadi. Tidak hanya Justin Foley, hampir semua tokoh remaja yang digambarkan dalam serial tersebut memiliki persoalan serta dilemanya masing-masing.

Dok. IMDB

Kontroversi serial ini tak dapat terhindarkan, terutama di kalangan para orang tua, psikolog, dan ahli kesehatan mental. Hal ini karena secara visual serial ini menggambarkan banyak detail pada topik-topik yang sulit seperti perundungan (bullying), pelecehan, mengemudi dalam keadaan mabuk, hingga pemerkosaan. Mereka menyebut bahwa beberapa adegan memuat pesan glorifikasi akan tindakan bunuh diri.

Akan tetapi, Netflix memiliki argumen lain. Mereka memaparkan bahwa penulis skenario 13 Reasons Why, Nic Sheff, telah berkonsultasi dengan ahli medis pada masa penulisan skripnya. “Anggota kami menuturkan bahwa serial ini telah membantu untuk memantik pembicaraan penting dalam keluarga dan komunitas di seluruh dunia,” ujarnya. Pada akhir seri, Netflix membuat video dokumenter yang berjudul Beyond the Reasons yang memuat diskusi antarpemain, produser, dan ahli kesehatan mental tentang adegan-adegan yang dianggap tabu. Mereka rasa semua adegan layak ditampilkan sebagai pesan yang mesti disampaikan kepada para pemirsa. Dalam video ini, Brian Yorkey selaku kreator berkata, “Kami mau cerita ini menyakitkan untuk ditonton karena kami ingin menyampaikan bahwa tidak ada manfaatnya—sama sekali—dalam keputusan untuk bunuh diri.”

Persoalan-persoalan yang ditampilkan dalam serial 13 Reasons Why sangat mudah ditemui di kalangan remaja. Misalnya rutinitas penggunaan media sosial dalam keseharian anak muda terekam dalam episode pertama. Foto Hannah Baker dengan rok tersingkap yang dipotret oleh teman kencannya, Justin Foley, menjadi viral setelah diunggah dan membuat Hannah disebut sebagai perempuan murahan. Kejadian ini hanyalah awal dari serangkaian kejadian-kejadian lain yang kian menghancurkan reputasi, kepercayaan diri, serta semangat Hannah untuk melanjutkan hidup. Meski demikian, bukan berarti Hannah tidak mencari bantuan. Ia sempat meminta pertolongan dan saran dari guru konselingnya di sekolah, namun usahanya menemui jalan buntu, mengingat gurunya nampak acuh tak acuh dengan apa yang menimpa Hannah.

Fenomena ini pun terjadi di Indonesia. Perundungan di dunia maya (cyber bullying) marak terjadi, terutama pada remaja. Perilaku ini sangat rentan terjadi pada remaja putra dan putri karena berbanding lurus dengan tak berbatasnya akses ke media sosial. Kesadaran sikap dalam bermedia sosial sangat penting untuk dipahami netizen, khususnya orang dewasa, dalam merespons produk yang dihasilkan oleh remaja di media. Misalnya, ketika ada anak remaja yang mengunggah foto dengan pacarnya, orang dewasa yang tidak setuju akan hal itu langsung memberi kritikan tajam sekaligus menyebarkannya dan membuatnya viral. Bagaimanapun juga, sikap itu sebenarnya kontradiktif dengan maksud Si pemberi kritikan yang mungkin pada awalnya ingin mengingatkan. Mereka kemudian tidak memikirkan sisi psikologis Si remaja yang merasa terhukum sebelum ia dapat mengerti.

Perundungan (bullying) yang merupakan tindakan negatif yang dilakukan secara berulang oleh seseorang atau sekelompok orang yang bersifat menyerang ini memiliki banyak akibat buruk. Perundungan terbagi menjadi dua kategori, yaitu perundungan secara langsung dan tidak langsung. Perundungan secara langsung misalnya perundungan yang dilakukan secara verbal maupun fisik, sedangkan perundungan tidak langsung misalnya dengan cara pengucilan dalam hubungan pertemanan.

Perundungan dapat mengakibatkan banyak hal. Depresi, rendah diri, dan bahkan percobaan bunuh diri marak terjadi pada korban-korban perundungan. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan dunia tahun 2015, bunuh diri di sejumlah negara merupakan penyebab kematian nomor dua pada penduduk usia 15−29 tahun atau usia produktif. Data WHO tahun 2015 mencatat bahwa setiap tahunnya terdapat 800.000 orang meninggal dunia karena bunuh diri. Di Indonesia, pada tahun 2012, angka bunuh diri mencapai 4,3 per 100.000 populasi. Angka yang besar ini mengingatkan kita untuk lebih aware akan penyebab-penyebab percobaan bunuh diri, yang salah satunya adalah perundungan.

Menurut saya, serial drama ini patut diapresiasi karena kita dapat menyelami lebih jauh pemikiran, perasaan, dan pergulatan batin yang dihadapi oleh remaja. Memang diperlukan dampingan dan bimbingan orang tua bagi para remaja yang ingin menonton serial ini agar tercipta diskusi setelah menonton. Dialog diperlukan agar tercipta pengertian yang mendalam antara anak dan orang tua, terutama mengenai masalah-masalah yang dibahas dalam 13 episode serial drama tersebut. Setelah menonton, saya pun mulai memahami bagaimana perilaku-perilaku kecil dan sederhana ternyata dapat memengaruhi aksi seseorang. Sebagai orang dewasa, kita selayaknya mampu mendengarkan dengan seksama persoalan-persoalan yang dihadapi para remaja ini. Dengan mendengar, kita dapat memahami. Memulai dengan mendengarkan, kita mampu memberi saran dan pertolongan yang tepat sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.

“Semua harus membaik. Cara kita memperlakukan orang lain, dan menjaga satu sama lain. Harus lebih baik, entah bagaimana caranya.”

Begitulah kalimat yang diucapkan oleh Clay Jensen (Dylan Minnette), tokoh protagonis dalam serial ini di episode terakhir yang mengajak kita untuk mengubah sikap kepada orang lain ke arah yang lebih baik, karena sesungguhnya kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam kehidupan seseorang, kecuali hidup kita sendiri. Sosok yang terlihat memiliki segalanya bisa jadi sedang menghadapi masalah yang berat. Setiap orang memiliki cara menghadapi tekanan hidup yang berbeda-beda. Selalu perlakukan orang lain dengan hormat, karena kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: SERIAL '13 REASONS WHY' DAN PERUNDUNGAN DI SEKITAR KITA!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/serial-13-reasons-why-dan-perundungan-di-sekitar-kita/