SOSOK KARTINI DALAM DUA GENERASI

 In Opini
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dok. Danang Pamungkas

Tanggal 21 April bangsa Indonesia memperingati hari lahirnya pahlawan nasional, Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat. Kartini yang selama ini dikenal sebagai tokoh emansipasi perempuan merupakan salah satu tokoh penting Indonesia abad ke-20.  Diperingatinya kelahiran Kartini juga merupakan wujud mengingat kembali perjuangannya dalam menuntut kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan di ruang publik. Kartini telah memberikan landasan untuk perempuan memilih jalan kehidupan. Namanya selalu harum, dikenang, dan dicintai oleh semua generasi.

Saya termasuk orang yang beruntung karena sejak kecil hingga dewasa bisa melakukan ziarah kapan saja ke tempat peristirahatan beliau. Maklum, makam Kartini yang terletak di Desa Bulu, Kabupaten Rembang, dekat dengan rumah saya. Perjalanan menuju makam pun hanya butuh waktu 30 menit menggunakan sepeda motor. Sejak saya duduk di bangku SD, guru sekolah selalu mengajak siswa untuk berziarah setiap tanggal 21 April. Tradisi ini ternyata diikuti oleh semua sekolah dasar di Kecamatan Bulu. Semua guru TK-SD-SMP wajib mengajak siswanya untuk mendoakan dan mengenang jasa Kartini.

Bahkan, saat duduk di bangku SMP, saya dan teman-teman melakukan kegiatan gotong royong untuk membersihkan sekitaran makam dari rumput dan sampah plastik. Pada saat itu, saya sangat menyukai kegiatan ini. Pertama, tidak ada jam sekolah dan bisa main sepuasnya. Kedua, bisa pulang pagi. Ketiga, ada uang jajan lebih.

Dulu, saya adalah remaja yang “nakal” karena tidak sepenuhnya melakukan bersih-bersih makam dan sibuk main di sekitaran waduk dekat makam, misalnya sekadar nongkrong bersama teman. Namun demikian, saat berziarah ke makam beliau, saya merasa merinding. Saya merasa dekat dengannya. Beliau adalah salah satu tokoh inspiratif yang dikenal oleh masyarakat luas.

Pagi hari, saya bersiap untuk berziarah. Kenangan masa lampau yang masih melekat di pikiran tak hilang sampai sekarang. Sudah enam tahun saya tak pernah lagi ziarah ke makam karena berbagai macam kesibukan yang saya lakukan di Yogyakarta. Dengan bertambahnya usia, saya sangat malu karena baru mengetahui biografi hidup Kartini saat membaca bukunya, Habis Gelap Terbitlah Terang dan buku Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja. Dari dua buku tersebut, saya tersadar bahwa kebesaran nama Kartini bukan hanya sebatas Tokoh Emansipasi Perempuan, melainkan juga peletak dasar pertama tonggak perjuangan nasional melawan kolonialisme Belanda.

***

Hari itu jalanan mulai padat. Suasana pun begitu ramai. Anak-anak TK dan SD berfoto di depan patung Kartini yang berdiri anggun membawa buku di tangan kirinya. Orang tua sibuk memfoto anaknya, ada juga yang sibuk nge-vlog dan ber-selfie di depan makam. Parkiran mulai sesak, mobil berdatangan tiap menit sehingga juru parkir sibuk bekerja. Saya harus berdesakan dengan pengunjung agar bisa melewati tangga makam. Terlihat bagaimana ratusan orang berziarah silih berganti. Baju yang digunakan pengunjung pun bermacam-macam. Ada pengunjung perempuan yang memakai kebaya Jawa, hijab masa kini, dan baju muslim. Beberapa pengunjung laki-laki memakai topi blangkon, baju batik, kopiah, baju muslim, dan pakaian santai.

Saya duduk di pelataran depan makam. Di samping saya ada Ibu Yanti, Guru TK Desa Kaliombo, yang sedang berisitirahat menunggu siswanya selesai berdoa. Saya cukup lama berbincang dengannya, mulai dari mempertanyakan alasan guru mengajak murid-murid untuk berziarah sampai makna Hari Kartini bagi perempuan. “Hari Kartini buat perempuan itu sangat spesial. Ibu Kartini yang mengangkat derajat kaum perempuan. Kita ini kan meneruskan generasi dan perjuangannya,” ucap Bu Yanti sambil terus menekankan kata “emansipasi perempuan” selama kami berbincang.

“Kami dari Desa Kaliombo kan, deket untuk main ke makam. Biar anak-anak tahu ini pahlawan kita, biar anak-anak mengerti dulu perjuangannya, tahu namanya Kartini dan lahirnya. Yang jauh aja kenal, masak yang dekat gak mau kenal”, jelas Bu Yanti ketika kami berbincang tentang tradisi ziarah ke makam R.A. Kartini.

Seorang juru kunci makam sangat sibuk melayani peziarah yang jumlahnya kian bertambah. Ia juga beberapa kali menyapu pelataran makam yang berdebu. Juru kunci makam ini bernama Wartono (40 tahun). Ia mewakili dinas sosial dan keluarga besar Djojo Adhiningrat untuk merawat dan mengelola makam. Ia sudah bekerja selama 16 tahun, namun baru diberikan amanah menjadi juru kunci pada 1 April. Dulunya ia hanya membantu juru kunci karena kebetulan juru kuncinya sakit sehingga ia yang menggantikannya. Ia bercerita mengenai persiapan ziarah yang tidak memakan banyak waktu karena hanya perlu menyediakan lahan parkir yang luas. Selain itu, makam selalu dibersihkan sehingga ia tidak memerlukan banyak persiapan. Ia bercerita bahwa peziarah yang datang setiap tahun semakin berkurang.

“Kita lihat kondisi makam sekarang, dengan tahun yang lalu agaknya kian tahun kian berkurang. Rata-rata pengunjung tiap tahun mengalami penurunan, kadang 20.000 pengunjung, kadang 10.000 pengunjung yang datang. Cuma dari kalkulasi pengunjung yang terbanyak malah dari luar kota Rembang. Blora persentasenya 30%, kalau Rembang hanya sekitar 10%.” cerita Wartono di sela-sela istirahatnya hari itu.

Saya pun merasakan bagaimana makam Kartini ramai hanya pada saat bulan April. Setelah itu, makam ini begitu sepi. Sejak saya duduk satu jam di makam, tak terlihat siswa sekolah SMP-SMA yang datang untuk berziarah. Padahal, pada generasi saya, siswa sekolah berebut tempat duduk untuk berdoa di dalam makam, tetapi sekarang kondisinya sudah berubah.

Walaupun pengunjung siswa SMP-SMA menurun, peringatan Hari Kartini tahun ini terasa spesial. Ada banyak kegiatan yang diinisiasi oleh warga, ormas, dan pemerintah, seperti kegiatan perkemahan sekolah, istighosah, dan karnaval desa sekabupaten. Saya juga menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diselenggarakan oleh PAC Fatayat NU, Bulu. Baru kali ini ada kegiatan istighosah. Ibu-ibu, remaja, dan anak-anak duduk di bawah pohon beringin untuk berteduh sambil mendengarkan tausyiah. Saya pun berbincang dengan Ubach, Wakil Ketua PAC Fatayat NU, Bulu. Kebetulan ia adalah tetangga saya sehingga saya tak canggung untuk berbincang mengenai kegiatan ini serta motivasi penyelenggaraannya.

“Acara ini diprakarsai oleh Gus Tutut sebagai Gp Ansor, beliau memberikan wacana kepada kita bagaimana kalau Fatayat mengadakan istighosah di Bulu supaya mengingat sejarah Ibu R.A. Kartini. Sebenarnya saya selaku tuan rumah membuat event seminggu kemarin untuk merektur anak muda dari kegiatan fashion show dan karaoke dari pemuda-pemudi. Tapi, ternyata yang ikut itu-itu saja. Siapa tahu dengan adanya pengajian ini setidaknya masyarakat bisa saling membaur,” ungkap Ubach.

Tidak adil kalau saya hanya berbincang dengan generasi tua. Saya pun berkeliling lokasi untuk mendengarkan cerita remaja yang beberapa kali disinggung kurang berpartisipasi aktif dalam perayaan Hari Kartini. Beberapa kali saya ingin berbincang dengan gerombolan remaja yang  sedang nongkrong di warung, namun mereka malu untuk saya wawancara. Akhirnya, saya bertemu dengan dua sejoli yang tengah duduk santai di parkiran sambil menyeduh minuman kemasan, Setiyono (18 tahun) dan Galuh (18 tahun). Keduanya saat ini duduk di bangku kelas 3 SMA. Mereka bercerita bahwa bermain ke makam adalah cara terbaik untuk mengisi waktu luang karena pada kelas 3 sudah tidak ada lagi kegiatan ziarah yang diadakan oleh sekolah. Dengan santai keduanya bercerita mengenai makna emansipasi perempuan bagi remaja.

“Menurut saya, emansipasi itu penting ya. Apalagi cewek sekarang kan, juga banyak berperan di dunia globalisasi. Jadi Kartini zaman sekarang gak harus pakai kebaya dan kuno, yang penting jadi cewek sekarang harus bertabiat baik, terus berperan baik sesuai profesinya, dan berprestasi,” ucap Galuh.

“Mungkin tempat ini kurang disosialisasikan, jadi belum banyak yang tahu apalagi anak muda ya, males dan jalannya ke tempat lain. Apa lagi bisa dilihat anak-anak dan orang tua kan, pakai kebaya hanya pada Hari Kartini aja, jadi sayang kalau dilewatkan. Setelah berziarah, saya merasa terinspirasi sosok Kartini. Tapi, sebenarnya mengenang enggak harus ke makam sih, biasanya kalau ada lomba Kartinian atau pemilihan Mbak/Mas Rembang kita diwajibkan mempelajari cerita seluk-beluk hidupnya R.A. Kartini”, lanjut Galuh terkait menurunnya jumlah pengunjung tiap tahun.

Setiyono berharap bahwa cerita Kartini bisa diketahui oleh anak-anak muda. “Orang  luar kota saja pada datang, masa orang asli Rembang tidak tahu cerita hidup beliau,” jawabnya.

Panas mulai menyengat, mobil masih berdatangan dan jumlah pengunjung kian bertambah. Saya pun berjalan menuju gugus perkemahan Pramuka yang letaknya tak jauh dari makam. Saya melewati lapak pedagang yang kian ramai diserbu pengunjung, mulai dari aneka makanan khas Rembang hingga mainan anak-anak, semuanya ada. Perayaan Hari Kartini membawa berkah kepada warga sekitar Rembang dan Blora karena mereka bisa berjualan. Bisa dibilang, para pedagang ini adalah pedagang musiman saja karena pada hari biasanya tak ada satu pun pedagang yang melapak di sini.

Anak-anak dan kakak-kakak Pramuka terlihat bahagia menikmati games. Guru sekolah masih sibuk mengurusi listrik untuk tenda para murid. Saya pun teringat kenangan 10 tahun yang lalu ketika saya harus menangis karena kehujanan dan sialnya tenda yang saya tempati juga bocor sehingga satu hari satu malam saya tidur dengan baju yang basah.

Kulihat ada dua kakak Dewan Ambalan Pramuka yang sedang bersantai di bawah pepohonan yang rimbun. Keduanya membawa puluhan balon yang siap untuk ditiup oleh peserta Pramuka. Saya pun berkenalan dengan mereka. Namanya Mardi (17 tahun) dan Fika (18 tahun), keduanya fasih menceritakan bagaimana perkemahan ini sudah menjadi tradisi tahunan di Kecamatan Bulu. Terkait Hari Kartini, Fika berpendapat bahwa Kartini masa kini beda dengan Kartini zaman dulu.

“Kartini masa kini itu pakaiannya itu berlebihan, enggak kayak dulu yang pakaiannya sederhana. Kalau sekarang kan make-up-nya menor-menor gitu dan enggak bagus”, ungkap Fika. Terkait menurunnya minat remaja yang berziarah, Mardi mengungkapkan bagaimana siswa SMA sudah sibuk dan terbebani dengan pekerjaan sehari-hari apalagi tugas sekolah yang setiap hari ada.

Sosok Kartini dalam dua generasi memiliki cerita dan pandangannya masing-masing dalam memaknai perayaan 21 April. Meskipun ada banyak keterbatasan dalam penyelenggaraan acara, bisa kita lihat bagaimana antusiasme remaja dan orang tua masih pada level yang sama. Meskipun jumlah pengunjung makam tahun ini menurun ketimbang tahun sebelumnya, namun pemahaman mengenai makna emansipasi perempuan dan kesetaraan gender menjadi bahasa umum yang diterima oleh dua generasi. Kartini dengan segala pemaknaan tentangnya, ia akan selalu hidup di dalam hati seluruh generasi dan namanya akan selalu abadi selama negeri masih berdiri.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: SOSOK KARTINI DALAM DUA GENERASI!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/sosok-kartini-dalam-dua-generasi/