SUDAH BAIK, TAPI, SUDAH BENAR ATAU BELUM?

 In Opini
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dok. pixabay.com

Jika berbicara tentang bahasa, tanpa disadari, dalam melakukan berbagai kegiatan sehari-hari, manusia selalu menggunakan media berupa bahasa. Manusia berinteraksi menggunakan bahasa. Manusia belajar menggunakan bahasa. Manusia bekerja menggunakan bahasa. Manusia berkarya menggunakan bahasa. Dengan kata lain, manusia hidup bersama bahasa, atau bahkan hidup di dalam bahasa. Bahasa memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan manusia. Bahasa dapat berfungsi sebagai media penyampai gagasan, informasi, emosi, bahkan negosiasi. Bahasa tentulah sangat banyak jumlahnya. Pada Atlas of the World’s Languages (dalam Crystal, 2015:253) tercatat bahwa terdapat sejumlah 6.796 bahasa di dunia. Salah satu di antara ribuan bahasa itu adalah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan atau bahasa nasional di Negara Republik Indonesia. Hal itu tecermin secara jelas dari elemen ketiga Sumpah Pemuda 1928 dan juga dalam UUD 1945 pasal 36.

Bahasa selalu berkembang seiring dengan perkembangan zaman (Pamungkas, 2012:146). Perkembangan pesat yang paling tampak adalah dalam hal teknologi. Pesatnya kemajuan teknologi saat ini menyebabkan arus keluar masuknya informasi yang semakin nyaris bebas dan tak terbatas. Dalam arus informasi tersebut tentulah menggunakan bahasa sebagai media utamanya. Berkaitan dengan hal itu, bahasa Indonesia pun turut mengalami perkembangan. Perkembangan yang dimaksud tidak hanya perkembangan pada ejaan ataupun kosa kata, tetapi juga mulai aktifnya penggunaan slang atau ragam bahasa yang tidak resmi dan tidak baku dalam percakapan sehari-hari. Pada beberapa titik, perkembangan itu rasanya bukan mengarah pada situasi yang positif, melainkan semakin berkurangnya frekuensi penggunaan bahasa Indonesia secara baik, bahkan secara benar.

Dewasa ini, fenomena yang banyak dijumpai adalah kesalahan penggunaan ejaan dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia dikenal istilah “bahasa yang baik dan benar”. Bahasa yang baik berarti digunakan sesuai dengan situasi dan kondisinya, yaitu dengan siapa kita berbicara, kapan, dan di mana. Bahasa yang benar digunakan dengan mengacu pada kaidah bahasa tersebut (Pamungkas, 2012:4).

Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa kaidah atau ejaan yang benar hanya digunakan ketika membuat sebuah tulisan ilmiah atau percakapan resmi, sehingga ketika membuat jenis tulisan lain, ejaan yang benar kerap dikesampingkan dengan dalih “yang penting maksudnya tersampaikan”. Memang benar adanya jika maksud sebuah tulisan dapat tersampaikan kepada pembaca, berarti penulis telah menyampaikan gagasan dengan jelas, namun belum tentu sesuai dengan kaidah yang benar.

Berdasarkan sitiran data yang ditemukan di lapangan, terdapat cukup banyak kesalahan ejaan pada penulisan kata dalam bahasa Indonesia. Contoh kesalahan yang sering ditemukan adalah penulisan gabungan kata yang seharusnya terima kasih menjadi terimakasih, daripada menjadi dari pada, dan antar kelompok menjadi antarkelompok. Kesalahan lainnya juga ditemukan dalam penulisan kata depan, misalnya yang seharusnya di antara ditulis diantara, di mana menjadi dimana, atau di rumah menjadi dirumah. Kata depan di, ke, dan dari tidak ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, kecuali dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti daripada dan kepada.

Selain beberapa contoh di atas, ditemukan juga kesalahan ejaan lainnya seperti di bawah ini.

Dok. kbbi.kemdikbud.go.id/entri/respons

Pernyataan Alwi dkk (2003:20—21) memperjelas beberapa pemaparan di atas, yaitu “kaidah ejaan dan pembentukan istilah dalam bahasa Indonesia sudah distandarkan, kaidah pembentukan kata yang sudah tepat dapat dianggap baku, tetapi pelaksanaan acuan itu dalam kehidupan sehari-hari belum mantap”. Hal itu mungkin terjadi karena penguasaan bahasa Indonesia yang tidak maksimal. Kesalahan ejaan seakan-akan tidak menjadi sebuah masalah yang penting untuk segera diselesaikan. Permasalahan itu terkadang begitu mudahnya dikesampingkan atau bahkan dilupakan. Padahal, jika direnungkan kembali secara dalam, hal itu adalah bentuk kesalahan yang cukup fatal. Jika pengguna bahasa terus-menerus salah dalam menggunakan ejaan maka mereka dapat didiagnosis belum menguasai bahasa mereka sendiri.

Fenomena yang juga banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah penggunaan kata yang tidak lazim. Penggunaan kata yang tidak lazim di sini tidak melulu berupa kata yang bermakna negatif. Saat ini, orang lebih banyak menggunakan istilah asing baik saat bertutur dalam situasi formal maupun nonformal, padahal kata tersebut sudah dimiliki dan sudah dikenal dalam bahasa Indonesia. Misalnya banyak orang lebih sering menggunakan kata input yang semestinya dalam bahasa Indonesia dikenal kata masukan, kata ranking yang semestinya peringkat, e-mail yang semestinya pos-el atau pos elektronik, dan juga selfie yang semestinya swafoto.

Contoh di atas dapat menjadi bukti yang kontras. Meski sudah disebutkan sebelumnya bahwa kaidah berbahasa dalam bahasa Indonesia telah ditetapkan, namun standar kebahasa-Indonesiaan yang diberikan itu seakan-akan kurang tegas garis batasnya. Hal itu lalu menyebabkan masyarakat Indonesia banyak yang lebih malu ketika salah dalam berbahasa asing daripada salah dalam berbahasa Indonesia. Memang tidak dapat dimungkiri bahwa agar dapat meningkatkan potensi diri, diperlukan penguasaan terhadap bahasa asing atau bahasa internasional. Akan tetapi, tanpa penguasaan bahasa nasional yang baik, tentu bahasa internasional tidak dapat dikuasai dengan baik pula.

Fenomena lainnya didasarkan pada riset sederhana yang pernah saya lakukan sebelumnya di salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Gunungkidul. Berdasarkan riset secara langsung, banyak siswa sekolah dasar yang telah menerima pelajaran bahasa Indonesia, tetapi sangat tidak menguasai bahasa Indonesia. Mereka lebih menguasai bahasa daerah, yakni bahasa Jawa, bahkan tidak mau jika diajak berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Memelihara dan menguasai bahasa daerah adalah hal yang baik dan sepatutnya dilakukan, tetapi tidak semata-mata kemudian mengesampingkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Apabila hal tersebut terus-menerus berlangsung, upaya mewujudkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu pun rasanya menjadi sia-sia.

Lalu bagaimana jika sudah tahu tentang penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar? Sebagai upaya mengatasi beberapa fenomena di atas, perlu dilakukan perubahan pada diri sendiri terlebih dahulu, yaitu dengan mengubah kebiasaan sebelumnya yang belum benar, serta melawan rasa malas untuk “mencari tahu” bagaimana yang benar, misalnya dengan rajin membuka kamus, pedoman ejaan, atau panduan lainnya yang sesuai untuk dijadikan sebagai acuan. Lalu, kalau sudah benar? Penyebarluasan secara bertahap dan berkelanjutan rasanya perlu untuk dilakukan, baik dalam berbentuk formal maupun nonformal. Contoh bentuk penyebarluasan yang dapat dilakukan adalah dengan mengikuti perkembangan teknologi saat ini, yaitu melalui media sosial. Misalnya dengan mengunggah gambar yang berisi informasi terkait penggunaan bahasa Indonesia yang baik serta benar, yang ditata dengan konsep yang menarik. Sejalan dengan itu, selain menyebarluaskan perihal kebahasaan yang baik dan benar, perkembangan media sosial pun dapat terfungsikan dengan sebaik-baiknya.

Benar adanya maksud dari pepatah “bisa karena biasa”. Kita akan bisa melakukan sesuatu jika telah terbiasa melakukannya. Akan tetapi, terbiasa atau kebiasaan tersebut pun tetap perlu diperhatikan, apakah sudah benar atau belum. Maka, untuk melengkapi pepatah di atas, rasanya diperlukan juga pepatah “bukan membenarkan kebiasaan, melainkan membiasakan yang benar”. Jadi… sudah baik, tapi, sudah benar atau belum?


Referensi:

  1. Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
  2. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2016. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  3. Crystal, David. 2015. Ensiklopedi Bahasa. Bandung: Nuansa Cendekia.
  4. Pamungkas, Sri. 2012. Bahasa Indonesia dalam Berbagai Perspektif. Yogyakarta: Penerbit Andi.
  5. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/respons diakses pada 2 Mei 2017 pukul 18.47 WIB.
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: SUDAH BAIK, TAPI, SUDAH BENAR ATAU BELUM?!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/sudah-baik-tapi-sudah-benar-atau-belum/