Sudahkah (Cita Rasa) Kita Beragam? | Minggu Pangan Vol. 1

 In Cerita, Liputan, Minggu Pangan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Sudahkah (Cita Rasa) Kita Beragam?Iklim tropis Indonesia dan kesuburan tanahnya menghasilkan beragam bahan pangan dan makanan. Contohnya, bila kita pergi Wakatobi, Sulawesi Tenggara kita bisa menikmati Kasoami yang terbuat dari umbi-umbian sebagai pengganti Nasi. Di temani oleh Parende, sop Ikan khas Indonesia timur yang dimasak dengan ikan-ikan karang yang segar, kunyit, asam jawa, cabe rawit dan daun kemangi. Sedap!

Belajar lewat makanan yang di masak dengan bahan lokal oleh warga setempat juga membuka wawasan tentang cara hidup, mata pencaharian dan karakter teman-teman baru di tempat yang kita kunjungi. Tanpa sadar kita jadi berbincang, bertukar pengetahuan lewat resep, teknis mengolah makanan sehingga terjadilah kedekatan dan saling pengertian. Tetapi masalahnya adalah tidak semua remaja bisa memiliki kemewahan dan kesempatan berupa uang, waktu dan akses untuk mengenali daerah lain di Indonesia secara langsung selain di kampung halamannya.

Bagaimana dengan remaja yang tinggal di kota besar seperti Yogyakarta? Dengan keberagaman latar belakang orang yang datang dan menetap, Yogyakarta menyimpan banyak akses untuk warganya mengenali keberagaman Indonesia melalui interaksi sosial. Data BAPPEDA Sleman 2012 menyebutkan bahwa Sleman adalah kabupaten di DIY yang memiliki jumlah penduduk tertinggi hingga mencapai 1.114.739 jiwa. Data tersebut juga menyebutkan 44.170 jiwa remaja dari berbagai daerah di Indonesia pindah dan menetap di Sleman untuk melanjutkan kuliah.

Tetapi ada yang menarik ketika Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gubernur DIY pada 27 Maret 2013 menyatakan  DIY akan membatasi Jumlah Asrama Mahasiswa Daerah. Dia melihat bahwa kehadiran 73 Asrama Daerah (data 2008) yang merupakan bagian dari kebijakan otonomi daerah mengalami kemunduran pada fungsi sosialnya dalam 40 tahun terakhir. “Tak ada lagi dialog budaya karena tak ada pembauran. Itu potensi konflik sosial,” kata Sultan (Tempo.co, 4 Okt 2017)

Situasi tersebut menggambarkan bahwa dibutuhkan cara lain untuk mengelola keberagaman di propinsi DIY yang di percaya sebagai Indonesia Mini ini. Tercatat, ada 55.974 mahasiswa dari 34 propinsi di Indonesia kuliah dan tinggal di Yogyakarta yang bertemu dengan 27.766 mahasiswa asal DIY (Dikti DIY 2015). Karena data BAPPEDA memperlihatkan bahwa anak muda yang tinggal di Yogyakarta seharusnya memiliki banyak peluang untuk mengenali keberagaman Indonesia lewat interaksi sosial keseharian.

Benarkah kita sudah ‘beragam’ atau merangkul keragaman? Beda cara hidup, beda cara dan selera makan boleh-boleh saja tetapi keberagaman harus diambil sebagai kesempatan belajar, menambah wawasan dan mempertajam pemahaman dan pengertian.

Bila kita bicara tentang makanan sebagai pintu masuk sederhana untuk memahami keberagaman, maka pertanyaanya adalah seberapa luas akses remaja Yogya memperoleh pengalaman menyantap makanan dari kawan-kawan yang berasal dari beragam penjuru Indonesia? Bila ditimbang lebih jauh, bukankah kita telah melewatkan kesempatan berharga menjadikan kota pelajar Yogyakarta sebagai salah satu pusat pembelajaran kuliner nusantara cukup dengan mengakomodir keragaman pangan yang dibawa oleh kawan-kawan pendatang yang berasal dari beragam tempat di Indonesia.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: Sudahkah (Cita Rasa) Kita Beragam? | Minggu Pangan Vol. 1!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/sudahkah-cita-rasa-kita-beragam-minggu-pangan-vol-1/