TAK KENAL MAKA TAK MAKAN

 In Inspirasi

Setelah derai air mata nasi, yang juga patut kita tafakuri adalah nasib para sayur. Keberadaan sayur di sekitar kita nisbi banyak. Kita ke mal ketemu sayur, ke pasar apalagi, bahkan melangkah keluar rumah sedikit saja, kalau kita awas, kita akan melihat sayur pateng tlecek (tergeletak) di mana-mana.

Jika dibandingkan dengan nasi, nasib sayur tentu lebih ngenes. Kalau nasi masih mending, dia masih dipilih, dimakan, meski sering tidak dihabiskan. Lha, kalau sayur? Dibeli, taruh kulkas, kalaupun dimasak, jangankan gak dihabisin, dimakan sedikit saja sudah alhamdulillah.

Dasarnya nasib memang tak berpihak pada sayur. Meski kebanyakan orang mengerti betul tentang manfaatnya, tetap saja tidak banyak yang doyan mengonsumsi, apalagi remaja. Nih ya, sebuah riset yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Masyarakat tahun 2014 menyebutkan bahwa sebanyak 98,4% remaja kurang mengonsumsi sayur dan buah. SEMBILAN PULUH DELAPAN koma EMPAT PERSEN lho, Gaeeeesss …. Itu pun yang 1,6% palingan juga karena khilaf atau dipaksa emak-nya buat makan sayur. Sedih betul.

Pada Januari 2017 lalu, tempo.co pernah memuat berita tentang kurangnya penduduk indonesia dalam hal mengonsumsi makanan. Dalam liputan itu ada sedikit wawancara dengan Remaja usia 14 belas tahun bernama Muhammad Haris. Dalam berita itu dijelaskan bahwa Haris lebih memilih makan dengan krupuk saja daripada harus makan sayuran. Menurut Haris, sayuran itu tidak enak. “Enggak suka aja” tutur Haris. Lain sayur, lain juga buah. Soal buah, menurut Haris, ia jarang memakan karena ketersediaan di rumah yang kadang ada kadang tidak.

Apa yang diungkapkan Haris sedikit banyak sama dengan yang saya alami. Soal buah bahkan sama persis. Saya suka buah, tetapi jarang mendapati ketersediaan buah di rumah. Soal sayur, ya sama, nggak suka aja. Saya pikir-pikir, ini soal kebiasaan.

Dok. Ismi RInjani

Saya ingat betul dulu semasa kecil, saya sempat sama sekali tidak mau memakan kubis. Kalo sayur lain sedikit-sedikit (sedikit sekali) saya masih mau, misal bayam. Saya tidak tahu persis kenapa dulu saya tidak mau makan kubis. Yang saya tahu, ayah saya juga tidak memakan kubis −saya tidak tahu ada hubungannya atau tidak dengan ketidak sukaan saya terhadap kubis. Kalau ibu sedang ingin memasak kubis −biasanya dibuat sop− ibu pasti memasak juga makanan dengan menu lain untuk saya dan ayah.

Suatu kali, ketika saya masih di sekolah dasar, oke baiklah, Madrasah Ibtidaiyah. Ketika saya masih di Madrasah Ibtidaiyah, saya pernah main ke rumah seorang teman tepat di jam makan siang. Diundanglah saya oleh tuan rumah untuk ikut santap siang bersama. Tak kuasa menolak, saya pun nurut saja pergi ke dapur. Alhamdulillah, seperti yang kawan-kawan harapkan, menunya adalah sop kubis!!! Ya Allaaaah … itu rasanya kayak ketiban durian jatuh, tapi jatuhnya pas di kepala. Sial betul.

Sebagai seseorang dengan kultur orang-orang timur, sekolah di madrasah, dan diajari akhlakul karimah, tak mungkin rasanya saya menolak suguhan tuan rumah. Takut melukai hati. Lagi pula, saya memang diajari untuk tidak meminta, tetapi pantang tidak menerima ‘pemberian baik’ seseorang meski sekadar untuk melegakan dan membahagiakan sang pemberi. Alhasil, saya makan juga itu sop kubis. Rasanya? Masya Allahhh … ternyata enak sekali. Apalagi pakai perkedel. Apalagi pakai sambal kecap. Wah … segar, gurih, pedas, dan manis saling berjejal memanjakan lidah saya. Gobyos keringat saya dibuatnya. Semenjak itu pula, saya jadi mau makan kubis. Ketika di rumah ibu memasak sop pun, saya tidak ragu untuk ikut makan dengan lahap.

Dari pengalaman saya soal kubis inilah saya mulai meyakini, bahwa makanan juga perihal berani mencoba. Saya mulai berprasangka bahwa sayur tidak diminati salah satunya adalah karena citranya yang memiliki rasa tidak menarik dan/atau, ya, karena banyak yang tidak suka saja, padahal mungkin belum mencoba berkenalan dengan rasanya.

Pengalaman saya soal makan-memakan seperti yang saya ceritakan di atas, terkhusus pada sayur, tidak hanya terjadi pada kubis. Itu juga terjadi pada pete, daun singkong, dan beberapa makanan lain yang sebelumnya saya sok-sokan gak mau, tetapi setelah mencoba dan kenal rasanya, jadi ketagihan. Ya … mirip-mirip kisah kamu sama pacarmu, lah. Kenal dulu, nyaman, kemudian jadi sayang … gitu, kan? Masa ya langsung sayang ….

 

Makanya … kenalan yuk, Dik, biar jadi sayang? Sama sayuraaaannnn!!!

 

Oh ya, ada sedikit informasi tambahan, nih. Setelah hari Minggu (29/10) kemarin Yayasan Kampung Halaman menyelenggarakan Minggu Pangan dengan tajuk Sudahkah (Cita Rasa) Kita Beragam? sebagai rangkaian dari peluncuran Album Kompilasi 2500 Kalori, pada hari Minggu (12/11) nanti Minggu Pangan akan kembali hadir dengan tema Bahan Pangan Lokal. Di kegiatan tersebut kita akan bersama-sama kenalan tuh tentang Bahan Pangan Lokal di sekitar kita. Ikut, ya? Pantau terus perkembangan informasinya di akun Instagram @berisik.id.

 

 

*ditulis dalam rangka menuju Launching Album Kompilasi 2.500 Kalori.

Recommended Posts
X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: TAK KENAL MAKA TAK MAKAN!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/tak-kenal-maka-tak-makan/